Kamis, 31 Januari 2019

APAKAH ORANG KRISTEN BOLEH MAKAN MAKANAN YANG DIPERSEMBAHKAN KEPADA BERHALA ??

Kalau ada makanan yang sudah dipersembahkan pada berhala di suguhkan pada kita, sebagai Orang Kristen...boleh nggak kita memakannya ?

Makan Persembahan Berhala boleh-boleh saja, karena:
Matius 15:11 "...bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang."
--
namun tetap harus berhikmat, kalo pas ada orang2 yg lemah imannya & suka meributkan hal2 sepele seperti itu , ya lebih baik gak usah makan di-depan dia, supaya gak jadi batu sandungan, hehehe. Karena :

1Kor 8:8 "Makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan dan kita tidak untung apa-apa, kalau kita makan."
1Kor 8:9 Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah.
--
Demikian juga kalo pas ada Imlek & anda diundang makan oleh tuan rumah yg keluarganya belum percaya Yesus, lalu mereka menyajikan makanan2 dari persembahan berhala, maka kita tidak perlu menolak sehingga membuat mereka malah sakit hati pada kita. So, makan aja, Nggak apa-apa kok. Firman Tuhan berkata :

1 Korintus 10:27 Kalau kamu diundang makan oleh seorang yang tidak percaya, dan undangan itu kamu terima, makanlah apa saja yang dihidangkan kepadamu, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani.
--
Tapi kalo lagi asyik makan makannan itu, tiba-tiba ada orang Kristen yang tidak setuju, lalu ngomel-ngomel & ngoceh gak karuan "Kamu gila ya ..., Jangan dimakan dunk, itu kan makanan persembahan berhala"... yach tersenyumlah, lalu cukup makan nasi putih aja, bilang aja ama tuan rumah kalo anda lagi mau diet atau lagi puasa mutih cuma makan nasi putih karena sedang cari wangsit....... (Lalu biarkan aja dia yang ribut sama tuan rumah & berkelahi di-taman depan. wkwkwkwk)

1 Kor 10:28 Tetapi kalau seorang berkata kepadamu: "Itu persembahan berhala!" janganlah engkau memakannya, oleh karena dia yang mengatakan hal itu kepadamu dan karena keberatan-keberatan hati nurani.
--
Tapi kalo emang lagi anda lagi laper banget, dan yang ada cuman makanan persembahan berhala itu yg terdiri dari berbagai menu (Ada salad 7 rasa, ayam pengemis, ikan salmon jamur es, cumi goreng mentega dengan caviar, udang mabuk saus rum, steak lulur dalam, dsb huaaa...enyak, enyak, enyak...), tapi kamu masih aja sungkan-sungkan, maka silahkan menahan diri & telpon saya aja. Nanti saya pasti datang mewakilimu.

1 Kor 10:29 Yang aku maksudkan dengan keberatan-keberatan bukanlah keberatan-keberata hati nuranimu sendiri, tetapi keberatan-keberatan hati nurani orang lain itu. Mungkin ada orang yang berkata: "Mengapa kebebasanku harus ditentukan oleh keberatan-keberatan hati nurani orang lain?
--

Tapi kalau nggak mau diwakili, karena seumur-umur baru ketemu makanan senikmat itu, ya udah nikmati saja dengan ucapan syukur.

1Korintus 10:30 Kalau aku mengucap syukur atas apa yang aku turut memakannya, mengapa orang berkata jahat tentang aku karena makanan, yang atasnya aku mengucap syukur?"
--
Daripada anda kelaparan, lalu nyesel 7 keturunan dan mengeluh kenapa harus ada dia, dan ini malah nggak memuliakan Tuhan...ya udah, sikat aja bleeh......

1Korintus 10:31 Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.
--
Jadi, kalo ada kasus kayak gitu, mending kita tetap makan persembahan berhala itu bersama tuan rumahnya. Soalnya, orang kristen yang protes itu, meskipun saya melanggar protesnya dia, toh dia akan tetap percaya Yesus. Sedangkan tuan rumah yg ngundang saya itu kan belom percaya Yesus, maka saya akan lebih memilih untuk makan makanan berhala itu bareng dengan dia, supaya saya punya kesempatan memberitakan injil keselamatan kepadanya.

1Korintus 10:32 Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah.
1Korintus 10:33 Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat.
--
Jadi kesimpulannya,
1 Korintus 10:23 "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.

1 Korintus 10:24 Jangan seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.

1 Korintus 10:25 Kamu boleh makan segala sesuatu yang dijual di pasar daging, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani.

1 Korintus 10:26 Karena: "bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan."

Jadi, kalo mau tanya, makanan mana yang halal & yang haram ? Bukan berhala yang menentukan, karena berhala tuh nggak bisa makan. Pegang sendok, garpu atau sumpit saja nggak bisa...trus, mana yang halal dan mana yang haram ?

Ah..gitu aja kok repot. Pokoknya : "Makanan yg Enak itu Halal. Makanan yang nggak enak itu Haram"

wahahahahahaha

 Nyaam..Nyam..Nyaam.

TAFSIRAN FILIPI 4: 13Filipi 4:13, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”

Penafsiran Kontekstual
· Konteks dekat
Hal yang perlu diperhatikan dari nats yang ditafsirkan adalah kata “segala perkara”. Konteks dekatnya meliputi konteks sebelum dan sesudah dari nats yang ditafsirkan. 
Dalam Filipi 4:6, mengatakan supaya jangan kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Berdasarkan ayat ini, hal kekuatiran adalah bagian dari ungkapan ‘segala perkara’ yang dimaksudkan Paulus. Selain itu juga dalam Flp. 4:11, “Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” Dari ayat ini hal mengenai kekurangan juga dapat menjadi bagian dari ungkapan ‘segala perkara.’ Filipi 4:12 juga berkata, “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.” Dari ayat ini hal-hal mengenai apa itu kekurangan dan kelimpahan, juga mengenai hal makanan merupakan bagian dari ungkapan ‘segala perkara.’ Selain itu juga ada dalam Filipi 4 ayat (14), “...bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku,” dan juga dalam ayat (19), “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus.” Adapun bagian dari ungkapan ‘segala perkara’ dalam ayat ini adalah hal mengenai kesusahan dan juga segala keperluanmu.
· Konteks jauh
Dari konteks jauhnya, ungkapan ‘segala perkara’ dapat juga merupakan hal untuk seia sekata supaya tidak terjadi perpecahan, melainkan supaya bersatu dan merendahkan diri seperti Kristus (2:1-11). Selain itu juga perkara untuk tetap kerjakan keselamatan, seperti dalam Filipi 2:12-18.

Kesimpulan: Jadi ‘segala perkara’ yang dimaksud adalah hal-hal mengenai kekuatiran, kekurangan, kelimpahan, akan makanan, juga perkara untuk bersatu supaya tidak terjadi perpecahan dan perkara dalam mengerjakan keselamatan.

