Minggu, 24 Juni 2018

EFESUS : JEMAAT YANG KEHILANGAN KASIH YANG SEMULA

By. Pdt. Esra Alfred Soru, STh, MPdK


Wah 2:1-7 – (1) "Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu. (2) Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. (3) Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah. (4) Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. (5) Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat. (6) Tetapi ini yang ada padamu, yaitu engkau membenci segala perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, yang juga Kubenci. (7) Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah."


Di dalam kitab Wahyu pasal 2-3 kita mendapati adanya surat kepada 7 jemaat di Asia Kecil (Turki sekarang). Surat ini memang ditulis oleh Rasul Yohanes, tetapi sebenarnya itu adalah Firman Tuhan kepada masing-masing jemaat. Yohanes hanya diperintahkan untuk mencatatnya.

Wah 1:10-11 – (10) Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala, (11) katanya: "Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah kepada ketujuh jemaat ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia dan ke Laodikia." 

Nah, teks yang baru saja kita baca ini adalah surat kepada jemaat di Efesus. Efesus sekarang adalah kota Ayyasulug di Turki. Dikatakan di dalam ayat 1 :

Wah 2:1 – "Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: ….”

Ini tidak berarti bahwa jemaat Efesus mempunyai malaikat penjaga seperti tafsiran beberapa orang bahwa masing-masing gereja ada malaikat penjaganya. Kata “malaikat” (Ibr. “Malakh” Yun. “Angelos”) arti dasarnya adalah “utusan” sehingga seorang manusia yang diutus pun dapat disebut sebagai “malak” atau “angelos”.

Ayub 1:14 - datanglah seorang pesuruh (MAL’AK) kepada Ayub dan berkata: "Sedang lembu sapi membajak dan keledai-keledai betina makan rumput di sebelahnya,

Luk 9:52 - dan Ia mengirim beberapa utusan (ANGELOS) mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya.

Jadi kata “malaikat” di sini kelihatannya menunjuk pada utusan Injil / pemimpin jemaat / gembala jemaat / penatua / pendeta gereja Efesus. (Demikian juga dengan 6 jemaat lain yang menerima surat Yohanes ini). Jadi saya bisa dikatakan sebagai “malaikat jemaat Revival”.  

Dalam surat ini kita melihat adanya pujian, celaan dan juga peringatan bagi mereka. Kita akan membahas teks ini dalam 3 bagian besar :

I.       JEMAAT EFESUS ADALAH JEMAAT YANG HEBAT / BAGUS.

Jemaat Efesus ini sebenarnya adalah jemaat yang hebat dan bagus :

  1. Jemaat ini didirikan dan dilayani oleh tokoh-tokoh yang hebat-hebat.

Ada kemungkinan bahwa Pauluslah yang mendirikan jemaat Efesus ini bersama dengan Priskila dan Akwila dalam perjalanan misinya yang ke 2 sekitar tahun 52 M (Kis 18:19).

Kis 18:19-21 – (19) Lalu sampailah mereka di Efesus. Paulusmeninggalkan Priskila dan Akwila di situ. Ia sendiri masuk ke rumah ibadat dan berbicara dengan orang-orang Yahudi.

Tetapi karena dalam Kis 18:20-21 diceritakan bahwa Paulus meninggalkan Efesus, sedangkan Priskila dan Akwila tetap di Efesus maka ada yang beranggapan bahwa pendiri gereja Efesus bukan Paulus tetapi Priskila dan Akwila.

Kis 18:20-21 –(20) Mereka minta kepadanya untuk tinggal lebih lama di situ, tetapi ia tidak mengabulkannya. (21) Ia minta diri dan berkata: "Aku akan kembali kepada kamu, jika Allah menghendakinya." Lalu bertolaklah ia dari Efesus.

Manapun yang benar, Paulus atau Priskila dan Akwila, jelas mereka adalah orang hebat. Ingat bahwa Priskila dan Akwila pernah memberikan katekisasi ulang kepada seorang pengkhotbah hebat yakni Apolos.

Selanjutnya dalam perjalanan misinya yang ketiga, Paulus singgah ke Efesus dan melayani gereja ini selama kira-kira 3 tahun (bdk. Kis 19:1-8,10,22  Kis 20:31).

Kis 19:1.8,10 – (1) Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajah daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. … (8) Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ dan mengajar dengan berani. Oleh pemberitaannya ia berusaha meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah (10) Hal ini dilakukannya dua tahun lamanya, sehingga semua penduduk Asia mendengar firman Tuhan, baik orang Yahudi maupun orang Yunani.

Kis 20:31 - Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah, bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam, dengan tiada berhenti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata.
Jemaat ini pernah untuk beberapa saat dilayani oleh Apolos.

Kis 18:24 – (24) Sementara itu datanglah ke Efesus seorang Yahudi bernama Apolos, yang berasal dari Aleksandria. Ia seorang yang fasih berbicara dan sangat mahir dalam soal-soal Kitab Suci. (27) Karena Apolos ingin menyeberang ke Akhaya, saudara-saudara di Efesusmengirim surat kepada murid-murid di situ, supaya mereka menyambut dia. …”

Selain itu Timotius juga pernah melayani di sana. Ini didapatkan dari tradisi (cerita turun temurun dari mulut ke mulut), tetapi juga dari 1Tim 1:3-dst.

1 Tim 1:3 - Ketika aku hendak meneruskan perjalananku ke wilayah Makedonia, aku telah mendesak engkau supaya engkau tinggal di Efesus dan menasihatkan orang-orang tertentu, agar mereka jangan mengajarkan ajaran lain

Rasul Yohanes juga pernah tinggal dan melayani di Efesus. Ini tidak diceritakan dalam Kitab Suci, tetapi hanya dinyatakan oleh tradisi.

Homer Hailey: Tradisi mengatakan bahwa setelah kematian Paulus kota itu menjadi rumah Yohanes untuk waktu yang lama.(Revelation, an Introduction and Commentaryhal. 120).

Leon Morris - Tradisi mengatakan bahwa Yohanes tinggal di sana pada masa tuanya. (Tyndale Bible Commentary – Revelation,hal. 59).

Robert H. Mounce bahkan mengatakan bahwa di antara para tokoh yang pernah melayani kota Efesus ini, rasul Yohanes adalah yang paling dekat dengan kota itu.

  1. Jemaat ini sangat giat di dalam pekerjaan Tuhan.

Wah 2:2 – Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu…”

Kata “jerih payah” di sini menggunakan kata Yunani “KOPOS” yang bisa berarti bekerja keras, bersusah payah atau bekerja membanting tulang.

TL - Aku tahu segala perbuatanmu dan kelelahan ….

BIS - Aku tahu apa yang kalian buat: Kalian bekerja keras …”

William Barclay – Ciri khas kata ini ialah bahwa ia mengungkapkan suatu jerih payah yang menuntut semua pikiran dan tenaga dari pelaku. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Wahyu Kepada Yohanes Pasal 1-5, hal. 91).

Jadi mereka bukanlah jemaat yang santai-santai atau melayani seadanya seperti banyak gereja pada masa kini.

Pulpit Commentary: Ini menunjukkan kesenangan ilahi terhadap kualitas maupun kuantitas dari pekerjaan mereka. Itu berat, sepenuh hati, sungguh-sungguh. Banyak orang yang bekerja untuk Tuhan melakukannya seakan-akan hanya dengan satu tangan, atau bahkan dengan satu jari.

Mereka adalah jemaat yang serius dan mati-matian dalam pelayanan tanpa mengenal lelah. Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah bekerja keras di dalam pelayanan-pelayanan kita? Ataukah kita melayani dengan santai dan seadanya saja?

  1. Jemaat ini bertekun.

Wah 2:2 - Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu….”

Tekun dalam hal apa? Tekun dalam iman mereka kepada Kristus. John Stott mengatakan bahwa gereja Efesus ini mendapatkan oposisi lokal yang hebat karena kota Efesus merupakan tempat pertemuan dari banyak agama (suatu kota pluralis). Efesus adalah salah satu pusat penyembahan kaisar Romawi di propinsi itu.

William Barclay - Efesus juga mempunyai kuil-kuil terkenal bagi kaisar Romawi yang didewakan, Claudius dan Nero; dan kemudian hari ada tambahan kuil untuk Kaisar Hadrian dan Severus. Di Efesus agama kafir sangat kuat. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Wahyu Kepada Yohanes Pasal 1-5, hal. 87).

Dan lebih hebat lagi adalah Efesus merupakan pusat penyembahan kepada Dewi Diana / Artemis dengan kuilnya yang sangat terkenal (salah 1 dari 7 keajaiban dunia pada masa lalu).

Kis 19:28 - Mendengar itu meluaplah amarah mereka, lalu mereka berteriak-teriak, katanya: "Besarlah Artemis dewi orang Efesus!"

William Barclay -  Selain menjadi pusat agama, kuil Artemis juga menjadi pusat kejahatan dan kebejatan moral. Kuil itu mempunyai hak suaka; semua penjahat akan dilindungi jika mereka dapat masuk ke kuil tersebut. Kuil itu juga memiliki ratusan pendeta perempuan yang berperan sebagai pelacur kudus. Semua ini menjadikan Efesus sebagai tempat yang ter­kenal dengan kejahatannya. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Wahyu Kepada Yohanes Pasal 1-5, hal. 88).

Dengan kondisi semacam ini maka gereja / orang Kristen Efesus dibenci oleh banyak orang di sana, dan bahkan diboikot sehingga mereka kehilangan langganan dalam bisnis, dan bahkan mendapatkan problem dalam berbelanja. Bahkan mungkin ada penganiayaan secara fisik terhadap orang Kristen di Efesus. Meskipun demikian mereka tetap bertekun dalam iman mereka. Bandingkan dengan pasal 2:3 :

Wah 2:3 - Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku…”

Apa artinya sabar di sini? Sabar di sini berarti bahwa mereka tidak menjadi kecewa, marah, bersungut-sungut, lari dari Tuhan, dsb. Bagaimana dengan saudara? Jika saudara dibenci karena iman saudara, atau karena saudara aktif di gereja Revival, apakah saudara mau bertekun atau tidak?

