Kamis, 02 Agustus 2018


JUMBAI JUBAH

* Ulangan 22:12
LAI TB, Haruslah engkau membuat tali yang terpilin pada keempat punca kain penutup tubuhmu."

* Lukas 8:44
LAI TB, Ia maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya, dan seketika itu juga berhentilah pendarahannya.

Menurut Ulangan 22:12 jumbai-jumbai semacam itu dipasang pada kelim baju sekeliling. Pada gambar lukisan tentang orang-orang Farisi dari zaman dahulu juga masih dipasang sekeliling. Dan kemudian juga ditemui dimana jumbai-jumbai itu hanya dipasang pada ujung-ujung saja. Pada jumbai-jumbai itu haruslah dibubuhkan benang ungu kebiru-biruan:

Bilangan 15:38-39
15:38 LAI TB, "Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka, bahwa mereka harus membuat jumbai-jumbai pada punca baju mereka, turun-temurun, dan dalam jumbai-jumbai punca itu haruslah dibubuh benang ungu kebiru-biruan.
15:39 LAI TB, Maka jumbai itu akan mengingatkan kamu, apabila kamu melihatnya, kepada segala perintah TUHAN, sehingga kamu melakukannya dan tidak lagi menuruti hatimu atau matamu sendiri, seperti biasa kamu perbuat dalam ketidaksetiaanmu terhadap TUHAN.

Menurut Ulangan 22:12, Orang Israel harus membuat "tali yang terpilin" (jumbai-jumbai), Ibrani: גָּדִל - GEDIL) pada keempat punca kain penutup tubuh mereka (jubah/ syal yang juga disebut טַלִּית - TALIT, yang berasal dari kata טָלַל - TALAL, harfiah: penutup (kepala)). Bentuk Tallit yang sering kita lihat, yang dipakai oleh orang-orang Yahudi adalah syal, yang dipakai oleh orang Yahudi itu untuk berdoa. Pada keempat ujungnya terdapat tali berpilin yang disebut jumbai atau צִיצִת - TSITSIT, lih: Bilangan 15:38-39). Jumbai ini bagi orang Yahudi melambangkan pengharapan mereka akan Mesias, ketaatan mereka pada hukum Tuhan, dan penghormatan mereka akan kekudusan Tuhan. Ketika orang Yahudi berdoa, mereka akan memegang jumbai ini dan meletakkannya di kepala mereka. Jumbai-jumbai itu akan mengingatkan mereka pada segala perintah Tuhan sehingga mereka melakukannya.
Tallit digunakan selama ibadah pagi (ibadah syakharit) didalam agama Yahudi, juga pada pembacaan Taurat, dan hari raya pendamaian (Yom Kippur). Tallit kadang-kadang juga disebut sebagai אַרְבַּע כַּנְפֹות - 'ARBA KANFOT, bermaksud 'empat sayap'. Kitab Taurat menginstruksikan untuk memakai pinggiran di sudut pakaian sebagai cara mengingat dan melakukan segala perintah Allah (Bilangan 15:37-41).

Dalam berpakaian, Yesus kristus juga menyesuaikan diri dengan adat itu. Ketika Yesus berbicara di sinagoga (Markus 6:2) Yesus pun mengenakan "jubah ber-jumbai," dan orang-orang dapat melihat mujizat dari penjamahan jumbai jubah yang dikenakan-Nya (Markus 6:56).

Kisah yang amat terkenal berkenaan dengan "jumbai jubah" di dalam Perjanjian Baru, adalah kisah seorang perempuan yang sakit pendarahan dan dengan menjamah jubah Tuhan Yesus Kristus, kemudian perempuan itu menjadi sembuh (lihat: Lukas 8:40-48, Matius 9:18-26, Markus 5:25-27). Lukas secara spesifik menyebut perempuan ini secara sengaja memilih menjamah "jumbai jubah Yesus." Bukan bagian yang lain. Tentunya ia telah memperhitungkannya. Dorongan ini tampaknya bukan timbul begitu saja, namun dilandasi pengertian tertentu yang telah diyakini di tengah-tengah masyarakat Yahudi pada waktu itu, tak ayal perempuan ini tahu makna "jumbai jubah" yang dipakai Tuhan Yesus.


Dalam Bilangan 15:37-41, Allah mengajar kepada bangsa Israel tentang makna dari "jumbai pada jubah." Melalui Musa, Ia memerintahkan umat Israel untuk membuat jumbai pada punca baju mereka, dan meletakkan benang ungu kebiru-biruan pada jumbai-jumbai itu. Tujuannya adalah agar setiap kali mereka melihat jumbai itu, mereka akan selalu ingat akan segala Firman dan perintah Tuhan serta melakukannya bahkan supaya mereka ingat akan segala kebaikan Tuhan yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir.
                                                                                                                 

1.       Jumbai/ujung jubah itu berbicara tentang kuasa, otoritas dan kedudukan.
Saat Daud memberitahukan bahwa ia telah memotong punca jubah Saul, Saulpun mengerti bahwa ia telah kehilangan otoritasnya sebagai orang diurapi Tuhan (1 Samuel 24:5b,17).

2.       Jumbai/ujung jubah juga berbicara tentang perlindungan dan pembelaan.
Nasehat Naomi pada Rut menunjukkan nasehat penggembalaan yg selalu mendorong kita untuk lebih dekat pada Tuhan. Rut kemudian mengajukan permohonan khusus agar Boas berkenan mengembangkan sayapnya untuk melindungi dirinya (Bahasa Ibrani: sayap = כָּנָף - KANAF yg artinya adalah jumbai jubah/ ujung jubah - Rut 3:9 ). 

