Rabu, 21 November 2012

THE POWER (MIRACLE) OF GIVING


Di salah satu stasion TV swasta ada suatu acara dakwah Islami yang dibawakan dengan begitu ringan tapi cukup mengena, yang dibawakan oleh seorang da'i muda dengan judul acara chating bersama YM.
Sosok YM yang pada beberapa tahun ini belakangan ini cukup cemerlang dengan ceramahnya seputar isu berani memberi untuk mendapatkan berkat.
Dengan cukup berani sang uztad muda ini memparaktekkan prinsip-prinsip memberi, yang bahkan saya pernah mendengar bahwa dia 'meniru' dari orang nasrani soal semangat perpuluhan yang menjadi suatu contoh/praktek memberi bagi orang  Kristen

Point saya bukan untuk membahas topik perpuluhan, tetapi mengkritisi bahwa ajaran untuk memberi memang menjadi sesuaitu nilai yang tidak terpisahkan dalam hidup iman Kristen. Memberi bukan melulu karena kita berlebih, tetapi dalam beberapa kasus ekstrim Alkitab memberikan contoh bahwa memberi (persembahan) dari janda miskin yang mempersembahkan seluruh nafkah hidupnya pada hari itu ke bait Allah atau janda miskin di kota Sarfat yang memberikan nafkah terakhirnya kepada nabi Elia.

Saya mengkritisi apakah benar nilai-nilai memberi yang diajarkan uztad muda itu sama dengan yang prinsip memberi yang seharusnya dimiliki orang Kristen ?
Sebelum mengadakan komparasi lebih jauh, saya mencoba memahami konsep memberi yang diajarkan uztad muda itu sbb :

Dia mencontohkan dalam sebuah acara di TVRI beberapa waktu lalu dan menantang (volunteer) seseorang untuk mau memberikan zakat. Orang yang didaulat maju tsb memiliki uang di dompetnya sebesar Rp 1,2 juta. Lalu ketika ditanta berapa uang yang mau dia zakatkan ?
Sang volunteer itu mengikhlaskan Rp 20.000,- dan sisanya Rp 1.160.000,- dimasukkan kembali ke dompetnya. Tetapi sang uztad menantang, ...'lho mau dapat berkat sedikit atau banyak ?'
'mau dapat ganti dari Allah Rp 200.000,- atau Rp 11.160.000,-?'.
Akhirnya karena tertantang 'untuk mendapatkan rezeki' lebih besar, ia merelakan investasi Rp 1.160.000,- untuk zakat di jalan Allah, menurut uztad muda tsb.

Patut dihargai semangat memberi seperti yang diajarkan iman seberang tsb, tetapi marilah kita teliti lebih jauh tentang arti memberi sebetulnya.
  1. Pemberian atau persembahan semestinya dilandasi atas motivasi yang benar di hadapan Tuhan
  2. Persembahan diberikan dengan cara-cara yang benar
  3. Persembahan diberikan melampaui pertimbangan manusia
Motivasi memberi bukanlah semacam investasi untuk memperoleh 'gain' lebih. Kalau hal ini yang dijadikan dasar, maka kita akan terjebak dengan bisnis pelipatgandaan uang yang tidak benar. Iming-iming mendapat bunga besar atas investasi yang tidak jelas sudah menjadi penyakit masyarakat belakangan ini.
Apakah sebagai orang Kristen kita akan terjebak dengan semangat memberi yang dikamuflase dengan nilai-nilai yang salah ?

Motivasi kita dalam memberi adalah sebagai ucapan syukur atas pemberian tak ternilai yang Tuhan sudah lakukan di atas kayu salib untuk kita manusia berdosa. Ini bukan berarti kita membayar jasa Tuhan Yesus yang tak terbayarkan itu, tetapi sekali lagi bahwa ini adalah ungkapan bahwa kita menyadari apapun yang kita punya saat ini, entah kedudukan, kesehatan, keuangan yang baik...itu semua adalah milik dan pemberian Tuhan semata untuk hidup kita yang telah ditebus ini.

Ayat Alkitab yang mengemukakan 'Berilah maka kamu akan diberi' (Lukas 6:38), janganlah ditafsirkan bahwa motivasi memberi adalah supaya kita mendapatkan 'return' dari investasi, sebab sekalipun memang Tuhan akan memberi sebagai bukti kasih dan karunia pemeliharaan Allah atas hidup anak-anakNya, tetapi wujud pemberian di sini tidak harus melulu merupakan berkat jasmani, karena dalam aspek menyeluruh yang lebih dalam ternyata penderitaan adalah juga dapat merupakan karunia Allah (I Petrus 2: 19)

Semangat memberi haruslah menjadi bukti bahwa hidup orang Kristen adalah murni anugerah dan pemberian  Tuhan, sehingga sudah  selayaknyalah bila hidup Kristen diwarnai dengan kasih kepada sesama.
Kasih untuk memberi dengan tanpa syarat, tanpa menuntut balas,  tulus ikhlas dan tidak berdasar kemampuan manusiawi semata.  