  1. Jemaat ini gigih dalam menghadapi rasul-rasul palsu dan ajaran-ajaran sesat. 

Wah 2:2 – “…Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.

Dikatakan bahwa mereka tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat. Orang-orang jahat di sini bukanlah orang-orang jahat biasa melainkan rasul-rasul palsu yang menyebarkan ajaran-ajaran sesat. Perhatikan bahwa ketidaksabaran mereka terhadap para penyesat ini justru dipuji oleh Yesus. Ini cocok / sejalan dengan celaan rasul Paulus terhadap kesabaran orang Korintus dalam menghadapi pengajar sesat.

2 Kor 11:4 - Sebab kamu sabar saja, jika ada seseorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima”.

Ketidaksabaran mereka terhadap ajaran-ajaran sesat ini lalu diwujudkan dengan mereka berhasil membuktikan kepalsuan dari ajaran rasul-rasul palsu itu. Mereka mengalahkan rasul-rasul palsu. Bahwa gereja Efesus bisa membongkar penyesatan / kepalsuan rasul-rasul palsu itu, menunjukkan bahwa gereja Efesus sangat kuat dalam doktrin. Mengapa bisa disimpulkan demikian? Karena penyesatan oleh nabi palsu boleh dikatakan selalu terjadi dalam persoalan doktrin. Ini berarti pula bahwa para pemimpin jemaat ini dengan tekun mengajarkan doktrin kepada jemaatnya sehingga mereka semua kuat dalam doktrin dan sanggup mengalahkan para rasul palsu. Bandingkan dengan banyak gereja sekarang yang sama sekali tidak ada pengajaran doktrin. Semua khotbah hanya melulu masalah moral / praktika sehingga biar pun sudah bertahun-tahun seseorang menjadi anggota gereja, pengertian mereka terhadap ajaran Kristen sangat minim.

  1. Jemaat ini tidak menjadi bosan dalam mengiring Tuhan.

Wah 2:3 - Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah 

KJV - And hast borne, and hast patience, and for my name's sake hast laboured, and hast not fainted (tidak menjadi lemah / tak bersemangat).

NIV – You have persevered and have endured hardships for my name, and have not grown weary. (tidak menjadi lelah / bosan).

Kata-kata ini berhubungan dengan kalimat sebelumnya yakni sabar menderita. Karena itu makna ayat ini adalah ketika mereka mengikut / melayani Tuhan dan ada banyak penderitaan, mereka tidak menjadi lelah / bosan / jenuh. Memang dalam mengikut / melayani Tuhan selalu ada banyak serangan setan / penderitaan. Ada 2 kemungkinan dalam menghadapi semua itu yakni sabar dan terus bertekun dalam ikut / melayani Tuhan atau menjadi lelah, bosan, kehilangan semangat. Yang mana yang cocok dengan hidup saudara? Apakah dengan penderitaan / persoalan / masalah-masalah yang saudara hadapi membuat saudara menjadi bosan beribadah, bosan belajar Firman Tuhan, bosan berdoa, dsb? Jemaat Efesus ternyata tidak menjadi lelah / bosan di tengah-tengah pnderitaan yang mereka alami.

  1. Jemaat ini membenci kejahatan.

Wah 2:6 - Tetapi ini yang ada padamu, yaitu engkau membenci segala perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, yang juga Kubenci. 

Ada macam-macam pandangan tentang kaum “Nikolaus” ini tetapi yang pasti ini semacam suatu aliran sesat yang lebih menyimpang secara praktis daripada secara doktrinal. Mungkin seperti “Children of God”. Gereja Efesus dipuji karena mereka membenci perbuatan-perbuatan yang jahat dari aliran tersebut. Apakah saudara juga membenci kejahatan-kejahatan yang terjadi di sekitar saudara? Ataukah bersikap acuh tak acuh saja dan menganggap semuanya sebagai hal yang wajar?

Leon Morris : Sekalipun kasih adalah sikap Kristen yang khas, kasih terhadap yang baik membawa hal yang cocok dengannya yaitu kebencian terhadap apa yang salah.... Perhatikan bahwa adalah perbuatannya dan bukan orangnya yang merupakan obyek kebencian itu. (Tyndale Bible Commentary : Revelation, hal. 61).

Homer Hailey: Anak Allah yang tidak membenci kejahatan tidak mengasihi kebenaran (Revelation, an Introduction and Commentaryhal. 123).

Jadi berarti jemaat di Efesus adalah jemaat yang mengasihi kebenaran.

6 fakta ini menunjukkan kepada kita bahwa jemaat Efesus adalah jemaat yang sangat bagus/hebat. Dan untuk 3 hal terakhir (giat dalam pekerjaan Tuhan, bertekun, dan bersemangat dalam menghadapi ajaran-ajaran sesat) mereka dipuji secara langsung oleh kristus sendiri.

Wah 2:2 - Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. 

Bagaimana dengan gereja kita? Apakah gereja kita mempunyai spirit seperti gereja Efesus ini?

II.    CELAAN TERHADAP JEMAAT EFESUS.

Biarpun gereja Efesus ini sangat bagus/hebat, tetapi gereja ini dicela oleh Kristus.

Wah 2:4 - Namun demikian Aku mencela engkau,…”

Tadi kita melihat ada pujian dari Tuhan kepada jemaat Efesus ini tetapi sekarang kita melihat adanya celaan bagi mereka. Ini menunjukkan bahwa Tuhan bersikap fair; memuji apa yang baik dan mengkritik apa yang jelek. Ini berbeda dengan kebanyakan kita. Ada orang yang hanya memuji terus tidak pernah mengkritik, ada orang yang mengkritik terus tidak pernah memuji, ada orang yang memuji juga tidak, mengkritik juga tidak.

Lalu dalam hal apa jemaat Efesus dicela?

Wah 2:4 - Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula

Jadi jemaat Efesus dikritik/dicela karena mereka telah kehilangan kasih mula-mula. Tetapi kasih apakah yang hilang dari mereka? Kasih kepada Allah atau kasih kepada sesama? Ada penafsir-penafsir yang mengatakan bahwa kasih yang dimaksudkan di sini adalah kasih kepada Allah dan bukan kepada sesama tetapi ada juga yang mengatakan bahwa kasih yang dimaksudkan di sini adalah kasih kepada sesama dan bukan kasih kepada Allah. Tetapi menurut saya kita tidak bisa memisahkan antara kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Keduanya berhubungan dengan erat.

1 Yoh 4:20-21 – (20) Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. (21) Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.

Jadi orang yang tidak mengasihi Allah pasti akan mengasihi sesamanya dan orang yang tidak mengasihi sesamanya pasti tidak mengasihi Allah.

Robert H. Mounce - Kasih pribadi yang mendingin kepada Allah secara tak terhindarkan menghasilkan hilangnya hubungan yang harmonis di dalam tubuh orang-orang percaya. (New International Commentary of the New Testament, hal. 88).

Karena itu saya berpendapat bahwa jemaat Efesus telah kehilangan kasih mereka baik kepada Allah maupun sesama.

  1. Mereka kehilangan kasih kepada Allah.

Pada waktu Paulus menulis surat Efesus, gereja Efesus masih berkobar-kobar dalam kasihnya kepada Allah.

Efs 6:24 - Kasih karunia menyertai semua orang, yang mengasihi Tuhan kita Yesus Kristus dengan kasih yang tidak binasa.

BIS - Semoga Allah memberkati Saudara semua yang mengasihi Tuhan kita Yesus Kristus dengan kasih yang tak dapat padam. Hormat kami, Paulus

Tetapi sekarang gereja Efesus telah meninggalkan kasih yang semula / pertama itu. Kalau memang mereka meninggalkan kasih mereka yang mula-mula kepada Tuhan, bagaimana mungkin mereka masih bisa giat di dalam Tuhan, bertekun di dalam iman, gigih menghadapi ajaran sesat, dll? Ya, bisa saja mereka masih dengan semangat dan kegigihan melakukan semua itu tapi semua itu berkembang menjadi sesuatu kebiasaan atau keharusan tapi tidak atas dasar kasih kepada Allah. Misalnya saja saya. Saya bisa saja gigih (dan memang saya gigih) dalam mempersiapkan khotbah atau bahan Pelajaran Alkitab atau bahkan berdebat dengan para penyesat, tetapi bisa saja itu dilakukan karena memang itu sudah tugas saya atau hobby saya tapi sebenarnya hati saya telah dingin kepada Allah. Saya melakukan semua itu tidak lagi karena saya mengasihi Allah. Hal yang sama bisa terjadi pada saudara. Saudara mungkin masih aktif kebaktian, mengajar Sekolah Minggu, mengajar katekisasi, terlibat dalam pelayanan-pelayanan komisi, memimpin liturgi, bermain musik, menjalankan tugas-tugas kemajelisan saudara tetapi semuanya hanya karena kewajiban yang sudah seharusnya demikian dan bukan karena hati saudara berkobar-kobar dalam kasih kepada Allah. Sejujurnya hati saudara sudah dingin kepada Allah. Adakah itu yang terjadi pada saudara? Kalau ya, mungkinkah saudara telah kehilangan kasih yang mula-mula itu? Renungkan ini sungguh-sungguh!

  1. Mereka kehilangan kasih kepada sesama.

Perhatikan ayat ini :

Efs 1:15 - Karena itu, setelah aku mendengar tentang imanmu dalam Tuhan Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus.

