Both of my spiritual children who inspires me about love, patience and sincerity. God bless both of you.
Senin, 16 Desember 2019
Selasa, 08 Oktober 2019
TETAP BERTAHAN DI SAAT SULIT
Namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. —Habakuk 3:18
Karena cenderung bermental pesimis, saya sering dengan cepat memikirkan kemungkinan-kemungkinan negatif dari situasi-situasi yang saya hadapi dalam hidup ini. Jika upaya saya mengerjakan suatu proyek ternyata gagal, saya langsung menyimpulkan bahwa proyek-proyek saya berikutnya akan gagal juga. Saya bahkan merasa takkan bisa lagi melakukan hal-hal yang sederhana meski sebenarnya tidak berhubungan dengan kegagalan sebelumnya. Lebih jauh dari itu, saya juga cenderung menganggap diri sebagai seorang yang tidak becus dan tidak bisa melakukan apa pun dengan benar. Kegagalan mengerjakan satu hal ternyata mempengaruhi perasaan saya terhadap hal-hal lain yang sebenarnya tidak berkaitan.
Mudah bagi saya untuk membayangkan reaksi Nabi Habakuk terhadap apa yang ditunjukkan Allah kepadanya. Wajar bagi Habakuk untuk berputus asa setelah melihat kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi umat Allah; tahun-tahun mendatang yang panjang dan sulit. Segalanya memang terlihat suram: takkan ada buah, takkan ada daging, dan takkan ada ketenteraman. Kata-kata Habakuk membuat saya pesimis dan berputus asa, tetapi ia kembali menyentak saya dengan satu kata: namun. “Namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan” (Hab. 3:18). Meski akan menghadapi semua kesulitan itu, Habakuk menemukan alasan untuk bersukacita karena pribadi Allah semata-mata.
Kita mungkin cenderung membesar-besarkan masalah yang kita hadapi, tetapi Habakuk benar-benar menghadapi kesulitan besar. Namun, jika ia saja dapat memuji Allah pada keadaan seperti itu, mungkin kita pun dapat melakukannya. Ketika kita terpuruk di dalam lembah keputusasaan, kita dapat memandang kepada Allah yang sanggup membangkitkan kita kembali.
Tuhan, Engkaulah alasan untuk semua sukacitaku. Tolong aku untuk memandang kepada-Mu di saat aku menghadapi situasi-situasi yang sulit dan menyakitkan.
Jumat, 05 Juli 2019
Penafsiran Ayat Ibrani 13:8
Teks tanpa konteks, hanyalah alat bagimu untuk membuatnya berarti apa saja sesuai keinginanmu! Ini adalah adagium penting dalam eksegesis Alkitab, bahkan dalam membaca literatur mana pun. Begitu Anda mencomot sebuah teks keluar dari konteksnya, Anda dapat memberinya arti apa saja yang sebenarnya tidak dimaksudkan sama sekali di dalam konteksnya.
Salah satu teks Alkitab yang paling sering disalahgunakan (misused) adalah Ibrani 13:8, “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini sampai selama-lamanya.” Teks ini sangat sering dicomot keluar dari konteksnya oleh para pengkhotbah Injil Kemakmuran (the posperity Gospel), termasuk para pengkhotbah yang getol mengkhotbahkan mukjizat yang menghubungkan proposisi dari teks tersebut dengan berbagai mukjizat yang dilakukan Yesus. Intinya, mereka menyerukan, karena Yesus tetap sama baik kemarin maupun hari ini, maka jika dulu Ia melakukan berbagai mukjizat, maka sekarang pun Ia akan melakukan hal yang sama!
Penarikan inferensi logis seperti di atas, pada kesempatan pertama, langsung dapat direduksi menjadi sebuah absurditas. Misalnya, Yesus dulu mati, namun karena Ia tetap sama baik kemarin maupun hari ini, maka sekarang Ia tetap mati. Absurd, bukan?
Kita akan terhindar dari absurditas seperti di atas kalau kita sadar akan salah satu hal penting dalam eksegesis, yaitu bahwa makna teks ditentukan oleh konteksnya. Dan konteks di sini adalah konteks dekatnya (immediate context), konteks kitab (book context), dan konteks keseluruhan Alkitab (canonical context). Jika kita membaca Ibrani 13:8 dengan memperhatikan lapisan-lapisan konteks ini, kita mendapati arti yang sama sekali berbeda dari cara membaca absurd di atas.
