Kamis, 30 Agustus 2018

Election

Ajaran Tentang Pemilihan (The Doctrine Of Election)

Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th

“Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya”  - Efesus 1:4 -

PENDAHULUAN

Teolog Charles C. Ryrie mengatakan “ajaran tentang pemilihan merupakan salah satu dasar dalam keselamatan, meskipun bukan satu-satunya. Ajaran-ajaran lainnya seperti kematian Kristus, iman, kelahiran kembali, dan anugerah yang menyelamatkan juga disebut dasar-dasar. Semua hal itu adalah perlu untuk melaksanakan rencana Allah bagi keselamatan manusia”.1 Jadi, menurut Ryrie ajaran ini juga penting seperti ajaran-ajaran dasar lainnya.


Saat mempelajari doktrin tentang pemilihan ini kita perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut. Pertama,  ajaran tentang pemilihan sebagaimana beberapa ajaran dasar lainnya (misalnya, seperti doktrin trinitas) mengandung misteri. Rick Cornish menyatakan “kita tidak mengetahui mengapa Ia memilih siapa yang dipilihnya atau mengapa Ia memilih sebagian dan bukan semuanya... Pengajaran itu meninggalkan cukup misteri...”.2  Sementara itu Millard J. Erickson menyatatakan bahwa “Dari semua pokok doktrinal iman Kristen, pastilah yang termasuk paling memusingkan dan paling tidak dimengerti adalah doktrin predistinasi ini”. 3 

Kedua, ajaran tentang pemilihan ini bagaimana pun rumitnya adalah ajaran Alkitab. Perhatikanlah ayat-ayat berikut ini. Rasul Yohanes menulis “tidak ada seorang pun yang dapat datang kepadaku jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa” (Yohanes 6:44). Selanjutnya Yohanes mencatat perkataan Yesus “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yohanes 15:16). Rasul Paulus mengatakan  “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya” (Roma 8:29-20). Dan kepada jemaat di Efesus Paulus menulis “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya” (Efesus 1:4-6). Dari ayat-ayat di tersebut terlihat bahwa pemilihan memang jelaslah diajarkan oleh Alkitab.

Ketiga, ajaran tentang pemilihan walaupun sulit dan mengandung misteri tidak membebaskan kita untuk mempelajari dan menelitinya. Karena ajaran ini merupakan ajaran alkitabiah kita tidak boleh menghindarinya; tetapi sebagaimana yang dikatakan oleh R.C. Sproul perlu “penanganan dengan sangat hati-hati dan teliti”.4 Apa yang dinyatakan sproul tersebut sesuai dengan Wesminster Confession yang menyatakan bahwa “Doktrin misteri predestinasi yang agung ini haruslah ditangani dengan kebijaksanaan dan ketelitian khusus, sehingga orang-orang, yang memperhatikan khenedak Allah yang dinyatakan di dalam firmanNya ini, dan yang menatinya, bisa beroleh keyakinan mengenai pilihan kekal atas mereka dari panggilan efektif ini”.5

HUBUNGAN KETETAPAN TUHAN DENGAN PEMILIHAN

Istilah “pemilihan” kadangkala disamakan atau dipertukartempatkan dengan istilah “predestinasi”. Karena itu perlu bagi kita untuk memahami dengan jelas perbedaan dan hubungan antara keduanya dengan ketetapan Tuhan.

Sebagaimana telah saya jelas dalam artikel “Ajaran Tentang Ketetapan Tuhan” bahwa, para teolog membagi ketetapan Allah (Devine decree) ke dalam empat ketetapan besar (four decrees of God), yaitu: ketetapan mencipta, ketetapan mengijinkan dosa, ketetapan menyediakan keselamatan, dan ketetapan memilih. 

Perhatikan istilah berikut ini: Prothesis, diterjemahkan dengan kata rencana, ketetapan, dan maksud (Roma 8:28; 9:11; Efesus 1:9,11; 3:11; 2 Timotius 1:9). Proorizo, diterjemahkan dengan menentukan dari semula, menetapkan sebelumnya, dan predestinasi (Roma 8:29-30; Efesus 1:5,11; KPR 4:28; 1 Korintus 2:7). Tasso, diterjemahkan dengan tentukan atau tetapkan (Roma 13:1; Efesus 1:11). Proginosko dan Prognosis, diterjemahkan dengan rencana, pilih, atau  mengetahui sebelumnya dan pengetahuan sebelumnya (KPR 2:23; Roma 8:29; 11:2; 1 Petrus 1:2,20). Boule, diterjemahkan dengan rencana, kehendak, maksud, keputusan (KPR 2:23; 4:28;  20:27; Ibrani 6:17).6

Istilah-istilah dan ayat-ayat di atas memiliki ide merencanakan, menentukan sebelumnya, mengetahui sebelumnya, membatasi, dan menghendaki. Ini semua menunjukkan bahwa menurut Alkitab tidak ada apa pun yang terjadi begitu saja, tetapi bahwa semua itu merupakan bagian dari ketetapan Tuhan (Devine degree) yang kekal. Ketetapan Tuhan adalah rencana-rencana-Nya bagi segala sesuatu. Menetapkan atau menentukan sebelumnya adalah konsep-konsep teologis yang searti. Dengan demikian predistinasi dan pemilihan adalah bagian dari ketetapan Tuhan. Predestinasi adalah  ketetapan atau penentuan sejak kekekalan yang berhubungan dengan keselamatan atau kebinasaan kekal; sedangkan pemilihan adalah ketetapan atau penentuan sejak kekekalan sebagian orang untuk diselamatkan. Millard J. Erickson meringkasnya demikian, “Predestinasi merujuk kepada pemilihan Allah terhadap orang-orang tertentu untuk mengalami kehidupan kekal atau kematian kekal. Pemilihan adalah seleksi beberapa beberapa orang tertentu untuk hidup kekal, yaitu sisi positif dari predestinasi”. 7

DEFINISI PEMILIHAN

Louis Berkhof mendefinisikan pemilihan sebagai “tindakan kekal Allah dimana Ia dalam kesukaan kedaulatanNya dan tanpa memperhitungkan jasa atau kebaikan manusia memilih sejumlah orang untuk menjadi penerima dari anugerah khusus dan keselamatan kekal”. 8

Charles F. Beker, mendefinisikan pemilihan mengikuti August H. Strong sebagai berikut, “Pemilihan adalah tindakan kekal Allah, yang melaluinya dalam kuasa kehendakNya, tanpa sebelumnya melihat jasa dalam diri orang berdosa, Ia memilih jumlah tertentu dari antara mereka untuk menjadi penerima anugerah khusus RohNya, dan dengan begitu menjadikan mereka pengambil bagian secara sengaja dalam keselamatan di dalam Kristus”.9

Wayne A. Grudem mendefinisikan pemilihan sebagai “tindakan Allah sebelum penciptaan dimana Dia memilih beberapa orang untuk diselamatkan, bukan karena perbuatan baik mereka, tetapi hanya karena kedaulatanNya”.10

Menurut Millard J. Erickson pemilihan adalah “seleksi beberapa beberapa orang tertentu untuk hidup kekal, yaitu sisi positif dari predestinasi”. 11

Tony Evans mengatakan “Allah memilih sebagian orang untuk diselamatkan untuk maksud-maksud berdaulatNya sendiri dan karena Ia penuh kasih karunia”. 12

Westminster Confession menyatakan “... Allah, sebelum dasar dunia ini diletakkan, seturut tujuanNya yang kekal dan tidak berubah, dan keputusan dan perkenan kehendakNya yang merupakan rahasia,  telah memilih mereka di dalam Kristus untuk kemuliaan kekal.  Pemilihan ini hanya dikarenakan anugerah dan kasihNya yang bebas, bukan karena telah melihat sebelumnya adanya iman, atau perbuatan-perbuatan baik, atau ketekunan di dalam diri mereka, atau suatu hal lain apapun di dalam ciptaan sebagai syarat-syarat atau penyebab-penyebab yang menggerakkan Dia; dan segalanya adalah untuk memuji anugerahNya yang mulia”. 13

RINGKASAN AJARAN TENTANG PEMILIHAN

Berdasarkan definisi-definisi diatas yang telah maka dapat diringkas ajaran tentang pemilihan sebagai berikut:

1. Bahwa kita harus mengingat beberapa fakta tertentu dari Alkitab. Pertama, adalah bahwa Allah sepenuhnya benar. Paulus menegaskan “...Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong, seperti ada tertulis: "Supaya Engkau ternyata benar dalam segala firman-Mu, dan menang, jika Engkau dihakimi." (Roma 3:4) Kedua, keadaan natur manusia yang berdosa dan patut mendapatkan hukuman Allah. Paulus menegaskan “seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak” (Roma 3:10-12). Keadaan ini disebut dengan kerusakan total (total depravity).  Ketiga, bahwa tidak ada seorang pun yang atas prakarsanya sendiri mencari Allah. Dengan kata lain, Alkitab mengajarkan bahwa walaupun Allah menyediakan keselamatan bagi seluruh dunia tidak ada seorang pun yang akan menerimanya dan diselamatkan kecuali Allah sendiri yang berinisiatif mencari manusia.