Penafsiran Literal
· Arti dari kamus
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
Ø Segala : semua; sekalian (tidak ada kecualinya)
seluruh; segenap
Ø Perkara : masalah; persoalan; urusan
Ø Tanggung : menyangga; memikul
Ø Memberi : menyerahkan (membagikan, menyampaikan); menyediakan; mengizinkan; menjadikan
· Alkitab terjemahan lainnya
Ø Alkitab terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS)
Filipi 3:14, “Dengan kuasa yang diberikan Kristus kepada saya, saya mempunyai kekuatan untuk menghadapi segala rupa keadaan.”
Ø Alkitab Terjemahan Lama (TL)
Filipi 4:13, “Segala sesuatu aku cakap menanggung di dalam Dia yang menguatkan aku.”
Ø New International Version (NIV)
Philippians 4:13, “I can do everything through him who gives me strength.”

Kesimpulan:
Dari terjemahan-terjemahan lainnya, arti kata ‘segala perkara’ memiliki beberapa pengertian, di antaranya: segala rupa keadaan; segala sesuatu; everything. Maksud dari beberapa pengertian ‘segala perkara’ dapat dilihat dari konteks sebelumnya.

Penafsiran Gramatikal
Secara gramatikal, kata-kata dalam nats yang ditafsirkan memiliki fungsinya sendiri. Aku sebagai subjek (pelaku); tanggung/menanggung sebagai predikat atau kata kerjanya; segala perkara adalah objeknya; di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku sebagai keterangannya. Jadi pengertiannya adalah bahwa aku dapat menanggung segala perkara di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Hal-hal apa saja yang dimaksud dalam ‘segala perkara’ ini dapat dilihat kaitan atau hubungannya dari konteks nats ini.

Kesimpulan
Jadi kata ‘segala perkara’ memiliki kedudukan sebagai objek dari suatu tindakan, di mana aku (subjeknya) akan menanggung segala perkara ini di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

Penafsiran Historis
Dari penjara (Flp. 1:7, 13-14), Paulus menuliskan surat Filipi ini kepada orang-orang percaya di Filipi untuk mengucapkan terima kasih atas pemberian mereka kepadanya. Paulus juga menuliskan kalimat: bersukacitalah di dalam Tuhan (Flp. 4:4). Meskipun ia sendiri di dalam penjara, Paulus tetap menyampaikan pengajaran dalam suratnya supaya jemaat selalu bersukacita di dalam Tuhan, sebab dalam segala hal dan segala perkara tidak ada yang merupakan rahasia (Flp. 4:12). 
Selain itu juga Paulus mendengar berita mengenai jemaat Filipi dari rekan sekerjanya, yaitu tentang perpecahan di tengah-tengah anggota jemaat (Flp. 2:1-11). Dengan lembut Paulus menegur mereka karena hal ini, dan meminta mereka supaya seia sekata di dalam Tuhan.

Penafsiran berdasarkan tujuan penulis
Surat Filipi ini dikirimkan oleh Paulus, seorang hamba Tuhan, kepada orang-orang kudus yang ada di Filipi dengan para penilik jemaat dan diaken (Flp. 1:1). Tujuan Paulus dalam suratnya ini adalah ingin menyampaikan ucapan syukurnya kepada Allah karena persekutuan jemaat dalam Berita Injil dan atas pekerjaan baik yang dilakukan (1:5-6). Selain itu juga Paulus memberikan kesaksian dirinya di dalam penjara, dimana ia mengatakan meskipun keadaannya di dalam penjara, namun ia tetap bersukacita (1:18). Tujuan Paulus lainnya adalah menasihatkan jemaat supaya seia sekata untuk bersatu dengan merendahkan diri seperti Kristus. Hal ini perlu disampaikan Paulu sebab ia mendengar bahwa ada perpecahan di dalam jemaat. Tujuan Paulus lainnya dalam menuliskan surat ini adalah untuk mengucapkan terima kasih kepada jemaat atas pemberiannya dan juga memperhatikannya (4:10-20).

Penafsiran Teologis
· Dalam kitab yang sama
Flp. 3:19, “…aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.”
Flp. 4:12, “…Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku…”

Dalam Perjanjian Baru
Mat. 25:21, “…Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar.”
Kolose 3:1, “Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.”
Luk. 16:10, “"Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.
Roma 12:16, “Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana...”

KESIMPULAN 
Dari Filipi 4:13, yang perlu ditafsirkan adalah ungkapan (kata) ‘segala perkara’. Hal ini telah dijawab juga secara kontekstual, dimana ‘segala perkara’ yang dimaksud ini adalah hal-hal mengenai kekuatiran, kekurangan, kelimpahan, akan makanan, juga perkara untuk bersatu supaya tidak terjadi perpecahan dan perkara dalam mengerjakan keselamatan. Dan Paulus mengatakan supaya segala perkara ini ditanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan.

Selasa, 29 Januari 2019


Hasil diskusi dengan teman HT tentang AHOK yang menikah lagi dengan Puput, 15 Feb 2019:
1.      Kontroversi mengenai apakah perceraian dan pernikahan kembali diizinkan oleh Alkitab mengacu pada kata-kata Yesus dalam Matius 5:32 dan 19:9. Frasa “kecuali karena zinah,” adalah satu-satunya alasan dalam Alkitab di mana Allah memberikan izin untuk perceraian dan pernikahan kembali.

Tetapi secara konteks dan memperhatikan ayat-ayat lain dalam kesatuan Alkitab seperti Maleakhi 2:16a: “Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel.” , sebetulnya Tuhan Yesus tidak mengijinkan perceraian dengan alasan apapun.

2.      Peristiwa yang melatarbelakangi adalah ketika Tuhan Yesus lagi-lagi diperhadapkan dengan ketentuan hukum Musa…yg sebetulnya Musa juga tidak mengijinkan perceraian, tetapi karena ketegaran hati (baca : kedegilan hati) orang Israel, sehingga Musa ‘terpaksa’ mengijinkan.  Tuhan Yesus dengan tepat sebetulnya ingin menyampaikan bahwa Ia sendiripun tidak menyetujui perceraian. Jadi walaupun dalam Mat 19:9-10, khususnya di ayat 9 ada pernyataan Yesus yang seolah-olah mengijinkan perceraian.  "Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.", sebetulnya penafsiran secara konteks tidaklah demikian.

Lalu di ayat 10 dikatakan :  "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin.". Artinya kalau begitu berat konsekuensi untuk ‘diijinkan’ bercerai, karena pasangan suami istri itu akan sama-sama berzinah bila menikah lagi, sehingga kalau demikian sulitnya, maka para murid berujar lebih baik tidak menikah.

3.      Jadi menurut saya kalimat Tuhan Yesus ini bukanlah mengijinkan perceraian, tetapi lebih kepada memberi solusi atas keputusan yang telah diberikan Musa terdahulu, yakni mengijinkan perceraian. Yesus ingin menyampaikan bahwa kalau pasutri bercerai yang sebenarnya tidak dijinkan Allah, maka mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal dengan alasan yang dipakai untuk bercerai. Kalau cerai alasannya zinah, maka pihak yang merasa tidak berzinah, tapi kemudian kawin lagi akan tetap dimata Allah berzinah. Perempuan yang berbuat zinah tidak otomatis bisa diceraikan. Dosa perempuan tersebut adalah dosanya kepada Allah. Sedangkan suami kalaupun menceraikan dan kemudian kawin lagi, malah bisa dianggap zinah juga. Intinya tidak dibolehkan ada perceraian dengan alasan apapun.

