Rabu, 03 Oktober 2018

Bertumbuh dalam Pengampunan
(1 Yohanes 1:9)
Tujuan
Remaja mengerti apa yang harus dilakukan ketika jatuh dalam dosa dan belajar untuk mengampuni orang lain.

Inspirasi
       Tom adalah seorang remaja yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus. Di dalam pertumbuhan imannya, dia juga mengalami jatuh bangun atau pasang surut. Suatu kali dia curhat kepada pembimbingnya bahwa dia merasa malu dan tidak layak datang (berdoa) kepada Tuhan karena beberapa kali dia jatuh di dalam dosa yang sama. Ia bahkan berpikir apakah Tuhan masih mau mengampuni dia.
       Dalam kisah lain, diceritakan ada seorang dokter yang terkenal karena keahlian dan kesalehannya sebagai orang Kristen. Setelah kematiannya, buku catatan tentang pasien peninggalannya dibaca oleh sang istri. Banyak catatan tagihan yang telah dicoret dengan tinta merah yang bertuliskan: “Dihapuskan. Tidak mampu untuk membayar.” Namun istrinya tidak dapat menerima hal ini. Ia berusaha mendapatkan uang itu melalui pengadilan. Pada saat sidang berlangsung, hakim bertanya kepadanya, “Apakah ini tulisan suami Anda?” Ia mengiyakan. Hakim lalu memutuskan, “Kalau begitu, tak seorang pun yang dapat memaksa pasien-pasien itu untuk membayar, karena hutang mereka telah dihapuskan oleh almarhum.


Refleksi
  • Di dalam pertumbuhan iman kamu, pernahkah kamu mengalami atau merasakan seperti yang dialami/dirasakan oleh Tom?
  • Hal apa yang dapat kamu pelajari/teladani dari sikap dokter tersebut, jika dikaitkan dengan apa yang dilakukan Tuhan Yesus dengan pengorbanan-Nya di atas kayu salib?



Diskusi
  1. Apakah yang harus kita lakukan ketika kita jatuh dalam dosa? 
    • Mzm. 38:19
      ________________________________________________
    • Luk. 15:17-21
      ___________________________________________________________________
    • 1Yoh. 1:9
      ___________________________________________________________________
  2. Menurut Ams. 28:13 http://remaja.co/images/4/44/External.png dan Kis. 3:19 http://remaja.co/images/4/44/External.png, tindakan apa yang seharusnya kita lakukan setelah sadar akan dosa-dosa kita dan mengakuinya di hadapan Tuhan?



    • Ams. 28:13
      ____________________________________________________
    • Kis. 3:19
      ____________________________________________________
  1. Jaminan apa yang Tuhan berikan ketika kita mengakui dosa-dosa kita? (Yes. 43:25 ; Ibr. 10:17 ; 1Yoh. 1:9 )
    • Yes. 43:25
      ___________________________________________________________________
    • Ibr. 10:17
      ___________________________________________________________________
    • 1 Yoh. 1:9
      ___________________________________________________________________
  2. Apa yang menjadi dasar pengampunan dosa kita? (Yes. 53:5 ; Ef. 1:7 )
    ______________________________________________________________________
    ______________________________________________________________________
  1. Setelah kita menerima dan mengalami pengampunan dari Allah, bagaimanakah seharusnya sikap kita terhadap orang lain yang bersalah kepada kita? (Matius 6:12 ; Lukas 11:4 ; Efesus 4:32)
    _________________________________________________
    _________________________________________________




Aplikasi
  1. Tidak ada dosa yang terlalu besar yang tidak dapat diampuni oleh Tuhan. Kita memiliki jaminan akan pengampunan dosa karena Tuhan Yesus telah mati di atas kayu salib untuk membayar lunas hutang-hutang dosa kita. Diampuni Allah berarti semua dosa kita di hadapan Allah dihapuskan. Masih adakah dosa-dosa yang belum kamu akui di hadapan Tuhan? (Jika ada, ambillah waktu untuk berdoa memohon pengampunan-Nya dan bersyukurlah untuk pengampunan yang Allah berikan)
  2. Adakah seseorang yang telah membuat kamu kecewa/menyakiti kamu, sehingga kamu merasa sulit untuk mengampuni dia? (Jujurlah kepada Allah dan sebut dia dalam doamu serta belajarlah untuk mengampuni dia sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu).


