Selasa, 26 Februari 2019

 “Leadership is about making others better as a result of your presence and making sure that impact lasts in our absence.”                             – Sheryl Sandberg –


Minggu, 03 Februari 2019

MEMBERI DENGAN KERELAAN HATI (2 Kor 8 : 1-15)


Semua orang bisa memberi, tetapi tidak semua pemberian mengandung kasih? Ada yang memberi karena mengharapkan diberi kembali. Ada yang memberi karena mengharapkan pujian. Ada pula yang memberi, karena terpaksa.  Dan ada pula yang memberi, karena telah merasa berkelebihan. Niat memberi dengan dimotivasi tujuan tertentu inilah yang dikoreksi Paulus. Jemaat Makedonia yang miskin, dan sedang mengalami cobaan yang berat, namun sukacita mereka meluap untuk memberi (ay.2). Kerelaan memberi yang luar biasa ini bukan dibuat-buat, tetapi lahir dari kesadaran iman bahwa mereka telah merasa menerima kasih karunia dari Allah. Orang yang telah merasa menerima, wajar kalau ia bersedia untuk memberi. Kasih Karunia adalah pemberian yang cuma-cuma dari Allah berupa pengampunan atas dosa sehingga kita terlepas dari ancaman penghukuman yang kekal, Anugerah seperti ini patut disyukuri dengan  membagikan kasih karunia itu kepada orang-orang yang memerlukan.  2 Kor 9:9  berkata: "Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya."  Berdasar ayat ini, budaya membagi-bagikan sesuatu kepada orang lain, bukan kerugian, malah sebagai keuntungan, karena kebenaran itu terus semakin bertambah-tambah dalam diri kita, bilamana kita berani membagi-bagikannya kepada orang lain.
 

Proses kerja pertumbuhan kebenaran itu bagaikan rumpun bibit padi di tempat persemaian. Rumpun batang padi itu akan berkembang biak dan bertambah banyak bilamana kita rajin memisah-misahkannya pada tempat yang berbeda-beda, sehingga masing-masing bibit rumpun padi yang baru, kembali bertumbuh dan berkembang biak menjadi rumpun-rumpun padi yang baru lainnya. Demikian pula kalau kebenaran akan semakin besar kalau kita rajin membagi-bagikannya kepada orang lain. Yang kuat membantu yang lemah. Yang kaya memperhatikan yang miskin, sehingga kesempatan bagi setiap orang untuk mendapatkan haknya semakin besar. Tetapi kalau kebenaran itu, semakin tidak terlihat, maka budaya tolong-menolong, dan bantu-membantu akan menjadi mati sehingga yang ada hanyalah kepentingan diri sendiri. Yang kaya, makin kaya; yang miskin makin miskin. Jadi kita meberi bukan berarti karena kita memiki banyak, tetapi kita memberi karena kita telah lebih dahulu menerima. Masalah memberi, sesungguhnya bukan masalah banyak atau tidak, tetapi masalah mau atau tidak (kerelaan). Memberi dengan kerelaan inilah yang dimaksudkan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.

Kamis, 31 Januari 2019

APAKAH ORANG KRISTEN BOLEH MAKAN MAKANAN YANG DIPERSEMBAHKAN KEPADA BERHALA ??

Kalau ada makanan yang sudah dipersembahkan pada berhala di suguhkan pada kita, sebagai Orang Kristen...boleh nggak kita memakannya ?

Makan Persembahan Berhala boleh-boleh saja, karena:
Matius 15:11 "...bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang."
--
namun tetap harus berhikmat, kalo pas ada orang2 yg lemah imannya & suka meributkan hal2 sepele seperti itu , ya lebih baik gak usah makan di-depan dia, supaya gak jadi batu sandungan, hehehe. Karena :

1Kor 8:8 "Makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan dan kita tidak untung apa-apa, kalau kita makan."
1Kor 8:9 Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah.
--
Demikian juga kalo pas ada Imlek & anda diundang makan oleh tuan rumah yg keluarganya belum percaya Yesus, lalu mereka menyajikan makanan2 dari persembahan berhala, maka kita tidak perlu menolak sehingga membuat mereka malah sakit hati pada kita. So, makan aja, Nggak apa-apa kok. Firman Tuhan berkata :