2. Bahwa pemilihan adalah tindakan memilih dari pihak Allah yang memasukkan sejumlah orang, bukan semua orang. Fakta ini didukung oleh tiga alasan. Pertama, fakta bahwa sebagian orang terhilang adalah bukti bahwa tidak semua yang dipilih. Kedua, kata “memilih” akan kehilangan makna jika ternyata semuanya diselamatkan. Ketika diadakan pemilihan, seperti nyata pada penggunaan kata itu, hanya ada orang-orang tertentu saja yang ditunjuk menduduki suatu posisi. Ketiga, Alkitab berbicara berulang-ulang mengenai mereka yang terhilang, jadi pastilah mereka bukan termasuk di antara orang yang dipilih.

3. Bahwa pemilihan itu  adalah tindakan Allah yang berdaulat dan seturut dengan kehendakNya yang berdaulat (Roma 9:11; 2 Timotius 1:9). Allah berdaulat dan bebas secara mutlak. Berdaulat berarti tertinggi, dan Allah selalu yang berdaulat yang dengan bebas memutuskan rencanaNya terlebih dahulu sekarang dan yang akan datang.

4. Bahwa pemilihan adalah tindakan memilih yang dibuat Allah sebelum dunia dijadikan (Efesus 1:4). Kadang-kadang berguna mengingat fakta bahwa Allah itu pribadi tidak berwaktu, bahwa ia hidup dalam masa kini yang kekal. Karenanya, Ia bukan seakan-akan membuat pilihan miliaran tahun sebelum benar-benar mengetahui hal akan dilakukan, tetapi Ia mengenal kita sejak dahulu sebagaimana kita adanya sekarang.

5. Bahwa pemilihan adalah tindakan memilih yang didasarkan atas hal yang ada dalam diri Allah, bukan atas hal yang ada dalam diri manusia. Paulus mengatakan pemilihan itu menurut anugerah (Roma 11:5), dan ia juga jelas mengatakan hal itu bukan berdasarkan perbuatan (Roma 9:11). Pemilihan, seperti keselamatan, semata-mata karena anugerah dan bukan karena perbuatan. Jadi jelas Allah tidak menyelamatkan orang tertentu karena sebelumnya telah melihat ada hal yang baik atau berguna dalam diri orang itu.

6. Bahwa pemilihan adalah tindakan memilih yang didasarkan pada kemahatahuan (omnisciense) Allah, yang pada gilirannya didasarkan pada ketetapan dan maksud Allah yang sudah pasti. Ini berarti bahwa Allah mempunyai pengetahuan dasar tentang segala sesuatu yang benar-benar ada maupun yang mungkin ada. Dengan demikian, pemilihan Allah dilakukan dengan pengetahuan yang sebesar-besarnya. Ada sejumlah kata yang perlu diperhatikan sehubungan dengan pemilihan. Perhatikan kata-kata dalam KJV: Predestinate (menentukan sebelumnya, Roma 8:29, 30; Efesus 1:5, 11, TB: tentukan) foreordain (menentukan sebelumnya, 1 Petrus 1:20, TB:pilih); foreknow (mengetahui sebelumnya, Roma 8:29; 11:2; Kisah Para Rasul 2:23; TB:pilih, rencana ); purpose (maksud, rencana, Yesaya 14:26; 23:9; 46:11; Yeremia 4:28; 51:29; Roma 8:28; 9:11, 17; Efesus 1:9,11; 3:11; 2 Timotius 1:9; TB: rancangan, putusan, rencana, maksud). Jelas bahwa Allah telah menetapkan semua yang telah dibuatNya, dan alasan mengapa Allah mengetahui hal yang akan terjadi adalah karena Ia telah merencanakan atau menetapkannya.

7. Bahwa pemilihan adalah tindakan memilih yang sepenuhnya pasti digenapi; tidak ada kuasa apapun yang sanggup menggagalkannya. Roma 8:28-30 menunjukkan bahwa setiap orang yang telah  dipilih (KJV:forknown) oleh Allah akan dipanggil, dibenarkan dan dimuliakan. Ayat 33 mengemukakan bahwa tidak ada seorang pun yang sanggup  menggugat orang pilihan Allah, dan pasal ini diakhiri dengan jaminan bahwa tidak ada hal apapun yang sanggup memisahkan orang pilihan dari Allah yang ada di dalam Yesus Kristus. Kisah Para Rasul 13:48 berkata: “dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup kekal, menjadi percaya.”

8. Bahwa pemilihan adalah tindakan memilih yang selaras dengan kebebasan manusia. Pemilihan tidak memaksa orang yang dipilih untuk percaya. Tidak ada orang yang dalam mempercayai injil merasa telah dipaksa melawan kehendaknya sehingga ia menjadi percaya. Barangkali pada titik ini justru  manusia paling tak menyadari caranya Allah bekerja dalam kehendak seseorang tanpa merusak kebebasannya. Bahkan rasul Paulus, setelah membicarakan maksud pemilihan Allah atas Israel, harus mengakui, “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”(Roma 11:33-36). Harus diperhatikan bahwa ada perbedaan antara pihak yang bebas dan kebebasan kehendak. Semua makhluk yang memiliki tanggung jawab moral adalah pihak yang bebas, baik malaikat atau malaikat yang jatuh maupun manusia. Allah adalah pihak yang bebas dari tanggung jawab moral; sekalipun demikian Allah tidak bebas berkehendak untuk berdosa. Tidak mungkin bagi Allah untuk berdosa. Ada perbedaan juga antara pihak yang bebas  atau kebebasan pribadi dan kemampuan. Seseorang bisa merupakan pihak yang bebas dari tanggung jawab moral, bertanggung jawab terhadap diri sendiri atas hal yang dilakukannya, namun kebebasan ini tidak memberi  ia kemampuan mengubah naturnya sehingga memiliki kesanggupan berkenan kepada Allah. Dengan kata-kata Alkitab, “Dapatkah orang Etiopia mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah belangnya? Masakan kamu dapat berbuat baik, hai orang-orang yang membiasakan diri berbuat jahat?” (Yeremia 13:23).

9. Bahwa tujuan akhir dari pemilihan sebagaimana sebagaimana semua  ketetapan ilahi lainnya ialah kemuliaan Allah (Roma 11:36). Tindakan Allah yang berdaulat dimana Ia menetapkan orang percaya untuk diselamatkan adalah untuk memuji kemuliaan anugerahNya (Efesus 1:4-6,11-12). Allah dimuliakan dalam pernyataan dari anugerah yang tidak bersyarat (unconditional grace) seperti yang tertulis dalam Roma 9:23; Wahyu 4:11. Itulah sebabnya tidak keliru untuk beranggapan bahwa kesatuan tema dari Kitab suci adalah kemuliaan Allah. Bersama dengan rasul Paulus kita dapat berkata “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya” (Roma 11:36).

HAL-HAL YANG BUKAN PENGERTIAN PEMILIHAN

Setelah mengerti apa itu pemilihan, perlu bagi kita untuk menegaskan hal-hal yang bukan merupakan pemilihan.