4.      Menurut Alkitab, kehendak Allah terhadap pernikahan sebagai komitmen seumur hidup. “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Matius 19:6).



Kamis, 29 November 2018

These photos was taken as a memory before I left Batam for another ministry in November 2018. Togetherness with my daughter.










Selasa, 27 November 2018

EKSPOSISI 1 KORINTUS 6:12-14

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 6:12-14



1 Korintus 6:12-20 membahas tentang suatu topik yang baru, yaitu perzinahan dengan pelacur (6:16). Pembacaan yang teliti menunjukkan bahwa kesalahan jemaat Korintus bukan hanya terletak pada tindakan perzinahan tersebut, tetapi juga pada konsep theologis yang salah yang mendorong mereka melakukan hal itu. Mereka menganggap bahwa tindakan itu bukanlah suatu hal yang mempengaruhi kerohanian. Anggapan seperti ini bersumber dari konsep mereka tentang kebebasan Kristiani (6:12) dan tubuh (6:13-14) yang salah. Sama seperti kasus percabulan dengan ibu istri yang justru dibanggakan oleh mereka (5:1-2), kasus perzinahan dengan pelacur pun tidak membuat mereka malu. Mereka bahkan memiliki berbagai macam alasan untuk membenarkan tindakan ini.

Terhadap persoalan ini Paulus mula-mula mengoreksi konsep telogis mereka yang salah tentang kebebasan Kristiani dan tubuh (6:12-14). Menurut Paulus, kebebasan di dalam Kristus tidak berarti perijinan atau hak untuk melakukan segala sesuatu yang kita kehendaki. Kebebasan ini harus memperhatikan dua hal: apakah orang lain mendapat keuntungan atau dibangun melalui tindakan kita (6:12a)? apakah kebebasan itu justru memperbudak kita (ay. 12b)? Selanjutnya Paulus memberikan argumen yang mendukung pandangannya (6:15-20). Ada tiga argumen yang masing-masing dimulai dengan pertanyaan retoris “tidak tahukah kamu” (bdk. 6:15, 16, 19). Di ayat 15 dia menegaskan bahwa tubuh kita adalah anggota Kristus yang tidak boleh diserahkan kepada percabulan. Di ayat 16-18 dia mengajarkan bahwa orang percaya sudah diikatkan dengan Kristus secara rohani, sehingga mereka tidak boleh mengikatkan diri dengan pelacur. Terakhir, di ayat 19-20 Paulus mengingatkan bahwa tubuh mereka adalah bait Roh Kudus, sehingga tidak boleh dicemarkan dengan dosa perzinahan.

Dalam khotbah minggu ini kita tidak akan membahas keseluruhan respons Paulus di 1 Korintus 6:12-20. Kita hanya akan memfokuskan pada koreksi Paulus terhadap kesalahpahaman theologis jemaat Korintus (ay. 12-14). Kita akan belajar bagaimana pandangan Paulus terhadap kebebasan Kristiani (ay. 12) dan tubuh (ay. 13-14).


Kesalahpaham Seputar Kebebasan Kristiani (ay. 12)
Hampir semua penafsir setuju bahwa frase “segala sesuatu adalah halal bagiku” merupakan slogan jemaat Korintus yang dikutip dan ditentang oleh Paulus. Pendapat ini didasarkan pada dua hal: (1) kata sambung “tetapi” yang mengontraskan slogan ini dengan konsep Paulus; (2) di pasal 10:23 Paulus mengutip slogan ini lagi dan memberi jawaban “benar, tetapi...”. Dari cara Paulus meresponi frase ini terlihat bahwa frase ini memang slogan dari jemaat Korintus.

Mereka berpendapat bahwa segala sesuatu adalah halal. Terjemahan LAI:TB “halal” dalam konteks ini sedikit kurang tepat. Kata “halal” memberi kesan bahwa persoalan yang dibahas hanyalah seputar makanan, padahal isu yang dibahas lebih daripada itu. Sesuai bahasa Yunani yang dipakai, kita seharusnya menerjemahkan frase ini dengan “segala sesuatu bagiku diperbolehkan” (exestin). Kata exestin muncul sebanyak 31 kali dalam PB dan selalu memiliki arti “diperbolehkan” (Mat. 12:2, 4, 10, 12; 14:4; 19:3; 20:15; 22:17). Hampir semua versi Inggris dengan tepat menerjemahkan kata ini dengan “lawful” (ASV/KJV/RSV/NASB) atau “permissible” (NIV).

Konsep tentang boleh atau tidak boleh (baca: kebebasan) merupakan isu yang krusial bagi jemaat Korintus. Paulus berkali-kali menyinggung tentang hal ini. Kadang dia berhati-hati agar pernyataannya tidak disalahmengerti sebagai penolakan terhadap kebebasan mereka (7:35). Di sisi lain dia dengan tegas memperingatkan agar mereka tidak menyalahgunakan kebebasan tersebut tanpa memperhatikan kepentingan orang lain (8:9; 10:23).

Mengapa jemaat Korintus bisa terjebak pada konsep tetang kebebasan Kristiani yang salah sampai-sampai mereka membenarkan perzinahan dengan pelacur? Para penafsir biasanya menduga bahwa mereka telah salah paham (lebih tepatnya menyalahgunakan) ajaran Paulus tentang kebebasan Kristiani. Paulus memang sering kali menegaskan bahwa orang Kristen berada di bawah anugerah dan sudah tidak di bawah Taurat atau berbagai tradisi manusia yang lain (bdk. Rm. 6:14). Penekanan seperti ini sering kali disalahmengerti oleh orang-orang yang mengagungkan kebebasan, seperti yang diakui juga oleh Paulus (Rm. 3:8) maupun Petrus (2Ptr. 3:16). Orang-orang seperti ini telah terjebak pada gaya hidup antinomianisme (berasal dari kata anti = “tidak” dan nomos = “hukum”).

Terhadap kesalahpahaman jemaat ini Paulus memberikan dua jawaban. Pertama, kebebasan harus membawa kegunaan/keuntungan (ay. 12a “tetapi bukan segala sesuatu berguna”). New English Bible (NEB) menerjemahkan “not everything is for my good” seolah-olah kegunaan ini berkaitan dengan diri sendiri. Jika kita menyelidiki pemunculan kata sumpherō dalam surat 1 Korintus, maka kita akan menemukan bahwa kata ini selalu dikaitkan dengan kegunaan bagi orang lain. Dalam pasal 10:23-24 kata sumpherō disejajarkan dengan “membangun” dan hal ini dikaitkan dengan kepentingan orang lain. Di pasal 12:7 kata ini muncul lagi dalam konteks kepentingan bersama.