Hukum Ekonomi memang menyatakan bahwa kita akan mendapatkan keuntungan lebih banyak, bila kita melakukan efisiensi dengan menekan pengeluaran (menahan untuk memberi) tidak selalu terwujud dalam kehidupan. Kehidupan di dunia ini tidak selalu berjalan menuruti hukum alam. Ada hal-hal yang bisa terjadi dalam kehidupan manusia yang tidak selalu bisa dimengerti dengan akal manusia. Kita harus menyadari bahwa Allah bisa melakukan intervensi (campur tangan) terhadap apa yang terjadi di dunia ini, sehingga orang yang memiliki kepedulian tinggi bisa mendapat berkat dan orang yang mementingkan diri sendiri justru mengalami kekurangan.  Inilah yang dimaksudkan bahwa persembahan yang diberikan melampaui pertimbangan manusia.

The power (miracle) of giving memang benar, tetapi harus dilakukan dengan motivasi, cara (metode) dan mutu (kwalitas) yang benar di mata Allah untuk sesama manusia.

Amsal 11 : 24 Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa , namun selalu berkekurangan.

Amien.  






Selasa, 13 November 2012


          Antikristus atau si Dajal merupakan satu dari sekian figur Alkitab yang paling populer dan banyak dibahas. Sosoknya begitu menarik sehingga keluar pagar kekristenan dan memasuki budaya umum secara keseluruhan. Alkitab membicarakannya, tetapi tetap saja ia menjadi sosok misterius. Bahkan sudah berabad-abad, tidak terhitung pribadi atau lembaga yang mendapat kehormatan menjadi antikristus. Mulai dari Sri Paus, Kaisar, tokoh reformasi sampai pada sistem kepercayaan, pemerintahan, penyakit, maupun karya seni. Bila mereka ternyata akhirnya mati atau tidak ada lagi, orang berpura-pura lupa. Bahkan kadang sekedar berkata, "Ternyata bukan dia" ketika orang yang mendapat tuduhan itu akhirnya mati di tiang gantungan.
Para ahli nubuatan berusaha keras memahami makhluk ini. Apa kemampuannya? Darimana datangnya? Bagaimana mengenalinya melalui tiga angka terkenal itu - 666? Bagaimana caranya ia naik tampuk kekuasaan dan menyatukan ekonomi global dengan satu sistem mata uang? Bagaimana satu orang bisa memimpin seluruh dunia dan membuat dunia menyembahnya sebagai Tuhan? Mereka akhirnya hanya bisa berkata, "Itu pertanyaan-pertanyaan yang hanya bisa bisa dijawab bila antikristus sudah datang."
Pada awalnya antikristus muncul sebagai tokoh kecil dari Eropa Tenggara. Kemudian ia menaklukan 3 kerajaan dan menjadi penguasa konfederasi 10 kerajaan di Eropa (Dan 7:24; 8:25; Wah 13:10), yang menjadikannya Diktator Eropa. Selanjutnya ia mengadakan perjanjian perdamaian dengan Israel selama 7 tahun termasuk ijin untuk mengadakan sistem persembahan kepadanya di bait Allah (Dan 9:27). Tetapi perjanjian selama 7 tahun ini tidak sepenuhnya dijalankan oleh antikristus. Dalam paruh 3½ tahun kedua antikristus menghianati perjanjian itu dengan alasan karena antikristus tidak memerlukan lagi bantuan Israel dalam menghadapi Rusia. Sistem penyembahan Israel yang baru dibangun akan dibasmi dan digantikan dengan sistem penyembahan binatang besar di dalam bait Allah (Dan 9:27; 2 Tes 2:24).
Antikristus menjadi musuh besar Israel, di mana ia kemudian mengejar dan menganiaya semua orang Yahudi yang menolak menyembah kepadanya. Dengan perantaraan mujizat Allah, rombongan Israel yang setia itu mengungsi ke padang belantara Edom, di mana mereka akan dipelihara selama 3½ tahun terakhir itu (Mat 24:24-25; Wah 12:14-16). Banyak yang lainnya akan mengalami penganiayaan hebat di dekat Yerusalem, karena penolakan penyembahan kepada binatang besar itu, namun mereka belum lagi rela menerima Yesus Kristus sebagai Mesias yang sesungguhnya (Zak 12).
****
Sebuah film yang pertama kali diproduksi tahun 1976 membuat tokoh ini makin terkenal. Bahkan pada tahun 2006, tepatnya tanggal 6 Juni 2006 jam 06:06:06 remake-nya yang berjudul "The Omen: 666" mulai dilepas di pasaran. Bercerita tentang Damien, seorang anak yang lahir sebagai putra diplomat. Banyak hal aneh terjadi dengan anak ini, termasuk pengasuh yang bunuh diri pada hari ulang tahunnya, sehingga pengasuh baru datang. Seorang yang ternyata dikirim untuk menjaga seorang anak setan. Seorang pastor mengungkapkan fakta anak setan ini kepada si ayah, tetapi ia menolak membunuh Damien. Walaupun demikian, setelah melihat tanda lahir berupa angka 666 di kepala anaknya, ia tidak punya pilihan selain membawa anaknya ke gereja untuk dibunuh. Sayangnya gagal karena pada saat mau melakukannya, ia tertembak seorang petugas. Damien selamat sehingga filmnya berakhir dengan senyuman anak setan yang sedang memegang tangan presiden Amerika Serikat.
Damien hanyalah seorang tokoh khayalan, tetapi dalam kehidupan nyata beberapa nama telah menjadi 666. Antara lain, Nero, Paus Benediktus XVI, Adolf Hitler, Henry Kissinger, Stalin, Roosevelt, Mussolini, Karl Von Habsburg, Saddam Hussein, Mikhail Gorbachev, dan masih banyak yang lain lagi, termasuk beberapa kandidat yang baru muncul, Bill Gates, George Bush dan Pangeran Charles.