3.       Jumbai/ujung jubah juga berbicara tentang kesembuhan.
Dalam Maleakhi 4:2 “dengan kesembuhan pada sayapnya. “ Kata sayap di sini dalam bahasa Ibrani juga ditulis KANAF seperti dalam Rut 3:9 dan artinya juga "jumbai jubah."

Perempuan yang menjamah jumbai jubah Tuhan Yesus mengharapkan tiga hal terjadi dalam hidupnya:

1.       Sebagai orang najis, ia rindu ditahirkan dan diikat dengan kekudusan Tuhan. 
2.       Ia tahu jika ada orang yang dapat menyelamatkan dan menyembuhkannya, Dia pasti Mesias. 
3.       Kesiapannya untuk menaati perintah Allah dan meninggalkan dosa. Iman yang benar akan kesembuhan ini yang menarik keluar kuasa Yesus. Yesus tidak perlu berkata, "Aku mau engkau sembuh" atau, "Dosamu sudah diampuni." Yesus hanya meneguhkan iman perempuan itu. Mari renungi kejadian perempuan yang sembuh dari pendarahannya. Kita belajar tentang iman seorang perempuan tua yang sering kita dengar ceritanya. Maka kata-Nya kepada perempuan itu: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!” (Lukas 8:48).

Kita tahu di dalam Alkitab, bukan saja wanita ini yang menjamah punca/ujung jubah Yesus tapi orang-orang Genesaret juga tahu kalau jumbai jubah Tuhan Yesus itu berkuasa. Alkitab mencatat, mereka berlari-lari ke seluruh daerah dan mengusung orang-orang sakit kepada Yesus. Dan ke manapun Yesus pergi, orang memohon kepadaNya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubahNya. Dan semua orang yang menjamahNya menjadi sembuh!

* Markus 6:56
LAI TB, Ke manapun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.
Lihat juga Matius 14:36

Namun di lain hal, Tuhan Yesus melihat adanya penyimpangan dari yang dilakukan orang-orang Farisi, ttg penggunaan jubah dengan jumbai yang panjang untuk memperagakan kesalehan:

* Matius 23:5
23:5 Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang;
23:6 mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat;
23:7 mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.
23:8 Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara.

Tuhan Yesus tidak menyetujui adanya "pakaian lambang kesalehan" yang hanya untuk pamer belaka (ayat 5). Memakai jumbai panjang untuk tujuan dipuji orang, dan kesalehan orang-orang Farisi menjalankan kewajiban2 agama itu hanya supaya dilihat, dimana orang-orang biasa tidak bisa melebihi "kesalehan" mereka. Di mata Tuhan Yesus, "kesombongan dalam beribadah" adalah merupakan dosa, dan dosa semacam ini akrab menguasai orang-orang Farisi. Sebab cara ibadah yang seperti itu bukanlah suatu hal yang memuliakan Allah dan merendahkan diri di hadapan Allah. Mereka suka mendapatkan penghormatan dari orang2 lain tatkala mereka melakukan ibadah, mereka sangat menekankan "gelar" yaitu sebutan "rabbi", dan justru kepada orang2 yang demikian sebaiknya mereka tidak mengajar, mereka perlu belajar pelajaran pertama dalam sekolah Kristus, yaitu kerendahan hati. Kristus memperingatkan para murid-Nya agar tidak melakukan "kesombongan ibadah" dan tidak meniru perbuatan mereka, para murid tidak diperkenankan menyombongkan wewenang dan kekuasaan di dalam posisi mereka seolah-olah mereka berkuasa atas iman dari orang-orang percaya (baca ayat 8).


Blessings,
BP


Kamis, 26 Juli 2018


CALLED TO FAIL



Surely Isaiah, Israel’s political and religious leader for sixty years, stands among the Lord’s giants who responded to his call to “Go!” But God never limited this call to Bible times. And one doesn’t have to be one of his “giants” to hear his call!
Of course, no time is uncomplicated, undemanding, and trouble-free when God calls! Isaiah had been called to his prophetic office before his signal vision in chapter six while a youth doing his royal duties as a member of the court. Life was always troubling living under the northern storm clouds of Assyria, the mightiest kingdom on earth that time. But King Uzziah, the Churchill of his day, the Jewish leader who had led like a rock against Tiglath-pileser for fifty-two years, suddenly died. Gone! No comparable leader in reserve! What next for God’s people?
Young Isaiah knew well that the northern kingdom had been forfeiting God’s divine protection and Assyria seemed invincible. What about Judah, the southern kingdom? No small wonder why God’s call was so laser-sharp, so galvanizing! Big moments require big vision and courage—and Isaiah responded in sheer awe and self-inadequacy, yet embolded to say prayerfully, “Send me.”
Wow! Many, many through the years have heard that call, but few have responded. Not because they were evil or necessarily selfish, but because they did not buy into the vision that God was laying out. Buying into this vision that comes to each of us who have claimed to have seen the Lord requires no bargaining with the Lord. That is, “if this or that can be arranged.” Or, “if I know when my term will be up.” I think that those this quarter whom we are honoring and endeavoring to reproduce or reflect (if we want to end up where they will end up) never thought more than thirty seconds about these “normal” considerations.
Isaiah was not given a rosy picture of great success. The Lord told him from the get-go that his message would largely go unheeded (Isa. 6:9, 19). Not a great send-off! But he had his message and assignment. No seeker-friendly, marketing program. Foreseeable failure is a tough assignment for a young, talented, highly credentialed young man.
Isaiah saw clearly that the Lord was not programming the future. He was not blinding the eyes or shutting the ears of Isaiah’s audiences. Israel was bringing all this upon themselves by rejecting the waves of warning and invitation that the Lord had been giving them for years. God was doing all he could to awaken interest in the truth about himself and their future but the people, generally, were building their habits of indifference until they could no longer perceive spiritual things. Just the law of cause and consequences that operates so pandemically today!
But his Lord was not finished. Do your duty, Isaiah, be faithful to the truth, and you will always find a “remnant” who will “get it” (chs 6:13; 10:20–22; Rom. 11:5; Rev. 12:17). The first half of Isaiah’s messages was devoted to rallying the loyalists in the northern kingdom. The last half appealed to Judah, the southern kingdom. Same message, same result. But always the remnant exists, then and now.
Our response to this quarter’s lesson, in our day of response-ability to God’s call, is simply, “Here am I, Lord, Send me, whatever, wherever.”
Herbert E. Douglass is a theologian, retired college administrator, and author of twenty-two books who currently lives in Lincoln, California.