1 Korintus 10:27 Kalau kamu diundang makan oleh seorang yang tidak percaya, dan undangan itu kamu terima, makanlah apa saja yang dihidangkan kepadamu, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani.
--
Tapi kalo lagi asyik makan makannan itu, tiba-tiba ada orang Kristen yang tidak setuju, lalu ngomel-ngomel & ngoceh gak karuan "Kamu gila ya ..., Jangan dimakan dunk, itu kan makanan persembahan berhala"... yach tersenyumlah, lalu cukup makan nasi putih aja, bilang aja ama tuan rumah kalo anda lagi mau diet atau lagi puasa mutih cuma makan nasi putih karena sedang cari wangsit....... (Lalu biarkan aja dia yang ribut sama tuan rumah & berkelahi di-taman depan. wkwkwkwk)

1 Kor 10:28 Tetapi kalau seorang berkata kepadamu: "Itu persembahan berhala!" janganlah engkau memakannya, oleh karena dia yang mengatakan hal itu kepadamu dan karena keberatan-keberatan hati nurani.
--
Tapi kalo emang lagi anda lagi laper banget, dan yang ada cuman makanan persembahan berhala itu yg terdiri dari berbagai menu (Ada salad 7 rasa, ayam pengemis, ikan salmon jamur es, cumi goreng mentega dengan caviar, udang mabuk saus rum, steak lulur dalam, dsb huaaa...enyak, enyak, enyak...), tapi kamu masih aja sungkan-sungkan, maka silahkan menahan diri & telpon saya aja. Nanti saya pasti datang mewakilimu.

1 Kor 10:29 Yang aku maksudkan dengan keberatan-keberatan bukanlah keberatan-keberata hati nuranimu sendiri, tetapi keberatan-keberatan hati nurani orang lain itu. Mungkin ada orang yang berkata: "Mengapa kebebasanku harus ditentukan oleh keberatan-keberatan hati nurani orang lain?
--

Tapi kalau nggak mau diwakili, karena seumur-umur baru ketemu makanan senikmat itu, ya udah nikmati saja dengan ucapan syukur.

1Korintus 10:30 Kalau aku mengucap syukur atas apa yang aku turut memakannya, mengapa orang berkata jahat tentang aku karena makanan, yang atasnya aku mengucap syukur?"
--
Daripada anda kelaparan, lalu nyesel 7 keturunan dan mengeluh kenapa harus ada dia, dan ini malah nggak memuliakan Tuhan...ya udah, sikat aja bleeh......

1Korintus 10:31 Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.
--
Jadi, kalo ada kasus kayak gitu, mending kita tetap makan persembahan berhala itu bersama tuan rumahnya. Soalnya, orang kristen yang protes itu, meskipun saya melanggar protesnya dia, toh dia akan tetap percaya Yesus. Sedangkan tuan rumah yg ngundang saya itu kan belom percaya Yesus, maka saya akan lebih memilih untuk makan makanan berhala itu bareng dengan dia, supaya saya punya kesempatan memberitakan injil keselamatan kepadanya.

1Korintus 10:32 Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah.
1Korintus 10:33 Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat.
--
Jadi kesimpulannya,
1 Korintus 10:23 "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.

1 Korintus 10:24 Jangan seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.

1 Korintus 10:25 Kamu boleh makan segala sesuatu yang dijual di pasar daging, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani.

1 Korintus 10:26 Karena: "bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan."

Jadi, kalo mau tanya, makanan mana yang halal & yang haram ? Bukan berhala yang menentukan, karena berhala tuh nggak bisa makan. Pegang sendok, garpu atau sumpit saja nggak bisa...trus, mana yang halal dan mana yang haram ?

Ah..gitu aja kok repot. Pokoknya : "Makanan yg Enak itu Halal. Makanan yang nggak enak itu Haram"

wahahahahahaha

 Nyaam..Nyam..Nyaam.