Aksi
  1. Mengakui setiap dosa yang kita lakukan di hadapan Tuhan.
  2. Bersyukur untuk pengampunan yang Allah berikan.
  3. Mau mengampuni orang lain.


Konfirmasi
Marilah kita pergi ke kalvari untuk belajar bagaimana kita dapat diampuni,
dan kemudian kita diam di sana untuk belajar mengampuni
—(Charles Spurgeon)


-------------------------------------------------------------------------------------------

Panduan Pemimpin
Refleksi
  • Jika ada anggota yang memiliki pengalaman mirip/sama dengan Tom, berikan kesempatan untuk membagikannya.
  • Apa yang dilakukan oleh dokter dalam kisah ’inspirasi’ merupakan gambaran yang sesungguhnya telah dilakukan oleh Tuhan Yesus. Melalui kematian-Nya di atas kayu salib, Ia telah membayar lunas/menghapus hutang-hutang dosa kita, karena kita tidak mungkin bisa untuk menghapus dosa-dosa kita sendiri (Yoh. 1:29 ; 1Kor. 6:20 ; 1Kor. 7:23 ).

Diskusi
  1. Mazmur 38:19  , Lukas 15:17-21  dan 1Yohanes 1:9  mengajarkan bahwa ketika kita jatuh dalam dosa maka kita harus menyadari dan mengakui segala kesalahan/dosa-dosa yang telah kita perbuat. Kata ’mengaku’ dalam 1Yoh. 1:9  dalam bahasa aslinya adalah ’homologeo’ yang secara harfiah berarti: ”mengatakan hal yang sama atau berkata terus terang” dan pengakuan di sini bukan pengakuan lisan saja, tetapi mencakup tindakan meninggalkan (dosa).
    • Sama seperti arti ”mengaku” dalam 1Yoh. 1:9  yang mencakup tindakan meninggalkan dosa, demikian juga yang ditegaskan dalam Amsal 28:13  , yakni : ”mengakuinya dan meninggalkannya.”
    • Dalam Kis. 3:19  Rasul Petrus menegaskan bahwa kesadaran bahwa kita telah berbuat dosa harus diikuti dengan pertobatan. Bertobat (Yunani: metanoeo) memiliki arti berpaling dari dosa dan berbalik kepada Allah. Bertobat adalah penyesalan atas dosa yang melibatkan unsur rasio, emosi dan kehendak. Keterlibatan ketiga unsur ini membawa kesadaran penuh sehingga terjadi perubahan dan perubahan ini ditindak-lanjuti dengan tindakan dalam wujud pertobatan. Alkitab membedakan antara ‘menyesal’ (metamelomai) dan ‘bertobat’ (metanoeo). ‘Metamelomai’ adalah perubahan/penyesalan yang belum tentu/tidak ditindak-lanjuti dengan pertobatan, sedangkan ‘metanoeo’ adalah perubahan/penyesalan yang ditindak-lanjuti dengan pertobatan (berpaling dari dosa dan berbalik kepada Allah).
  2. Jaminan yang Tuhan berikan ketika kita mengakui dosa-dosa kita dinyatakan dalam beberapa kata kerja, yaitu :
    • Yes. 43:25 ; Ibr. 10:17 : menghapus dan tidak mengingat-ingat dosa-dosa dan kesalahan kita.
    • 1Yoh. 1:9 : ’mengampuni’ dan ’menyucikan’ kita dari segala dosa dan kejahatan. ’Mengampuni’ berarti pengampunan dari hukuman atas dosa, sedangkan ’menghapus’ atau ’menyucikan’ berarti pembersihan dari pencemaran dosa.
  3. Dalam nubuat nabi Yesaya 53:5  dikatakan ’oleh karena bilur-bilur-Nya’ (bilur : luka panjang pada kulit bekas kena cambuk). Sedangkan dalam Efesus 1:7  Rasul mengatakan ’oleh karena darah-Nya’. Kata ’bilur’ dan ’darah’ dalam konteks tersebut menunjuk pada kematian/pengorbanan Tuhan Yesus di atas kayu salib.
  4. Tuhan Yesus (Mat. 6:12 ; Luk. 11:4 ) dan Paulus (Ef. 4:32) mengajarkan hal yang sama yaitu belajar saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kita. Kita saling mengampuni karena Allah telah terlebih dahulu mengampuni kita.