Dengan demikian Paulus di 6:12a tidak sedang membicarakan keuntungan yang akan diterima oleh orang tersebut, tetapi kepentingan untuk seluruh jemaat. Dia secara tersirat ingin memperingatkan bahwa kebebasan jemaat Korintus tidak membawa keuntungan bagi gereja. Sebaliknya, sama seperti kasus percabulan dengan ibu tiri (5:1), kebebasan ini justru akan mencoreng reputasi gereja. Tindakan ini juga bisa berdampak buruk bagi jemaat yang lain seandainya mereka terpengaruh dan meniru tindakan ini, sama seperti ragi yang mencemari seluruh adonan (5:7-8).

Dari sini terlihat bahwa etika Kristiani bukan hanya masalah boleh atau tidak boleh maupun benar atau tidak benar. Sekalipun yang kita lakukan adalah benar, hal ini tidak berarti bahwa kita boleh melakukan hal itu. Jika apa yang kita lakukan menjadi batu sandungan bagi orang percaya yang lain (8:8-9), maka kita tidak boleh melakukan hal itu. Apalagi dalam kenyataan kita sering kali menganggap benar apa yang sebenarnya salah, sama seperti yang dilakukan oleh jemaat Korintus. Jadi, di 6:12a Paulus sebenarnya belum membahas tentang kesalahan dalam perzinahan dengan pelacur, tetapi dia telah meletakkan salah satu dasar etika Kristiani yang penting: terlepas dari benar atau tidak benar, jika tindakan itu tidak membangun orang lain, maka kita tidak boleh melakukannya!

Jawaban Paulus yang kedua terhadap kesalahpahaman jemaat Korintus tentang kebebasan Kristiani dapat kita lihat di ayat 12b. Dia memperingatkan jemaat agar berhati-hati dengan kebebasan karena kebebasan sering kali justru menjadi perbudakan (ay. 12b “tetapi aku tidak mau diperhamba oleh suatu apa pun”). Kata “diperbudak” (LAI:TB) berasal dari kata exousiasthesomai (dari kata dasar exousiazō yang berarti “menguasai”, bdk. 7:4). Jika dilihat dari kalimat Yunani yang dipakai, maka kita akan menemukan permainan kata antara exestin (“diperbolehkan”) dan exoussiasthesomai (“dikuasai”). Berdasarkan permainan kata ini kita dapat memahami ayat 12b sebagai berikut: “segala sesuatu bagiku diperbolehkan (aku punya kuasa), tetapi aku tidak akan dikuasai oleh suatu apa pun”.

Apa yang disampaikan Paulus di bagian ini merupakan suatu hal yang penting untuk diperhatikan. Kita memang sering kali berpikir bahwa kita bebas melakukan suatu tindakan, tetapi ketika kita tidak bisa tidak melakukan hal itu, maka hal itu sudah menjadi tuan yang merampas kebebasan kita. Kita berpikir bahwa kita bebas dalam melakukan suatu dosa, padahal dosa itu pada akhirnya akan menguasai kita sehingga kita akan terus mengikuti kemauannya. Dengan demikian kebebasan kita telah menjadi perbudakan bagi diri kita sendiri.


Kesalahpahaman Seputar Tubuh (ay. 13-14)
Di ayat 13-14 Paulus mengoreksi kesalahpahaman lain yang dipegang oleh jemaat Korintus, yaitu tentang tubuh. Mereka mengatakan bahwa “perut adalah untuk makan dan makan untuk perut, sedangkan dua-duanya akan dibinasakan oleh Allah” (ay. 13a). Maksudnya, jika semua hal yang berkaitan dengan materi (tubuh kita) akan dibinasakan, maka semua hal itu tidak terlalu penting. Semua itu tidak berpengaruh terhadap kerohanian kita maupun berdampak pada kekekalan. Nah, jika keinginan terhadap makanan dan perut tidak penting, maka dengan demikian keinginan terhadap seks dan tubuh juga tidak penting. Bukankah rasa lapar dan hawa nafsu seksual sama-sama berasal dari keinginan materi dalam diri manusia?

Kesalahpahaman seperti di atas sangat mungkin merupakan hasil penyalahgunaan ajaran Paulus dan perpaduan dengan filsafat Yunani. Paulus memang beberapa kali menegaskan bahwa masalah makanan adalah masalah yang sementara (Kol 2:20-22), tetapi dia tidak pernah melangkah lebih jauh daripada itu. Jemaat Korintus yang cenderung mengagungkan hikmat duniawi (1:18-3:23) mungkin merasa bahwa ajaran Paulus itu selaras dengan filsafat dualisme Yunani yang menganggap materi jahat, tidak penting dan tidak berhubungan dengan kerohanian yang sejati. Mereka berpikir bahwa sebagai orang yang sudah rohani mereka tidak seyogyanya dipengaruhi oleh apa yang dilakukan oleh materi. Petunjuk lain yang mengarah pada dugaan ini adalah munculnya frase “segala sesuatu diperbolehkan” dalam beberapa tulisan filsafat Yunani yang memegang paham dualisme, misalnya Stoa, Cynisisme, Gnostisisme. Walaupun filsafat Gnostisisme tidak relevan bagi jemaat Korintus – filsafat ini baru menjadi -isme pada abad II – namun konsep dualisme Yunani yang melandasi ketiga filsafat ini sudah lama berkembang.

Sekilas cara berpikir jemaat Korintus tampak sangat logis dan menarik. Makanan dan perut memang tidak bernilai kekal. Seks juga berkaitan dengan kebutuhan biologis. Bagaimanapun, Paulus berhasil menunjukkan kesalahan berpikir ini. Pertama, tubuh adalah untuk Tuhan (ay. 13b). Tubuh bukan hanya untuk sesuatu yang sifatnya sementara, misalnya makanan dan seks. Tubuh terutama adalah untuk Tuhan. Sebagai orang Kristen yang sudah ditebus, kita tidak boleh membiarkan dosa menguasai tubuh kita dan sebaliknya kita harus menggunakan tubuh ini untuk melayani Allah (Rm. 6:12-13). Kita wajib mempersembahkan tubuh sebagai kurban yang kudus, hidup dan berkenan kepada Allah (Rm. 12:1). Tubuh kita yang material ini memang akan binasa pada saat kita dikubur, namun sebelum hal itu terjadi kita harus menggunakannya untuk melayani Tuhan. Hal ini berbeda dengan konsep berpikir jemaat Korintus. Mereka menganggap bahwa karena tubuh ini akan binasa maka sekarang ini kita tidak perlu menjaganya. Sebaliknya, Paulus menekankan bahwa karena dibinasakannya baru nanti maka sekarang harus dipakai untuk kebenaran.