Senin, 09 Juli 2018


TANDA TANDA ORANG PERCAYA
ITB  Kis. Rasul 2:1 Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.
 2 Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk;
 3 dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.
 4 Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.
 (Kis. Rasul 2:1-4 ITB)

ITB  Kis. Rasul 19:1 Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajah daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid.
 2 Katanya kepada mereka: "Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?" Akan tetapi mereka menjawab dia: "Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus."
 3 Lalu kata Paulus kepada mereka: "Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis?" Jawab mereka: "Dengan baptisan Yohanes."
 4 Kata Paulus: "Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus."
 5 Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus.
 6 Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat.
 (Kisah Rasul 19:1-6 ITB)

PENDAHULUAN
Beberapa bayi yang baru dilahirkan kerap memiliki tanda lahir di area tertentu pada tubuhnya. Tanda lahir itu dapat berupa bercak berwarna-warni dengan ukuran dan bentuk yang beragam.
Namun tahukah Anda kenapa ada bayi yang memilikinya, tapi ada juga yang tidak? Menurut kepercayaan masyarakat, tanda lahir akan melekat pada bayi jika sewaktu mengandung, sang ibu melihat gerhana bulan. Ada pula yang mengatakan tanda lahir disebabkan oleh masa mengidam ibu hamil yang tidak terpenuhi.
Sebenarnya hingga kini penyebab terbentuknya  tanda lahir pada bayi masih belum bisa dipastikan. Dokterpun tidak tahu kenapa ada bayi yang memiliki tanda lahir dan ada juga yang tidak memilikinya. Jika dilihat dari sisi medis, sebagian tanda lahir disebabkan oleh pembuluh darah yang terkumpul atau tidak tumbuh normal. Sementara tanda lahir lainnya timbul karena zat warna atau pigmen tambahan pada kulit.

PEMBAHASAN
Ada sebagian orang Kristen yang menganggap bahwa berbahasa roh adalah satu-satunya tanda orang yang telah percaya Yesus dan dibaptis Roh Kudus. Apakah tanda itu adalah sesuatu yang mutlak, satu-satunya dan terjadi terus menerus ?
Dari 2 bagian perikop yang kit abaca ada beberapa hal yang dapat kita pelajari sebagai berikut :
1.     Peristiwa pencurahan Roh Kudus dalam Kis. Rasul 2 secara masal dan pertama terjadi sebagai deklarasi kehadiran Roh Kudus (Pentakosta).
Deklarasi ini sebagai penggenapan janji Tuhan Yesus bahwa setelah Ia kembali ke Surga, maka Roh Kudus sebagai pribadi Allah ketiga akan datang (Yoh 14:16).

2.     Peristiwa pencurahan Roh Kudus ini terjadi untuk orang percaya (Kis. Rasul 2 :1).
Peristiwa yang tercatat di Kisah Rasul 2 tidak pernah berulang di tempat lain untuk orang percaya lalu berbahasa roh, kecuali terjadi hanya 1 kali saja untuk orang yang belum percaya dan setelah percaya lalu berbahasa roh (Kisah Rasul 19). Kalau Alkitab mencatat peristiwa khusus hanya sesekali dan tidak berulang, maka harus dicermati sebagai konteks dan tujuan tertentu pada waktu itu saja. Contoh khotbah Petrus yang membuat 3.000 orang bertobat, tetapi tidak dibarengi dengan berbahasa Roh (Kis. Rasul 2 :37-40).

3.     Mereka berkata-kata dalam bahasa lain (Kisah Rasul 2:4). 
Ada 2 penafsiran, artinya dapat ditafsirkan sebagai bahasa roh (glosalalia) atau bahasa-bahasa manusia yang dimengerti sebagai bahasa lokal daerah tertentu (Kisah Rasul 2:7-11).

4.      Kasus khusus terjadi dalam Kis Rasul 19 dan setelah itu tidak terulang lagi.
Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat (Kisah Rasul 19:6).


KALAU BEGITU APA TANDA ORANG PERCAYA ? (Mar 16:17-20 ITB)
17 Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,
 18 mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh."
 19 Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah.
 20 Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.

Berbicara dalam bahasa roh adalah salah satu tanda dan bukan satu-satunya tanda. Yang pokok adalah buah pertobatan untuk meninggalkan hidup lama dan menghidupi hidup baru sesuai 2 Kor 5:17.
Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. 

Lebih jauh rasul Paulus mengatakan bahwa ada bermacam-macam karunia yang diberikan kepada orang percaya seperti tercatat dalam 1 Korintus 12.  Semuanya adalah karunia (pemberian Tuhan) untuk memperlengkapi orang percaya yang berfungsi untuk saling membangun dalam konteks kesatuan tubuh Kristus.

PENUTUP
Mari kita bersyukur untuk setiap jenis karunia yang Tuhan berikan kepada kita dan tidak merasa ‘diri super’ dengan karunia apapun yang ada pada kita. KALAUPUN ADA KARUNIA YANG PALING UTAMA (1 Kor 12:31a), tetapi hal ini merupakan CONTOH YANG DIPAKAI RASUL PAULUS untuk melakukan TEGURAN KERAS kepada jemaat Korintus yang sangat meninggikan karunia bahasa roh tersebut.