1. Pemilihan bukan tindakan sewenang-wenang atau pun asal-asalan dari Allah. Pemilihan itu sesuai dengan ketetapan kekal dan kehamatahuan Allah (Roma 8:28, 29, 9:11; Efesus 1:4-11; 1 Petrus 1:2).

2. Pemilihan bukan tindakan untuk memilih sebagian orang supaya terhilang atau ketetapan penolakan. Pemilihan dilakukan untuk penyelamatan, bukan untuk penghukuman (1 Tesalonika 1:4; 2 Tesalonika 2:13). Perhatikan kembali perbedaan antara predestinasi dan pemilihan di atas.

3. Pemilihan bukan tindakan memilih yang dilakukan manusia, walaupun manusia harus membuat pilihan jika ingin diselamatkan. Pemilihan adalah tindakan memilih dari Allah. Kristus berkata kepada para rasulNya, “Bukan kamu yang memilih aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yohanes 15:16).

4. Pemilihan bukan hanya dilakukan untuk suatu posisi atau untuk pelayanan, walaupun Allah memilih orang-orang untuk tugas khusus. Pemilihan juga dilakukan untuk keselamatan (2 Tesalonika 2:13).

5. Pemilihan saja bukan mengakibatkan keselamatan orang. Charles C. Ryrie menyatakan “memang, pemilihan tentu saja menegaskan bahwa orang-orang yang dipilih akan diselamatkan, tetapi pemilihan itu sendiri tidak menyelamatkan mereka. Orang diselamatkan karena anugerah oleh iman pada kematian pengganti yang dialami Kristus. Dan tentu saja, mereka harus belajar tentang kematian Kristus untuk mengisi iman mereka. Dengan demikian, pemilihan kematian Kristus, kesaksian tentang kematianNa, dan iman orang itu sendiri, semuanya perlu agar orang itu dapat diselamatkan”. 14

ANALOGI DAN ILUSTRASI 

Tiga keberatan yang keliru telah ditujukan terhadap ajaran tentang pemilihan ini. Pertama, kerena Allah telah menetapkan segala sesuatu termasuk menetapkan untuk memilih orang-orang tertentu berarti Allah itu tidak adil. Kedua, ajaran tentang pemilihan ini menjadikan Allah sebagai pembuat dosa. Ketiga, dengan penetapan pemilihan ini berarti melanggar kehendak bebas (freewell) manusia sehingga hidup manusia di dunia ini hanya sandiwara. 

Untuk menjelaskan kebenaran ini sekaligus menjawab keberatan-keberatan diatas, Charles C. Ryrie, telah memikirkan sebuah kata yang lain dari decree (ketetapan) Tuhan ini yang tentunya berhubungan erat dengan pemilihan, yaitu design (rencana). Kata rencana (design) ini mengingatkan kita pada kata “arsitek”.  Dan ini merupakan konsep yang dangat membantu dalam ajaran ini.  Allah adalah arsitek dari suatu rencana yang sungguh-sungguh memasukkan segala sesuatu, tetapi memasukkan segala sesuatu dalam hubungan yang berbeda. Rencana-rencana arsitek ini sangat terperinci. Demikian juga rencana Allah. Dalam proses pembangunan suatu gedung, para pakar dapat memprediksi bahwa banyak sekali pekerja yang akan cedera dan kadang-kadang beberapa diantara mereka akan meninggal. Statistik yang mengerikan itu dimasukkan dalam rencana pembangunan, namun demikian kita tidak akan menganggap bahwa arsitek tersebut bertanggung jawab terhadap terjadinya kecelakaaan atau cedera dan kematian, asalkan telah diadakan pengamanan yang standar dan benar. Tindakan ceroboh, tidak menaati peraturan,  dan melanggar pembatas keselamatan biasanya menyebabkan terjadinya kecelakaan. Tetapi kesalahan siapakah itu?  Itu adalah kesalahan mereka yang bertindak ceroboh dan tidak menaati peraturan keselamatan. Demikian pula rencana Allah (termasuk rencana pemilihan) telah dibuat sedemikian rupa sempurnanya sehingga tanggung jawab atas dosa terletak pada manusia, meskipun Allah secara sengaja memasukkan dosa dalam rencanaNya.15

Sementara itu Tony Evans memberikan ilustrasi yang menghubungkan penyediaan kasih karunia, pemilihan dan respon manusia dalam keselamatan. Perlu disadari, bahwa tidak ada ilustrasi yang sempurna yang mampu menyingkapkan misteri pemilihan secara tuntas, walau demikian ilustrasi Evans berikut sangat membantu menjelaskan konsep tersebut. Evans berkata “Bayangkan bahwa saya sudah mengundang 500 orang ke sebuah aula untuk sebuah peristiwa tertentu. Di luar panas dan AC tidak berjalan dengan baik sehingga untuk bertindak ramah sekali saya membeli untuk setiap orang yang hadir di aula minuman dingin karena saya mau supaya mereka mempunyai sesuatu untuk menghilangkan rasa haus mereka. Saya pesan 500 minuman dengan harga satu dolar masing-masing. Semua uang yang saya miliki terpakai untuk membeli minuman itu, tetapi saya begitu mengasihi orang-orang di aula sehingga saya tidak mau membiarkan mereka haus. Tidak ada keran air dan tidak ada orang yang mempunyai uang untuk membayar minuman sehingga kalau saya tidak membayar harga itu tidak ada orang yang akan mendapat minuman. Oleh karena itu, saya tempatkan minuman dingin itu di depan ke 500 ratus orang dan mengundang: “siapa yang ingin minum, datanglah dan minum minuman gratis. Saya sudah membayarnya.” 

Namun, andaikata ada beberapa orang yang mengatakan, “saya mau minuman diet,” “saya tidak terlalu haus,” “itu bukan minuman favorit saya,” dan mereka semua member alasan untuk menolak undangan saya untuk mengambil minuman dingin yang sudah saya beli dengan segala yang saya miliki, maka semua orang berdiri dan keluar ruangan tanpa minuman dingin mereka. Masalahnya bukan karena minuman itu belum dibayar. Saya tidak perlu membelinya, tetapi saya membayar semuanya karena kasih dan karunia karena saya peduli terhadap orang-orang yang kepanasan dan haus itu. Karena harga yang saya bayar, saya tidak akan membiarkan minuman dingin sebanyak 500 buah ini terbuang. Jadi saya keluar aula dan “memilih” 24 orang dan saya katakan kepada mereka, “Boleh saya bicara sebentar kepada anda? Anda tahu, minuman dingin ini saya beli mahal sekali sehingga saya tidak mau minuman itu terbuang begitu saja. Saya bayar mahal sekali untuk memberi anda minuman segar. Maukah anda masuk kembali dan menikmati apa yang sudah saya beli untuk anda? Saya masih mempunyai minuman dingin di dalam untuk setiap orang yang mau menghilangkan rasa hausnya, dan minuman itu masih tetap gratis.” Kemudian, 24 orang itu memutuskan untuk menerima tawaran saya, dan anda salah satu dari mereka, dan anda menyadari bahwa anda memang haus. Anda mengakui saya benar-benar murah hati sehingga dengan bertindak atas kemauan sendiri anda menerima tawaran saya, kembali ke aula, dan menikmati minuman dingin itu. Saya memilih anda untuk kesempatan ini, dan jika saya tidak memilih anda, anda tidak akan mendapat minuman dingin itu. Namun, anda memutuskan untuk minum karena saya tidak memaksa anda. Jadi, anda masuk lagi, menikmati minuman anda, dan memuji saya karena saya membeli minuman itu untuk anda.

Bagaimana dengan 476 orang lain di luar yang tidak saya hubungi dengan cara khusus itu? Saya tidak bertindak tidak adil terhadap mereka karena saya sudah menawarkan minuman kepada mereka. Bukan hanya itu sebab mereka masih dapat kembali dan datang minum kalau mereka berubah pikiran karena pintu masih terbuka, minuman dingin masih tersedia, dan harga sudah dibayar. Pada hakikatnya, mereka yang memutuskan untuk menerima tawaran saya dan kembali sekarang memperlihatkan bahwa mereka anggota dari kelompok orang-orang terpilih tanpa mengurangi pentingnya bahwa mereka telah membuat pilihan. Yang lain yang pergi dengan rasa haus pergi dalam keadaan itu karena mereka menolak tawaran saya, bukan karena saya tidak keluar untuk memanggil mereka kembali. Mereka yang tidak menikmati minuman itu tidak dapat mempersalahkan saya, dan mereka yang mendapat minuman tidak dapat berterima kasih kepada siapapun kecuali saya karena mereka tidak berbuat apa-apa untuk diberikan minuman itu.