Ini berarti bahwa pada mulanya jemaat Efesus hidup dalam kasih yang sangat indah antara satu dengan yang lainnya. Tetapi sangat mungkin bahwa semangat mereka dalam pelayanan telah membuat kasih di antara mereka menjadi renggang bahkan hilang. Api kasih yang pernah menyala di dalam hati seorang kepada yang lain telah padam. Bahkan tidak mustahil api yang lain yang justru berkobar di hati mereka terhadap yang lain. Api kebencian, iri hati, dengki, kecemburuan, dsb.

Jakob P.D. Groen – “…dalam hal kasih, jemaat di Efesus sudah mulai mengalami penurunan. Kasih pertama tidak ada lagi. Mereka sibuk melawan ajaran palsu, sehingga mulai melalaikan perintah kasih dalam kehidupan persekutuan orang Kristen. (Aku Datang Segera – Tafsiran Kitab Wahyu, hal. 39).

William Barclay – “…sukacita dari kasih persaudaraan mereka telah lenyap. Pada masa-masa awal anggota jemaat Efesus benar-benar saling mengasihi; pertikaian tidak pernah muncul; hati siap bersimpati dan tangan siap menolong. Namun, sesuatu yang salah telah terjadi. Tampaknya upaya mereka untuk memburu para penyesat telah mematikan cinta kasih mereka. Ortodoksi atau upaya memelihara ajaran  gereja harus dibayar dengan hilangnya persahabatan sejati. Jika ini terjadi, ortodoksi  membayar harga mahal. Seluruh ortodoksi di dunia tidak akan menggantikan tempat kasih. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Wahyu Kepada Yohanes Pasal 1-5, hal. 94).

Adakah ini juga yang menjadi persoalan di dalam jemaat kita? Apakah api kasih yang pernah menyala di antara kita semua sejak gereja ini didirikan masih tetap menyala hingga hari ini? Ataukah mulai memudar bahkan padam? Lebih dari itu mungkinkah ada api lain yakni  kebencian, iri hati, dengki, kecemburuan, kejengkelan, kecurigaan yang mulai menyala di antara kita terhadap sesama kita? Renungkanlah semua ini!

Di bagian I sudah diperlihatkan bahwa jemaat Efesus ini adalah jemaat yang bagus/hebat. Biarpun demikian hilangnya kasih mula-mula (terhadap Tuhan dan sesama) membuat mereka tetap dicela oleh Tuhan. Ini berarti bahwa semangat di dalam pelayanan tidak bisa menggantikan kasih kepada Tuhan dan sesama, ketekunan di dalam iman tidak bisa menggantikan kasih kepada Tuhan dan sesama, kemurnian doktrinal tidak bisa menggantikan kasih kepada Tuhan dan sesama, kebencian terhadap kejahatan tidak bisa menggantikan kasih kepada Tuhan dan sesama, dll. Mengapa demikian? Karena itu adalah hukum yang terutama.

Mat 22:36-39 – (36) "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" (37) Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. (38) Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. (39) Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. (40) Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."

Mark 12:33 - Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.

Karena itu sekalipun jemaat Efesus adalah jemaat yang hebat tetapi mereka tetap dicela karena mereka kehilangan kasih mereka yang mula-mula. Hal yang sama bisa terjadi pada kita. Sebagus apa pun gereja kita, segigih apa pun kita melayani, sekuat apa pun doktrin kita, tapi kalau kita sampai kehilangan kasih, semua itu tidak akan ada artinya. Tuhan akan mencela kita! Bandingkan :

1 Kor 13:1-3 – (1) Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. (2) Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. (3) Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.

Renungkanlah semuanya ini!

III. NASIHAT DAN ANCAMAN BAGI JEMAAT EFESUS.

Setelah Tuhan mencela jemaat Efesus, Ia lalu memberikan nasihat kepada mereka.

Wah 2:5 - Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan….:”

Dari ayat ini terlihat bahwa keadaan kehilangan kasih kepada Tuhan dan sesama dianggap sebagai sebuah kejatuhan. Tetapi di sini Alkitab Indonesia (TB) kurang tepat terjemahannya. Bandingkan :

NASB: ‘Remember therefore from where you have fallen’ (Sebab itu ingatlah dari mana engkau telah jatuh).

NIV: ‘Remember the height from which you have fallen!’ (Sebab itu ingatlah ketinggian dari mana engkau telah jatuh).

RSV: ‘Remember then from what you have fallen’ (Sebab itu ingatlah dari apa engkau telah jatuh).

Jadi di sini Tuhan memberikan nasihat agar jemaat Efesus melihat ke belakang untuk mengingat kembali kapan / pada titik mana mereka mengalami kejatuhan itu. Atau dengan kata lain, bagi orang yang telah meninggalkan kasih yang mula-mula, hal pertama yang harus dilakukan adalah melihat ke belakang untuk mengingat-ingat di mana / kapan ia meninggalkan kasih yang mula-mula itu, dan untuk membandingkan keadaan pada waktu ia masih mempunyai kasih yang mula-mula dengan keadaan sekarang setelah ia meninggalkan kasih yang mula-mula itu. Ini mencakup mengingat saat pertobatan kita, saat berjalan bersama Tuhan, jawaban doa, berkat Firman Tuhan, kemajuan iman dan pengudusan, kemenangan atas godaan / pencobaan, dsb. Ingat semua itu dan kalau saudara dapati keadaan saudara sekarang sudah sangat jauh dari keadaan saudara dulu, maka kembalilah kepada Tuhan dengan kasih yang berkobar-kobar.

Israel pernah kehilangan kasih kepada Allah. Dan Allah berfirman :

Yer 2:2 "- “…Beginilah firman TUHAN: Aku teringat kepada kasihmu pada masa mudamu, kepada cintamu pada waktu engkau menjadi pengantin, bagaimana engkau mengikuti Aku di padang gurun, di negeri yang tiada tetaburannya.

TL – “…Demikianlah firman Tuhan: Bahwa Aku lagi ingat akan rindumu tatkala engkau muda, akan kasihmu tatkala engkau penganten, tatkala engkau mengikut Aku di padang Tiah, yaitu di padang tekukur.

BIS – “…"Hai Israel, Kuingat betapa kau setia di kala engkau masih muda; betapa besar cintamu ketika kita berbulan madu. Ke padang gurun Aku kauikuti melalui daerah yang tidak ditanami

Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan merindukan saat-saat seperti dulu di mana saudara begitu mengasihi Dia dengan kasih yang berkobar-kobar. Jikalau Tuhan saja merindukan itu, tidakkah engkau juga merindukannya? Demikian juga kalau kita dapati bahwa ternyata kasih kita kepada sesama kita di dalam jemaat ini mulai memudar bahkan dingin, marilah kita kembali mengingat bagaimana kehidupan kasih kita mula-mula, bagaimana kita saling mengasihi, saling menolong, saling mendukung dalam jemaat ini. Kalau ada kesalahan, marilah kita saling mengampuni dan saling menerima agar kita bisa hidup seperti dulu lagi. Ingatlah semua itu dan kembalilah kepada kasih mula-mula itu.

Wah 2:5 - Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan….:”

KJV – “…repent, and do the first works…” (bertobatlah, dan lakukanlah pekerjaan-pekerjaan pertama).

Jadi, setelah kita tahu tindakan apa yang menyebabkan kita meninggalkan kasih pertama itu, maka kita harus bertobat (mengaku dosa dan membuang dosa). Setelah itu kita harus kembali melakukan ‘pekerjaan pertama’, yaitu pekerjaan yang kita lakukan pada waktu kita masih mempunyai ‘kasih yang pertama’. Mungkin saudara merasa heran akan perintah ini, karena bukankah gereja Efesus adalah orang-orang yang sudah bekerja keras bagi Tuhan? Memang, tetapi ingatlah bahwa dalam 1 Kor 13:1-3 Paulus berkata bahwa semua perbuatan baik / pelayanan tidak ada gunanya kalau tidak ada kasih. Jadi Kristus tidak menghendaki seadanya pekerjaan (asal melayani), tetapi ia menghendaki pekerjaan yang dilandasi oleh kasih kepada-Nya! Maukah saudara?

Tuhan bukan saja memberikan nasihat tetapi juga ancaman.

Wah 2:5 – “…Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat. 

Adam Clarke: Karena di sini ada gambaran kaki dian dalam Kemah Suci dan Bait Allah, yang tidak bisa disingkirkan tanpa menyingkirkan seluruh pelayanan Imamat, maka ancaman di sini menunjukkan bahwa jika mereka tidak bertobat dsb, Ia akan membuat mereka tidak mempunyai gereja; mereka akan tidak mempunyai pendeta, tidak lagi mempunyai Firman dan sakramen, dan tidak lagi mendapatkan kehadiran Tuhan Yesus.

Ancaman yang sama diberikan kepada seluruh gereja Tuhan termasuk kita. Jikalau kita sampai kehilangan kasih mula-mula kita baik kepada Tuhan maupun sesama, dan kita tetap tidak mau bertobat, maka Tuhan akan mencabut kaki dian itu dari kita sehingga gereja kita menjadi musnah dan hanya tinggal kenangan saja. Dalam faktanya ancaman Tuhan ini berlaku. Gereja Efesus akhirnya musnah dari dunia ini dan sekarang hanya tinggal puing-puing sejarah saja.