Dari segi fungsinya beberapa karunia memiliki manfaat langsung bagi banyak orang, misalnya rasul, nabi, guru, dan nubuat (1 Kor 12:28; 14:4-5). Sebaliknya, beberapa karunia – misalnya bahasa roh – lebih berkaitan dengan manfaat untuk diri sendiri (1 Kor 14:2), kecuali kalau ada orang lain yang menerjemahkannya untuk jemaat (1 Kor 14:5, 13). Intinya, berbeda dengan jemaat Korintus yang memanfaatkan karunia rohani untuk keutamaan dan kesombongan diri sendiri, Paulus justru mengajarkan keutamaan dari karunia-karunia tertentu dalam memberikan manfaat bagi jemaat.
Mungkin ada pertanyaan lain tentang 1 Kor 12:31a, yaitu tentang nasihat yang terkesan anthroposentris (berpusat pada manusia). Di bagian sebelumnya Paulus baru saja menjelaskan bahwa pemberian karunia rohani ditentukan oleh Allah sepenuhnya (1 Kor 12:4-6, 7, 11, 18, 24, 28). Bagaimana mungkin ia memerintahkan jemaat untuk mengupayakan hal tersebut? Bukankah orang Kristen bersikap pasif dalam hal pemberian karunia-karunia rohani dari Allah?

Di mata Paulus kedaulatan Allah dalam menetapkan karunia-karunia rohani tidak bertentangan dengan upaya orang percaya dalam memperoleh hal itu. Ia bahkan menggunakan kata zēloute yang mengandung arti yang lebih tegas daripada sekadar “berusaha memperoleh” (kontra LAI:TB). Hampir semua versi Inggris dengan tepat memilih terjemahan “earnestly desire” (RSN/NASB/ESV), “desire earnestly” (ASV/YLT), “eagerly desire” (NIV), atau – bahkan – “strive for” (NRSV). Kata dasar zēloō muncul di 13:4 dengan arti “cemburu” (juga 2 Kor 11:2; Yak 4:2). Kata yang sama digunakan Paulus sebagai rujukan untuk upaya yang giat dari pengajar sesat dalam menipu jemaat (Gal 4:17-18). Dari data ini terlihat bahwa zēloute/zēloō menyiratkan usaha yang sungguh-sungguh. Ini bukan sekadar keinginan yang biasa, tetapi hasrat yang besar. Ini bukan hanya menyiratkan upaya yang seadanya, tetapi keseriusan dan kedisiplinan (bentuk present tense dari kata perintah zēloute menyiratkan usaha yang terus-menerus).

Bagaimana cara kita mengupayakan karunia rohani yang lebih utama? Paulus akan menjawab: berdoa! (1 Kor 14:13). Sebagian gereja modern sudah mendorong jemaat mereka untuk berdoa agar diberi karunia rohani tertentu. Persoalannya, mereka justru mendoakan karunia bahasa roh yang tidak secara langsung dan tidak secara jelas membangun jemaat lain. Dengan kata lain, mereka sedang mengejar karunia yang tidak utama. Mereka seharusnya ‘berambisi’ untuk karunia-karunia rohani yang membawa manfaat besar bagi orang lain. Paulus berkali-kali mendorong jemaat untuk menginginkan nubuat dari pada bahasa roh (1 Kor 14:1, 5, 24, 31, 39), karena nubuat lebih berguna bagi seluruh jemaat. Dalam beberapa literatur karunia bernubuat ini bukan melulu berarti meramal untuk masa depan, tetapi dapat juga berarti mengajar.

Amin. Tuhan memberkati kita.





Eksposisi 1 Korintus 12:31

Eksposisi 1 Korintus 12:31
Ayat ini memiliki dua fungsi sekaligus. Di satu sisi, nasihat Paulus di ayat 31a merupakan penutup bagi pembahasan sebelumnya (12:1-30). Di sisi lain, ayat 31b merupakan transisi ideal bagi topik kasih di pasal 13. Melalui ayat ini Paulus ingin mengajarkan bahwa menginginkan dan mengejar karunia tertentu tidak selalu keliru, namun hal itu harus dilakukan dengan cara yang tepat. Karunia-karunia rohani bukan alat untuk mengejar status sosial maupun spiritual tertentu, melainkan sarana untuk mengasihi orang lain.

Usaha memperoleh karunia-karunia yang lebih utama (ayat 31a)