Pada akhirnya, banyak diantara 500 orang itu mungkin menolak tawaran saya, tetapi dalam pilihan itu saya menjamin bahwa paling sedikit 24 orang akan menikmati tawaran saya yang murah hati. Kalvari terlalu mahal bagi Allah dan tidak pantas tawaran-Nya akan keselamatan ditolak semua orang. Jadi, Ia memastikan supaya beberapa orang akan diselamatkan, dan Ia melakukannya sedemikian rupa sehingga siapa yang masih mau boleh datang juga. Kalau mereka tidak datang, itu adalah karena mereka tidak mau datang, bukan karena Allah yang menutup pintu. Ia mendapat kemuliaan dan puji-pujian dalam segala sesuatu”. 16

PENUTUP

Pengajaran tentang pemilihan ini (the doctrine of election) memiliki implikasi praktis bagi orang-orang Kristen, yaitu:

1. Membuat kita takjub akan kebesaran Allah yang bijak, berkuasa dan penuh kasih. Kita semakin memahami kasih Allah yang luar biasa. Ia mengasihi kita ketika kita masih berdosa (Rm. 5:6). Allah juga tidak berhenti mengasihi kita ketika kita nanti melakukan dosa yang sebesar apa pun, karena pada dasarnya Ia memang memilih kita bukan karena kebaikan kita (1Yoh. 1:9).

2. Memotivasi kita untuk mempercayakan seluruh hidup kita kepada Tuhan yang Mahakuasa. Kita meyakini bahwa keselamatan kita tidak bisa hilang, karena rencana Allah tidak bisa gagal. 

3. Memberi semangat bagi kita dalam memberitakan Injil supaya orang dapat selamat. Dan  gigih memberitakan Injil kepada setiap orang bahkan orang yang keras hati, karena kalau orang itu ditetapkan Allah untuk selamat, orang itu suatu ketika pasti akan selamat. 

4. Memberi kepastian karena mengatahui bahwa Allah dengan kedaulatanNya menetapkan dan mengontrol segala sesuatu. Pengetahuan ini bagi kita memberi sukacita dan penghiburan dalam keselamatan yang besar yang telah Tuhan sediakan bagi kita yang dipilih Allah dalam kekekalan.

5. Membawa untuk merendahkan diri dihadapan Tuhan, karena ajaran pemilihan ini menunjukkan bahwa Allah mengasihi kita, bukan karena siapa kita atau apa yang kita perbuat, melainkan kerena Dia memutuskan untuk mengasihi kita. Dengan demikian respon yang tepat kepada Allah adalah dengan memujiNya selama-lamanya. 

6. Ajaran ini dengan keras menentang kesombongan manusia yang ingin menjalankan kehidupannya sendiri tanpa kesadaran akan kedaulatan Tuhan yang mengontrol segala sesuatu dan yang kepadaNya setiap manusia harus memberikan pertanggungjawaban atas kehidupan dan perbuatannya. 

Roma 11:33-36
(33) O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! (34) Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? (35) Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? (36) Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! 

FOOTNOTE
1. Ryrie, Charles C, 1992. Basic Teologi, Jilid 2, terjemahan, Penerbit Yayasan Andi: Yokyakarta, hal 62.
2. Rick Cornish, 2004. Five Minute Teologian, terjemahan, Penerbit Pionir Jaya: Bandung, hal 205.
3. Erickson J. Millard., 2003. Christian theology, Jilid 3. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas: Malang, hal 99.
4. Sproul, R.C., 1997. Essential Truths of the Christian Faith. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang, hal 215.
5. Williamson, G.I., 2006. Westminster Confession of Faith. Terjemahan, Penerbit  Momentum: Jakarta, hal 58.
6. Beker, Charles. F, 1994. A Dispensasional Theology, terjemahan, Penerbit Alkitab Anugerah: Jakarta, hal 202-206.
7. Erickson J. Millard., 2003. Christian theology, hal 100.
8. Berkhof, Louis, 1993. Teologi Sistematika 1: Doktrin Allah, terjemahan LRII & Penerbit Momentum: Jakarta, hal 207.
9. Beker,  A Dispensasional Theology,  hal 511.
10. Grudem, Wayne A., 2005. Christian Beliefs, terjemahan, Penerbit Metanoia: Jakarta, hal 113.
11. Erickson, Christian theology, hal 100.
12. Evans, Tony, 2005. Sungguh-sungguh Diselamatkan, terjemahan, Penerbit Gospel Press: Batam, hal 119.
13. Williamson, Westminster Confession of Faith, hal 50.
14. Ryrie, Basic Teologi, hal 69.
15. Ibid, hal 65.
16. Evans, Tony, Sungguh-sungguh Diselamatkan, hal 120-122.
 

Kamis, 02 Agustus 2018


JUMBAI JUBAH

* Ulangan 22:12
LAI TB, Haruslah engkau membuat tali yang terpilin pada keempat punca kain penutup tubuhmu."

* Lukas 8:44
LAI TB, Ia maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya, dan seketika itu juga berhentilah pendarahannya.

Menurut Ulangan 22:12 jumbai-jumbai semacam itu dipasang pada kelim baju sekeliling. Pada gambar lukisan tentang orang-orang Farisi dari zaman dahulu juga masih dipasang sekeliling. Dan kemudian juga ditemui dimana jumbai-jumbai itu hanya dipasang pada ujung-ujung saja. Pada jumbai-jumbai itu haruslah dibubuhkan benang ungu kebiru-biruan:

Bilangan 15:38-39
15:38 LAI TB, "Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka, bahwa mereka harus membuat jumbai-jumbai pada punca baju mereka, turun-temurun, dan dalam jumbai-jumbai punca itu haruslah dibubuh benang ungu kebiru-biruan.
15:39 LAI TB, Maka jumbai itu akan mengingatkan kamu, apabila kamu melihatnya, kepada segala perintah TUHAN, sehingga kamu melakukannya dan tidak lagi menuruti hatimu atau matamu sendiri, seperti biasa kamu perbuat dalam ketidaksetiaanmu terhadap TUHAN.

Menurut Ulangan 22:12, Orang Israel harus membuat "tali yang terpilin" (jumbai-jumbai), Ibrani: גָּדִל - GEDIL) pada keempat punca kain penutup tubuh mereka (jubah/ syal yang juga disebut טַלִּית - TALIT, yang berasal dari kata טָלַל - TALAL, harfiah: penutup (kepala)). Bentuk Tallit yang sering kita lihat, yang dipakai oleh orang-orang Yahudi adalah syal, yang dipakai oleh orang Yahudi itu untuk berdoa. Pada keempat ujungnya terdapat tali berpilin yang disebut jumbai atau צִיצִת - TSITSIT, lih: Bilangan 15:38-39). Jumbai ini bagi orang Yahudi melambangkan pengharapan mereka akan Mesias, ketaatan mereka pada hukum Tuhan, dan penghormatan mereka akan kekudusan Tuhan. Ketika orang Yahudi berdoa, mereka akan memegang jumbai ini dan meletakkannya di kepala mereka. Jumbai-jumbai itu akan mengingatkan mereka pada segala perintah Tuhan sehingga mereka melakukannya.
Tallit digunakan selama ibadah pagi (ibadah syakharit) didalam agama Yahudi, juga pada pembacaan Taurat, dan hari raya pendamaian (Yom Kippur). Tallit kadang-kadang juga disebut sebagai אַרְבַּע כַּנְפֹות - 'ARBA KANFOT, bermaksud 'empat sayap'. Kitab Taurat menginstruksikan untuk memakai pinggiran di sudut pakaian sebagai cara mengingat dan melakukan segala perintah Allah (Bilangan 15:37-41).