Steve Gregg - Memang, sekarang tidak ada kota atau gereja di lokasi Turki yang dulunya adalah Efesus. Islam telah ditegakkan di daerah di mana Paulus pernah memberitakan Injil secara menyeluruh (Kis 19:10). Alangkah berbedanya sejarah dari daerah itu, andaikata gereja itu terus mempraktekkan kasih mula-mulanya. (Ef 1:15).Revelation: Four Views : A Parallel Commentaryhal. 65)

John Stott: Ia memperingati mereka bahwa jika mereka tidak mentaati perintah-Nya, dan tidak bertobat, keberadaan gereja mereka akan diakhiri secara memalukan…. Tidak ada gereja yang mempunyai tempat yang aman dan permanen dalam dunia. Gereja diuji secara terus menerus. Jika kita menilai dari surat yang ditulis oleh Uskup Ignatius dari Antiokhia kepada gereja Efesus pada awal abad kedua, gereja ini hidup kembali sesuai seruan Kristus. Ignatius menggambarkannya dengan ungkapan yang bersemangat. Tetapi belakangan gereja itu tergelincir lagi, dan pada abad pertengahan kesaksian kristennya dihapuskan. ‘Setasiun kereta api kecil dan hotel dan beberapa rumah orang miskin di Ayasaluk, yang sekarang menguasai reruntuhan kota itu, merupakan suatu gambaran / pernyataan yang hidup tentang penghakiman / hukuman / nasib tragis yang menimpa Efesus dan gerejanya’ (H.B. Swete, The Apocalypse of St. John: hal 27). Selain itu, tidak ada apapun kecuali reruntuhan dan tanah berlumpur / berawa. Seorang pelancong yang mengunjungi desa itu ‘menemukan hanya tiga orang Kristen di sana’tulis Trench (hal 81) ‘dan mereka ini tenggelam dalam ketidaktahuan dan sikap acuh tak acuh sedemikian rupa sehingga hampir tidak pernah mendengar nama Paulus atau Yohanes’. Peringatan Kristus kepada Efesus ini juga cocok bagi kita sekarang. Terang gereja kita sendiri akan dipadamkan jika kita secara tegar tengkuk bertekun dalam penolakan untuk mengasihi Kristus. What Christ Thinks of the Church, hal. 33).

Mengapa Yesus justru menghancurkan / memusnahkan gereja-Nya sendiri? Karena Bagi Yesus, gereja yang telah kehilangan kasih adalah gereja yang tidak layak untuk tetap dipertahankan.

Pulpit Commentary: Tuhan kita Yesus tidak menginginkan keberadaan lebih lama dari suatu gereja yang kasihnya menurun. Gereja yang dingin tidak mewakili dan tidak bisa mewakili Yesus dalam dunia ini; gereja itu tidak lagi mengerjakan tujuan pembentukan gereja, dan karena itu tidak ada alasan mengapa gereja itu harus dilanjutkan.

Semua ini menunjukkan pada kita bahwa kehilangan kasih pertama / semula bukanlah suatu dosa yang remeh! Ancaman dan penggenapan ini membuat kita harus secara serius dan dengan segera, membenahi gereja kita, khususnya kalau gereja kita serupa dengan gereja Efesus atau bahkan lebih jelek.