TAFSIRAN FILIPI 4: 13Filipi 4:13, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”

Penafsiran Kontekstual
· Konteks dekat
Hal yang perlu diperhatikan dari nats yang ditafsirkan adalah kata “segala perkara”. Konteks dekatnya meliputi konteks sebelum dan sesudah dari nats yang ditafsirkan. 
Dalam Filipi 4:6, mengatakan supaya jangan kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Berdasarkan ayat ini, hal kekuatiran adalah bagian dari ungkapan ‘segala perkara’ yang dimaksudkan Paulus. Selain itu juga dalam Flp. 4:11, “Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” Dari ayat ini hal mengenai kekurangan juga dapat menjadi bagian dari ungkapan ‘segala perkara.’ Filipi 4:12 juga berkata, “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.” Dari ayat ini hal-hal mengenai apa itu kekurangan dan kelimpahan, juga mengenai hal makanan merupakan bagian dari ungkapan ‘segala perkara.’ Selain itu juga ada dalam Filipi 4 ayat (14), “...bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku,” dan juga dalam ayat (19), “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus.” Adapun bagian dari ungkapan ‘segala perkara’ dalam ayat ini adalah hal mengenai kesusahan dan juga segala keperluanmu.
· Konteks jauh
Dari konteks jauhnya, ungkapan ‘segala perkara’ dapat juga merupakan hal untuk seia sekata supaya tidak terjadi perpecahan, melainkan supaya bersatu dan merendahkan diri seperti Kristus (2:1-11). Selain itu juga perkara untuk tetap kerjakan keselamatan, seperti dalam Filipi 2:12-18.

Kesimpulan: Jadi ‘segala perkara’ yang dimaksud adalah hal-hal mengenai kekuatiran, kekurangan, kelimpahan, akan makanan, juga perkara untuk bersatu supaya tidak terjadi perpecahan dan perkara dalam mengerjakan keselamatan.

Penafsiran Literal
· Arti dari kamus
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
Ø Segala : semua; sekalian (tidak ada kecualinya)
seluruh; segenap
Ø Perkara : masalah; persoalan; urusan
Ø Tanggung : menyangga; memikul
Ø Memberi : menyerahkan (membagikan, menyampaikan); menyediakan; mengizinkan; menjadikan
· Alkitab terjemahan lainnya
Ø Alkitab terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS)
Filipi 3:14, “Dengan kuasa yang diberikan Kristus kepada saya, saya mempunyai kekuatan untuk menghadapi segala rupa keadaan.”
Ø Alkitab Terjemahan Lama (TL)
Filipi 4:13, “Segala sesuatu aku cakap menanggung di dalam Dia yang menguatkan aku.”
Ø New International Version (NIV)
Philippians 4:13, “I can do everything through him who gives me strength.”

Kesimpulan:
Dari terjemahan-terjemahan lainnya, arti kata ‘segala perkara’ memiliki beberapa pengertian, di antaranya: segala rupa keadaan; segala sesuatu; everything. Maksud dari beberapa pengertian ‘segala perkara’ dapat dilihat dari konteks sebelumnya.

Penafsiran Gramatikal
Secara gramatikal, kata-kata dalam nats yang ditafsirkan memiliki fungsinya sendiri. Aku sebagai subjek (pelaku); tanggung/menanggung sebagai predikat atau kata kerjanya; segala perkara adalah objeknya; di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku sebagai keterangannya. Jadi pengertiannya adalah bahwa aku dapat menanggung segala perkara di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Hal-hal apa saja yang dimaksud dalam ‘segala perkara’ ini dapat dilihat kaitan atau hubungannya dari konteks nats ini.

Kesimpulan
Jadi kata ‘segala perkara’ memiliki kedudukan sebagai objek dari suatu tindakan, di mana aku (subjeknya) akan menanggung segala perkara ini di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

Penafsiran Historis
Dari penjara (Flp. 1:7, 13-14), Paulus menuliskan surat Filipi ini kepada orang-orang percaya di Filipi untuk mengucapkan terima kasih atas pemberian mereka kepadanya. Paulus juga menuliskan kalimat: bersukacitalah di dalam Tuhan (Flp. 4:4). Meskipun ia sendiri di dalam penjara, Paulus tetap menyampaikan pengajaran dalam suratnya supaya jemaat selalu bersukacita di dalam Tuhan, sebab dalam segala hal dan segala perkara tidak ada yang merupakan rahasia (Flp. 4:12). 
Selain itu juga Paulus mendengar berita mengenai jemaat Filipi dari rekan sekerjanya, yaitu tentang perpecahan di tengah-tengah anggota jemaat (Flp. 2:1-11). Dengan lembut Paulus menegur mereka karena hal ini, dan meminta mereka supaya seia sekata di dalam Tuhan.