Bill Gates, raja monopoli yang bernama asli William Henry Gates III, mendapat kehormatan ini karena jumlah namanya dalam kode ASCII (American Standard Code for Information Interchange), sebuah kode yang merepresentasikan setiap karakter A-Z dan seterusnya ke dalam angka yang bisa dimengerti komputer. Sebagai contoh, huruf A dalam ASCII berkode 65, huruf B berkode 66, dan seterusnya. Bila semua huruf dalam "William Gates III" dikonversikan ke ASCII lalu dijumlahkan, angka 666 akan muncul.
George Bush bernasib sama, gara-gara ASCII juga. Caranya sedikit lebih rumit, nama pertama, George menjadi 71+101+111+114+103+101; nama kedua, Walker menjadi 87+97+108+107+101+114; nama terakhir, Bush menjadi 66+117+115+104. Totalnya adalah 1617. Total ini setelah dijumlahkan dengan cara yang aneh, yaitu 1+6+1+7 = 15 = 1+5 = 6, maka orang bisa berkata, "Enam merupakan salah satu angka dalam 666."
Pangeran Charles tidak bernasib lebih baik, begitu menyakinkannya analisa hubungannya dengan antikristus, sehingga seseorang dengan penuh keyakinan menyimpulkan bahwa pangeran ini sebenarnya sadar siapa dirinya yang sesungguhnya, hanya saja ia menunggu saat yang tepat. Sama seperti Kristus menunggu saat-Nya, demikian pula calon raja Inggris menunggu janji bapa-nya, si setan.
Para Teolog yang mendalami kitab Wahyu berbeda pendapat secara luas mengenai apa sebetulnya tanda dari binatang itu. Selain pandangan tentang “kartu tanda pengenal”, yang lainnya berspekulasi bahwa itu adalah microchip, barcode yang ditatokan di kulit, atau sekedar tanda yang mengidentifikasikan seseorang sebagai seorang yang setia kepada kerajaan antikristus.
Pandangan terakhir ini adalah yang paling tidak berspekulasi, karena pandangan ini tidak menambahkan lebig banyak informasi dari apa yang diutarakan oleh Alkitab. Dengan kata lain semua ini mungkin, namun pada saat yang sama semuanya adalah spekulasi, sehingga kita hanya dapat menantikan nanti bagaimana hasilnya. Kita sebaiknya tidak menggunakan banyak waktu untuk berspekulasi mengenai detail yang melampaui apa yang telah ditulis oleh Alkitab.
Kata antikristus hanya muncul lima kali dalam Alkitab, walaupun demikian, konsepnya terpatri kuat dalam bagian Alkitab yang sering disebut literatur apokaliptik. Kata ini juga tidak bisa diabaikan begitu saja oleh buku-buku yang membahas masalah nubuatan atau apapun yang berhubungan dengan masa yang akan datang.
Sebuah kata yang berasal dari kata Yunani antichristos. Anti bisa perarti "pengganti" tetapi bisa juga berarti "melawan" atau "menentang." Hanya muncul di Perjanjian Baru, semuanya dalam tulisan Yohanes (1 Yoh 2:18,22; 4:3; 2 Yoh 1:7). Muncul baik dalam bentuk jamak maupun dalam bentuk tunggal, sehingga beberapa orang menyimpulkan bahwa Yohanes berbicara tentang dua antikristus. Antikristus yang banyak dan sudah datang serta antikristus yang hanya satu, yang akan datang.
Murid Yesus ini juga mengindentifikasikan apa yang telah dilakukan antikristus, yaitu memakan habis persekutuan antara orang percaya serta menyisipkan kebohongan kedalam kebenaran. Antikristus jenis ini dapat dilihat melalui penolakan terhadap Bapa dan Anak (Yoh 2:22); pengajaran doktrin palsu berupa penolakan Yesus sebagai Kristus, Anak Allah; serta penolakan terhadap doktrin reinkarnasi - "bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia" (2 Yoh 1:7).
Selain antikristus, ada pseudochristos yang hanya muncul dua kali dalam Injil, tetapi jelas memiliki hubungan dengan antikristus (Mat 24:24; Mark 13:22). Awalan pseudo berarti "palsu", "tipu daya", atau "pura-pura". Yesus sendiri yang mengucapkan kata ini dalam khobahnya yang merujuk nubuatan Daniel tentang akhir jaman (Mat. 24:15; Mark 13:14). Ia berkata, "Sebab Mesias-mesias palsu [pseudochristoi] dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga." (Mat 24:24).
Ada sebuah istilah yang sulit dipisahkan dalam pembahasan tentang antikristus,  yaitu apokaliptik. Sebuah kata Yunani yang berarti "menyingkapkan" atau "membukakan", merujuk sesuatu yang sebelumnya tersembunyi tetapi kini telah tersingkap. Sastra apokalipsis umumnya mengandung gambaran sebuah dunia khayalan atau mimpi gaib dan menakjubkan; berupa binatang-binatang dengan tanduk yang panjang-panjang, ular-ular naga yang menyembur-nyemburkan api, bisa juga berupa gambaran malapetaka yang akan datang. Beberapa bagian Alkitab, seperti kitab Daniel dan Wahyu termasuk dalam kategori ini.