Bagian yang pendek ini mengandung beragam kesulitan yang perlu diputuskan dahulu sebelum kita bisa memahami maksud Paulus di ayat ini. Yang pertama berkaitan dengan tata bahasa. Kata zēloute (LAI:TB ‘berusahalah untuk memperoleh’) bisa berbentuk kata kerja indikatif (pernyataan) maupun imperatif (perintah). Jika ini adalah indikatif, maka Paulus hanya sekadar menyinggung apa yang sudah dilakukan oleh jemaat Korintus (ayat 31a), dan ia hanya memberikan nasihat tentang hal lain yang lebih baik (ayat 31b). Jika imperatif yang benar, maka Paulus sedang memerintahkan jemaat untuk memperoleh karunia-karunia yang lebih utama.
Beberapa penafsir mengambil pilihan yang pertama. Persoalan dalam jemaat Korintus menurut mereka adalah ambisi yang berlebihan atas karunia-karunia tertentu. Di tengah situasi seperti ini Paulus tidak mungkin memerintahkan mereka untuk mengejar karunia rohani. Mereka tidak perlu diajar untuk mengejar karunia-karunia rohani yang lebih utama. Justru karena ambisi itulah mereka saling berselisih.
Pembacaan yang lebih teliti akan menghasilkan penafsiran yang berbeda. Kata zēloute muncul beberapa kali dalam pembahasan Paulus tentang karunia rohani (14:1, 39). Dalam dua teks ini zēloute jelas berbentuk imperatif (14:1 “Kejarlah kasih itu dan berusahalah memperoleh karunia-karunia Roh”; 14:39 “usahakanlah dirimu memperoleh karunia untuk bernubuat”). Mengingat bentuk kata kerja yang digunakan dan konteks pembicaraan di 12:31, 14:1 dan 14:39 adalah sama, tidak ada alasan untuk menerjemahkan zēloute di 12:31 secara berbeda dari yang lainnya. Dalam hal ini semua penerjemah terlihat sepakat untuk mengambil zēloute sebagai kata perintah.
Kesulitan kedua tentang 12:31 adalah nuansa dari perintah Paulus. Sebagaimana kita ketahui, Paulus beberapa kali menggunakan bahasa sindiran dalam surat 1 Korintus (misalnya 4:8-13). Ia beberapa kali menyitir ucapan jemaat Korintus, lalu mengoreksi ucapan itu (6:12; 8:1, 4; 10:23). Mungkinkah perintah di 12:31a bersifat sindiran (misalnya “kejarlah karunia-karunia rohani yang kamu anggap lebih besar, hal itu akan semakin memperburuk keadaanmu!”), sedangkan 12:31b sebagai koreksi terhadap hal itu?
Sekali lagi, pemunculan kata zēloute di 14:1 dan 14:39 yang tidak mengandung nada sindiran tampaknya mengarah pada kesimpulan sebaliknya. Paulus terlihat bersungguh-sungguh dengan perintahnya di 12:31a. Lagipula, tidak ada indikasi apa pun bahwa di ayat 31a Paulus sedang mengutip ucapan jemaat Korintus. Sebagai tambahan, fungsi 12:31 sebagai transisi bagi pembahasan tentang kasih (13:1-13) akan terlihat sedikit janggal apabila Paulus memaksudkan 12:31a sebagai sebuah sindiran yang sarkastik.
Kunci untuk memahami semua ini terletak pada kata ta charismata ta meizona (LAI:TB ‘karunia-karunia yang paling utama’; KJV ‘karunia-karunia terbaik’; RSV/ESV ‘karunia-karunia lebih tinggi’; NASB/NRSV/NIV ‘karunia-karunia yang lebih besar’). Apakah yang dimaksud dengan karunia-karunia yang lebih utama ini? Sebagaimana kita sudah bahas dalam khotbah sebelumnya, walaupun semua karunia berasal dari Roh yang sama (12:11), namun beberapa karunia bisa dikatakan lebih utama daripada yang lain dari sisi manfaat bagi orang banyak. Beberapa karunia memiliki manfaat langsung bagi banyak orang, misalnya rasul, nabi, guru, dan nubuat (12:28; 14:4-5). Sebaliknya, beberapa karunia – misalnya bahasa roh – lebih berkaitan dengan manfaat untuk diri sendiri (14:2), kecuali kalau ada orang lain yang menerjemahkannya untuk jemaat (14:5, 13). Intinya, berbeda dengan jemaat Korintus yang memanfaatkan karunia rohani untuk keutamaan dan kesombongan diri sendiri, Paulus justru mengajarkan keutamaan dari karunia-karunia tertentu dalam memberikan manfaat bagi jemaat.
Kesulitan ketiga tentang 12:31a adalah nasihat yang terkesan anthroposentris (berpusat pada manusia). Di bagian sebelumnya Paulus baru saja menjelaskan bahwa pemberian karunia rohani ditentukan oleh Allah sepenuhnya (12:4-6, 7, 11, 18, 24, 28). Bagaimana mungkin ia memerintahkan jemaat untuk mengupayakan hal tersebut? Bukankah orang Kristen bersikap pasif dalam hal pemberian karunia-karunia rohani dari Allah?
Di mata Paulus kedaulatan Allah dalam menetapkan karunia-karunia rohani tidak bertentangan dengan upaya orang percaya dalam memperoleh hal itu. Ia bahkan menggunakan kata zēloute yang mengandung arti yang lebih tegas daripada sekadar “berusaha memperoleh” (kontra LAI:TB). Hampir semua versi Inggris dengan tepat memilih terjemahan “earnestly desire” (RSN/NASB/ESV), “desire earnestly” (ASV/YLT), “eagerly desire” (NIV), atau – bahkan – “strive for” (NRSV). Kata dasar zēloō muncul di 13:4 dengan arti “cemburu” (juga 2 Kor 11:2; Yak 4:2). Kata yang sama digunakan Paulus sebagai rujukan untuk upaya yang giat dari pengajar sesat dalam menipu jemaat (Gal 4:17-18). Dari data ini terlihat bahwa zēloute/zēloō menyiratkan usaha yang sungguh-sungguh. Ini bukan sekadar keinginan yang biasa, tetapi hasrat yang besar. Ini bukan hanya menyiratkan upaya yang seadanya, tetapi keseriusan dan kedisiplinan (bentuk present tense dari kata perintah zēloute menyiratkan usaha yang terus-menerus).
Bagaimana cara kita mengupayakan karunia rohani yang lebih utama? Paulus akan menjawab: berdoa! (14:13). Sebagian gereja modern sudah mendorong jemaat mereka untuk berdoa agar diberi karunia rohani tertentu. Persoalannya, mereka justru mendoakan karunia bahasa roh yang tidak secara langsung dan tidak secara jelas membangun jemaat lain. Dengan kata lain, mereka sedang mengejar karunia yang tidak utama. Mereka seharusnya ‘berambisi’ untuk karunia-karunia rohani yang membawa manfaat besar bagi orang lain. Paulus berkali-kali mendorong jemaat untuk menginginkan nubuat daripada bahasa roh (14:1, 5, 24, 31, 39), karena nubuat lebih berguna bagi seluruh jemaat.
Nasihat untuk giat dalam pengupayaan dan penggunaan karunia-karunia Roh merupakan hal yang perlu diulang-ulang. Kita kadangkala memadamkan Roh dan meremehkan karunia-karunia rohani (1 Tes 5:19-20). Situasi tertentu dapat melemahkan hasrat kita terhadap pekerjaan Roh, karena itu kita tidak boleh lalai (1 Tim 4:14), bahkan kita harus terus-menerus mengobarkan karunia Allah (2 Tim 1:6).