Senin, 18 Juni 2018





PESAN UTAMA KITAB KOLOSE

Surat ini ditujukan untuk menguatkan jemaat Kolose, jemaat Kristen mula-mula yang didirikan oleh Epafras, dan jemaat yang tergolong sangat baik, tetapi ada beberapa tantangan yang menggoyahkan pengharapan mereka akan Injil; untuk itulah Paulus menulis surat ini. Salah satu tantangan adalah semangat perpaduan antara ke-Yahudi-an dan Kekristenan sehingga ada peraturan-peraturan buatan manusia tentang hari raya tertentu, makanan, penyembahan malaikat, dst. Tapi selain itu, yang cukup dominan adalah tantangan dari Kekaisaran Romawi yang sedang berkuasa,  yang adalah konteks ketika Kekristenan hadir. Jemaat Kolose sebagai jemaat Kristen di luar Yerusalem, tidak mendapat hak istimewa seperti jemaat Yerusalem yang boleh beribadah kepada Yahweh sebagai satu-satunya Allah. Mereka harus tunduk pada peraturan-peraturan Kekaisaran Romawi.
Untuk kita mengerti yang Paulus tuliskan di sini, kita perlu mengerti keadaan Kekaisaran Romawi. Kekaisaran Romawi adalah negara adikuasa baru, yang mulai semakin kuat kira-kira 200 tahun belakangan sebelum Yesus datang. Mulanya sistem pemerintahan Romawi semacam republik untuk memastikan tidak ada seorang pun menjadi diktator. Tapi seiring bergulirnya waktu, pemerintahan mereka dikalahkan oleh seorang tentara panglima perang yang mengambil alih pemerintahan, bernama Julius Caesar. Ia kemudian mengubah sistem pemerintahan menjadi semacam kekaisaran. Dia bahkan menggunakan  nama keluarganya “Caesar” menjadi gelar kerajaan (maka kita mengenal kata caesar = tsar = kaisar). Dia bahkan membiarkan orang-orang melihatnya sebagai manusia setengah dewa, seperti allah.
Setelah dia terbunuh dalam satu perebutan kekuasaan, anak angkatnya --Octavianus-- menjadi penerus. Octavianus bukan sekedar menjadi penguasa tunggal dan menyandang gelar Caesar, tapi juga menambah gelar lain yaitu Augustus sehingga namanya menjadi Augustus Octavian Caesar. Augustus , artinya “yang layak untuk menerima segala hormat dan kemuliaan”. Dia bahkan meresmikan ayah angkatnya --Julius Caesar-- sebagai allah, karena di tengah-tengah zaman yang agama dan negara bercampur aduk  Octavian melihat  jalan paling baik sebagai pemerintah adalah kalau dia menjadi “the son of god”. Ketika menyandang gelar “sang anak allah”, maka semua harus menyembahnya. Dia juga mengangkat diri sebagai “sang imam besar” (Pontifex Maximus), pengantara Dewa Apollo dengan rakyat Romawi. Dia memerintahkan orang-orang di bawahnya menyebarkan propaganda yang mengisahkan suatu kisah, bahwa selama ribuan tahun Romawi penuh dengan kesusahan, liku-liku, dan tantangan, sampai akhirnya muncul “sang anak allah” yang akan mendatangkan perubahan, perdamaian, kemakmuran, kesejahteraan --Pax Romana-- kedamaian bagi Romawi. Kisah inilah, bahwa ada satu orang yang akan menjadi raja, dan ketika dia menjadi raja, maka seluruh negara akan damai, yang menyebar ke seluruh Romawi. Dan inilah yang dikatakan sebagai “kabar baik” yang diukir di monumen-monumen di Romawi: “inilah kabar baik itu: kita memiliki seorang Caesar, maka keadilan, damai, keamanan, kemakmuran adalah bagi kita untuk selama-lamanya, karena anak allah telah menjadi raja dunia; kelahiran anak ini disambut oleh seluruh alam semesta --lautan, bumi, udara-- semuanya memuji dan menyembah sang anak allah yang memberi perdamaian ini”.
Setelah Octavian meninggal, Tiberius (anaknya) menggantikan dan menyandang gelar yang sama: “Augustus Tiberius Caesar”. Wajahnya terpampang di setiap koin, dan tertulis di situ ”Augustus Tiberius Caesar, anak allah, sang ilahi”, dan di bagian baliknya digambarkan dirinya berjubah imam dengan gelar Pontifex Maximus (imam besar).
Inilah gambaran yang diajarkan dalam Kekaisaran Romawi waktu itu. Gambar-gambar para caesar --sang anak allah-- diukir di mana-mana, di pemandian umum, tempat-tempat gymnastic, bahkan di vas-vas bunga yang dipajang di rumah. Dan melalui sang anak allah ini, Dewa Apollo menyatakan kepenuhan keilahiannya secara jasmani. Jika kita telah mengerti latar belakang ini, maka kita melihat bahwa dalam surat Kolose ini ada suatu pemberontakan terhadap kisah-kisah tersebut. Tapi mengapa propaganda semacam itu berhasil? Mengapa banyak orang di Romawi yang dari berbagai macam bangsa dan agama akhirnya tunduk?
Alasan pertama, mungkin kita tunduk karena kita termasuk orang yang diuntungkan oleh sistem tersebut. Mungkin sebagai pedagang yang karena ikut menyembah dewa tertentu, membayar pajak kepada kaisar, kita akhirnya mendapat keuntungan-keuntungan yang diberikan oleh kaisar. Atau mungkin juga tunduk karena takut. Perdamaian yang dibawa oleh Caesar Romawi adalah perdamaian yang datang dengan pedang. Dalam koin yang menggambarkan hal ini, di satu sisi tertulis Pax Romana, lalu di sisi sebaliknya adalah gambar dewa perang. Maka ada orang-orang yang mungkin tidak diuntungkan, orang-orang yang tertindas, yang mau tidak mau juga tunduk karena takut. Mereka takut tidak bisa survive sehingga akhirnya mereka tunduk.
Tapi satu hal  yang paling mendasar yaitu: jikalau kisah --yang disebarkan dalam propaganda-- semacam itu akhirnya bisa menarik banyak orang, alasan utamanya adalah bahwa kisah itu menujuk satu realita yang sebenarnya diidam-idamkan banyak orang, satu pengharapan akan adanya “sang raja” yang datang untuk membebaskan umatnya dari segala kesulitan. Itu adalah kisah-kisah yang diceritakan selama ribuan tahun dalam sejarah manusia yang akhirnya menjadi begitu populer, misalnya juga  kisah Robinhood, King Arthur, Lord of The Rings, The Return of The King. Kisah-kisah yang menceritakan bahwa ketika sang raja tidak bertakhta, maka negaranya jadi berantakan, penuh kuasa kejahatan, kacau balau, penuh kemiskinan dan penderitaan, dst.; lalu ketika raja yang sah kembali, maka ada perdamaian, kemenangan, pemulihan. Ini adalah satu pola kisah yang terukir dalam hati setiap manusia.
Tolkien, pengarang cerita Lord of The Rings, pada suatu hari ketika berjalan-jalan di taman bersama C.S. Lewis, sahabatnya, berbincang-bincang mengenai hal ini (Tolkien adalah orang Kristen, dan waktu itu C.S. Lewis belum menjadi Kristen). Tolkien mengatakan, bahwa dia sedang berusaha menghidupkan kembali kisah-kisah seperti ini yaitu kisah-kisah semacam superhero, juruselamat, fairy tales. Tapi kritik di zaman tahun lima puluh-enam puluhan pada waktu itu mengatakan yang sama dengan zaman sekarang ini, bahwa kisah-kisah semacam itu --yang menyatakan adanya superhero, happy ending ever after-- tidak lagi menarik, terlalu kekanak-kanakan, naif, terlalu melarikan diri dari realita; itu seperti kisah Disney! Kisah yang menarik sekarang adalah kisah-kisah realita yang di dalamnya kebaikan dan kejahatan adalah relatif. Kisah yang tidak ada cerita superhero datang dari langit, yang ada adalah kita harus berjuang menjadi juruselamat diri kita sendiri.
Film-film zaman sekarang menunjukkan hal seperti itu, contohnya “Batman Versus Superman”. Film itu terlihat berbeda dari film-film Batman atau Superman generasi pertama, karena di situ mengisahkan superhero yang lebih real. Di film itu, yang namanya Superman bukanlah superhero yang ideal, juga Batman, masing-masing punya kepentingan pribadi. Superman mau bertempur melawan musuh, bukan karena ingin menyelamatkan dunia tapi semata-mata karena dia mengasihi seorang wanita bernama Lois Lane. Batman begitu berani melawan Superman karena dia orang yang tidak mudah percaya; orang yang takut dan agak psikotik sehingga setiap orang yang lebih hebat dari dirinya, harus dia kalahkan. Keduanya sama-sama makhluk yang lemah, tidak tahu yang baik dan yang salah, tapi mencoba melakukan yang terbaik menurut yang mereka pikirkan. Kedua superhero dalam film itu dihadirkan dalam gambaran yang real, tidak ideal, bisa kejam juga dan melakukan hal-hal yang pesimistik.
Ketika orang menonton film-film yang gayanya seperti ini, mereka akhirnya orang merasa mendapatkan suatu kesegaran. Mengapa? Karena selama ini mereka melihat kisah-kisah juruselamat, happy ending, kemenangan bagi yang baik, dan mereka justru merasa pesimis dan ditipu karena realitanya dunia penuh kejahatan dan sia-sia. Kisah-kisah itu seperti mimpi di siang bolong, seperti harapan naif seorang anak kecil. Tapi Tolkien mengatakan bahwa ia tetap akan membangkitkan kisah-kisah semacam ini, karena kisah-kisah semacam itu menunjuk pada satu realita yang setiap orang tahu, yang terukir dalam hati setiap manusia, bahwa betul ada yang namanya Sang Raja. Sang Raja sejati yang memang sekarang belum bertakhta sepenuhnya, tapi ketika nanti Dia kembali mengklaim hak-Nya, maka semua kejahatan akan sirna. Dan realita itu adalah INJIL. Injil yang adalah kisah Yesus Kristus, Anak Allah, yang datang ke dunia untuk akhirnya mati disalibkan, namun bangkit dan naik ke surga, duduk di atas takhta-Nya, di sebelah kanan Allah Bapa, dan Dia akan datang kembali. Dan ketika Dia datang kembali, Dia akan datang dengan segala kemuliaan-Nya. Siapakah Raja itu? Adakah raja semacam itu? Jawabannya: ada, Yesus Kristus.