Dalam literatur apokaliptik, terutama Daniel 11 dan Wahyu 13, jelas bahwa seorang pribadi akan muncul pada titik puncak sejarah. Ia mendapat kekuatan dari Setan untuk memimpin manusia kedalam penentangan terhadap Allah dan umat-Nya. Pribadi inilah yang nantinya terkenal sebagai antikristus.
Walaupun kata antikristus hanya muncul dalam surat Yohanes, tetapi Paulus dengan jelas menggambarkan sosok ini dalam surat yang dikirimnya kepada jemaat di Tesalonika. Sebuah surat yang mengoreksi kesalahpengertian jemaat di sana tentang masa yang akan datang. Paulus, seperti juga Yesus, merujuk penglihatan apokaliptik Daniel serta menyebut antikristus sebagai "murtad" dan "manusia durhaka, yang harus binasa," (2 Tes 2:3). Menggambarkan sosok ini sebagai "lawan yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah. Serta duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah." (2 Tes 2:4)
Sepertinya sosok antikristus memang tidak bisa dipisahkan dengan angka 666. Dalam Wahyu 13:18 tertulis:
Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam.
Wahyu 13 berbicara tentang dua binatang yang keluar dari laut dan bumi. Binatang pertama dikenal sebagai antikristus yang akan muncul sebagai pemimpin untuk melawan Allah di akhir jaman. Binatang kedua akan muncul untuk mengadakan tanda-tanda mujizat sehingga seluruh bumi menyembah binatang pertama. Kutipan ayat di atas merupakan ayat terakhirnya, berbicara tentang identitas binatang tersebut, bilangan 666.
Jadi, 666 merupakan konsep yang diambil dari kitab Wahyu. Masalahnya memang dalam kebanyakan manuskrip tertulis 666, tetapi sekarang ada keraguan tentang angka aslinya. Penyelidikan modern menunjukkan manuskrip awal yang diketahui tentang kitab Wahyu menggunakan angka 616, sedangkan salah satu manuskrip abad ke sebelas menunjukkan menggunakan angka 665. Akhirnya sampai sekarang angka-angka ini masih menjadi bahan perdebatan antar gereja dan antar teolog.
Akhir-akhir ini beberapa orang berteriak-teriak di internet tentang antikristus, seolah-olah bisa melakukan sesuatu untuk mencegah kedatangannya, layaknya seorang ayah yang berusaha membunuh Damien dalam film "The Omen: 666".
****
Kesimpulan
Mempelajari kitab Wahyu sebagai literatur untuk memahami peristiwa-peristiwa masa depan mempunyai efek untuk kita berhati-hati dalam memahami kitab yang tidak mudah ini. Banyak orang Kristen terjebak untuk memahami peristiwa-peristiwa masa kini sebagai penggenapan dari nubuatan kitab Wahyu. Pengertian nubuat (prophecy) itu sendiri juga harus dibereskan di mana nubuat yang merujuk kepada peristiwa-peristiwa masa depan sebetulnya hanya 2 % dari seluruh kitab PL dan PB (termasuk dalam kitab Wahyu). Nubuat lebih berbicara pada penyampaian firman Tuhan dari nabi kepada pergumulan umat/jemaat pada kontekstual permasalahan masa itu.     
Salah satu pergumulan ketujuh jemaat di Asia Kecil (Wahyu 2) adalah tatkala mengalami masa-masa penderitaan sebagai gereja yang teraniaya yang membuat kitab ini ditulis untuk menunjukkan cara pandang baru dari memaknai penderitaan itu sendiri. Oleh sebab itu kitab Wahyu ditulis dengan berbagai perlambangan dalam kontekstual pergumulan masa itu yang dimengerti oleh kaum insiders (orang dalam) yang dimaksudkan oleh Yohanes ketika surat ini ditulis.
Menjadi ‘bahaya besar’ ketika orang Kristen masa kini menghadapi dan menganalisa fenomena-fenomena bencana alam, temuan teknologi mutakhir, jatuhnya para pemimpin garis keras sebagai kemenangan negara yang berdemokrasi,  semangat orang Israel untuk mendirikan bait suci ke III di Yerusalem, dll sebagai tanda-tanda akhir zaman seperti yang dimaksudkan kitab Wahyu. Mungkin ya, tetapi besar kemungkinan juga tidak,  ketika kita memahami untuk siapa sebetulnya kitab ini ditulis pada awalnya dan bagaimana pemaknaan yang tepat untuk konteks pergumulan orang Kristen pada saat itu dan masa sekarang adalah dua hal yang seharusnya berbeda.
Sebagai penutup sebaiknya kita menyimak pernyataan Lawrence O. Richard dalam bukunya "Expository Dictionary of Bible Words", Zondervan Publishing House: Grand Rapids, Michigan 1985 sebagai berikut :
Kita bisa membiarkan Allah membereskan masalah akhir jaman dengan antikristus di masa yang akan datang. Bagian kita sekarang adalah melawan antikristus-antikristus yang sekarang sudah ada di antara kita dengan tetap setia pada Yesus, anak Allah, Juruselamat kita.
Marilah kita menjadi orang Kristen zaman akhir yang bijaksana menyikapi peristiwa-peristiwa akhir zaman, sehingga tidak terjebak menjadi orang Kristen yang “maniak” terhadap peristiwa-peristiwa akhir zaman (Eschatomania) dan  berspekulasi dengan “tanda tanda” yang terlalu mengaitkannya. Tetapi pada sisi lain Alkitab juga memperingatkan kita untuk berjaga-jagalah.
Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri.(Mat 24 : 36)
Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. (Mat 24:42).