Jalan yang lebih utama (ayat 31b)

Kalau di ayat 31a Paulus berbicara tentang karunia-karunia rohani (ta charismata), sekarang ia mengajarkan tentang sebuah jalan (hodon). Kalau karunia-karunia Roh di ayat 31a disebut lebih utama (lit. ‘lebih besar’, meizona), jalan di ayat 31b disebut lebih utama (lit. ‘lebih luar biasa’, kath’ hyperbolēn). Penyelidikan konteks menunjukkan bahwa jalan yang lebih utama ini adalah kasih (13:1-13).
Di suratnya yang lain Paulus juga menghubungkan karunia-karunia rohani dengan kasih. Sesudah mengajarkan penggunaan karunia Roh yang sesuai dengan ukuran iman dan pemberian Allah (Rom 12:3-8), Paulus melanjutkan pembahasan tentang kasih (Rom 12:9-11). Sebaliknya, sebelum membicarakan tentang perbedaan karunia Roh (Ef 4:7-16), Paulus menyinggung tentang kasih (Ef 3:18-4:6).
Apakah dengan menyebut kasih sebagai ‘jalan yang lebih utama’ Paulus sedang mengajarkan kasih sebagai syarat memperoleh karunia rohani? Tidak! Semua orang yang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan (12:1-3) pasti akan diberi karunia rohani (12:7-11), tidak peduli apakah orang itu sudah memiliki kehidupan yang baik di dalam hal mengasihi. Paulus bahkan menyinggung tentang orang-orang tertentu yang memiliki karunia yang ‘spektakuler’ tetapi gagal menunjukkan kasih dalam hidup mereka (13:1-3). Kita juga tidak boleh lupa bahwa kebersamaan dalam jemaat adalah tujuan – bukan syarat - pemberian karunia rohani (12:7). Ada kemungkinan orang menggunakan karunia rohani tanpa melibatkan kasih kepada sesama. 
Lalu apa maksud Paulus menyebut kasih sebagai jalan? Dalam hal ini kita perlu memahami bahwa penekanan pada perintah Paulus di 12:31 terletak pada ‘karunia-karunia yang lebih utama’; dalam arti karunia-karunia yang  lebih bermanfaat bagi banyak orang. Nah, perintah ini tidak mungkin akan dilakukan oleh jemaat Korintus apabila mereka tidak memiliki kasih kepada sesama. Kasih seharusnya menjadi dorongan dalam mengupayakan karunia-karunia rohani dan ciri khas dalam menggunakan karunia-karunia tersebut.
Berdoa agar kita diberi karunia-karunia Roh tertentu yang lebih bermanfaat bagi jemaat adalah baik (12:31a; 14:13). Walaupun demikian, hal itu tidak akan berarti apa-apa jika tidak diimbangi oleh kasih (13:1-3). Keinginan untuk melakukan lebih banyak bagi orang lain harus dilandasi oleh kasih. Jikalau tidak, keinginan itu pasti bersifat manipulatif yang egosentris (hanya untuk kepentingan, keuntungan, dan kebanggaan kita sendiri). Dosa ini terjadi dalam jemaat Korintus. Mereka berambisi dan mengeksploitasi karunia-karunia tertentu yang dipandang bisa menaikkan status sosial maupun spiritual mereka.
Keutamaan kasih bagi kebersamaan jemaat memang sulit untuk dibantah. Tidak setiap orang memiliki karunia yang sama, tetapi semua orang bisa dan harus memiliki kasih. Dengan demikian kasih dapat dikatakan sebagai “karunia universal” (bapa gereja John Chrysostom). Soli Deo Gloria.

Selasa, 03 Juli 2018


BAGIAN YANG DITENTUKAN

Kolose 3:22-24
22 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.
 23 Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
 24 Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.

Pendahuluan
Jemaat di Kolose terdiri dari orang-orang Yahudi dan non Yahudi dengan status sebagai budak atau mantan budak. Itulah sebabnya mengapa rasul Paulus mengatakan bahwa hamba-hamba (doulos) harus menuruti para tuannya.
Status budak adalah seseorang yang tidak mempunyai hak apapun atas dirinya sendiri, karena ia telah dibeli dari pasar budak dan menjadi semacam ‘properti’ tuannya. Dia bekerja dengan tidak diberi upah dan bahkan dapat diperlakukan sekehendak hati oleh tuan atau majikannya.

Pembahasan
Rasul Paulus meminta para budak agar menaati tuannya dalam segala hal dengan motivasi ketulusan hati, karena takut akan Tuhan. Tuan itu dalam bahasa Inggris dipakai kata Master atau kurios dalam Bahasa Yunani yang dapat diartikan Tuan/Master/Lord atau Tuhan itu sendiri. Mungkin oleh karena kekuasaannya yang mutlak atas budak, maka tidak heran kalau dikonotasikan dengan Tuhan.

Dalam status dan perlakuan seperti itu, firman Tuhan mengatakan sebaliknya bahwa dari Tuhanlah para budak itu akan menerima bagian yang ditentukan sebagai upah (ayat 24).

Bagian yang ditentukan itu sebagai upah (reward) dalam Bahasa Yunani adalah kleronomia yang berarti warisan yang diberikan sebagai milik (properti) bagi seseorang. Pemikiran ini sangat bertolak belakang dengan konsep budak yang tidak akan mendapat apapun seperti yang dijelaskan di awal.