Dalam berpakaian, Yesus kristus juga menyesuaikan diri dengan adat itu. Ketika Yesus berbicara di sinagoga (Markus 6:2) Yesus pun mengenakan "jubah ber-jumbai," dan orang-orang dapat melihat mujizat dari penjamahan jumbai jubah yang dikenakan-Nya (Markus 6:56).

Kisah yang amat terkenal berkenaan dengan "jumbai jubah" di dalam Perjanjian Baru, adalah kisah seorang perempuan yang sakit pendarahan dan dengan menjamah jubah Tuhan Yesus Kristus, kemudian perempuan itu menjadi sembuh (lihat: Lukas 8:40-48, Matius 9:18-26, Markus 5:25-27). Lukas secara spesifik menyebut perempuan ini secara sengaja memilih menjamah "jumbai jubah Yesus." Bukan bagian yang lain. Tentunya ia telah memperhitungkannya. Dorongan ini tampaknya bukan timbul begitu saja, namun dilandasi pengertian tertentu yang telah diyakini di tengah-tengah masyarakat Yahudi pada waktu itu, tak ayal perempuan ini tahu makna "jumbai jubah" yang dipakai Tuhan Yesus.


Dalam Bilangan 15:37-41, Allah mengajar kepada bangsa Israel tentang makna dari "jumbai pada jubah." Melalui Musa, Ia memerintahkan umat Israel untuk membuat jumbai pada punca baju mereka, dan meletakkan benang ungu kebiru-biruan pada jumbai-jumbai itu. Tujuannya adalah agar setiap kali mereka melihat jumbai itu, mereka akan selalu ingat akan segala Firman dan perintah Tuhan serta melakukannya bahkan supaya mereka ingat akan segala kebaikan Tuhan yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir.
                                                                                                                 

1.       Jumbai/ujung jubah itu berbicara tentang kuasa, otoritas dan kedudukan.
Saat Daud memberitahukan bahwa ia telah memotong punca jubah Saul, Saulpun mengerti bahwa ia telah kehilangan otoritasnya sebagai orang diurapi Tuhan (1 Samuel 24:5b,17).

2.       Jumbai/ujung jubah juga berbicara tentang perlindungan dan pembelaan.
Nasehat Naomi pada Rut menunjukkan nasehat penggembalaan yg selalu mendorong kita untuk lebih dekat pada Tuhan. Rut kemudian mengajukan permohonan khusus agar Boas berkenan mengembangkan sayapnya untuk melindungi dirinya (Bahasa Ibrani: sayap = כָּנָף - KANAF yg artinya adalah jumbai jubah/ ujung jubah - Rut 3:9 ). 

3.       Jumbai/ujung jubah juga berbicara tentang kesembuhan.
Dalam Maleakhi 4:2 “dengan kesembuhan pada sayapnya. “ Kata sayap di sini dalam bahasa Ibrani juga ditulis KANAF seperti dalam Rut 3:9 dan artinya juga "jumbai jubah."

Perempuan yang menjamah jumbai jubah Tuhan Yesus mengharapkan tiga hal terjadi dalam hidupnya:

1.       Sebagai orang najis, ia rindu ditahirkan dan diikat dengan kekudusan Tuhan. 
2.       Ia tahu jika ada orang yang dapat menyelamatkan dan menyembuhkannya, Dia pasti Mesias. 
3.       Kesiapannya untuk menaati perintah Allah dan meninggalkan dosa. Iman yang benar akan kesembuhan ini yang menarik keluar kuasa Yesus. Yesus tidak perlu berkata, "Aku mau engkau sembuh" atau, "Dosamu sudah diampuni." Yesus hanya meneguhkan iman perempuan itu. Mari renungi kejadian perempuan yang sembuh dari pendarahannya. Kita belajar tentang iman seorang perempuan tua yang sering kita dengar ceritanya. Maka kata-Nya kepada perempuan itu: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!” (Lukas 8:48).

Kita tahu di dalam Alkitab, bukan saja wanita ini yang menjamah punca/ujung jubah Yesus tapi orang-orang Genesaret juga tahu kalau jumbai jubah Tuhan Yesus itu berkuasa. Alkitab mencatat, mereka berlari-lari ke seluruh daerah dan mengusung orang-orang sakit kepada Yesus. Dan ke manapun Yesus pergi, orang memohon kepadaNya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubahNya. Dan semua orang yang menjamahNya menjadi sembuh!

* Markus 6:56
LAI TB, Ke manapun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.
Lihat juga Matius 14:36

Namun di lain hal, Tuhan Yesus melihat adanya penyimpangan dari yang dilakukan orang-orang Farisi, ttg penggunaan jubah dengan jumbai yang panjang untuk memperagakan kesalehan:

* Matius 23:5
23:5 Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang;
23:6 mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat;
23:7 mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.
23:8 Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara.

Tuhan Yesus tidak menyetujui adanya "pakaian lambang kesalehan" yang hanya untuk pamer belaka (ayat 5). Memakai jumbai panjang untuk tujuan dipuji orang, dan kesalehan orang-orang Farisi menjalankan kewajiban2 agama itu hanya supaya dilihat, dimana orang-orang biasa tidak bisa melebihi "kesalehan" mereka. Di mata Tuhan Yesus, "kesombongan dalam beribadah" adalah merupakan dosa, dan dosa semacam ini akrab menguasai orang-orang Farisi. Sebab cara ibadah yang seperti itu bukanlah suatu hal yang memuliakan Allah dan merendahkan diri di hadapan Allah. Mereka suka mendapatkan penghormatan dari orang2 lain tatkala mereka melakukan ibadah, mereka sangat menekankan "gelar" yaitu sebutan "rabbi", dan justru kepada orang2 yang demikian sebaiknya mereka tidak mengajar, mereka perlu belajar pelajaran pertama dalam sekolah Kristus, yaitu kerendahan hati. Kristus memperingatkan para murid-Nya agar tidak melakukan "kesombongan ibadah" dan tidak meniru perbuatan mereka, para murid tidak diperkenankan menyombongkan wewenang dan kekuasaan di dalam posisi mereka seolah-olah mereka berkuasa atas iman dari orang-orang percaya (baca ayat 8).


Blessings,
BP


Kamis, 26 Juli 2018


CALLED TO FAIL



Surely Isaiah, Israel’s political and religious leader for sixty years, stands among the Lord’s giants who responded to his call to “Go!” But God never limited this call to Bible times. And one doesn’t have to be one of his “giants” to hear his call!
Of course, no time is uncomplicated, undemanding, and trouble-free when God calls! Isaiah had been called to his prophetic office before his signal vision in chapter six while a youth doing his royal duties as a member of the court. Life was always troubling living under the northern storm clouds of Assyria, the mightiest kingdom on earth that time. But King Uzziah, the Churchill of his day, the Jewish leader who had led like a rock against Tiglath-pileser for fifty-two years, suddenly died. Gone! No comparable leader in reserve! What next for God’s people?
Young Isaiah knew well that the northern kingdom had been forfeiting God’s divine protection and Assyria seemed invincible. What about Judah, the southern kingdom? No small wonder why God’s call was so laser-sharp, so galvanizing! Big moments require big vision and courage—and Isaiah responded in sheer awe and self-inadequacy, yet embolded to say prayerfully, “Send me.”
Wow! Many, many through the years have heard that call, but few have responded. Not because they were evil or necessarily selfish, but because they did not buy into the vision that God was laying out. Buying into this vision that comes to each of us who have claimed to have seen the Lord requires no bargaining with the Lord. That is, “if this or that can be arranged.” Or, “if I know when my term will be up.” I think that those this quarter whom we are honoring and endeavoring to reproduce or reflect (if we want to end up where they will end up) never thought more than thirty seconds about these “normal” considerations.
Isaiah was not given a rosy picture of great success. The Lord told him from the get-go that his message would largely go unheeded (Isa. 6:9, 19). Not a great send-off! But he had his message and assignment. No seeker-friendly, marketing program. Foreseeable failure is a tough assignment for a young, talented, highly credentialed young man.
Isaiah saw clearly that the Lord was not programming the future. He was not blinding the eyes or shutting the ears of Isaiah’s audiences. Israel was bringing all this upon themselves by rejecting the waves of warning and invitation that the Lord had been giving them for years. God was doing all he could to awaken interest in the truth about himself and their future but the people, generally, were building their habits of indifference until they could no longer perceive spiritual things. Just the law of cause and consequences that operates so pandemically today!
But his Lord was not finished. Do your duty, Isaiah, be faithful to the truth, and you will always find a “remnant” who will “get it” (chs 6:13; 10:20–22; Rom. 11:5; Rev. 12:17). The first half of Isaiah’s messages was devoted to rallying the loyalists in the northern kingdom. The last half appealed to Judah, the southern kingdom. Same message, same result. But always the remnant exists, then and now.
Our response to this quarter’s lesson, in our day of response-ability to God’s call, is simply, “Here am I, Lord, Send me, whatever, wherever.”
Herbert E. Douglass is a theologian, retired college administrator, and author of twenty-two books who currently lives in Lincoln, California.