Amin

Tuhan memberkati.

Selasa, 06 November 2012

It is well with my soul
It is well with my soul

Itulah refrain dari sebuah lagu yang sangat terkenal di abad sebelum abad 20, sebuah abad yang menjadi kebangkitan pengkhotbah-pengkhotbah besar sekaliber D.L. Moody.
Adalah Spafford  seorang muda yang sangat pandai, pengacara sukses dan juga seorang pebisnis, investor yang pada suatu kesempatan meinvestasikan hampir seluruh uangnya ke dalam bisnis property di Michigan, Amerika Serikat.
Apa mau dikata, kebakaran besar yang terjadi di pinggiran danau Michigan mengakibatkan habisnya seluruh investasi bisnisnya tersebut. 
Dalam keadaan kegundahan dengan perasaan hampir putus asa, Mr. Spafford memutuskan untuk menghibur keluarganya (istri dan ke 2 anak putrinya) dengan berencana berwisata ke Inggris, sekaligus menghadiri khotbah dari pengkhotbah terkenal D.L. Moody yang saat itu sedang mengadakan KKR.
Karena ada kesibukan pekerjaan yang masih harus diselesaikannya, Spafford meminta istri dan kedua putrinya yang masih kecil itu untuk berangkat lebih dulu dengan menumpang kapal laut sebagai kendaraan yang lazim pada masa itu. Rencananya setelah urusannya selesai Spafford akan menyusul keluarganya ke Inggris.
Tanpa diduga sebelumnya kapal yang ditumpangi istri dan kedua putrinya itu mengalami karam besar, sehingga dikabarkan hanya istrinya yang selamat.
Dengan perasaan hancur dan kesedihan yang luar biasa Mr. Spafford dan istrinya melintasi tempat kejadian karam kapal tersebut dan dari peristiwa tragis ini lahirlah lagu 'It is well with my soul'.
Lagu yang lirik-liriknya tidak satupun menyesalkan kejadian pahit yang dialaminya, tetapi mengekspresikan jiwa yang nyaman dalam menghadapi musibah seberat itu. Karya Spafford menunjukan kedewasaaan iman Kristiani dalam menghadapi gelombang hidup yang begitu berat.

Setelah kejadian itu tidak lama kemudian putra terakhir Spafford juga meninggal dunia karena sakit demam yang berkepanjangan. Merasa begitu miris dan tidak habis pikir dengan penderitaan yang dihadapi oleh keluarga Spafford,  gereja tempat Spafford berbakti mempunyai pandangan yang keliru. Spafford dianggap mendapatkan kutuk, sehingga harus dijauhi dari persekutuan dengan jemaat di gereja tersebut. Tidak tahan dengan perlakuan itu, Spafford dan istrinya mengungsi jauh dan meninggalkan gereja tempat ia berbakti ke suatu daerah yang terpencil. Dalam masa tuanya Spafford diberitakan terganggu jiwanya, sehingga meninggal dunia dalam keadaan yang tidak bahagia.

Suatu kejadian nyata yang membuat kita sekali lagi berpikir dan merenung dengan penderitaan orang Kristen. Mengapa orang Kristen bisa dan diijinkan Tuhan menderita begitu rupa ? Apakah Tuhan tidak mengasihi orang yang telah ditebusNya untuk menjadi anakNya ? Apa makna semua ini ?

Merenungkan tentang makna penderitaan bagi orang Kristen, kita teringat dengan kisah Ayub yang tertulis dalam kitab Ayub. Hampir semua Teolog sepakat bahwa tujuan Kitab Ayub adalah memberikan penjelasan tentang keadilan Allah bagi orang benar. Penderitaan yang dialami oleh Ayub merupakan sesuatu yang sulit untuk dipahami menurut konteks keagamaan pada waktu itu dan berlaku juga pada waktu sekarang. Konsep tradisional mengajarkan bahwa ketaatan akan membawa berkat (Ayub 1:1-3), sedangkan ketidaktaatan menghasilkan kutukan. Pada saat sekarang di mana gereja-gereja pada umumnya mengajarkan Teologi Sukses, yaitu semua orang Kristen pasti sukses, banyak uang, sehat selalu dll. Pada kenyataannya tidaklah demikian, karena di sana sini masih ditemui orang Kristen yang walaupun sudah hidup begitu taat kepada Tuhan, tetapi tetap saja mengalami banyak kesusahan.