Penafsiran berdasarkan tujuan penulis
Surat Filipi ini dikirimkan oleh Paulus, seorang hamba Tuhan, kepada orang-orang kudus yang ada di Filipi dengan para penilik jemaat dan diaken (Flp. 1:1). Tujuan Paulus dalam suratnya ini adalah ingin menyampaikan ucapan syukurnya kepada Allah karena persekutuan jemaat dalam Berita Injil dan atas pekerjaan baik yang dilakukan (1:5-6). Selain itu juga Paulus memberikan kesaksian dirinya di dalam penjara, dimana ia mengatakan meskipun keadaannya di dalam penjara, namun ia tetap bersukacita (1:18). Tujuan Paulus lainnya adalah menasihatkan jemaat supaya seia sekata untuk bersatu dengan merendahkan diri seperti Kristus. Hal ini perlu disampaikan Paulu sebab ia mendengar bahwa ada perpecahan di dalam jemaat. Tujuan Paulus lainnya dalam menuliskan surat ini adalah untuk mengucapkan terima kasih kepada jemaat atas pemberiannya dan juga memperhatikannya (4:10-20).

Penafsiran Teologis
· Dalam kitab yang sama
Flp. 3:19, “…aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.”
Flp. 4:12, “…Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku…”

Dalam Perjanjian Baru
Mat. 25:21, “…Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar.”
Kolose 3:1, “Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.”
Luk. 16:10, “"Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.
Roma 12:16, “Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana...”

KESIMPULAN 
Dari Filipi 4:13, yang perlu ditafsirkan adalah ungkapan (kata) ‘segala perkara’. Hal ini telah dijawab juga secara kontekstual, dimana ‘segala perkara’ yang dimaksud ini adalah hal-hal mengenai kekuatiran, kekurangan, kelimpahan, akan makanan, juga perkara untuk bersatu supaya tidak terjadi perpecahan dan perkara dalam mengerjakan keselamatan. Dan Paulus mengatakan supaya segala perkara ini ditanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan.

Selasa, 29 Januari 2019


Hasil diskusi dengan teman HT tentang AHOK yang menikah lagi dengan Puput, 15 Feb 2019:
1.      Kontroversi mengenai apakah perceraian dan pernikahan kembali diizinkan oleh Alkitab mengacu pada kata-kata Yesus dalam Matius 5:32 dan 19:9. Frasa “kecuali karena zinah,” adalah satu-satunya alasan dalam Alkitab di mana Allah memberikan izin untuk perceraian dan pernikahan kembali.

Tetapi secara konteks dan memperhatikan ayat-ayat lain dalam kesatuan Alkitab seperti Maleakhi 2:16a: “Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel.” , sebetulnya Tuhan Yesus tidak mengijinkan perceraian dengan alasan apapun.

2.      Peristiwa yang melatarbelakangi adalah ketika Tuhan Yesus lagi-lagi diperhadapkan dengan ketentuan hukum Musa…yg sebetulnya Musa juga tidak mengijinkan perceraian, tetapi karena ketegaran hati (baca : kedegilan hati) orang Israel, sehingga Musa ‘terpaksa’ mengijinkan.  Tuhan Yesus dengan tepat sebetulnya ingin menyampaikan bahwa Ia sendiripun tidak menyetujui perceraian. Jadi walaupun dalam Mat 19:9-10, khususnya di ayat 9 ada pernyataan Yesus yang seolah-olah mengijinkan perceraian.  "Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.", sebetulnya penafsiran secara konteks tidaklah demikian.

Lalu di ayat 10 dikatakan :  "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin.". Artinya kalau begitu berat konsekuensi untuk ‘diijinkan’ bercerai, karena pasangan suami istri itu akan sama-sama berzinah bila menikah lagi, sehingga kalau demikian sulitnya, maka para murid berujar lebih baik tidak menikah.