Kedua, Tuhan adalah untuk tubuh (ay. 13c-14). Apa maksud dari ungkapan ini? Berdasarkan konteks yang ada, maka ungkapan ini pasti berhubungan dengan kebangkitan (ay. 14) dan penebusan (ay. 20). Kristus bukan hanya menebus roh atau jiwa kita, tetapi Dia juga menebus tubuh kita. Bahkan kebangkitan Kristus juga menjadi jaminan bahwa tubuh kita pun akan dibangkitkan di akhir jaman (15:20-23; bdk. Rm. 8:11; Kol. 1:18). Allah yang membangkitkan Tuhan Yesus juga akan membangkitkan tubuh kita kelak (6:14). Poin tentang kebangkitan tubuh ini selanjutnya akan dibahas Paulus secara panjang lebar (15:51-54) ketika dia menegur sebagian jemaat yang tidak mempercayai kebangkitan orang mati (15:12).

Ungkapan “Allah yang membangkitkan Tuhan...” di ayat 14 tidak boleh dipahami bahwa Kristus tidak berkuasa untuk membangkitkan diri-Nya sendiri. Alkitab kadangkala memang menyatakan bahwa subjek kebangkitan adalah Allah, tetapi Alkitab juga mengajarkan bahwa subjek tersebut adalah Roh Allah (Rm. 1:4; 8:11) atau Kristus sendiri (Yoh. 2:19, 21; 10:18). Jadi, kebangkitan adalah pekerjaan satu Allah, Allah Tritunggal.

Nah, jikalau Allah dan Kristus sangat menghargai tubuh kita – yang dibuktikan dengan penebusan dan jaminan kebangkitan – maka kita pun seharusnya menghormati tubuh kita. Kita harus menjaganya dari semua dosa, terutama dari dosa-dosa yang langsung bersentuhan dengan tubuh kita, misalnya percabulan dengan pelacur (bdk. 6:18 “orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri”). Orang Kristen yang masih terjebak pada percabulan adalah orang-orang yang tidak menghargai tubuhnya sebagaimana Tuhan menghargai hal itu. Kalau Tuhan sudah melakukan segala sesuatu untuk tubuh kita (6:13c), berlebihankah jika Ia menuntut kita memberikan tubuh kita untuk Dia (6:13b)? #

Selasa, 06 November 2018

EKSPOSISI 1 KORINTUS 7:1-2

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 7:1-2



Bagian ini membahas suatu topik yang baru. Hal ini ditunjukkan melalui penggunaan frase “sekarang tentang...” (7:1) yang selanjutnya akan dipakai berkali-kali untuk memperkenalkan suatu topik yang baru (7:25; 8:1, 4; 12:1; 16:1). Walaupun bagian ini membahas topik yang baru, tetapi bukan berarti tidak memiliki kaitan apa pun dengan bagian sebelumnya (6:12-20). Dua bagian ini sama-sama berbicara tentang bahaya percabulan (6:15-16, 18; 7:2). Keduanya juga menyinggung tentang kesatuan daging antara laki-laki dan perempuan (6:16; 7:4).

Jika memang pasal 7:1-24 membahas tentang topik yang baru, permasalahan apakah yang ditangani Paulus di bagian ini? Jawaban terhadap pertanyaan ini tergantung pada cara kita menafsirkan ayat 1b “adalah bagi laki-laki jika ia tidak kawin.” Apakah bagian ini merupakan kalimat Paulus atau dia sekadar mengutip pernyataan jemaat Korintus? Saya sendiri memilih alternatif yang terakhir (lihat pembahasan detail di ayat 1b). Jika ini diterima, maka kita dapat menyimpulkan bahwa persoalan yang sedang dibicarakan adalah konsep jemaat Korintus yang anti terhadap hubungan seksual atau perkawinan. Mereka melarang suami-istri untuk melakukan hubungan seksual (7:2-5), memaksa orang untuk tidak menikah (7:6-9, 36-40), memerintahkan orang Kristen untuk menceraikan pasangannya yang tidak beriman (7:10-16).

Menghadapi masalah di ayat 1b, Paulus menjelaskan bahwa jika mereka sudah menikah maka mereka tidak boleh saling menjauhkan diri (ay. 2-5). Jika mereka belum menikah, maka mereka bisa menjalani hidup selibat (tidak menikah) jika Tuhan memberi karunia itu (ay. 6-8) atau mereka tidak dapat menguasai nafsu (ay. 9). Jika mereka sudah menikah dan pasangannya belum mengenal Tuhan, maka pihak orang Kristen tidak boleh menceraikan pasangannya (ay. 10-16). Sebagai konklusi, semua orang sebaiknya bertahan dalam keadaannya sekarang, bahkan untuk hal-hal yang di luar konteks perkawinan (ay. 17-24). Mereka tidak perlu mengubah status sosial mereka, apabila dengan motivasi yang salah.


Persoalan: Konsep yang Salah tentang Seksualitas (ay. 1)
Paulus menyebut hal-hal yang akan dia bahas mulai pasal 7:1 sebagai hal-hal yang jemaat Korintus tuliskan kepadanya. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa isu-isu yang dibahas sebelumnya (pasal 1-6) merupakan hal-hal yang didengar oleh Paulus (bdk. 1:11; 5:1). Walaupun kita tidak boleh secara mutlak menganggap semua isu setelah pasal 7 sebagai
berita tertulis (bdk. 11:18 “aku mendengar...”), namun sebagian besar di antaranya memang seperti itu (bdk. bentuk jamak “hal-hal yang kamu tuliskan...”; bdk. 7:25; 8:1, 4; 12:1; 16:1). Semua ini menunjukkan bahwa Paulus tetap dianggap sebagai bapa rohani mereka (bdk. 4:15), sekalipun sebagian dari mereka tidak menyukai Paulus (1:12; 4:1-5; 9:3). Hal ini sekaligus membuktikan kepedulian Paulus terhadap keadaan jemaat, walaupun ia sudah berpisah dari mereka (5:3) dan tidak didukung secara layak pada saat ia melayani mereka (9:12-18; 2Kor 11:7-9).

Para penafsir berbeda pendapat tentang ayat 1b. Sebagian meyakini bahwa bagian tersebut merupakan kalimat Paulus sendiri, sedangkan yang lain menganggap bagian itu sebagai dua pilihan ini, yang terakhir tampaknya lebih bisa diterima. Ada banyak argumen yang mendukung pendapat ini: (1) dalam surat 1 Korintus Paulus sering mengutip kalimat jemaat lalu memberikan tanggapannya terhadap hal itu (bdk. 6:12-13; 8:1, 4; 10:23); (2) Paulus memiliki konsep yang positif terhadap seksualitas (7:2-5) maupun pernikahan (7:36, 38; bdk. Ef 5:22-33), sehingga sangat janggal jika dia memiliki konsep seperti di ayat 1b; (3) bagi Paulus kehidupan selibat (tidak menikah) tidak boleh dipaksakan pada semua orang, karena hal itu adalah karunia dari Allah (7:7); (4) dalam tradisi Yahudi diajarkan keagungan pernikahan (bdk. Kej. 2:18), walaupun ada sebagian tokoh memilih selibasi. Sulit dipahami jika Paulus berani berkontradiksi dengan ajaran Alkitab yang mengajarkan “tidak baik laki-laki eorang diri saja”; (5) secara umum Paulus sangat menetang gaya hidup asketisisme, yaitu gaya hidup menjauhkan diri secara ekstrem dari semua hal yang berkaitan dengan tubuh supaya memperoleh kehidupan rohani yang lebih tinggi (Kol. 2:20-22; 1Tim. 4:3).