Di tengah-tengah Romawi mengatakan: “Yang paling utama adalah Caesar”, Paulus mengatakan “Bukan! Yang paling utama ialah Yesus Kristus”. Romawi mengatakan: “Caesar adalah gambar allah yang tidak kelihatan”, Paulus mengatakan: “Bukan! Gambar Allah yang tidak kelihatan adalah Yesus Kristus”. Romawi mengatakan: “Caesar adalah anak allah”, Paulus mengatakan: “Bukan! Anak Allah yang sejati, yang seluruh keilahian Allah berdiam dalam tubuh jasmaniah, adalah Yesus Kristus. Dialah Raja yang telah memindahkan kita umat-Nya dari kerajaan kegelapan, menuju kerajaan terang. Dialah yang paling utama, bahkan sebelum Caesar ada, sebelum dunia ada, Dialah yang paling utama dari segala yang diciptakan. Dialah yang sulung, Dialah kepala dari segala sesuatu. Segala pemerintah penguasa dunia telah Dia taklukkan, dan semuanya Dia permalukan di hadapan umum.
Maka, apakah Injil itu? Injil adalah kisah ketika Allah, Pencipta langit dan bumi, meng-klaim kembali yang menjadi milik-Nya, yaitu kita, ciptaan-Nya, dunia dengan segala isinya. Dia mengatakan “dosa tidak lagi berkuasa”. Dia mengatakan bahwa setan bukan lagi pangeran dunia, tapi Yesus Kristus Sang Pemilik kebun anggur yang sejati. Dialah yang akan datang, bertakhta di tengah-tengah dunia, di bawah pemerintahan-Nya akan ada damai sejahtera, kerajaan yang turun temurun, yang kekal adanya. Inilah Injil.
Injil bukan sekedar kisah manusia berdosa diampuni, diperdamaikan dengan Allah yang suci. Betul itu bagian dari Injil, tapi sebetulnya gambaran besar Injil adalah Allah menjadi Raja, Yesus Kristus Anak Allah Sang Raja sejati yang telah datang ke dunia, Dialah yang bertakhta. Kol 3 mengatakan “Yesus Kristus yang sudah mati  dan bangkit akan datang kembali dengan segala kemuliaan-Nya”. Siapakah Dia? Dia adalah Raja yang sudah ada sejak dunia belum diciptakan. Dia adalah Raja yang pernah datang 2000 tahun lalu, yang mati dan bangkit. Dan Dia adalah Raja yang akan datang kembali. Jika masa lalu kita menyembah Yesus yang seperti itu, masa depan kita menyembah Yesus yang akan datang, maka sekarang apa yang harus kita kerjakan sebagai umat Tuhan? Paulus mengatakan: “Lihatlah kepada Kristus, yang sekarang bertakhta di sebelah kanan Allah Bapa”. Lihatlah kepada perkara yang di atas, dan biarlah hidupmu sekarang ini --yang didasari pada apa yang telah Kristus kerjakan, yang memiliki pengharapan pada yang Kristus akan kerjakan-- tersembunyi di dalam Kristus.
Apa maksudnya “tersembunyi di dalam Kristus”? Ke-tersembunyi-an orang Kristen akan jadi salah kalau orang melihat bahwa orang Kristen sama saja dengan orang dunia. Orang Kristen harusnya tampil beda di tengah-tengah dunia. Tapi kekristenan juga dikatakan “tersembunyi” karena Kristus pun tersembunyi. Kristus sebagai Raja dunia adalah sesuatu yang tersembunyi. Waktu jemaat Kolose membuka matanya, yang mereka lihat raja adalah Caesar; yang berkuasa adalah Kerajaan Romawi, bukan Kerajaan Allah. Mengapa pemerintahan-Nya begitu tersembunyi sehingga ketika orang melihat kita, mereka menghina; mereka bukan tunduk kepada kemuliaan Kristus tapi meludahi Kristus?
Ketika kita hidup di tengah-tengah dunia dan beriman bahwa Kristus adalah Raja, maka 2 hal yang perlu kita lihat. Pertama, ketika Kristus datang kembali Dia menghancurkan kuasa dosa. Kol 3 mengatakan, dulu kita hidup dalam dosa sebagai manusia lama; ketika kita melihat kepada Sang Raja meminta untuk ditolong dan Sang Raja itu menjadi Juruselamat kita, maka Dia mematikan manusia lama kita, Dia menghancurkan dosa. Dia memperdamaikan kita dengan  Allah tapi Dia juga mengubah diri kita, dari manusia lama menjadi manusia baru. Ketika Kristus datang ke dunia, Dia mati di kayu salib. Dia mati karena dosa, bukan berarti Dia kalah terhadap dosa. Dia mati karena dosa supaya dalam kematian-Nya, upah dosa yang adalah maut itu dikalahkan. Kristus datang untuk mengalahkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekedar Kerajaan Romawi. Dia datang untuk mengalahkan kuasa kegelapan, kerajaan kegelapan, yang senjata paling mematikannya adalah kematian, yang adalah upah dosa.  Bagaimana Dia mengalahkannya? Bukan dengan pedang, tapi dengan Dia sendiri yang mati. Supaya ketika Dia sudah mati, mengalami yang menjadi senjata musuh itu, Dia bangkit dan mengatakan “senjatamu sekarang sudah kehilangan sengatnya. Aku sudah mengalahkan kematian. Aku sudah mengalahkan dosa. Aku menghadirkan di tengah-tengah dunia ini, suatu kuasa yang baru, yang bisa mengalahkan kematian sekalipun, yaitu kuasa kebangkitan. Dan kuasa itulah yang Kuberikan kepadamu”.
Jikalau pada zaman dulu orang Yahudi tidak kompromi dengan Caesar karena mereka percaya bahwa satu-satunya Raja adalah Yahweh, Pencipta langit dan bumi, maka pertanyaan kita: bagi orang Yahudi, bagaimana Yahweh memerintah sebagai Raja di tengah-tengah dunia? Mereka percaya bahwa Allah memerintah di tengah-tengah dunia ini dengan melalui Kerajaan Israel, khususnya Bait Allah. Ketika Salomo berhasil merebut seluruh tanah perjanjian menjadi milik Israel, Allah mengatakan kepadanya untuk mendirikan satu bait yang di situ Allah akan meletakkan nama-Nya, “Aku akan tinggal di tengah-tengah kamu; Aku sebagai Allahmu dan engkau sebagai umat-Ku”. Lalu setiap bangsa yang datang kepada Israel sebagai teman, mereka akan medapat berkat, tapi yang datang sebagai musuh akan medapat kutuk. Itulah caranya Allah bertakhta, bagi orang Yahudi.
Tapi kemudian Bait Allah yang didirikan Salomo dihancurkan oleh Babel. Kemuliaan Allah meninggalkan bait-Nya karena umat-Nya telah berdosa. Dosa membuat Allah pergi dari takhta-Nya. Ketika Bait Allah hancur, Israel pun hancur. Mereka terus berdoa menantikan pengampunan dosa dan pemulihan sampai kemudian 70 tahun setelah itu, Bait Allah yang kedua didirikan di bawah pemerintahan Zerubabel. Maka mereka mengatakan, “Allah kembali bertakhta di tengah-tengah kita”. Tapi mereka juga bingung karena mereka masih berada dalam pemerintahan orang-orang kafir sampai ketika Kerajaan Romawi berkuasa atas mereka. Mereka melihat  Antiokhus Epifanes masuk bait Allah dan memotong babi di situ. Mereka melihat orang-orang lain berulang kali menajiskan Bait Allah, mendirikan patung Zeus di situ, dst. Dan berulang kali mereka berusaha merebut Bait Allah kembali, sampai akhirnya pada tahun 70 dihancurkan oleh Romawi. Oleh karena itu, Allah yang bertakhta di tengah-tengah dunia menjadi satu pertanyaan bagi mereka.
Bagi orang Kristen, bagaimana Allah bertakhta di tengah-tengah dunia ini? Ketika kita memberitakan Injil kepada orang Romawi, orang dunia ini, “Kristus yang kami sembah adalah Raja”, apa maksudnya? Allah meninggalkan Bait-Nya karena dosa, maka Kristus datang untuk mengalahkan dosa. Dia datang bukan sekedar untuk mendirikan Bait Allah secara fisik dan politik, tapi untuk menghancurkan kuasa yang paling mendasar yaitu dosa. Dan ketika Dia menghancurkan kuasa dosa itu dalam diri kita setiap umat-Nya, maka dikatakan “kita adalah bait  Allah”. Kita adalah bejana, yang melalui kita, Allah bertakhta di tengah-tengah dunia ini. Takhta-Nya tidak kelihatan secara kasat mata, tapi dalam diri kita ada satu kuasa yang baru, kuasa yang mengalahkan dosa, kuasa yang menyatakan bahwa hidup kita bukan lagi milik segala dewa yang disembah orang Romawi tapi milik Sang Raja sejati, Kristus.
Oleh karena itu Paulus mengatakan, “Matikanlah manusia lama. Jangan lagi hidup dalam segala hawa nafsu, percabulan, nafsu jahat, keserakahan, kedengkian, kata-kata yang kasar, dst.” Ini adalah ajakan bagi jemaat Kolose dan bagi kita, untuk kita hidup sebagai umat yang tidak lagi menyembah yang disembah orang Romawi, tapi menyembah Raja Yang Sejati. Mungkin kita tidak menyembah Dewa Mamon yang disembah orang Romawi, tapi kita menyembah uang. Mungkin kita tidak menyembah Dewi Aphrodite, tapi kita menyembah hawa nafsu seks kita. Mungkin kita tidak menyembah Mars, dewa perang yang disembah Romawi, tapi kita menyembah satu kuasa yang kita idam-idamkan dalam hidup ini.
Hidup ini adalah peperangan. JIkalau Kristus adalah Raja, jikalau Injil yang didalamnya kita memiliki pengharapan Kristus adalah Raja, maka bagaimana kita harus hidup? Kita harus hidup pertama-tama dengan mematikan manusia lama kita. Kita harus hidup pertama-tama dengan mengatakan “hidupku bukan milik segala dewa ini itu, tapi semata-mata milik Allah”. Aku akan menjalani hidup ini, meski dengan tantangan, godaan, bujukan untuk kompromi di tengah-tengah pekerjaan atau keluarga kita, dengan mengatakan, “Meskipun aku harus mati, aku tidak akan menyembah dewa dunia ini.” Sama seperti orang Kristen yang menghadapi tantangan untuk menyembah berhala ini itu demi sukses bisnis, atau soal seks atau kuasa, kita seringkali digoda untuk menyembah hal-hal yang bukan Tuhan sendiri.