3.      Jadi menurut saya kalimat Tuhan Yesus ini bukanlah mengijinkan perceraian, tetapi lebih kepada memberi solusi atas keputusan yang telah diberikan Musa terdahulu, yakni mengijinkan perceraian. Yesus ingin menyampaikan bahwa kalau pasutri bercerai yang sebenarnya tidak dijinkan Allah, maka mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal dengan alasan yang dipakai untuk bercerai. Kalau cerai alasannya zinah, maka pihak yang merasa tidak berzinah, tapi kemudian kawin lagi akan tetap dimata Allah berzinah. Perempuan yang berbuat zinah tidak otomatis bisa diceraikan. Dosa perempuan tersebut adalah dosanya kepada Allah. Sedangkan suami kalaupun menceraikan dan kemudian kawin lagi, malah bisa dianggap zinah juga. Intinya tidak dibolehkan ada perceraian dengan alasan apapun.

4.      Menurut Alkitab, kehendak Allah terhadap pernikahan sebagai komitmen seumur hidup. “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Matius 19:6).



Kamis, 29 November 2018

These photos was taken as a memory before I left Batam for another ministry in November 2018. Togetherness with my daughter.










Selasa, 27 November 2018

EKSPOSISI 1 KORINTUS 6:12-14

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 6:12-14



1 Korintus 6:12-20 membahas tentang suatu topik yang baru, yaitu perzinahan dengan pelacur (6:16). Pembacaan yang teliti menunjukkan bahwa kesalahan jemaat Korintus bukan hanya terletak pada tindakan perzinahan tersebut, tetapi juga pada konsep theologis yang salah yang mendorong mereka melakukan hal itu. Mereka menganggap bahwa tindakan itu bukanlah suatu hal yang mempengaruhi kerohanian. Anggapan seperti ini bersumber dari konsep mereka tentang kebebasan Kristiani (6:12) dan tubuh (6:13-14) yang salah. Sama seperti kasus percabulan dengan ibu istri yang justru dibanggakan oleh mereka (5:1-2), kasus perzinahan dengan pelacur pun tidak membuat mereka malu. Mereka bahkan memiliki berbagai macam alasan untuk membenarkan tindakan ini.

Terhadap persoalan ini Paulus mula-mula mengoreksi konsep telogis mereka yang salah tentang kebebasan Kristiani dan tubuh (6:12-14). Menurut Paulus, kebebasan di dalam Kristus tidak berarti perijinan atau hak untuk melakukan segala sesuatu yang kita kehendaki. Kebebasan ini harus memperhatikan dua hal: apakah orang lain mendapat keuntungan atau dibangun melalui tindakan kita (6:12a)? apakah kebebasan itu justru memperbudak kita (ay. 12b)? Selanjutnya Paulus memberikan argumen yang mendukung pandangannya (6:15-20). Ada tiga argumen yang masing-masing dimulai dengan pertanyaan retoris “tidak tahukah kamu” (bdk. 6:15, 16, 19). Di ayat 15 dia menegaskan bahwa tubuh kita adalah anggota Kristus yang tidak boleh diserahkan kepada percabulan. Di ayat 16-18 dia mengajarkan bahwa orang percaya sudah diikatkan dengan Kristus secara rohani, sehingga mereka tidak boleh mengikatkan diri dengan pelacur. Terakhir, di ayat 19-20 Paulus mengingatkan bahwa tubuh mereka adalah bait Roh Kudus, sehingga tidak boleh dicemarkan dengan dosa perzinahan.

Dalam khotbah minggu ini kita tidak akan membahas keseluruhan respons Paulus di 1 Korintus 6:12-20. Kita hanya akan memfokuskan pada koreksi Paulus terhadap kesalahpahaman theologis jemaat Korintus (ay. 12-14). Kita akan belajar bagaimana pandangan Paulus terhadap kebebasan Kristiani (ay. 12) dan tubuh (ay. 13-14).