Kitab Ayub mengajarkan teologi retribusi yang komprehensif. Allah akan memberkati orang yang taat dan menghukum orang yang tidak taat (bdk. Ul 28:1-68; 30:11-20). Keputusan ini bukanlah tindakan yang salah sebagaimana dibuktikan melalui kehidupan Ayub. Pada dirinya sendiri cara kerja ilahi ini tidak mengandung kesalahan apapun.

Bagaimanapun, kitab Ayub tidak sekedar mengakarkan konsep retribusi yang mekanis. Kadang kala antara teori dan kenyataan terlihat tidak harmonis, namum kedaan ini justru dipakai Allah untuk mengajarkan beberapa hal yang indah tentang teologi retribusi yang sebenarnya :

  1. Berkat Allah tidak boleh dijadikan sebagai motivasi ketaatan. Berkat adalah respon ilahi terhadap ketaatan dan tidak pernah sebagai tujuan dari ketaatan itu sendiri. Ayub tetap saleh sekalipun ia tidak mendapatkan "berkat" Tuhan secara fisik (band Mzm 73).
  2. Retribusi merefleksikan sifat Allah yang berkenan pada kesuksesan orang benar dan menjamin hukuman bagi orang fasik. Konsep ini tidak boleh dipakai untuk menuntut sesuatu dari Allah atau menilai status rohani seseorang di hadapan Allah. Teman-teman Ayub telah melakukan kesalahan yang  terakhir ini : mereka menilai kehidupan rohani Ayub dari keadaan fisik yang ia alami.
  3. Keadaan yang terlihat tidak sesuai dengan konsep retribusi merupakan media yang Allah pakai untuk mengajarkan apa artinya bersandar pada kedaulatan dan hikmat Allah yang sempurna sekalipun kita tidak bisa memahami semua yang sedang terjadi (Ayub 42:3b, 6). Apa yang Allah lakukan dalam hidup kita pasti dilakukanNya dalam kedaulatan dan pengetahuanNya (42:2-3)
Marilah kita menjadi orang Kristen yang tahan menderita bila penderitaan itu memang diijinkan Allah terjadi dalam hidup kita sesuai kedaulatan dan kontrol serta pengetahuanNya.  Kitab Ayub memberikan alasan lain di balik sebuah penderitaan, yaitu kemuliaan Allah. Allah memakai penderitaan untuk menyatakan kemuliaanNya. Teologi kitab Ayub pada akhirnya mengajarkan kemenangan Allah atas 'taruhan' dengan iblis perihal ketaatan Ayub. Puji Tuhan sekali lagi terbukti bahwa Allah tidak pernah gagal membela kebenaran diri dan umatNya.

Amin



Minggu, 28 Oktober 2012


FULL TIME PASTOR, part-time pay ?

          Beberapa waktu lalu di suatu sore, saya bertemu dengan serombongan orang-orang yang saya tahu bahwa mereka adalah para hamba Tuhan dan gembala jemaat yang sedang berkumpul di suatu tempat makan dalam mall di bilangan Jakarta Barat. Mereka tampak begitu asyik berbicara, berdiskusi satu sama lain dan tema yang mereka bicarakan ternyata bukan tentang firman Tuhan atau program-program gereja. Kemenangan seorang calon wakil gubernur suatu Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) ternyata telah menjadi ilham bagi sebagian mantan tim sukses (relawan) secara tidak langsung untuk turut ‘memetik’ buah manis, lewat proyek-proyek yang mungkin akan dimasukkan saat birokrat baru itu memerintah.