Sebelum Ibrani 13:8, ada Ibrani 13:7 yang menyatakan, “Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka.” Di sini, penulis Surat Ibrani menasihati para pembacanya untuk memperhatikan bagaimana para pemberita firman bertekun dengan tetap percaya kepada Tuhan bahkan ketika mereka harus membayar itu dengan nyawa mereka (bnd. Ibr. 11).
Di dalam keseluruhan konteks Surat Ibrani, penulisnya menasihati para pembacanya untuk mengimitasi para pahlawan iman tersebut, yang bertekun memberitakan Injil hingga menghadapi maut.
Di dalam konteks kanonikalnya, Yesus pun memberikan teladan serupa. Dia yang adalah Allah, menjadi Manusia, bertekun menghadapi penderitaan bahkan mengalami cara kematian yang paling hina pada masa itu, disalibkan. Dan inilah Injil yang diberitakan oleh para rasul (1Kor. 15:3-5) yang harus mereka proklamasikan dengan menanggung banyak penderitaan bahkan menjadi martir. Mereka bertekun karena Kristus menjadi teladan mereka dan karena Kristus menyertai serta menolong mereka untuk bertekun.
Dengan menasihati para pembacanya untuk mengimitasi para pemberita firman tersebut, penulis Surat Ibrani hendak menyatakan bahwa Yesus yang telah menolong mereka untuk bertekun hingga akhir, akan menolong para pembaca surat itu juga untuk bertekun meski mereka harus menghadapi bermacam-macam penderitaan bahkan mengalami maut karena Injil Kristus. Yesus Kristus tetap sama baik kemarin maupun hari ini, dalam konteks ini! (Disalin dari situs Verbum Veritatis).
Senin, 01 Juli 2019
Selasa, 26 Februari 2019
Minggu, 03 Februari 2019
MEMBERI DENGAN KERELAAN HATI (2 Kor 8 : 1-15)
Semua orang bisa memberi, tetapi tidak semua pemberian mengandung kasih? Ada yang memberi karena mengharapkan diberi kembali. Ada yang memberi karena mengharapkan pujian. Ada pula yang memberi, karena terpaksa. Dan ada pula yang memberi, karena telah merasa berkelebihan. Niat memberi dengan dimotivasi tujuan tertentu inilah yang dikoreksi Paulus. Jemaat Makedonia yang miskin, dan sedang mengalami cobaan yang berat, namun sukacita mereka meluap untuk memberi (ay.2). Kerelaan memberi yang luar biasa ini bukan dibuat-buat, tetapi lahir dari kesadaran iman bahwa mereka telah merasa menerima kasih karunia dari Allah. Orang yang telah merasa menerima, wajar kalau ia bersedia untuk memberi. Kasih Karunia adalah pemberian yang cuma-cuma dari Allah berupa pengampunan atas dosa sehingga kita terlepas dari ancaman penghukuman yang kekal, Anugerah seperti ini patut disyukuri dengan membagikan kasih karunia itu kepada orang-orang yang memerlukan. 2 Kor 9:9 berkata: "Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya." Berdasar ayat ini, budaya membagi-bagikan sesuatu kepada orang lain, bukan kerugian, malah sebagai keuntungan, karena kebenaran itu terus semakin bertambah-tambah dalam diri kita, bilamana kita berani membagi-bagikannya kepada orang lain.
Proses kerja pertumbuhan kebenaran itu bagaikan rumpun bibit padi di tempat persemaian. Rumpun batang padi itu akan berkembang biak dan bertambah banyak bilamana kita rajin memisah-misahkannya pada tempat yang berbeda-beda, sehingga masing-masing bibit rumpun padi yang baru, kembali bertumbuh dan berkembang biak menjadi rumpun-rumpun padi yang baru lainnya. Demikian pula kalau kebenaran akan semakin besar kalau kita rajin membagi-bagikannya kepada orang lain. Yang kuat membantu yang lemah. Yang kaya memperhatikan yang miskin, sehingga kesempatan bagi setiap orang untuk mendapatkan haknya semakin besar. Tetapi kalau kebenaran itu, semakin tidak terlihat, maka budaya tolong-menolong, dan bantu-membantu akan menjadi mati sehingga yang ada hanyalah kepentingan diri sendiri. Yang kaya, makin kaya; yang miskin makin miskin. Jadi kita meberi bukan berarti karena kita memiki banyak, tetapi kita memberi karena kita telah lebih dahulu menerima. Masalah memberi, sesungguhnya bukan masalah banyak atau tidak, tetapi masalah mau atau tidak (kerelaan). Memberi dengan kerelaan inilah yang dimaksudkan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.
Langganan:
Komentar (Atom)