Kesalahpaham Seputar Kebebasan Kristiani (ay. 12)
Hampir semua penafsir setuju bahwa frase “segala sesuatu adalah halal bagiku” merupakan slogan jemaat Korintus yang dikutip dan ditentang oleh Paulus. Pendapat ini didasarkan pada dua hal: (1) kata sambung “tetapi” yang mengontraskan slogan ini dengan konsep Paulus; (2) di pasal 10:23 Paulus mengutip slogan ini lagi dan memberi jawaban “benar, tetapi...”. Dari cara Paulus meresponi frase ini terlihat bahwa frase ini memang slogan dari jemaat Korintus.

Mereka berpendapat bahwa segala sesuatu adalah halal. Terjemahan LAI:TB “halal” dalam konteks ini sedikit kurang tepat. Kata “halal” memberi kesan bahwa persoalan yang dibahas hanyalah seputar makanan, padahal isu yang dibahas lebih daripada itu. Sesuai bahasa Yunani yang dipakai, kita seharusnya menerjemahkan frase ini dengan “segala sesuatu bagiku diperbolehkan” (exestin). Kata exestin muncul sebanyak 31 kali dalam PB dan selalu memiliki arti “diperbolehkan” (Mat. 12:2, 4, 10, 12; 14:4; 19:3; 20:15; 22:17). Hampir semua versi Inggris dengan tepat menerjemahkan kata ini dengan “lawful” (ASV/KJV/RSV/NASB) atau “permissible” (NIV).

Konsep tentang boleh atau tidak boleh (baca: kebebasan) merupakan isu yang krusial bagi jemaat Korintus. Paulus berkali-kali menyinggung tentang hal ini. Kadang dia berhati-hati agar pernyataannya tidak disalahmengerti sebagai penolakan terhadap kebebasan mereka (7:35). Di sisi lain dia dengan tegas memperingatkan agar mereka tidak menyalahgunakan kebebasan tersebut tanpa memperhatikan kepentingan orang lain (8:9; 10:23).

Mengapa jemaat Korintus bisa terjebak pada konsep tetang kebebasan Kristiani yang salah sampai-sampai mereka membenarkan perzinahan dengan pelacur? Para penafsir biasanya menduga bahwa mereka telah salah paham (lebih tepatnya menyalahgunakan) ajaran Paulus tentang kebebasan Kristiani. Paulus memang sering kali menegaskan bahwa orang Kristen berada di bawah anugerah dan sudah tidak di bawah Taurat atau berbagai tradisi manusia yang lain (bdk. Rm. 6:14). Penekanan seperti ini sering kali disalahmengerti oleh orang-orang yang mengagungkan kebebasan, seperti yang diakui juga oleh Paulus (Rm. 3:8) maupun Petrus (2Ptr. 3:16). Orang-orang seperti ini telah terjebak pada gaya hidup antinomianisme (berasal dari kata anti = “tidak” dan nomos = “hukum”).

Terhadap kesalahpahaman jemaat ini Paulus memberikan dua jawaban. Pertama, kebebasan harus membawa kegunaan/keuntungan (ay. 12a “tetapi bukan segala sesuatu berguna”). New English Bible (NEB) menerjemahkan “not everything is for my good” seolah-olah kegunaan ini berkaitan dengan diri sendiri. Jika kita menyelidiki pemunculan kata sumpherō dalam surat 1 Korintus, maka kita akan menemukan bahwa kata ini selalu dikaitkan dengan kegunaan bagi orang lain. Dalam pasal 10:23-24 kata sumpherō disejajarkan dengan “membangun” dan hal ini dikaitkan dengan kepentingan orang lain. Di pasal 12:7 kata ini muncul lagi dalam konteks kepentingan bersama.

Dengan demikian Paulus di 6:12a tidak sedang membicarakan keuntungan yang akan diterima oleh orang tersebut, tetapi kepentingan untuk seluruh jemaat. Dia secara tersirat ingin memperingatkan bahwa kebebasan jemaat Korintus tidak membawa keuntungan bagi gereja. Sebaliknya, sama seperti kasus percabulan dengan ibu tiri (5:1), kebebasan ini justru akan mencoreng reputasi gereja. Tindakan ini juga bisa berdampak buruk bagi jemaat yang lain seandainya mereka terpengaruh dan meniru tindakan ini, sama seperti ragi yang mencemari seluruh adonan (5:7-8).