Di 1 Korintus 7 Paulus memang memberi indikasi bahwa tidak menikah itu lebih baik (7:6, 38), tetapi ia tidak pernah menganggap bahwa perkawinan sebagai sesuatu yang tidak baik. Jika ayat 1b berasal dari Paulus, maka ia kemungkinan besar akan menambahkan kata “lebih”, sehingga peredaksiannya menjadi “adalah lebih baik bagi laki-laki kalau ia tidak kawin.” Karena ayat 1b menyiratkan sikap yang negatif terhadap perkawinan, maka dapat dipastikan bahwa hal itu bukan berasal dari Paulus.

Mengapa jemaat Korintus bisa memiliki sikap yang negatif terhadap seks atau perkawinan? Sebagian besar penafsir meyakini bahwa mereka telah terjebak pada konsep spiritualitas yang salah. Sebagai jemaat yang dipenuhi dengan berbagai karunia Roh (1:5) – bahkan hal ini menjadi sumber peselisihan di antara mereka (pasal 12-14) – jemaat Korintus merasa diri sudah berada pada tingkat kerohanian yang sangat tinggi. Mereka meyakini bahwa pada tahap seperti ini semua keinginan jasmani atau material tidak memiliki pengaruh apa pun bagi mereka, baik pengaruh positif maupun negatif. Kalau di 6:12-20 mereka berzinah dengan pemahaman bahwa hal itu tidak akan membawa pengaruh negatif bagi kerohanian mereka, di 7:1-24 mereka justru menjauhi semua bentuk keinginan tubuh (seks). Orang yang mampu menjauhkan diri dari semua hal ini dianggap memiliki tingkat kerohanian yang tinggi. Berdasarkan kesalahan konsep ini, Paulus di akhir pembahasannya menegaskan bahwa ia pun memiliki Roh Allah (7:40). Penegasan seperti ini tentu saja tidak diperlukan apabila persoalan jemaat Korintus tidak berkaitan dengan topik seputar Roh Kudus atau kerohanian yang sifatnya mistis.

Jika ayat 1b merupakan slogan dari jemaat Korintus, maka kata “baik” (kalos) di ayat itu harus dipahami menurut perspektif mereka. “Baik” di sini lebih dipandang secara moral atau spiritual. Paulus di bagian selanjutnya nanti akan mengoreksi konsep “baik” tersebut. Bagi Paulus, tidak menikah memang baik, tetapi kebaikan itu berkaitan dengan efektivitas pelayanan. Mereka yang diberi karunia selibat (7:7) bisa memfokuskan diri pada urusan Tuhan (7:32-34). Pada dirinya sendiri selibasi tidak lebih baik daripada menikah. Orang yang selibat tidak lebih rohani atau bermoral daripada yang menikah.

Sebutan “laki-laki” (LAI:TB) di ayat 1b didasarkan pada jenis kelamin maskulin dari kata Yunani anthrōpos yang dipakai. Secara hurufiah kata anthrōpos sebenarnya memiliki arti yang umum (“manusia”), bisa merujuk pada laki-laki maupun perempuan. Kata yang lebih spesifik untuk laki-laki adalah anhr (7:2, 3, 4, 10, 11, 13, 14, 16, 34, 39). Penggunaan kata anthrōpos mungkin menyiratkan bahwa jemaat Korintus mengaplikasikan prinsip di ayat 1b kepada semua orang, bukan hanya terbatas pada laki-laki. Tidak heran, Paulus pun meresponi persoalan ini dari dua sisi: laki-laki maupun perempuan (7:2-3, 25).

Kita perlu membahas tentang ungkapan “kawin” di bagian akhir ayat 1b. Dalam kalimat Yunani, ungkapan yang dipakai adalah “tidak menyentuh wanita” (haptō gunaikos). Mayoritas versi memilih untuk mempertahankan terjemahan hurufiah ini (ASV/KJV/RSV/NASB), sedangkan yang lain berusaha memperjelas artinya dengan kata “menikah” (NIV). Baik jemaat Korintus maupun Paulus pasti tidak memaksudkan ungkapan ini secara hurufiah. Ungkapan “menyentuh wanita” dalam literatur kuno – baik Alkitab maupun di luar Alkitab – muncul sebanyak 9 kali dengan arti “bersetubuh dengan wanita” (bdk. Kej. 20:6(LXX); Ams. 6:29(LXX)). Dalam hal ini Amsal 6:29 lebih jelas karena “menghampiri (wanita)” disejajarkan dengan “menyentuh (wanita).” Makna seperti ini juga didukung oleh konteks 1 Korintus 7. Isu yang dibahas bukan hanya sekadar tentang pernikahan, tetapi juga hubungan seksual (7:3-5). Di samping itu, jika yang dimaksud oleh jemaat Korintus adalah “menikah”, maka mereka pasti akan memakai kata gamew (7:9, 28, 36, 39), bukan haptō.


Jawaban Paulus: Setiap Orang Hendaknya Memiliki Pasangannya Sendiri (ay. 2)
Kata sambung “tetapi” di awal ayat 2 mengindikasikan kontras antara pandangan jemaat Korintus (ay. 1b) dan Paulus. Di ayat ini Paulus lebih menyoroti tentang bahaya percabulan (ay. 2a). Di ayat 3-5 nanti dia akan lebih banyak memberikan alasan theologis bagi nasehatnya di ayat 2b. Jadi, nasihat Paulus di ayat 2b didasarkan pada dua pertimbangan: bahaya percabulan (ay. 2a) dan kesatuan suami-istri (ay. 3-5).

Peringatan ini harus dilihat dari dua sisi: situasi kota Korintus dan kelemahan jemaat Korintus. Kota Korintus memang terkenal sebagai kota percabulan, bahkan kata korinqiazw sering kali dipakai dalam arti “berbuat zinah.” Percabulan yang sudah dibahas di 5:1-13 dan 6:12-20 cukup sebagai bukti betapa berbahayanya situasi di Korintus. Bentuk jamak “percabulan” (tas porneias) yang dipakai di 7:2a menyiratkan berbagai kemungkinan yang berpotensi menjatuhkan jemaat Korintus.

Di sisi lain kita juga tidak boleh melupakan faktor internal manusia. Kita lemah dalam hal godaan seksual. Paulus pun beberapa kali mengingatkan jemaat Korintus tentang hal ini dengan kalimat “kamu tidak tahan bertarak” (7:5) atau “tidak dapat menguasai diri” (7:9). Kisah kejatuhan Yehuda (Kej. 38), Simson (Hak. 14-16) dan Daud (2Sam. 11-12) sudah cukup sebagai peringatan bagaimana berbahayanya godaan seksual.