Konfirmasi
Charles Haddon Spurgeon (1834-1892): Pendeta aliran Baptis dari Inggris. *****


Bertumbuh dalam Anugerah
(Efesus 2:8-9 , 1 Yohanes 5:11-12 )


Tujuan
Remaja mengerti bahwa mereka diselamatkan oleh anugerah dan keselamatan itu tidak dapat hilang.

Inspirasi
       John Newton lahir di Inggris tahun 1725. Ibunya meninggal ketika John berusia tujuh tahun. Ayahnya, seorang nakhoda kapal laut. Berhubung tidak ada yang mengasuh John, maka John ikut berlayar dengan ayahnya. Bocah kecil yang berperangai lembut ini langsung mengalami kejutan berada di dunia pelaut yang kasar dan suka mabuk-mabukan. Keadaan menjadi lebih parah ketika beberapa tahun kemudian John bekerja di kapal lain. Di situ ia sering diliciki dan dipukuli oleh rekan-rekan yang jauh lebih besar dan dewasa. Pernah ia melarikan diri, tetapi tertangkap dan dipaksa bekerja di kapal lain.
       Ia kemudian menghidupi dirinya sebagai pedagang budak dengan menangkap penduduk di Afrika Barat dan menjual mereka ke seluruh dunia. Pada 9 Maret 1748, kapal yang diawakinya dihantam oleh badai besar yang tidak diduga sebelumnya. Dilanda ketakutan luar biasa, ia mulai membaca buku. Salah satu buku yang dipelajarinya adalah Alkitab. Ia merasa terpesona membaca tentang anugerah Allah kepada manusia yang tampak dalam diri dan pekerjaan Yesus.
       Keesokan harinya di dalam keputusasaan yang luar biasa ia berteriak kepada Tuhan dan Tuhan mendengar doanya sehingga akhirnya ia diselamatkan. Dari pengalamannya sendiri itu, John Newton menemukan kontras antara Kasih Allah dan dirinya dengan profesi sebagai seorang pedagang budak belian. Ia bahkan menyebut dirinya “wreck” (barang rongsokan). Ia begitu memahami dan menghidupi begitu ajaibnya anugerah Allah. John Newton merasakan dan mengakui, bahwa setiap hari sepanjang hidupnya ia menerima banyak anugerah Allah. Pada usia 80 tahun, John menjadi pikun. Namun ia berkata, “Tetapi ada dua hal yang saya tidak bisa lupa, bahwa saya adalah pendosa besar, dan bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat yang Besar.”

Refleksi
Pernahkah kamu merasakan anugerah Allah yang besar dalam hidupmu seperti yang dialami oleh John Newton? Jika pernah, kapan peristiwa itu terjadi? Bagaimana responsmu saat itu?

Diskusi
1.   Bagaimana keadaan/status manusia di hadapan Allah? (Rm.3:23)
___________________________________________
___________________________________________
___________________________________________

2.   Apa akibat dosa manusia?
Rm.6:23 
___________________________________________
___________________________________________
Yes. 59:2 
___________________________________________
___________________________________________
3.   Dapatkah perbuatan baik menyelamatkan manusia berdosa? Mengapa?
Tit 3:5 
___________________________________________
___________________________________________
Ef. 2:8-9 
___________________________________________
___________________________________________
Yes. 64:6 
___________________________________________
___________________________________________

4.   Apakah yang dilakukan Allah untuk menyelamatkan manusia berdosa?
Yoh.3:16 
___________________________________________
___________________________________________
5.   Bagaimana caranya memperoleh hidup kekal/keselamatan itu?
Yoh. 1:12 
___________________________________________
___________________________________________
Ef. 2:8 
___________________________________________
___________________________________________
1Yoh. 5:11-12)
___________________________________________
___________________________________________



6.   Apakah hidup kekal (keselamatan) itu dapat hilang? Mengapa?
Yoh. 10:27-30 
___________________________________________
___________________________________________
Rm. 8:29-30 
___________________________________________
___________________________________________

Ef. 1:13-14 
___________________________________________
___________________________________________


Aplikasi
1.   Sudahkah kamu menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatmu secara pribadi?
Jika belum, maukah kamu mengambil keputusan menerima Dia di dalam hatimu?
2.   Jika sudah, perubahan-perubahan apa sajakah yang telah kamu alami sejak kamu hidup di dalam Kristus?