Rasul Paulus ingin mengatakan bahwa sebagai jemaat yang sudah percaya Tuhan Yesus, maka ada warisan sebagai hamba Allah di Surga yang pasti akan diterima. Kristus adalah Tuan kita yang sesungguhnya yang akan memberkati kita sebagai hamba-hamba-Nya.

Penutup
Apapun beban hidup kita di dunia ini, marilah kita menaruh harapan kita kepada Tuhan. Di manapun posisi kita, baik sebagai karyawan, pengusaha atau apapun, ingatlah bahwa kita adalah  manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya; sehingga tidak ada lagi perbedaan status di hadapan Tuhan.

Pikirkanlah perkara-perkara di atas, dengan cara hiduplah bagi Tuhan dan menanggalkan segala kenajisan hidup kita (pikiran, perkataan dan perbuatan). Hiduplah dengan status yang baru sebagai orang-orang yang hidup di dalam Kristus.

Kolose 3:11: dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.

Amin. Tuhan memberkati kita.

Rabu, 27 Juni 2018

The Shocking Biblical Truth About Eating Fat

Is fat good or bad for our health? Down the century, we have heard differing answers from so-called experts. Some claim that all fats are bad and we should have a low-fat diet to attain optimum health. Others argue that fats are healthy and they are a rich source of energy. In searching for the right answer, who should you listen to? Are we left in just choosing who we should believe and hope for the best?
Thankfully, we can go to the Master Creator who designed our human body. If there’s one Being who can tell us whether fat is good for us or not, it should be the Supreme God of the Universe. We are not left in the dark when it comes to finding the truth about this matter. We can always turn to God’s inspired word and read the Bible to know the answer.
So, what does the Bible say about eating fat? Does God care enough about our health and leaves us a dietary guideline? In this post, let me share with you a quick, comprehensive, and easy-to-understand study on what the Bible teaches about eating fat.
The Shocking Biblical Truth About Eating

Biblical instructions

When asked where in the Bible discusses the topic about eating fat, most people would turn to the following scripture:
  • Leviticus 3:17: “This is a lasting ordinance for the generations to come, wherever you live: You must NOT eat any fat or any blood.”
  • Leviticus 7:22-25: The Lord said to Moses, “Say to the Israelites: ‘DO NOT EAT ANY OF THE FAT of cattle, sheep or goats. The fat of an animal found dead or torn by wild animals may be used for any other purpose, but you must not eat it. Anyone who eats the fat of an animal from which a food offering may be presented to the Lord must be cut off from their people.’
From these verses, it is very easy to see that God forbids eating of fat. However, other scriptures seemingly contradict this assumption. Some of these verses include the following:
  • The Shocking Biblical Truth About Eating FatGenesis 45:18: And take your father and your households and come to me, and I will give you the best of the land of Egypt and you will eat the FAT of the land.’
  • Nehemiah 8:10: Then he said unto them, Go your way, eat the fat, and drink the sweet, and send portions unto them for whom nothing is prepared: for this day is holy unto our Lord: neither be ye sorry; for the joy of the LORD is your strength.
  • Luke 15:22 22 “But the father said to his servants, ‘Quick! Bring the best robe and put it on him. Put a ring on his finger and sandals on his feet. Bring the fattened calf and kill it. Let’s have a feast and celebrate.’
Comparing all these verses, we have a dilemma here. Does God forbid the eating of fat or not? Was God a double-minded God who changes His mind every once in a while? Of course not! So how can we explain these verses and reconcile them to each other?

A specific kind of fat is forbidden

Now here’s the truth about eating fat according to the Bible: God does NOT forbid eating all types of fat. There is just a specific type of fat He wants us to avoid. We can learn about this fat as we take a deeper look at what the Bible really says about eating fat.
Leviticus 1-7 discusses the different instructions about how to give a sacrifice to God. Leviticus 1:8 tells us:
“And the priests, Aaron’s sons, shall lay the parts, the head, and the fat, in order upon the wood that is on the fire which is upon the altar.”
If you look at the Hebrew word translated as fat from this verse, it is “peder.” Strong’s Dictionary defines this as “From an unused root meaning to be greasy; suet: – fat.” The term “peder” was only used thrice in the Old Testament and it was consistently used in relation to the animal sacrifices.
“Peder” is derived from a root word which means “greasy” and it refers to the HARD FAT in the animal, usually located around the kidneys, loins, and liver. This is supported by the scripture as we read the following verses:
  • Leviticus 9:10: But the fat, and the kidneys, and the caul above the liver of the sin offering, he burnt upon the altar; as the LORD commanded Moses.
  • Leviticus 3:4: And the two kidneys, and the fat that is on them, which is by the flanks, and the caul above the liver, with the kidneys, it shall he take away.
The fat and the kidney can be readily understood. But what is the “caul above the liver?” Unger’s Bible Dictionary defines caulas as the “liver-net, or stomach-net, which commences at the division between the right and left lobes of the liver, and stretches on the one side across the stomach, and on the other to the regions of the kidney.”
Now, why would God command such restriction? All of these fats and tissues are for the purpose of either holding, filtering, and storing waste products and toxins that can be harmful to the body. God knows the purpose of these fats and tissues and therefore, considers them as unfit for human consumption.
So in discussing about fat, God specifically identified the suet or greasy, hard fat of the animal as something dangerous to our health. God wants to make sure that these type of fats are burned during the sacrificial ceremony and therefore not be eaten by His people.