Senin, 09 Juli 2018


TANDA TANDA ORANG PERCAYA
ITB  Kis. Rasul 2:1 Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.
 2 Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk;
 3 dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.
 4 Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.
 (Kis. Rasul 2:1-4 ITB)

ITB  Kis. Rasul 19:1 Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajah daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid.
 2 Katanya kepada mereka: "Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?" Akan tetapi mereka menjawab dia: "Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus."
 3 Lalu kata Paulus kepada mereka: "Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis?" Jawab mereka: "Dengan baptisan Yohanes."
 4 Kata Paulus: "Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus."
 5 Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus.
 6 Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat.
 (Kisah Rasul 19:1-6 ITB)

PENDAHULUAN
Beberapa bayi yang baru dilahirkan kerap memiliki tanda lahir di area tertentu pada tubuhnya. Tanda lahir itu dapat berupa bercak berwarna-warni dengan ukuran dan bentuk yang beragam.
Namun tahukah Anda kenapa ada bayi yang memilikinya, tapi ada juga yang tidak? Menurut kepercayaan masyarakat, tanda lahir akan melekat pada bayi jika sewaktu mengandung, sang ibu melihat gerhana bulan. Ada pula yang mengatakan tanda lahir disebabkan oleh masa mengidam ibu hamil yang tidak terpenuhi.
Sebenarnya hingga kini penyebab terbentuknya  tanda lahir pada bayi masih belum bisa dipastikan. Dokterpun tidak tahu kenapa ada bayi yang memiliki tanda lahir dan ada juga yang tidak memilikinya. Jika dilihat dari sisi medis, sebagian tanda lahir disebabkan oleh pembuluh darah yang terkumpul atau tidak tumbuh normal. Sementara tanda lahir lainnya timbul karena zat warna atau pigmen tambahan pada kulit.

PEMBAHASAN
Ada sebagian orang Kristen yang menganggap bahwa berbahasa roh adalah satu-satunya tanda orang yang telah percaya Yesus dan dibaptis Roh Kudus. Apakah tanda itu adalah sesuatu yang mutlak, satu-satunya dan terjadi terus menerus ?
Dari 2 bagian perikop yang kit abaca ada beberapa hal yang dapat kita pelajari sebagai berikut :
1.     Peristiwa pencurahan Roh Kudus dalam Kis. Rasul 2 secara masal dan pertama terjadi sebagai deklarasi kehadiran Roh Kudus (Pentakosta).
Deklarasi ini sebagai penggenapan janji Tuhan Yesus bahwa setelah Ia kembali ke Surga, maka Roh Kudus sebagai pribadi Allah ketiga akan datang (Yoh 14:16).

2.     Peristiwa pencurahan Roh Kudus ini terjadi untuk orang percaya (Kis. Rasul 2 :1).
Peristiwa yang tercatat di Kisah Rasul 2 tidak pernah berulang di tempat lain untuk orang percaya lalu berbahasa roh, kecuali terjadi hanya 1 kali saja untuk orang yang belum percaya dan setelah percaya lalu berbahasa roh (Kisah Rasul 19). Kalau Alkitab mencatat peristiwa khusus hanya sesekali dan tidak berulang, maka harus dicermati sebagai konteks dan tujuan tertentu pada waktu itu saja. Contoh khotbah Petrus yang membuat 3.000 orang bertobat, tetapi tidak dibarengi dengan berbahasa Roh (Kis. Rasul 2 :37-40).

3.     Mereka berkata-kata dalam bahasa lain (Kisah Rasul 2:4). 
Ada 2 penafsiran, artinya dapat ditafsirkan sebagai bahasa roh (glosalalia) atau bahasa-bahasa manusia yang dimengerti sebagai bahasa lokal daerah tertentu (Kisah Rasul 2:7-11).

4.      Kasus khusus terjadi dalam Kis Rasul 19 dan setelah itu tidak terulang lagi.
Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat (Kisah Rasul 19:6).


KALAU BEGITU APA TANDA ORANG PERCAYA ? (Mar 16:17-20 ITB)
17 Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,
 18 mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh."
 19 Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah.
 20 Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.

Berbicara dalam bahasa roh adalah salah satu tanda dan bukan satu-satunya tanda. Yang pokok adalah buah pertobatan untuk meninggalkan hidup lama dan menghidupi hidup baru sesuai 2 Kor 5:17.
Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. 

Lebih jauh rasul Paulus mengatakan bahwa ada bermacam-macam karunia yang diberikan kepada orang percaya seperti tercatat dalam 1 Korintus 12.  Semuanya adalah karunia (pemberian Tuhan) untuk memperlengkapi orang percaya yang berfungsi untuk saling membangun dalam konteks kesatuan tubuh Kristus.

PENUTUP
Mari kita bersyukur untuk setiap jenis karunia yang Tuhan berikan kepada kita dan tidak merasa ‘diri super’ dengan karunia apapun yang ada pada kita. KALAUPUN ADA KARUNIA YANG PALING UTAMA (1 Kor 12:31a), tetapi hal ini merupakan CONTOH YANG DIPAKAI RASUL PAULUS untuk melakukan TEGURAN KERAS kepada jemaat Korintus yang sangat meninggikan karunia bahasa roh tersebut.

Dari segi fungsinya beberapa karunia memiliki manfaat langsung bagi banyak orang, misalnya rasul, nabi, guru, dan nubuat (1 Kor 12:28; 14:4-5). Sebaliknya, beberapa karunia – misalnya bahasa roh – lebih berkaitan dengan manfaat untuk diri sendiri (1 Kor 14:2), kecuali kalau ada orang lain yang menerjemahkannya untuk jemaat (1 Kor 14:5, 13). Intinya, berbeda dengan jemaat Korintus yang memanfaatkan karunia rohani untuk keutamaan dan kesombongan diri sendiri, Paulus justru mengajarkan keutamaan dari karunia-karunia tertentu dalam memberikan manfaat bagi jemaat.
Mungkin ada pertanyaan lain tentang 1 Kor 12:31a, yaitu tentang nasihat yang terkesan anthroposentris (berpusat pada manusia). Di bagian sebelumnya Paulus baru saja menjelaskan bahwa pemberian karunia rohani ditentukan oleh Allah sepenuhnya (1 Kor 12:4-6, 7, 11, 18, 24, 28). Bagaimana mungkin ia memerintahkan jemaat untuk mengupayakan hal tersebut? Bukankah orang Kristen bersikap pasif dalam hal pemberian karunia-karunia rohani dari Allah?

Di mata Paulus kedaulatan Allah dalam menetapkan karunia-karunia rohani tidak bertentangan dengan upaya orang percaya dalam memperoleh hal itu. Ia bahkan menggunakan kata zēloute yang mengandung arti yang lebih tegas daripada sekadar “berusaha memperoleh” (kontra LAI:TB). Hampir semua versi Inggris dengan tepat memilih terjemahan “earnestly desire” (RSN/NASB/ESV), “desire earnestly” (ASV/YLT), “eagerly desire” (NIV), atau – bahkan – “strive for” (NRSV). Kata dasar zēloō muncul di 13:4 dengan arti “cemburu” (juga 2 Kor 11:2; Yak 4:2). Kata yang sama digunakan Paulus sebagai rujukan untuk upaya yang giat dari pengajar sesat dalam menipu jemaat (Gal 4:17-18). Dari data ini terlihat bahwa zēloute/zēloō menyiratkan usaha yang sungguh-sungguh. Ini bukan sekadar keinginan yang biasa, tetapi hasrat yang besar. Ini bukan hanya menyiratkan upaya yang seadanya, tetapi keseriusan dan kedisiplinan (bentuk present tense dari kata perintah zēloute menyiratkan usaha yang terus-menerus).