          Selidik punya selidik ternyata mantan anggota tim relawan tersebut adalah seorang hamba Tuhan (atau tepatnya gembala jemaat) aktif yang masih melayani dan menggunakan waktu di sela-sela pelayanannya (yang semestinya sangat sibuk) untuk turut membantu mendukung salah satu peserta Pilkada.  Dalam artikel yang sederhana ini tidak dibahas mengenai peran serta gereja dalam politik, tetapi yang ingin disoroti adalah ‘peran ganda’ gembala tersebut. Sebagai gembala dengan tugas utama yang semestinya sudah sangat sibuk dengan pelayanan gerejawi yang meliputi visitasi jemaat, bimbingan dan koseling, melayani khotbah mimbar dengan persiapan yang tidak singkat, dan tugas-tugas kependetaan lainnya, ternyata masih bisa meluangkan waktunya untuk hal-hal yang tidak bersinggungan langsung dengan peningkatan kerohanian jemaat yang digembalakannya. Masalah menjadi semakin ruwet tatkala gembala yang akhirnya menjadi sangat dekat sebagai ‘penasehat informal’ birokrat yang baru menang tesebut berusaha ‘dimanfaatkan’ sebagai perantara dari orang-orang bisnis atau rekanan bisnis dari gembala jemaat lainnya untuk suatu proyek yang akan ditenderkan.
     Ada lagi seorang pengkhotbah terkenal yang seandainya dia mau fokus saja dalam pelayanannya sebagai pendeta, maka pastilah tidak berkekurangan secara materi sebagai salah satu bukti pemeliharaan Tuhan. Pada kenyataannya pengkhotbah terkenal tersebut punya banyak bisnis sampingan, mulai dari usaha berbasis pertanian/perkebunan, lembaga keuangan sampai kepada bisnis berskala besar lainnya (batu bara, minyak, dll). Suatu saat dalam suatu kesempatan makan siang, pengkhotbah tersebut begitu sibuk mendapat telepon bisnis selayaknya businessman dan sesekali berkata dengan entengnya bahwa dia tidak dapat ditemui, karena sedang ada di luar kota sekarang (berbohong).
     Kedua contoh nyata di atas adalah bukti betapa menyedihkannya praktek hidup post-modernisme yang ternyata sudah merasuki para hamba-hamba Tuhan di kota-kota besar d Indonesia. Kalau pada era-era tahun 1970-an di mana mal mungkin belum banyak, kita amat jarang menjumpai hamba Tuhan sedang kongkow-kongkow di sebuah toko pembelanjaan, maka sekarang ini pemandangan seperti itu tidak lagi menjadi tabu.
Kebutuhan dan kesumpekan masyarakat urban memang tidak terhindarkan untuk mencari tempat-tempat meeting-point yang diharapkan dapat merelaksasi kehidupan yang semakin sulit dan menghimpit ini. Kebutuhan ekonomi, kebutuhan aktualisasi diri seringkali menjadi alasan bahwa manusia di era post-modernisme membutuhkan cara-cara dan pengekspresian diri seperti itu. Maka tidaklah heran bila sekarang ini kita seringkali menemukan orang-orang yang begitu menikmati ‘tempat nongkrong’ di coffee shop atau café-café ternama, termasuk orang-orang dengan label hamba Tuhan. Label hamba Tuhan tidak lagi identik dengan pengertian yang dimilki gereja yang konservatif, yang harus membawa Alkitab kemanapun pergi atau mungkin juga gaya berbusana yang melekat terhadap label tersebut. Kalau tidak mengenal sebelumnya, mungkin sulit kita membedakan yang mana orang biasa dan yang mana hamba Tuhan dan yang mana seorang businessman dalam suatu café.
     Kembali kepada contoh kejadian nyata di atas, ternyata dari antara hamba Tuhan yang hadir untuk bertemu dengan pengusaha yang memiliki tender, terselip harapan bahwa ada suatu bisnis sampingan yang mungkin didapatnya. Berbisnis sampingan bisa sementara, tetapi mungkin juga bisa selamanya. Yah,  hitung-hitung tambah penghasilan dari pekerjaan (baca : panggilan hidup) utama sebagai hamba Tuhan.
     Yang menjadi pertanyaan bolehkah atau mungkin lebih tepat lagi apakah etis seorang hamba Tuhan berprofesi ganda (bivocational pastor) ?  Kalau boleh apa alasannya dan kalau tidak boleh apa juga yang menjadi dasar alasannya ?
     Seorang pendeta yang telah mengaku terpanggil secara penuh waktu melayani Tuhan sejak dahulu sudah diajarkan "konsep tabu" kalau disamping pelayanan, ia kemudian mendua hati juga terjun ke dalam dunia bisnis. Bisnis yang dimaksud dalam hal ini adalah dagang/usaha/jasa yang mengeruk keuntungan. Artinya, pendeta tersebut selain menjadi pendeta yang berkhotbah, menjalankan sakramen, dll juga seorang pekerja sekuler, misalnya: dokter, pemimpin perusahaan, dll. Pekerjaan sekuler yang dimaksud di sini tidak termasuk menjadi profesor/dosen teologi, karena menjadi dosen teologi berkaitan dengan pelayanan gerejawi.
Hal ini tidak berarti ada dikotomis dualisme antara sacred(kudus) atau spiritual (rohani) dengan secular (sekuler), karena segala profesi bagi anak-anak Tuhan termasuk hal rohani.  Dalam tulisan ini sengaja dibedakan, karena ini konteksnya hanya untuk pendeta atau hamba Tuhan yang melayani sebagai full-timer di gereja. Profesi ini (bivocational pastor) sering diidentikkan dengan part-time pastor (atau pendeta paruh waktu), namun menurut Ray Gilder, seorang koordinator nasional dari Bivocational And Small Church Leadership Networkbivocational pastor tidak bisa disebut part-time, karena seorang pendeta disebut part-time kalau ia hanya sesekali atau 2 kali melayani/berkhotbah di gereja, padahal seorang pendeta yang memiliki 2 panggilan ini (bivocational pastor) tetap seorang pendeta penuh waktu (full-time) yang berkhotbah dan melayani pekerjaan-pekerjaan yang tak terpisahkan dari perannya sebagai hamba Tuhan/pendeta/gembala di gerejanya tersebut

Rabu, 11 Januari 2012

PI Pribadi

Setelah terluput selama bertahun-tahun di mana saya tidak pernah (jarang sekali) melakukan PI Pribadi, maka Kamis pagi ini tanggal 12 Januari 2012 saat makan pagi di dekat sekolah anak saya, saya melakukan PI dengan seorang Chinese asal Bangka, sang penjual bakmi.