Apa yang bisa mendorong kita untuk terus setia? Kita harus senantiasa melihat kepada Kristus yang ada di atas bukan di bawah, Kristus yang memang tersembunyi. Kita harus terus mengingatkan diri akan siapa Raja kita, entah kita berada di tengah-tengah dunia, atau kita berada di kuil sembahan orang lain. Itulah sebabnya penting untuk kita senantiasa belajar taat bergumul dengan firman, setia di dalam doa. Karena waktu kita saat teduh, berdoa, itu sebenarnya satu bentuk ibadah kepada Siapa kita abdikan seluruh hidup ini. Ketika bangun pagi, kita harus belajar melihat segala yang kita alami di tengah dunia ini yang mencoba menarik pengabdian saya kepada Raja yang sejati,  yang bisa mengingatkan kepada siapa saya harus mengabdi.
Cara lain, tentu dalam ibadah publik seperti ini. Ketika kita beribadah, itu sebetulnya satu kesempatan kita mengingatkan diri, Siapa Raja yang kita sembah. Maka sangat disayangkan sekali kalau kita datang ibadah terlambat. Ketika ibadah dimulai, votum dibacakan, misalnya dengan Mazmur “Sambutlah Dia dengan gambus, kecapi dan rebana. Lihatlah Dia yang jubah-Nya semarak cahaya”, atau dengan kitab Wahyu “Engkaulah yang layak menerima segala hormat, pujian, dan sembah”, maka kita bangkit berdiri seperti menyambut Sang Raja yang masuk di tengah-tengah ruang ibadah kita, dan kita diajak menyembah Dia. Itulah ibadah. Kita beribadah bukan sekedar untuk mendengarkan kotbah, menambah pengetahuan, dst. tapi menyembah Raja kita. Baik saya yang berbicara maupun bapak ibu yang mendengarkan, kita semua sedang menyembah Satu Raja yang telah datang, yang sekarang bertakhta, dan yang akan datang.
Cara kedua untuk kita melihat Kristus bertakhta, bukan sekedar dengan mengalahkan kuasa dosa mematikan manusia lama dalam diri kita tapi Kristus bertakhta juga melalui kita, memperbaharui manusia baru kita. kita dipanggil untuk terus menerus mengenakan manusia baru, karena manusia baru yang diberikan kepada kita adalah satu gambaran kehadiran Kristus di tengah-tengah dunia ini. Betul Dia pernah datang, orang pernah melihat dan menjamah Dia; betul Dia adalah Allah yang menjadi daging, berkemah di tengah-tengah umat-Nya, tapi sekarang Kristus sekarang sudah naik ke surga, bagaimana orang bisa melihat Kristus bertakhta? Melalui kita sebagai umat-Nya, yang adalah bait Allah; kita, yang memiliki darah dan daging, yang melanjutkan apa yang pernah Kristus kerjakan di tengah-tengah dunia, menghadirkan satu kerajaan baru yang bukan diwarnai dengan pedang, kebencian, hawa nafsu, tapi diwarnai satu semangat yang lain, yaitu kasih. Ketika kita menghidupi hukum kasih, maka kita sedang mengenakan manusia baru kita. Manusia baru yang diwarnai bukan dengan self-centeredness, bukan dengan bagaimana aku bisa menikmati dan mendapatkan keuntungan sekalipun harus menginjak-injak orang lain, melainkan kasih. Mengapa? Karena Kristus pun datang sebagai Raja bukan dengan kebencian yang dimiliki orang Yahudi, bukan dengan satu semangat reformasi kaum Zionis, bukan dengan kuasa seorang raja yang arogan, egois, dan dingin seperti kaisar-kaisar Romawi. Dia datang dengan kuasa yang disebut sebagai kasih, kuasa yang tersembunyi dalam satu wujud yang kelihatannya lemah. 
Dalam filsafat zaman itu, yang dianggap sebagai virtue adalah keberanian, keadilan, kemampuan untuk bisa mengontrol diri, hikmat bijaksana kita menghadapi segala tantangan. Sedangkan kasih adalah sesuatu yang konyol, yang lemah dan bodoh, karena kasih berarti harus mengampuni musuh, kasih berarti harus memperhatikan musuh, kasih berarti kita harus membuka diri terhadap serangan-serangan yang mungkin datang. Tapi itulah yang Kristus kerjakan. Dia datang membiarkan diri-Nya mati di kayu salib. Dia datang untuk menolong yang lemah, memberikan pengampunan, belas kasihan.
Maka Paulus mengatakan kepada jemaat Kolose, kepada orang Kristen, mari kita hidup bukan dengan hawa nafsu, bukan dengan keserakahan dan menindas orang lain, tapi dengan belas kasihan, compassion, suatu hati yang diberikan, yang ikut hancur ketika mendengar tangisan orang-orang di tengah-tengah dunia ini. Zaman sekarang begitu banyak berita-berita tragis yang disiarkan di TV maupun radio, tapi itu justru bukan membuat kita semakin berbelas kasihan melainkan semakin seperti batu, tidak peduli. Tapi yang dikatakan Paulus adalah agar kita belajar untuk punya compassion. Ini sesuatu yang harus dilatih.
Virtues yang disampaikan Paulus bukan otomatis diberikan pada kita karena Kristus sudah bertakhta, melainkan setelah manusia lama dimatikan satu kali untuk selamanya maka manusia baru itu terus menerus diperbaharui. Artinya, itu suatu proses, kita perlu ketekunan untuk melatih kasih, melatih berbelas kasihan. Kita perlu memaksa diri untuk membuka mata dan telinga bagi orang-orang di sekitar. Kita perlu belajar menujukkan kindness (kemurahan), yang sangat kontras dengan semangat dunia yang selalu mencari keuntungan.  Kita harus belajar lemah lembut, bukan untuk melindungi diri melainkan untuk merangkul orang lain. Kita belajar sabar terhadap mereka yang hampir tidak bisa ditolerir. Kita belajar rendah hati karena kita sadar bahwa semua bukan karena kita hebat melainkan anugerah. Dan terutama kita belajar untuk mengampuni orang yang tidak layak menerima pengampunan kita.
Bagaimana kita bisa menghidupi semua itu? Kita harus punya kasih; belajar mengasihi sebagaimana Kristus mengasihi kita. Kasih itu satu macam kuasa yang kelihatannya lemah, tapi sebetulnya itu kuasa yang akhirnya mendatangkan perubahan begitu besar di tengah-tengah dunia ini.
Julius Caesar memiliki pencapaian yang besar dalam hidupnya. Alexander The Great  memiliki pencapaian yang besar dalam hidupnya sehingga ketika mati ia dikenang sebagai “the great”. Ilmuwan-ilmuwan --Einstein, Thomas Alfa Edison-- kita ingat nama-namanya karena mereka meiliki pencapaian-pencapaian yang luar biasa. Tetapi Yesus Kristus dari Nazaret dalam masa hidupnya hanya mengumpulkan sebagian kecil orang-orang --pemungut cukai, nelayan, wanita-wanita-- dan akhirnya mati di tengah-tengah penjahat sebagai penjahat. Orang yang mati sebagai penjahat, biasanya namanya tidak diingat. Lalu apa yang menjadikan kekristenan mayoritas di tengah-tengah dunia ini? Apa yang membuat  500 tahun setelah kematian Yesus, nama-Nya tetap diingat? Apa yang membuat  1000 tahun setelah kematian-Nya, gereja-gereja di Eropa didirikan atas nama-Nya? Apa yang membuat  2000 tahun setelah kematian-Nya, waktu kita pergi KKR Regional ke desa terpencil, kita bisa mendengar anak-anak kecil menyanyi “Yesus aku berjanji pada-Mu”? Apa yang membuat Orang yang begitu tersembunyi ini menjadi Orang yang paling disembah oleh paling banyak manusia di dunia? Salah satunya adalah kesaksian jemaat mula-mula.
Abad 3 dan 4 ada begitu banyak bencana wabah penyakit terjadi sehingga orang bahkan mengusir keluarganya sendiri yang sakit dan membiarkan mati di tengah jalan, karena jika tidak, mereka semua ikut tertular dan mati. Dewa Zeus yang mereka sembah tidak pernah mengajarkan apa yang harus mereka lakukan kepada orang-orang sakit itu.  Tapi ada satu kelompok minoritas yang ingat siapa Allah yang mereka sembah, siapa Raja mereka, yaitu Seorang Raja yang turun dari takhta-Nya, Dia datang ke dunia, Dia menyentuh orang kusta, orang miskin, wanita yang pendarahan, dst. Dia membiarkan diri-Nya  dimanfaatkan oleh dunia ini. Ketika mereka ingat itu, maka mereka turun ke jalan, mengundang orang-orang yang dibuang itu masuk ke rumah, menyediakan makanan, menghibur, dan  akhirnya mati bersama-sama orang-orang sakit itu. Father Damien, seorang pastor yang menampung orang-orang sakit kusta, setiap hari ia mengatakan kepada mereka “Yesus mengasihi kalian orang kusta” sampai suatu hari ia mengatakan “Yesus mengasihi kita orang kusta”. Ia seorang yang menyatakan kasihnya dengan turun dan sama-sama menanggung penderitaan dunia, karena dia memiliki kasih.
Sebelum Yesus mati, satu perintah baru yang diberikan kepada para murid-Nya ialah: “Kasihilah seorang akan yang lain, sebagaimana Aku mengasihi kamu”. Perintah yang kelihatan sederhana, ternyata justru menjadi perintah yang mengubah wajah dunia. Jikalau pada zaman Kerajaan Romawi ketika Kristus di dunia, para wanita, budak, anak-anak, adalah orang-orang yang tidak dianggap, maka hari ini kita melihat adanya hak asasi manusia, ada kesamaan hak wanita, anak-anak, dan pria; kita melihat dihapuskannya perbudakan, kita melihat  rumah sakit yang menampung orang-orang kusta dan mereka yang tidak mampu. Semua itu adalah karena Kristus yang bertakhta di tengah-tengah dunia ini. Kristus yang mengubah dunia ini bukan dengan senjata militer, politik, ekonomi, tapi semata-mata dengan kasih. Kasih yang dinyatakan oleh engkau dan saya.
Ketika dunia tidak melihat Kristus, ketika dunia terus melawan Kristus, mungkin itu karena kita belum cukup menyatakan Kristus di tengah-tengah dunia;  mungkin karena kita belum cukup menjadi Tubuh Kristus sebagai darah dan daging. Tapi adalah satu pengharapan ketika kita melihat kepada Kristus, Sang Raja sejati, Dialah yang terus memperbaharui manusia baru kita dan Dialah yang pasti satu hari nanti akan datang dalam kemuliaan. Maka biarlah kita menantikan hari itu, kita hidup saat ini, dengan tersembunyi di dalam Kristus, menyatakan Kristus dalam kasih-Nya.