Bagaimana cara kita mengupayakan karunia rohani yang lebih utama? Paulus akan menjawab: berdoa! (1 Kor 14:13). Sebagian gereja modern sudah mendorong jemaat mereka untuk berdoa agar diberi karunia rohani tertentu. Persoalannya, mereka justru mendoakan karunia bahasa roh yang tidak secara langsung dan tidak secara jelas membangun jemaat lain. Dengan kata lain, mereka sedang mengejar karunia yang tidak utama. Mereka seharusnya ‘berambisi’ untuk karunia-karunia rohani yang membawa manfaat besar bagi orang lain. Paulus berkali-kali mendorong jemaat untuk menginginkan nubuat dari pada bahasa roh (1 Kor 14:1, 5, 24, 31, 39), karena nubuat lebih berguna bagi seluruh jemaat. Dalam beberapa literatur karunia bernubuat ini bukan melulu berarti meramal untuk masa depan, tetapi dapat juga berarti mengajar.

Amin. Tuhan memberkati kita.





Eksposisi 1 Korintus 12:31

Eksposisi 1 Korintus 12:31
Ayat ini memiliki dua fungsi sekaligus. Di satu sisi, nasihat Paulus di ayat 31a merupakan penutup bagi pembahasan sebelumnya (12:1-30). Di sisi lain, ayat 31b merupakan transisi ideal bagi topik kasih di pasal 13. Melalui ayat ini Paulus ingin mengajarkan bahwa menginginkan dan mengejar karunia tertentu tidak selalu keliru, namun hal itu harus dilakukan dengan cara yang tepat. Karunia-karunia rohani bukan alat untuk mengejar status sosial maupun spiritual tertentu, melainkan sarana untuk mengasihi orang lain.

Usaha memperoleh karunia-karunia yang lebih utama (ayat 31a)

Bagian yang pendek ini mengandung beragam kesulitan yang perlu diputuskan dahulu sebelum kita bisa memahami maksud Paulus di ayat ini. Yang pertama berkaitan dengan tata bahasa. Kata zēloute (LAI:TB ‘berusahalah untuk memperoleh’) bisa berbentuk kata kerja indikatif (pernyataan) maupun imperatif (perintah). Jika ini adalah indikatif, maka Paulus hanya sekadar menyinggung apa yang sudah dilakukan oleh jemaat Korintus (ayat 31a), dan ia hanya memberikan nasihat tentang hal lain yang lebih baik (ayat 31b). Jika imperatif yang benar, maka Paulus sedang memerintahkan jemaat untuk memperoleh karunia-karunia yang lebih utama.
Beberapa penafsir mengambil pilihan yang pertama. Persoalan dalam jemaat Korintus menurut mereka adalah ambisi yang berlebihan atas karunia-karunia tertentu. Di tengah situasi seperti ini Paulus tidak mungkin memerintahkan mereka untuk mengejar karunia rohani. Mereka tidak perlu diajar untuk mengejar karunia-karunia rohani yang lebih utama. Justru karena ambisi itulah mereka saling berselisih.
Pembacaan yang lebih teliti akan menghasilkan penafsiran yang berbeda. Kata zēloute muncul beberapa kali dalam pembahasan Paulus tentang karunia rohani (14:1, 39). Dalam dua teks ini zēloute jelas berbentuk imperatif (14:1 “Kejarlah kasih itu dan berusahalah memperoleh karunia-karunia Roh”; 14:39 “usahakanlah dirimu memperoleh karunia untuk bernubuat”). Mengingat bentuk kata kerja yang digunakan dan konteks pembicaraan di 12:31, 14:1 dan 14:39 adalah sama, tidak ada alasan untuk menerjemahkan zēloute di 12:31 secara berbeda dari yang lainnya. Dalam hal ini semua penerjemah terlihat sepakat untuk mengambil zēloute sebagai kata perintah.
Kesulitan kedua tentang 12:31 adalah nuansa dari perintah Paulus. Sebagaimana kita ketahui, Paulus beberapa kali menggunakan bahasa sindiran dalam surat 1 Korintus (misalnya 4:8-13). Ia beberapa kali menyitir ucapan jemaat Korintus, lalu mengoreksi ucapan itu (6:12; 8:1, 4; 10:23). Mungkinkah perintah di 12:31a bersifat sindiran (misalnya “kejarlah karunia-karunia rohani yang kamu anggap lebih besar, hal itu akan semakin memperburuk keadaanmu!”), sedangkan 12:31b sebagai koreksi terhadap hal itu?
Sekali lagi, pemunculan kata zēloute di 14:1 dan 14:39 yang tidak mengandung nada sindiran tampaknya mengarah pada kesimpulan sebaliknya. Paulus terlihat bersungguh-sungguh dengan perintahnya di 12:31a. Lagipula, tidak ada indikasi apa pun bahwa di ayat 31a Paulus sedang mengutip ucapan jemaat Korintus. Sebagai tambahan, fungsi 12:31 sebagai transisi bagi pembahasan tentang kasih (13:1-13) akan terlihat sedikit janggal apabila Paulus memaksudkan 12:31a sebagai sebuah sindiran yang sarkastik.
Kunci untuk memahami semua ini terletak pada kata ta charismata ta meizona (LAI:TB ‘karunia-karunia yang paling utama’; KJV ‘karunia-karunia terbaik’; RSV/ESV ‘karunia-karunia lebih tinggi’; NASB/NRSV/NIV ‘karunia-karunia yang lebih besar’). Apakah yang dimaksud dengan karunia-karunia yang lebih utama ini? Sebagaimana kita sudah bahas dalam khotbah sebelumnya, walaupun semua karunia berasal dari Roh yang sama (12:11), namun beberapa karunia bisa dikatakan lebih utama daripada yang lain dari sisi manfaat bagi orang banyak. Beberapa karunia memiliki manfaat langsung bagi banyak orang, misalnya rasul, nabi, guru, dan nubuat (12:28; 14:4-5). Sebaliknya, beberapa karunia – misalnya bahasa roh – lebih berkaitan dengan manfaat untuk diri sendiri (14:2), kecuali kalau ada orang lain yang menerjemahkannya untuk jemaat (14:5, 13). Intinya, berbeda dengan jemaat Korintus yang memanfaatkan karunia rohani untuk keutamaan dan kesombongan diri sendiri, Paulus justru mengajarkan keutamaan dari karunia-karunia tertentu dalam memberikan manfaat bagi jemaat.
Kesulitan ketiga tentang 12:31a adalah nasihat yang terkesan anthroposentris (berpusat pada manusia). Di bagian sebelumnya Paulus baru saja menjelaskan bahwa pemberian karunia rohani ditentukan oleh Allah sepenuhnya (12:4-6, 7, 11, 18, 24, 28). Bagaimana mungkin ia memerintahkan jemaat untuk mengupayakan hal tersebut? Bukankah orang Kristen bersikap pasif dalam hal pemberian karunia-karunia rohani dari Allah?
Di mata Paulus kedaulatan Allah dalam menetapkan karunia-karunia rohani tidak bertentangan dengan upaya orang percaya dalam memperoleh hal itu. Ia bahkan menggunakan kata zēloute yang mengandung arti yang lebih tegas daripada sekadar “berusaha memperoleh” (kontra LAI:TB). Hampir semua versi Inggris dengan tepat memilih terjemahan “earnestly desire” (RSN/NASB/ESV), “desire earnestly” (ASV/YLT), “eagerly desire” (NIV), atau – bahkan – “strive for” (NRSV). Kata dasar zēloō muncul di 13:4 dengan arti “cemburu” (juga 2 Kor 11:2; Yak 4:2). Kata yang sama digunakan Paulus sebagai rujukan untuk upaya yang giat dari pengajar sesat dalam menipu jemaat (Gal 4:17-18). Dari data ini terlihat bahwa zēloute/zēloō menyiratkan usaha yang sungguh-sungguh. Ini bukan sekadar keinginan yang biasa, tetapi hasrat yang besar. Ini bukan hanya menyiratkan upaya yang seadanya, tetapi keseriusan dan kedisiplinan (bentuk present tense dari kata perintah zēloute menyiratkan usaha yang terus-menerus).
Bagaimana cara kita mengupayakan karunia rohani yang lebih utama? Paulus akan menjawab: berdoa! (14:13). Sebagian gereja modern sudah mendorong jemaat mereka untuk berdoa agar diberi karunia rohani tertentu. Persoalannya, mereka justru mendoakan karunia bahasa roh yang tidak secara langsung dan tidak secara jelas membangun jemaat lain. Dengan kata lain, mereka sedang mengejar karunia yang tidak utama. Mereka seharusnya ‘berambisi’ untuk karunia-karunia rohani yang membawa manfaat besar bagi orang lain. Paulus berkali-kali mendorong jemaat untuk menginginkan nubuat daripada bahasa roh (14:1, 5, 24, 31, 39), karena nubuat lebih berguna bagi seluruh jemaat.
Nasihat untuk giat dalam pengupayaan dan penggunaan karunia-karunia Roh merupakan hal yang perlu diulang-ulang. Kita kadangkala memadamkan Roh dan meremehkan karunia-karunia rohani (1 Tes 5:19-20). Situasi tertentu dapat melemahkan hasrat kita terhadap pekerjaan Roh, karena itu kita tidak boleh lalai (1 Tim 4:14), bahkan kita harus terus-menerus mengobarkan karunia Allah (2 Tim 1:6).