Orangnya senang berbicara dan enak diajak berbicara di mana pembicaraan kami diawali dengan kisah hidup family istrinya yang terbilang sukses secara materi.
Lalu saya coba masuk dengan mengatakan bahwa sukses apapun yang paling indah adalah ketika kita tahu siapa Tuhan kita sesungguhnya.
Saya bersaksi bahwa walaupun saya dilahirkan di tengah keluarga Kristen, tetapi keinginan untuk menjadi orang Kristen lahir dari hasil pembelajaran saya tentang berbagai agama besar di dunia.
Saya mengatakan bahwa hanya Tuhan Yesus Juruselamat dan Tuhan saya, yang datang dari Surga dan kembali ke Surga setelah melakukan misi penyelamatan manusia.

Rabu, 28 Desember 2011

Sekali lagi tentang arti pelayanan ....................

Belum lama ini istri saya menyampaikan keluhan dari salah satu jemaat tentang ketidakpuasan jemaat tersebut (kalau tidak mau disebutkan 'kemarahan'), bila jemaat tsb tidak diberikan jatah pelayanan di gereja.

Sempat tersirat suatu kebanggaan bila ternyata jemaat Tuhan sekarang sudah menyadari pentingnya melayani Tuhan. Biasanya jemaat selalu didorong-dorong untuk melayani, tetapi untuk yang satu ini malah sebaliknya, bila tidak diberi pelayanan malah marah.
Betulkah sikap 'menuntut' pelayanan seperti ?

Terpikir oleh saya, kira-kira apa ya motivasi melayani ?
Melayani supaya mendapat berkat, sehingga kalau orang tidak melayani akan kehilangan berkat ?

Secara umum ada beberapa motivasi (sesuatu yang menggerakkan seseorang melakukan sesuatu):
  1. Motivasi Ketakutan (Fear Motivation), yaitu motivasi karena adanya rasa takut. Orang mau melakukan sesuatu karena takut akan adanya paksaan atau tekanan dari berbagai pihak. Ia takut akan akibatnya jika ia tidak melakukan hal itu.
  2. Motivasi Imbalan (Incentive Motivation), yaitu motivasi karena adanya imbalan (intensif). Imbalan ini bisa berupa pujian, prestise, promosi atau penghargaan.
  3. Motivasi Sikap (Attitude Motivation), yaitu motivasi yang berhubungan erat dengan tujuan-tujuan yang bersifat pribadi, bukan dari luar. Bentuk ini juga disebut Motivasi Diri (Self Motivation).
Dalam bukunya yang berjudul Master Builders, Bob Gordon menyatakan bahwa pada umumnya dalam melakukan sesuatu kita, orang-orang Kristen dimotivasi oleh hal-hal berikut :

Darimana motivasi itu timbul? Pada umumnya ada tiga sumber motivasi :
  1. Biogenesis – yaitu keberadaan orang itu sendiri. Sejak awal orang seperti ini memang sudah aktif dan agresif. Ia mampu membangun motivasi diri dengan baik. Orang seperti ini memiliki prinsip hidup yang amat kuat, dan rasa percaya diri yang amat besar.
  2. Sosiogenetis – yaitu lingkungan sekitar. Seorang anak akan makan lebih banyak jika ia diletakkan di tengah-tengah lingkungan orang lain yang juga sedang makan dnegan lahapnya. Orang yang tidak mampu berbahasa Inggris “dipaksa” untuk bisa mengguna-kan bahasa itu jika ia diterjunkan di tengah lingkungan yang berbahasa Inggris.
  3. Teogenesis – yaitu dari Tuhan, sifatnya supranatural. Contoh yang sangat jelas adalah motivasi Rasul Paulus dalam memberitakan Injil (Kisah 26:19)

Motivasi Alkitabiah

Setelah kita memahami hakekat pelayanan, pertanyaan berikutnya adalah “apa yang bisa membuat seseorang mau melayani?” Saya melihat setidaknya ada 5 (lima) hal yang dapat memotivasi kita melayani Tuhan.
  1. Motivasi Ketaatan, yaitu ketaatan untuk melakukan perintah Tuhan yang meme-rintahkan kita agar melayani Tuhan dan sesama, yaitu membuat orang yang kita layani semakin mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan (Mat. 22:37-39).
  2. Motivasi Kasih, yaitu kasih akan sesama seperti yang dimiliki oleh Tuhan Yesus sendiri ketika Ia melihat orang banyak “lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala” (Mat. 9:36), terlebih kepada mereka yang masih terhilang dalam dosa. Setiap jiwa amat berharga di hadapan Allah.
  3. Motivasi Keteladanan, yaitu kerinduan meneladani apa yang Tuhan Yesus lakukan saat Ia berkata bahwa Ia datang untuk melayani (Mrk. 10:45). Bahkan Ia mengatakan bahwa kita dimampukan melakukan pekerjaan yang lebih besar dari yang dilakukan-Nya (Yoh. 14:12).
  4. Motivasi Regeneratif, yaitu melihat ke depan, dimana masa depan gereja dan kekristenan ada di tangan orang-orang yang kita layani sekarang. Kita harus menghasil-kan keturunan ilahi (Mal. 2:15), serta mewariskan iman yang hidup itu kepada generasi yang kemudian (2 Tim. 1:5).
  5. Motivasi Eskhatologis, yaitu melakukan tindakan preventif agar mereka tidak menjadi generasi yang rusak, sebagaimana yang diingatkan oleh Rasul Paulus tentang kondisi zaman akhir (2 Tim 3 : 1 - 5)
Amin