Berdasarkan pertimbangan di atas, Paulus memberikan nasihat agar setiap laki-laki mempunyai istrinya sendiri, begitu pula dengan setiap perempuan (ay. 2b). Sekilas nasihat ini tampak mengajarkan sebuah pandangan yang rendah terhadap lembaga pernikahan. Pernikahan hanya dilihat sebagai solusi bagi godaan seksual yang berbahaya. Kesan ini memang tidak terelakkan, karena ungkapan “mempunyai suami/istri” memberi kesan “menikah.” Tidak heran sebagian orang memandang ayat 2b sebagai nasihat kepada mereka yang belum menikah agar segera menikah daripada jatuh ke dalam percabulan. Dengan demikian Paulus terkesan kurang menempatkan keagungan pernikahan pada tempatnya.

Jika kita menyelidiki ayat ini secara lebih teliti, maka kita akan menemukan bahwa nasihat tersebut ditujukan pada mereka yang sudah menikah dan nasihat ini lebih mengarah pada hubungan seks, bukan pernikahan secara status. Pertama, ungkapan “mempunyai suami atau istri” (echō gunaika/andra). Ungkapan ini tidak dapat diartikan “menikah.” Jika Paulus memaksudkan “menikah”, maka ia mungkin akan menggunakan ungkapan “lambanō gunaika/andra (Tobit 4:12), bukan echō gunaika/andra. Ia juga bisa memakai kata yang lebih jelas yang nanti akan dia pakai di bagian selanjutnya, yaitu gameō (terutama 7:9 “biarlah ia kawin”). Berdasarkan pemunculan ungkapan echō gunaika dalam LXX, kita dapat mengetahui bahwa ungkapan ini memiliki arti “berhubungan seksual” (Kel. 2:1; Ul. 28:30; Yes. 13:16).

Kedua, konteks 1 Korintus 7:2-5. Bagian ini secara eksplisit membicarakan tentang hubungan seksual dalam sebuah pernikahan. Di samping itu, ungkapan “menyentuh wanita” di ayat 1b yang mengarah pada makna “hubungan seksual” juga turut menguatkan ide bahwa Paulus memang sedang membicarakan hubungan seksual. Jadi, Paulus tidak sedang membicarakan tentang pria dan wanita yang belum menikah.

Ketiga, kata “sendiri” (heautou/idion) Penambahan kata “sendiri” setelah kata “istri/suami” merupakan indikasi yang penting. Jika “mempunyai istri/suami” dipahami dalam arti “menikah”, maka kalimat di ayat 2b menjadi tidak masuk akal. Mengapa Paulus perlu menasehati orang untuk menikahi (mempunyai) istri/suaminya sendiri? Penambahan kata “sendiri”di sini akan menjadi lebih bermakna apabila “mempunyai istri/suami” ditafsirkan sebagai “berhubungan seksual.” Jadi, di bagian ini Paulus memberikan nasihat agar jemaat Korintus berhubungan seks dengan pasangannya masing-masing. Jika mereka melupakan hal ini, maka bahaya percabulan siap menghadang mereka. Menjauhkan diri dari pasangan (bdk. 7:5) bukanlah ide yang bijaksana jiak dilihat dari potensi kejatuhan yang akan terjadi.

Terakhir, kata “setiap” (hekastos/hekastē). Jika “mempunyai istri/suami” di ayat 2b dipahami dalam arti “menikah”, maka nasihat di ayat 2b “hendaklah setiap laki-laki/wanita menikah” akan berkontradiksi dengan ayat lain. Tidak setiap orang harus menikah, karena beberapa orang diberi karunia untuk selibat (7:6-8). Bagi mereka yang belum menikah pun Paulus menganjurkan agar tidak menikah supaya bisa konsentrasi kepada pelayanan (7:28, 32-34). Bagaimanapun, Paulus tetap memberi kebebasan kepada setiap orang untuk menikah atau selibat (7:6, 35).

Semua penjelasan di atas sudah cukup untuk meyakinkan kita bahwa nasihat di ayat 2b bukan ditujukan pada mereka yang belum menikah. Jika ini diterima, maka kesan sekilas bahwa Paulus menganggap rendah lembaga pernikahan akan segera sirna. Walaupun di ayat 9 Paulus tetap memikirkan pernikahan sebagai salah satu solusi bagi godaan seksual, namun kita perlu menggarisbawahi bahwa hal ini bukanlah pilihan yang ideal. Pilihan ini hanya bagi mereka yang tidak memiliki penguasaan diri. Bagi yang dewasa da kuat di dalam Tuhan, pernikahan bukanlah sekadar jalan keluar dari godaan seksual.


Refleksi
Kesalahan yang dilakukan oleh jemaat Korintus di atas ternyata terulang kembali sepanjang sejarah gereja, sekalipun dengan bentuk dan motivasi yang agak berbeda. Pada masa awal tradisi kebiaraan, banyak orang Kristen sengaja menyiksa diri dengan cara membuat diri mereka lapar, haus, menderita, menyendiri dari semua orang, dsb. Hidup selibat menjadi pilihan dan dianggap sebagai salah satu bukti kerohanian.

Di zaman modern ini kita masih bisa melihat sisa-sisa pemikiran yang sama, walaupun bentuknya tidak seekstrim dulu. Keengganan orang Kristen membicarakan seks secara detail sesuai dengan firman Tuhan menyiratkan bahwa seks masih dipandang sebagai sesuatu yang tabu atau – paling tidak – sesuatu yang tidak bersentuhan dengan kerohanian. Khotbah-khotbah di mimbar sangat jarang membahas topik tentang seks. #




Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 8 Februari 2009
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/1Korintus%2007%20ayat%2001-02.pdf

Rabu, 03 Oktober 2018

Bertumbuh dalam Pengampunan
(1 Yohanes 1:9)
Tujuan
Remaja mengerti apa yang harus dilakukan ketika jatuh dalam dosa dan belajar untuk mengampuni orang lain.

Inspirasi
       Tom adalah seorang remaja yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus. Di dalam pertumbuhan imannya, dia juga mengalami jatuh bangun atau pasang surut. Suatu kali dia curhat kepada pembimbingnya bahwa dia merasa malu dan tidak layak datang (berdoa) kepada Tuhan karena beberapa kali dia jatuh di dalam dosa yang sama. Ia bahkan berpikir apakah Tuhan masih mau mengampuni dia.
       Dalam kisah lain, diceritakan ada seorang dokter yang terkenal karena keahlian dan kesalehannya sebagai orang Kristen. Setelah kematiannya, buku catatan tentang pasien peninggalannya dibaca oleh sang istri. Banyak catatan tagihan yang telah dicoret dengan tinta merah yang bertuliskan: “Dihapuskan. Tidak mampu untuk membayar.” Namun istrinya tidak dapat menerima hal ini. Ia berusaha mendapatkan uang itu melalui pengadilan. Pada saat sidang berlangsung, hakim bertanya kepadanya, “Apakah ini tulisan suami Anda?” Ia mengiyakan. Hakim lalu memutuskan, “Kalau begitu, tak seorang pun yang dapat memaksa pasien-pasien itu untuk membayar, karena hutang mereka telah dihapuskan oleh almarhum.