The relation between fat and milk

Coffee, milk, breakfast, bread, butterNow, here’s a startling and amazing fact that most people don’t know about fat and milk. They share the same unused Hebrew word that means “to be fat!” As we have discussed earlier, the Hebrew word for fat is “peder,” but there is also another Hebrew word from where the word fat is derived. It is “cheleb.” Milk has almost the same Hebrew word which is “Chalab.” Remember that the original Hebrew text does not contain any vowel. So, whenever we see fat or milk in the Hebrew text, it is equivalent to “chlb” and it is up to the translator whether to translate it to “fat” or “milk” depending on the context.
So, what is the significance in understanding this conceptMilk is considered as fat! In fact, we find MORE THAN 400 different fatty acids in milk and most of them are saturated fat.
Here’s the question now, “If God forbids His people to abstain from fat, then should we stop drinking milk?” The obvious answer is NO! We read:
“And I am come down to deliver them out of the hand of the Egyptians, and to bring them up out of that land unto a good land and a large, unto a LAND FLOWING WITH MILK and honey; unto the place of the Canaanites, and the Hittites, and the Amorites, and the Perizzites, and the Hivites, and the Jebusites” (Exodus 3:8).
Time and again, God reiterated that He would bring the Israelites to a land flowing with milk and honey (Exodus 3:17; Leviticus 20:24; Numbers 13:27; and Deuteronomy 31:20 just to name a few). So what does this tell us? It teaches us that God does not forbid the eating of all types of fat, but He specifically identified a certain type of fat that we shouldn’t eat.

A rule of thumb to follow

I want to repeat the instruction of Leviticus 7:23:
“Ye shall eat no manner of fat, of ox, or of sheep, or of goat.”
We can derive a general principle from this verse. We should not eat any of the visible fat of clean animals.
During the ancient time, God specified the areas of the animal where we can normally find the fat deposit from their bodies. Those farmed animals ate on the pasture where healthy, green grass was present. Moreover, these animals had a daily dose of exercise. Thus, we can be sure the animals during at that time were healthy and provided nutritious meat with minimal harmful fat.
However, during our modern times where commercialism dominates, the main objective is to get your livestock as fat as possible. The fatter the animal, the bigger their price. To this end, farmers feed their cattle with commercialized feeds. Worse, the farmed animals receive little to no exercise as they are kept in cages.
While times may have changed, the motive and intention behind God’s instructions about eating fats remain the same. We should avoid visible fat as much as possible.
Today, we can’t entirely avoid eating fats from farmed animals. There are just some fats that are difficult to see. We don’t see some fats that are mixed with the protein of the meat. Personally, I believe that it is acceptable to eat fats that we don’t see which are also found together with the meat’s protein. I also think that God was referring to the visible fat when He gave the instruction on which type of fat not to eat. Please note that this is my personal view.

Something to consider

When we consider God’s multiple references of giving the Israelites a land flowing with milk and honey, we can see that God does not warn His people about eating too much fat.
Take, for example, the butter. Butter is a concentrated form of milk and fat. When the God who later became Jesus Christ came and visited Abraham together with the two angels, we see that Abraham offered butter to them (Genesis 18:8). Even Isaiah prophesied that the Messiah would eat butter (Isaiah 7:15). From this scripture, the Bible endorses the consumption of butter.
Dough, bowl, hand, bakingIt is worth noting that the ancients did not consume butter the way we consume butter today. They don’t just use butter as a means of spreading them on a sliced bread or adding butter to their meals. They consumed butter in a larger quantity compared to how much we consume in the modern times. Butter is actually a main part of the Middle Eastern diet and it is freely and generously available.
So, what’s the point in all this? The point is that God does not warn us against eating too much fat. He only instructed us not to eat a certain type of fat and that is the type of fat we were discussing earlier.
Another thing to consider is the olive oil, which also contains fat. In the Biblical times, olive oil was used in baking, frying, and cooking. It is also generously added to soup, salads, and vegetable. With this in mind, we can’t possibly conclude that the Bible encourages a low-fat diet.

The bad and ugly fat

If there’s one type of fat that we all should avoid, it would be the trans fat. While trans fat is not specifically mentioned in the Bible, we can obtain certain principles to why trans fat is bad for our health.
We read in the Bible that butter is good for our health. However, we know that the natural human mind is hostile to God (Romans 8:7). So, man went on to say butter is not good for our health and created his own version of butter and thus, we now have margarine.
There are basically two types of fats: saturated fats and the unsaturated fats. Saturated fats are solid and unsaturated fats are liquid at room temperature. What makes saturated fats “saturated?” They are saturated with hydrogen molecules. On the other hand, unsaturated fats lack hydrogen molecules. Thus, food scientists have an easier way to meddle with unsaturated fats.
When scientists add hydrogen to unsaturated fats, they become hydrogenated fats and thus, we arrive at having the “hydrogenated fats” or better known as the trans fat.
Why do scientists need to “hydrogenate” fats? Well, for one, they want to turn healthy liquid fat into solids and prevent them from becoming rancid. The whole process transforms healthy and beneficial oils into health-wrecking fats. When you look into food labels, you should avoid food with hydrogenated fats, trans fats, or partially hydrogenated oil.
Back in the days when trans fats are making its way to popularity, it was first found in margarines and vegetable shortenings. As people discover more uses of trans fats, it has become commercially available and most processed food contain it such as pastries, cookies, and fast-food French fries (here’s another reason to stop eating French fries)!
Why are trans fat bad for you? Trans fat increases the amount of bad cholesterol in your body and decreases the amount of good cholesterol at the same time. Trans fat is also linked to increased risk of type 2 diabetes, stroke, and heart disease.

Final words

God promised the physical nation of Israel to bring them to a land flowing with milk and honey. As part of God’s blessings, He gave the fat of the land to be a source of food for His people. The fats found in dairy products, eggs, clean meat, and olive oil are intended for human consumption. However, God was very specific for us not to eat the solid fat of animals.
So does God forbid the eating of fat? We have seen the answer and that answer is depending upon the type of fat we are talking about. So, the next time someone asks you whether we can eat fat or not according to the Bible, you definitely know the answer.