Aksi
1.   Menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi.
2.   Bersyukur untuk anugerah keselamatan yang Allah berikan
3.   Bersaksi tentang Yesus kepada orang yang belum percaya (anggota keluarga, sahabat, dll)

Konfirmasi
Keselamatan itu gratis, tetapi bukan murahan karena dibayar dengan darah Kristus yang mahal”
— (Dietrich Boenhoeffer)
Jika kita salah masak nasi jadi bubur, kita akan menyesal 1 hari
Jika kita salah potong rambut, kita akan menyesal 1 bulan
Jika kita salah memilih pacar/tidak naik kelas, kita akan menyesal 1 tahun
Jika kita salah memilih pasangan hidup, kita akan menyesal seumur hidup
Tetapi jika kita salah memilih JURUSELAMAT, kita akan menyesal selama-lamanya.

KEPUSTAKAAN :
12 Bahan KTB Remaja : GROWING UP, Ayub Wahyono

Kamis, 30 Agustus 2018

MENGAPA NAMA ALLAH TIDAK DISEBUTKAN DALAM KITAB ESTER
Tinjauan Historis
Alkitab memberitahu kita bahwa Allah menghendaki nama-Nya dikenal, disebut, dipanggil, disembah dan dimuliakan.
Tertulis dalam kitab Kejadian 4:26, “Lahirlah seorang anak laki-laki bagi Set juga dan anak itu dinaminya Enos. Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN”.
Memanggil nama TUHAN, berarti mengaku diri sebagai anak-anak-Nya, bagian dari-Nya, menyadari kedekatan hubungan dengan-Nya serta beribadah kepada-Nya.
Alkitab juga memberi tahu kita bahwa Abraham, Ishak, dan Yakub adalah para penyembah Allah.
Allah memisahkan Abraham dari para penyembah berhala
? ?Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu… Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya…” (Kejadian 12:1 dan 4).
Allah memisahkan Abraham dari para penyembah berhala. Allah memilih Abraham untuk menjadi penyembah-Nya dan menetapkannya menjadi pokok dari bangsa-bangsa yang beribadah kepada-Nya. Dan Abraham menaati-Nya dengan memanggil nama-Nya dan beribadah kepada-Nya.
Allah meneruskan rancangan-Nya dengan memilih Ishak, bukan Ismael. Dan dari anak-anak Ishak, Ia memilih Yakub daripada Esau. Dan Yakub kemudian melahirkan bangsa Israel.
Yakub memiliki pengalaman yang indah hidup bersama Allah yang disembahnya. Di masa tuanya ia bersaksi tentang Allah yang disembah oleh Abraham dan Ishak, nenek dan ayahnya, yang juga ia sembah sebagai gembala, Pemelihara dan Pelindungnya (Kejadian 48:15-16).
Allah memisahkan Israel dari Mesir
Dimulai dari Yusuf yang dijual ke Mesir, dilanjutkan dengan keluarga Yakub yang berjumlah 70 orang yang meninggalkan Kanaan pada masa kelaparan, kini bangsa Israel berjumlah jutaan orang yang menetap di negeri ini dan menderita sebagai budak.
Keberadaan dan kehidupan bangsa Israel di Mesir bertentangan dengan rencana Allah yang memilih bangsa ini menjadi umat yang menyembah-Nya. Maka, Allah melepaskan bangsa itu dari perbudakan (Kel. 3:7-10).
Allah memisahkan Israel, umat-Nya, dari bangsa Mesir yang duniawi. Ia membawa mereka ke suatu negeri perjanjian dengan tujuan utama agar mereka beribadah kepada-Nya (Kel.3:12).
Ungkapan “supaya mereka beribadah kepada TUHAN” berulangkali disebutkan dalam kitab Keluaran menunjukkan kemauan Allah yang keras untuk membebaskan bangsa pilihan-Nya dari situasi dan keadaan yang menghalangi mereka beribadah kepada-Nya.
Allah memisahkan Israel dari bangsa-bangsa di sekitarnya
Allah menghendaki mereka beribadah kepada-Nya dan hidup dalam kekudusan di tanah yang telah dijanjikan-Nya kepada Abraham, bapa mereka.
Peringatan keras ditujukan kepada Israel untuk beribadah kepada Allah saja dan bukan kepada allah lain (Ul. 7:1-4). Allah juga menghendaki umat pilihan-Nya hidup dalam kekudusan dengan tidak bergaul dengan bangsa-bangsa di sekitar mereka.