Refleksi
  • Di dalam pertumbuhan iman kamu, pernahkah kamu mengalami atau merasakan seperti yang dialami/dirasakan oleh Tom?
  • Hal apa yang dapat kamu pelajari/teladani dari sikap dokter tersebut, jika dikaitkan dengan apa yang dilakukan Tuhan Yesus dengan pengorbanan-Nya di atas kayu salib?



Diskusi
  1. Apakah yang harus kita lakukan ketika kita jatuh dalam dosa? 
    • Mzm. 38:19
      ________________________________________________
    • Luk. 15:17-21
      ___________________________________________________________________
    • 1Yoh. 1:9
      ___________________________________________________________________
  2. Menurut Ams. 28:13 http://remaja.co/images/4/44/External.png dan Kis. 3:19 http://remaja.co/images/4/44/External.png, tindakan apa yang seharusnya kita lakukan setelah sadar akan dosa-dosa kita dan mengakuinya di hadapan Tuhan?



    • Ams. 28:13
      ____________________________________________________
    • Kis. 3:19
      ____________________________________________________
  1. Jaminan apa yang Tuhan berikan ketika kita mengakui dosa-dosa kita? (Yes. 43:25 ; Ibr. 10:17 ; 1Yoh. 1:9 )
    • Yes. 43:25
      ___________________________________________________________________
    • Ibr. 10:17
      ___________________________________________________________________
    • 1 Yoh. 1:9
      ___________________________________________________________________
  2. Apa yang menjadi dasar pengampunan dosa kita? (Yes. 53:5 ; Ef. 1:7 )
    ______________________________________________________________________
    ______________________________________________________________________
  1. Setelah kita menerima dan mengalami pengampunan dari Allah, bagaimanakah seharusnya sikap kita terhadap orang lain yang bersalah kepada kita? (Matius 6:12 ; Lukas 11:4 ; Efesus 4:32)
    _________________________________________________
    _________________________________________________




Aplikasi
  1. Tidak ada dosa yang terlalu besar yang tidak dapat diampuni oleh Tuhan. Kita memiliki jaminan akan pengampunan dosa karena Tuhan Yesus telah mati di atas kayu salib untuk membayar lunas hutang-hutang dosa kita. Diampuni Allah berarti semua dosa kita di hadapan Allah dihapuskan. Masih adakah dosa-dosa yang belum kamu akui di hadapan Tuhan? (Jika ada, ambillah waktu untuk berdoa memohon pengampunan-Nya dan bersyukurlah untuk pengampunan yang Allah berikan)
  2. Adakah seseorang yang telah membuat kamu kecewa/menyakiti kamu, sehingga kamu merasa sulit untuk mengampuni dia? (Jujurlah kepada Allah dan sebut dia dalam doamu serta belajarlah untuk mengampuni dia sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu).


Aksi
  1. Mengakui setiap dosa yang kita lakukan di hadapan Tuhan.
  2. Bersyukur untuk pengampunan yang Allah berikan.
  3. Mau mengampuni orang lain.


Konfirmasi
Marilah kita pergi ke kalvari untuk belajar bagaimana kita dapat diampuni,
dan kemudian kita diam di sana untuk belajar mengampuni
—(Charles Spurgeon)


-------------------------------------------------------------------------------------------

Panduan Pemimpin
Refleksi
  • Jika ada anggota yang memiliki pengalaman mirip/sama dengan Tom, berikan kesempatan untuk membagikannya.
  • Apa yang dilakukan oleh dokter dalam kisah ’inspirasi’ merupakan gambaran yang sesungguhnya telah dilakukan oleh Tuhan Yesus. Melalui kematian-Nya di atas kayu salib, Ia telah membayar lunas/menghapus hutang-hutang dosa kita, karena kita tidak mungkin bisa untuk menghapus dosa-dosa kita sendiri (Yoh. 1:29 ; 1Kor. 6:20 ; 1Kor. 7:23 ).

Diskusi
  1. Mazmur 38:19  , Lukas 15:17-21  dan 1Yohanes 1:9  mengajarkan bahwa ketika kita jatuh dalam dosa maka kita harus menyadari dan mengakui segala kesalahan/dosa-dosa yang telah kita perbuat. Kata ’mengaku’ dalam 1Yoh. 1:9  dalam bahasa aslinya adalah ’homologeo’ yang secara harfiah berarti: ”mengatakan hal yang sama atau berkata terus terang” dan pengakuan di sini bukan pengakuan lisan saja, tetapi mencakup tindakan meninggalkan (dosa).
    • Sama seperti arti ”mengaku” dalam 1Yoh. 1:9  yang mencakup tindakan meninggalkan dosa, demikian juga yang ditegaskan dalam Amsal 28:13  , yakni : ”mengakuinya dan meninggalkannya.”
    • Dalam Kis. 3:19  Rasul Petrus menegaskan bahwa kesadaran bahwa kita telah berbuat dosa harus diikuti dengan pertobatan. Bertobat (Yunani: metanoeo) memiliki arti berpaling dari dosa dan berbalik kepada Allah. Bertobat adalah penyesalan atas dosa yang melibatkan unsur rasio, emosi dan kehendak. Keterlibatan ketiga unsur ini membawa kesadaran penuh sehingga terjadi perubahan dan perubahan ini ditindak-lanjuti dengan tindakan dalam wujud pertobatan. Alkitab membedakan antara ‘menyesal’ (metamelomai) dan ‘bertobat’ (metanoeo). ‘Metamelomai’ adalah perubahan/penyesalan yang belum tentu/tidak ditindak-lanjuti dengan pertobatan, sedangkan ‘metanoeo’ adalah perubahan/penyesalan yang ditindak-lanjuti dengan pertobatan (berpaling dari dosa dan berbalik kepada Allah).
  2. Jaminan yang Tuhan berikan ketika kita mengakui dosa-dosa kita dinyatakan dalam beberapa kata kerja, yaitu :
    • Yes. 43:25 ; Ibr. 10:17 : menghapus dan tidak mengingat-ingat dosa-dosa dan kesalahan kita.
    • 1Yoh. 1:9 : ’mengampuni’ dan ’menyucikan’ kita dari segala dosa dan kejahatan. ’Mengampuni’ berarti pengampunan dari hukuman atas dosa, sedangkan ’menghapus’ atau ’menyucikan’ berarti pembersihan dari pencemaran dosa.
  3. Dalam nubuat nabi Yesaya 53:5  dikatakan ’oleh karena bilur-bilur-Nya’ (bilur : luka panjang pada kulit bekas kena cambuk). Sedangkan dalam Efesus 1:7  Rasul mengatakan ’oleh karena darah-Nya’. Kata ’bilur’ dan ’darah’ dalam konteks tersebut menunjuk pada kematian/pengorbanan Tuhan Yesus di atas kayu salib.
  4. Tuhan Yesus (Mat. 6:12 ; Luk. 11:4 ) dan Paulus (Ef. 4:32) mengajarkan hal yang sama yaitu belajar saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kita. Kita saling mengampuni karena Allah telah terlebih dahulu mengampuni kita.

Konfirmasi
Charles Haddon Spurgeon (1834-1892): Pendeta aliran Baptis dari Inggris. *****