Dari sini terlihat bahwa etika Kristiani bukan hanya masalah boleh atau tidak boleh maupun benar atau tidak benar. Sekalipun yang kita lakukan adalah benar, hal ini tidak berarti bahwa kita boleh melakukan hal itu. Jika apa yang kita lakukan menjadi batu sandungan bagi orang percaya yang lain (8:8-9), maka kita tidak boleh melakukan hal itu. Apalagi dalam kenyataan kita sering kali menganggap benar apa yang sebenarnya salah, sama seperti yang dilakukan oleh jemaat Korintus. Jadi, di 6:12a Paulus sebenarnya belum membahas tentang kesalahan dalam perzinahan dengan pelacur, tetapi dia telah meletakkan salah satu dasar etika Kristiani yang penting: terlepas dari benar atau tidak benar, jika tindakan itu tidak membangun orang lain, maka kita tidak boleh melakukannya!

Jawaban Paulus yang kedua terhadap kesalahpahaman jemaat Korintus tentang kebebasan Kristiani dapat kita lihat di ayat 12b. Dia memperingatkan jemaat agar berhati-hati dengan kebebasan karena kebebasan sering kali justru menjadi perbudakan (ay. 12b “tetapi aku tidak mau diperhamba oleh suatu apa pun”). Kata “diperbudak” (LAI:TB) berasal dari kata exousiasthesomai (dari kata dasar exousiazō yang berarti “menguasai”, bdk. 7:4). Jika dilihat dari kalimat Yunani yang dipakai, maka kita akan menemukan permainan kata antara exestin (“diperbolehkan”) dan exoussiasthesomai (“dikuasai”). Berdasarkan permainan kata ini kita dapat memahami ayat 12b sebagai berikut: “segala sesuatu bagiku diperbolehkan (aku punya kuasa), tetapi aku tidak akan dikuasai oleh suatu apa pun”.

Apa yang disampaikan Paulus di bagian ini merupakan suatu hal yang penting untuk diperhatikan. Kita memang sering kali berpikir bahwa kita bebas melakukan suatu tindakan, tetapi ketika kita tidak bisa tidak melakukan hal itu, maka hal itu sudah menjadi tuan yang merampas kebebasan kita. Kita berpikir bahwa kita bebas dalam melakukan suatu dosa, padahal dosa itu pada akhirnya akan menguasai kita sehingga kita akan terus mengikuti kemauannya. Dengan demikian kebebasan kita telah menjadi perbudakan bagi diri kita sendiri.


Kesalahpahaman Seputar Tubuh (ay. 13-14)
Di ayat 13-14 Paulus mengoreksi kesalahpahaman lain yang dipegang oleh jemaat Korintus, yaitu tentang tubuh. Mereka mengatakan bahwa “perut adalah untuk makan dan makan untuk perut, sedangkan dua-duanya akan dibinasakan oleh Allah” (ay. 13a). Maksudnya, jika semua hal yang berkaitan dengan materi (tubuh kita) akan dibinasakan, maka semua hal itu tidak terlalu penting. Semua itu tidak berpengaruh terhadap kerohanian kita maupun berdampak pada kekekalan. Nah, jika keinginan terhadap makanan dan perut tidak penting, maka dengan demikian keinginan terhadap seks dan tubuh juga tidak penting. Bukankah rasa lapar dan hawa nafsu seksual sama-sama berasal dari keinginan materi dalam diri manusia?

Kesalahpahaman seperti di atas sangat mungkin merupakan hasil penyalahgunaan ajaran Paulus dan perpaduan dengan filsafat Yunani. Paulus memang beberapa kali menegaskan bahwa masalah makanan adalah masalah yang sementara (Kol 2:20-22), tetapi dia tidak pernah melangkah lebih jauh daripada itu. Jemaat Korintus yang cenderung mengagungkan hikmat duniawi (1:18-3:23) mungkin merasa bahwa ajaran Paulus itu selaras dengan filsafat dualisme Yunani yang menganggap materi jahat, tidak penting dan tidak berhubungan dengan kerohanian yang sejati. Mereka berpikir bahwa sebagai orang yang sudah rohani mereka tidak seyogyanya dipengaruhi oleh apa yang dilakukan oleh materi. Petunjuk lain yang mengarah pada dugaan ini adalah munculnya frase “segala sesuatu diperbolehkan” dalam beberapa tulisan filsafat Yunani yang memegang paham dualisme, misalnya Stoa, Cynisisme, Gnostisisme. Walaupun filsafat Gnostisisme tidak relevan bagi jemaat Korintus – filsafat ini baru menjadi -isme pada abad II – namun konsep dualisme Yunani yang melandasi ketiga filsafat ini sudah lama berkembang.