Lalu mereka memasuki dan menduduki tanah yang dijanjikan dan beribadah kepada TUHAN. Tetapi setelah masa kepemimpinan Yosua, yakni pada zaman hakim-hakim, mereka berbuat apa yang jahat di mata Tuhan, yaitu dosa yang selalu mereka lakukan sejak di padang gurun (Hak. 2: 11-12).
Allah memisahkan Yehuda dari Israel
Kemudian Israel memasuki zaman kerajaan. Pada zaman ini orang Israel juga senantiasa melakukan apa yang jahat di mata TUHAN.
Pada zaman Raja Saul, Daud, dan Salomo Israel merupakan satu kerajaan. Tetapi setelah Salomo mati kerajaan Israel terpecah menjadi dua. Kerajaan Yehuda diperintah oleh Rehabeam yang menggantikan Salomo, sedangkan Kerajaan Israel diperintah Yerobeam yang diangkat oleh suku-suku Israel yang memberontak terhadap penindasan Rehabeam.
Semua raja Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, dimulai dari Yerobeam yang membuat dua lembu emas dan memerintahkan umat Israel menyembah patung buatannya itu (1Raj. 12:28-30). Karena dosanya ini, Allah mengijinkan orang Israel diangkut ke pembuangan (2Raj.17:22-23).
Akan tetapi, Allah menyisakan Yehuda. Ia memisahkan Yehuda dari Israel.
Raj.17:18, “Sebab itu TUHAN sangat murka kepada Israel, dan menjauhkan mereka dari hadapan-Nya; tidak ada yang tinggal kecuali suku Yehuda saja”.
Setelah pembuangan Israel ke Asyur, kerajaan Yehuda masih bertahan selama beberapa waktu. Jika semua raja Israel dikatakan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, maka ada beberapa raja Yehuda yang dicatat Alkitab melakukan apa yang benar dimata TUHAN.
Namun akhirnya, Yehuda pun harus mengalami pembuangan. Mereka ditawan Raja Nebukadnezar dan dibuang ke Babel (2Raj.17:19-20). Jadi, habislah seluruh Israel setelah Yehuda dibuang ke Babel.
Allah memisahkan sebagian Yahudi dari pembuangan
Tetapi Yehuda tidak dibuang untuk selamanya. Karena, kemudian Allah memisahkan sebagian dari mereka untuk dituntun-Nya pulang ke Yerusalem dan beribadah kepada-Nya (lihat Ezra 1:1-5).
Beberapa kebenaran nyata dari ayat-ayat tersebut, adalah: (1) Allah menggerakkan hati Raja Koresh untuk memberi perintah agar orang Yehuda di pembuangan pulang ke Yerusalem (ayat 1-2), (2) Yang termasuk umat-Nya, yang disertai Allah, adalah yang berangkat pulang (ayat 3),(3) Hanya yang hatinya digerakkan Allah, yang berangkat pulang (ayat 5).
Jadi yang disebut umat Allah adalah yang hatinya digerakkan Allah, yang disertai-Nya, serta yang berangkat pulang untuk beribadah dengan mendirikan rumah TUHAN yang di Yerusalem.
Dari ayat-ayat tersebut dapat dilihat karya Allah yang memilih dan memisahkan umat-Nya, sebagian kecil orang Yehuda, dari orang-orang Yehuda di pembuangan yang tidak pulang.
Kisah selanjutnya dari umat Allah yang pulang ke Yerusalem tertulis dalam kitab Ezra dan kitab Nehemia. Mereka membangun Bait Allah dan beribadah kepada-Nya. Dalam kedua kitab tersebut diberitakan bahwa hukum-hukum Allah dibacakan, diajarkan dan ditegakkan. Juga pengakuan dosa dan doa pengampunan disampaikan. Tertulis pula bahwa mereka hidup sebagai umat pilihan Allah yang menyembah dan beribadah kepada-Nya seperti yang dikehendaki-Nya.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya dari orang-orang Yehuda yang lebih besar jumlahnya, yang masih hidup di pembuangan? Ya, merekalah orang Yahudi yang kisahnya dicatat dalam kitab Ester. Golongan orang Yahudi ini tidak layak disebut sebagai umat Allah. Mereka tidak beribadah kepada Allah. Mereka tidak memanggil atau menyeru nama Allah. Maka pantas dikatakan, bahwa Allah tidak hadir bersama mereka. Allah menyembunyikan wajah-Nya terhadap mereka. Selaras dengan kenajisan dan durhaka mereka Kuperlakukan mereka dan Kusembunyikan wajah-Ku terhadap mereka (Yeh. 39:24).