Jalan yang lebih utama (ayat 31b)

Kalau di ayat 31a Paulus berbicara tentang karunia-karunia rohani (ta charismata), sekarang ia mengajarkan tentang sebuah jalan (hodon). Kalau karunia-karunia Roh di ayat 31a disebut lebih utama (lit. ‘lebih besar’, meizona), jalan di ayat 31b disebut lebih utama (lit. ‘lebih luar biasa’, kath’ hyperbolēn). Penyelidikan konteks menunjukkan bahwa jalan yang lebih utama ini adalah kasih (13:1-13).
Di suratnya yang lain Paulus juga menghubungkan karunia-karunia rohani dengan kasih. Sesudah mengajarkan penggunaan karunia Roh yang sesuai dengan ukuran iman dan pemberian Allah (Rom 12:3-8), Paulus melanjutkan pembahasan tentang kasih (Rom 12:9-11). Sebaliknya, sebelum membicarakan tentang perbedaan karunia Roh (Ef 4:7-16), Paulus menyinggung tentang kasih (Ef 3:18-4:6).
Apakah dengan menyebut kasih sebagai ‘jalan yang lebih utama’ Paulus sedang mengajarkan kasih sebagai syarat memperoleh karunia rohani? Tidak! Semua orang yang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan (12:1-3) pasti akan diberi karunia rohani (12:7-11), tidak peduli apakah orang itu sudah memiliki kehidupan yang baik di dalam hal mengasihi. Paulus bahkan menyinggung tentang orang-orang tertentu yang memiliki karunia yang ‘spektakuler’ tetapi gagal menunjukkan kasih dalam hidup mereka (13:1-3). Kita juga tidak boleh lupa bahwa kebersamaan dalam jemaat adalah tujuan – bukan syarat - pemberian karunia rohani (12:7). Ada kemungkinan orang menggunakan karunia rohani tanpa melibatkan kasih kepada sesama. 
Lalu apa maksud Paulus menyebut kasih sebagai jalan? Dalam hal ini kita perlu memahami bahwa penekanan pada perintah Paulus di 12:31 terletak pada ‘karunia-karunia yang lebih utama’; dalam arti karunia-karunia yang  lebih bermanfaat bagi banyak orang. Nah, perintah ini tidak mungkin akan dilakukan oleh jemaat Korintus apabila mereka tidak memiliki kasih kepada sesama. Kasih seharusnya menjadi dorongan dalam mengupayakan karunia-karunia rohani dan ciri khas dalam menggunakan karunia-karunia tersebut.
Berdoa agar kita diberi karunia-karunia Roh tertentu yang lebih bermanfaat bagi jemaat adalah baik (12:31a; 14:13). Walaupun demikian, hal itu tidak akan berarti apa-apa jika tidak diimbangi oleh kasih (13:1-3). Keinginan untuk melakukan lebih banyak bagi orang lain harus dilandasi oleh kasih. Jikalau tidak, keinginan itu pasti bersifat manipulatif yang egosentris (hanya untuk kepentingan, keuntungan, dan kebanggaan kita sendiri). Dosa ini terjadi dalam jemaat Korintus. Mereka berambisi dan mengeksploitasi karunia-karunia tertentu yang dipandang bisa menaikkan status sosial maupun spiritual mereka.
Keutamaan kasih bagi kebersamaan jemaat memang sulit untuk dibantah. Tidak setiap orang memiliki karunia yang sama, tetapi semua orang bisa dan harus memiliki kasih. Dengan demikian kasih dapat dikatakan sebagai “karunia universal” (bapa gereja John Chrysostom). Soli Deo Gloria.

Selasa, 03 Juli 2018


BAGIAN YANG DITENTUKAN

Kolose 3:22-24
22 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.
 23 Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
 24 Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.

Pendahuluan
Jemaat di Kolose terdiri dari orang-orang Yahudi dan non Yahudi dengan status sebagai budak atau mantan budak. Itulah sebabnya mengapa rasul Paulus mengatakan bahwa hamba-hamba (doulos) harus menuruti para tuannya.
Status budak adalah seseorang yang tidak mempunyai hak apapun atas dirinya sendiri, karena ia telah dibeli dari pasar budak dan menjadi semacam ‘properti’ tuannya. Dia bekerja dengan tidak diberi upah dan bahkan dapat diperlakukan sekehendak hati oleh tuan atau majikannya.

Pembahasan
Rasul Paulus meminta para budak agar menaati tuannya dalam segala hal dengan motivasi ketulusan hati, karena takut akan Tuhan. Tuan itu dalam bahasa Inggris dipakai kata Master atau kurios dalam Bahasa Yunani yang dapat diartikan Tuan/Master/Lord atau Tuhan itu sendiri. Mungkin oleh karena kekuasaannya yang mutlak atas budak, maka tidak heran kalau dikonotasikan dengan Tuhan.

Dalam status dan perlakuan seperti itu, firman Tuhan mengatakan sebaliknya bahwa dari Tuhanlah para budak itu akan menerima bagian yang ditentukan sebagai upah (ayat 24).

Bagian yang ditentukan itu sebagai upah (reward) dalam Bahasa Yunani adalah kleronomia yang berarti warisan yang diberikan sebagai milik (properti) bagi seseorang. Pemikiran ini sangat bertolak belakang dengan konsep budak yang tidak akan mendapat apapun seperti yang dijelaskan di awal.

Rasul Paulus ingin mengatakan bahwa sebagai jemaat yang sudah percaya Tuhan Yesus, maka ada warisan sebagai hamba Allah di Surga yang pasti akan diterima. Kristus adalah Tuan kita yang sesungguhnya yang akan memberkati kita sebagai hamba-hamba-Nya.

Penutup
Apapun beban hidup kita di dunia ini, marilah kita menaruh harapan kita kepada Tuhan. Di manapun posisi kita, baik sebagai karyawan, pengusaha atau apapun, ingatlah bahwa kita adalah  manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya; sehingga tidak ada lagi perbedaan status di hadapan Tuhan.

Pikirkanlah perkara-perkara di atas, dengan cara hiduplah bagi Tuhan dan menanggalkan segala kenajisan hidup kita (pikiran, perkataan dan perbuatan). Hiduplah dengan status yang baru sebagai orang-orang yang hidup di dalam Kristus.

Kolose 3:11: dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.

Amin. Tuhan memberkati kita.