Sekilas cara berpikir jemaat Korintus tampak sangat logis dan menarik. Makanan dan perut memang tidak bernilai kekal. Seks juga berkaitan dengan kebutuhan biologis. Bagaimanapun, Paulus berhasil menunjukkan kesalahan berpikir ini. Pertama, tubuh adalah untuk Tuhan (ay. 13b). Tubuh bukan hanya untuk sesuatu yang sifatnya sementara, misalnya makanan dan seks. Tubuh terutama adalah untuk Tuhan. Sebagai orang Kristen yang sudah ditebus, kita tidak boleh membiarkan dosa menguasai tubuh kita dan sebaliknya kita harus menggunakan tubuh ini untuk melayani Allah (Rm. 6:12-13). Kita wajib mempersembahkan tubuh sebagai kurban yang kudus, hidup dan berkenan kepada Allah (Rm. 12:1). Tubuh kita yang material ini memang akan binasa pada saat kita dikubur, namun sebelum hal itu terjadi kita harus menggunakannya untuk melayani Tuhan. Hal ini berbeda dengan konsep berpikir jemaat Korintus. Mereka menganggap bahwa karena tubuh ini akan binasa maka sekarang ini kita tidak perlu menjaganya. Sebaliknya, Paulus menekankan bahwa karena dibinasakannya baru nanti maka sekarang harus dipakai untuk kebenaran.

Kedua, Tuhan adalah untuk tubuh (ay. 13c-14). Apa maksud dari ungkapan ini? Berdasarkan konteks yang ada, maka ungkapan ini pasti berhubungan dengan kebangkitan (ay. 14) dan penebusan (ay. 20). Kristus bukan hanya menebus roh atau jiwa kita, tetapi Dia juga menebus tubuh kita. Bahkan kebangkitan Kristus juga menjadi jaminan bahwa tubuh kita pun akan dibangkitkan di akhir jaman (15:20-23; bdk. Rm. 8:11; Kol. 1:18). Allah yang membangkitkan Tuhan Yesus juga akan membangkitkan tubuh kita kelak (6:14). Poin tentang kebangkitan tubuh ini selanjutnya akan dibahas Paulus secara panjang lebar (15:51-54) ketika dia menegur sebagian jemaat yang tidak mempercayai kebangkitan orang mati (15:12).

Ungkapan “Allah yang membangkitkan Tuhan...” di ayat 14 tidak boleh dipahami bahwa Kristus tidak berkuasa untuk membangkitkan diri-Nya sendiri. Alkitab kadangkala memang menyatakan bahwa subjek kebangkitan adalah Allah, tetapi Alkitab juga mengajarkan bahwa subjek tersebut adalah Roh Allah (Rm. 1:4; 8:11) atau Kristus sendiri (Yoh. 2:19, 21; 10:18). Jadi, kebangkitan adalah pekerjaan satu Allah, Allah Tritunggal.

Nah, jikalau Allah dan Kristus sangat menghargai tubuh kita – yang dibuktikan dengan penebusan dan jaminan kebangkitan – maka kita pun seharusnya menghormati tubuh kita. Kita harus menjaganya dari semua dosa, terutama dari dosa-dosa yang langsung bersentuhan dengan tubuh kita, misalnya percabulan dengan pelacur (bdk. 6:18 “orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri”). Orang Kristen yang masih terjebak pada percabulan adalah orang-orang yang tidak menghargai tubuhnya sebagaimana Tuhan menghargai hal itu. Kalau Tuhan sudah melakukan segala sesuatu untuk tubuh kita (6:13c), berlebihankah jika Ia menuntut kita memberikan tubuh kita untuk Dia (6:13b)? #