Itulah alas an utama mengapa penulis kitab Ester, yang diilhami Roh Kudus, tidak menyebut nama Allah atau Tuhan dalam kitab yang ditulisnya itu.
Jika memahami Alkitab secara komprehensif, maka membaca kitab Ester akan menemukan dosa-dosa orangYahudi, yakni perbuatan-perbuatan yangtidak selayaknya dilakukan umat yang beribadah kepada Allah. Dosa-dosa itu dilakukan Mordekhai dan Ester, dan seluruh bangsa Yahudi, yang menegaskan alas an ketidakhadiran Allah di sana.
Pandangan umum yang memahami Ester sebagai seorang heroik, penyelamat bangsa, perlu dikoreksi dengan memperhatikan dosa-dosa yang dilakukannya. Pertama, ia terpilih menjadi permaisuri dengan mengikuti “kontes ratu kecantikan” melalui seleksi amoral. (Est. 1:14, Pada waktu petang ia masuk dan pada waktu pagi ia keluar…) Jelas, ini melanggar hukum “jangan berzinah”.
Lebih jauh, ia melanggar larangan perkawinan campuran. Ester rela diperisteri oleh Ahasyweros seorang raja kafir dan Mordekhai sebagai orangtua mengijinkannya atau bahkan mendorongnya. Larangan ini diamanatkan oleh Musa dalam Ul.7:3, Janganlah engkau kawin-mengawin dengan mereka: anakmu perempuan janganlah kauberikan kepada anak laki-laki mereka, ataupun anak perempuan mereka jangan kauambil bagi anakmu laki-laki. Dosa inilah yang diakui, dimintakan ampun dan dibereskan oleh bangsa Israel sepulang dari pebuangan (Ezr. 9-10). Neh. 10:30 juga mencatat komitmen mereka untuk mematuhi larangan tersebut.
Dan dosa yang sangat dibenci Tuhan adalah menyangkal Dia. Mordekhai dan Ester bersepakat melakukan dosa ini. Est.1:10, Ester tidak memberitahukan kebangsaan dan asal-usulnya karena dilarang oleh Mordekhai. Untuk memperoleh kedudukan sebagai orang istana mereka menyembunyikan jatidiri sebagai umat Allah. Bandingkan dengan Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Mereka juga berada di pembuangan dan mengalami banyak tekanan, tetapi mereka memuliakan Allah dengan secara tegas menyatakan identitas mereka sebagai saksi Allah dengan tidak menajiskan diri dan tidak menyembah penguasa.
Lalu jika Allah tidak hadir di tengah-tengah orang Yahudi dalam kitab Ester, mengapa kitab ini ditulis? Tujuannya adalah untuk menjadi contoh buruk bagi orang-orang yang mengaku percaya Kristus, tetapi hidup dengan pikiran dan caranya sendiri, dan secara khusus menjadi cermin bagiorang Yahudi masa kini, yang tersebar di seluruh dunia, sebagai umat pilihan yang murtad dan menempuh jalannya sendiri dan menyerahkan hidupnya kepada kekuasaan dosa.
Sebab ada tertulis, “Aku murka karena kesalahan kelobaannya, Aku menghajar dia, menyembunyikan wajah-Ku dan murka, tetapi dengan murtad ia menempuh jalan yang dipilih hatinya” (Yes. 57:17).
? ?Tidak ada yang memanggil nama-Mu atau yang bangkit untuk berpegang kepada-Mu; sebab Engkau menyembunyikan wajah-Mu terhadap kami, dan menyerahkan kami ke dalam kekuasaan dosa kami” (Yes. 64:7).
Untuk selamanya Allah menghendaki nama-Nya dikenal dan disembah oleh umat-Nya. Pemisahan yang dilakukan Allah sejak zaman pemanggilan Abraham sampai pemanggilan sisa Yehuda dari pembuangan menolong kita untuk melihat alasan tidak disebutnya nama Allah dalam kitab Ester, yaitu karena Allah menyembunyikan wajah-Nya terhadap mereka.
Dengan mempelajari konteks historis yang telah dipaparkan di atas, maka dapat dirumuskan tema kitab Ester sebagai berikut: “Allah membiarkan umat pilihan-Nya mengambil jalan yang mereka anggap benar dan hidup dengan cara mereka sendiri.”