Minggu, 17 Juni 2018

Ulangan 6:4-9. Mendidik Lewat Hidup

Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.
Jika orang Kristen memiliki Pengakuan Iman Rasuli sebagai pengakuan imannya, maka orang Israel memiliki Ulangan 6:4-5 yang dikenal sebagai SHEMA Israel. Shema sendiri adalah bahasa Ibrani yang artinya “dengarlah”. Disebut Shema, karena memang rumusan pengakuan itu diawali dengan seruan “Dengarlah.”
Dalam ayat 4 dinyatakan bunyi SHEMA tersebut, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” Kata Esa disini berbeda pengertiannya dengan Esa sebagaimana dipahami dalam Agama Islam. Kata Esa disini berasal dari bahasa Ibrani “ekhad”, dan kata yang sama digunakan dalam Kejadian 2:24, “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu (ekhad) daging.
Jadi kata Esa dalam Ulangan 6:4 dapat dipadankan dengan kesatuan suami dan isteri. Jadi dalam keesaan TUHAN ada kejamakan [Dan dalam kejamakan itu ada relasi yang eksklusif (jangan ada Allah lain padamu!), seperti halnya suami-isteri memiliki relasi yang eksklusif].
Orang-orang Kristen mengakui bahwa Ulangan 6:4 adalah Firman Allah. Kita menerima Perjanjian Lama adalah Firman Allah. Karena itu, kita pun mengakui bahwa pewahyuan bahwa TUHAN Allah kita itu Esa. Kalau orang bertanya, “Ada berapa Allahnya orang Kristen?” Kita dengan tegas menjawab, “Allah kita itu Esa!” Tapi keesaan disini dipahami berbeda dengan keesaan menurut Agama Islam. Orang Islam mungkin memahami Esa sebagai tunggal, tapi kita memahami kata Esa sebagai kesatuan dalam kejamakan.
Dalam Perjanjian Baru, kejamakan ini menjadi lebih tegas diwahyukan. Karena itu kita mengenal konsep Allah Tritunggal, yaitu Allah yang Esa, menyatakan diriNya dalam Tiga Pribadi yang berbeda. Allah Bapa bukan Allah Anak; Allah Anak bukan Allah Roh Kudus; dan Allah Roh Kudus bukan Allah Bapa. Namun ketiganya ini ada dalam relasi kasih yang satu dan tidak mungkin terpisahkan.
Karena itu, ketika harus berbicara soal kasih, maka orang Kristenlah yang paling mengerti, karena Allahnya telah meneladankannya. Kalau dalam kekekalan itu, Allah hanya tunggal dan sendirian; maka ketika dikatakan bahwa Ia mengasihi, maka apa buktinya? Mengasihi itu perlu adanya subyek dan obyek! Harus ada obyek yang dikasihi. Allah yang dipercaya orang Kristen adalah Allah yang dari sejak kekekalan adalah Tritunggal. Kalaupun Ia tidak menciptakan manusia, Ia tidak akan kesepian. Di dalam kekekalan, Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus, saling mengasihi dengan kasih yang kekal. Itu sebabnya, ketika Allah itu menciptakan manusia, manusia mendapatkan pola bagaimana mengasihi, dari Allah sendiri.
Di ayat 5, SHEMA juga berbunyi, “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Orang Kristen mungkin untuk mengasihi karena Allah yang mereka sembah meneladankan lebih dahulu bagaimana mengasihi. Terhadap Allah yang telah terlebih dahulu mengasihi umatNya, maka umatNya pun diperintahkan untuk mengasihi Allah!
Tetapi Allah itu abstrak; tidak terlihat! Lalu bagaimana manusia dapat secara konkret menyatakan kasihNya kepada TUHAN Allah? Ayat 6-7 menunjukkannya kepada kita, “Apa yang kuperintahkan kepadamu hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya….” Jadi bagaimana wujud konkret kita mengasihi TUHAN Allah? Dengan memperhatikan Firman Allah dan mengasihi sesama kita, secara khusus anggota keluarga kita sendiri, yaitu anak-anak kita.
Dicatat dalam ayat 7 istilah “mengajarkan”! Mengapa istilah yang dipakai adalah istilah mengajar? Bukankah istilah mendidik lebih baik? Apa bedanya mengajar dan mendidik? Seorang Psikolog menjelaskan bahwa mengajar itu hanyalah sebatas transfer of knowledge, sedangkan mendidik pada hakekatnya adalah relasi. Jadi harus ada relasi antara pendidik dan yang dididik. Ini berbicara juga masalah keteladanan yang dapat diberikan oleh pendidik kepada yang dididik. Jika demikian, apakah ini berarti Firman TUHAN hanya mengajarkan sesuatu yang dangkal saja? Sesuatu yang bersifat transfer of knowledge saja?
Kalau kita membaca ayat 7-9, maka kita mendapati bahwa transfer of knowledge disini juga melibatkan keseluruhan hidup si pendidik. Ini dapat kita baca dari kalimat, “membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring, dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu, dan pada gerbangmu.” Jadi Firman Tuhan itu harus dibicarakan saat di dalam rumah; di luar rumah; ketika hendak tidur; maupun ketika bangun tidur. Jadi dalam seluruh aktivitas kita ketika terjaga, Firman TUHAN harus senantiasa diajarkan.
Dalam Ulangan 11:18-20 juga dicatat, “Tetapi kamu harus menaruh perkataanku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu; kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu. Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring, dan apabila engkau bangun; engkau harus menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.” Jadi, si pendidik sendiri harus menaruh Firman Allah dalam hati dan jiwanya sendiri, sebelum mengajarkannya kepada peserta didik.
Dari dua bagian ayat ini, kita memahami bahwa perintah untuk mengajarkan Firman Allah dalam Kitab Ulangan ini, melibatkan keseluruhan hidup si pendidik juga, dan menuntut adanya sebuah keteladanan. Si pendidik sendiri, dalam hal ini orangtua, harus hidup dalam Firman Allah. Jadi proses transfer of knowledge yang terjadi sebetulnya bersifat pendidikan, dan tidak hanya bersifat pengajaran kognitif belaka.
Orang-orang Yahudi memahami bagian Firman ini secara harafiah. Mereka betul-betul mempraktekkan untuk mengikatkan Firman Tuhan pada lengan dan dahi mereka. Dalam upacara agama Yahudi tertentu, ada kotak kecil berisi Firman Tuhan yang diikatkan di dahi mereka. Namun ini tentu bukan yang dimaksudkan Firman Tuhan disini. Tangan melambangkan kerja, sedangkan dahi melambangkan pikiran. Jadi dalam pikiran dan tindakan/kerja kita, kita harus hidup dalam Firman Tuhan.
Kata kunci lain yang penting dari bagian ini adalah kata “berulang-ulang”. Sebetulnya dalam teks Ibraninya, frasa “berulang-ulang” tidak ada. Dalam teks Ibrani, kalimatnya hanya berbunyi “Haruslah engkau mengajarkannya”. Hanya saja, dalam kata “mengajarkannya”, tenses/penanda waktu yang digunakan menunjukkan tindakan yang berlangsung terus-menerus. Karena itu, penerjemah LAI menegaskan kata mengajarkan dalam ayat ini, dengan frasa “berulang-ulang.”
Frasa “berulang-ulang” disini hendak menekankan bahwa proses pendidikan itu harus betul-betul mengakibatkan adanya nilai-nilai yang terukir (impress) dalam diri peserta didik. Orang dewasa saja perlu diperingatkan secara berulang-ulang, apalagi anak-anak. Kita manusia memang sering lupa, melupakan, atau pura-pura lupa. Karena itu, seringkali ada bagian Firman Tuhan yang sudah berkali-kali kita dengarkan, tetapi toh senantiasa penting untuk diajarkan lagi dan lagi.
Jadi, dari semua pelajaran ini, kita belajar beberapa hal. Pertama, kita mampu mengasihi karena Allah telah terlebih dahulu memberikan teladan kita untuk mengasihi. Kedua, wujud konkret kita untuk belajar mengasihi, dimulai dengan belajar mengasihi orang-orang terdekat kita, secara khusus anak-anak kita. Dan ketiga, mengasihi anak-anak kita diwujudkan dengan mendidik mereka secara intens, dan melibatkan seluruh hidup serta keteladanan kita.
(Disampaikan dalam persekutuan Rayon Filadelfia GK Kalam Kudus Jayapura, Jumat/17 Mei 2013).

Selasa, 05 Juni 2018

BERTOLONG-TOLONGANLAH MENANGGUNG BEBANMU

(Galatia 6:2)
“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu…” Kalimat ini pertama sekali dialamatkan Rasul Paulus kepada jemaat Kristen di Galatia, setelah terlebih dahulu mencela tindakan mereka yang terkesan berubah-ubah. Paulus kesal mendengar berita tentang keadaan jemaat yang begitu cepat berubah mundur. Mereka berbalik kepada injil yang lain. Ada pihak tertentu yang menjadikan orang-orang Galatia kebingungan. Paulus sangat marah kepada mereka yang mengganggu “kenyamanan” jemaat Galatia. Ada masalah yang timbul tak terduga. Adanya pengajar lain yang mengubah suasana, merupakan dasar kuat bagi Paulus menggunakan kalimat “bertolong-tolonganlah.”
“Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik daripada Dia…” (Gal.1:6). Perkataan ini merupakan ungkapan marah, kesal dan tidak habis pikir, betapa cepatnya perubahan itu terjadi. Paulus curiga pasti ada yang mengacaukan keadaan. Kepada mereka yang mengacaukan itu, Paulus berkata: “terkutuklah dia” (Gal.1:8). Pertanyaan kita atas keadaan yang cepat berubah itu adalah “dorma” (bahasa Batak) apa yang disuguhkan kepada jemaat Galatia, sehingga mereka terkesan sudah meninggalkan injil yang diberitakan Paulus, dengan beralih ke injil yang lain itu? Saya sebut “dorma” karena bagi Paulus, ajaran yang disampaikan sangat jelas, akan tetapi ternyata masih sanggup dirobah oleh “ sesuatu yang lain”. “Sesuatu” itulah yang saya maksud “dorma”. Terhadap pertanyaan ini, kita ajukan sedikitnya dua asumsi.
Pertama, dari kalangan Yudaisme, yang menekankan keharusan melaksanakan Hukum Taurat, seperti sunat. Asumsi ini didasarkan kepada pernyataan marah Paulus, yang berkata: “Hai orang-orang Galatia yang bodoh! (Gal.3:1) dan “sebab sekiranya ada kebenaran oleh Hukum Taurat maka sia-sialah kematian Kristus” (Gal.2:21). Paulus dengan tegas membantah bahwa kebenaran bukan diperoleh melalui Hukum Taurat, melainkan melalui iman. Hukum Taurat hanya berfungsi sebagai penuntun untuk sampai kepada Kristus. Dengan kedatangan Kristus maka pengawasan penuntun tidak begitu penting lagi (Gal.3:23-25).
Kedua, dari kalangan Gnostisisme, yang menekankan pokok-pokok ajaran Hellenisme. Assumsi ini didasarkan kepada ucapan Paulus dalam dalam Galatia 4:10, “Kamu dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun.” Pihak Gnostik dicurigai Paulus dengan giat berusaha mempengaruhi jemaat di Galatia.
Terhadap keadaan yang berubah itulah Paulus berkeinginan untuk hadir di Galatia secepatnya, agar dapat dengan lebih jelas mengetahui alasan perubahan itu. Hanya saja bila kesempatan itu ada, maka situasi di antara Paulus dengan jemaat Galatia, tidak seperti dulu lagi. Paulus akan memarahi mereka (Gal.4:20).
Hubungan yang akrab antara Paulus dengan jemaat di Galatia menjadi terganggu karena masuknya “ajaran” baru ke dalam persekutuan itu. Sedikitnya, yang paling terganggu adalah Paulus, karena merasa jerih-payahnya memberitakan Injil sia-sia. Informasi tentang kegelisahan di dalam jemaat Galatia akibat masuknya “ajaran” baru ini kurang saya peroleh. Apakah mereka telah terbagi atas kelompok-kelompok atau apakah mereka bulat-bulat telah meninggalkan ajaran Paulus. Akan tetapi saya yakin, dari antara warga jemaat Galatia pasti ada yang tetap teguh. Mereka inilah yang memberitahu Paulus keadaan di Galatia. Laporan yang diterima Paulus menjadi dasar dari kerisauannya terhadap keadaan jemaat di Galatia.
Hal yang perlu kita perhatikan dari yang dipesankan Paulus kepada jemaat Galatia, adalah tentang kebebasan orang kristen dalam melaksanakan sesuatu sesudah menerima Injil Kristus. Ada tiga arah yang dikembangkan Paulus dalam menjelaskan kebebasan Kristen, yaitu:
a)  Pemanggilan Allah kepada Abraham, yang mematuhi Perintah Allah untuk meninggalkan negeri leluhurnya. Kepatuhannya dinyatakan sebagai kebenaran. Abraham di dalam kebebasannya memutuskan mematuhi perintah Allah, kendati mengetahui ada banyak hal yang terjadi di luar kemampuannya.
b)  Peran Hukum Taurat yang berubah sesudah kedatangan Kristus. Menurut Paulus, sebelum kedatangan Kristus, berfungsi sebagai pengawal atau penuntun, tetapi sesudah Kristus tidak perlu lagi, karena telah menerima pengangkatan langsung melalui Kristus.
c)  Melalui tafsiran allegoris dari kisah dua isteri Abraham dan anak mereka bahwa Perjanjian Lama sendiri adalah saksi bagi kebebasan yang digunakan Kristus untuk melepaskan manusia. Di situlah sebenarnya setiap orang Kristen tidak boleh menyalahgunakan kebebasannya itu.
Untuk mampu kembali dari keadaan yang tidak baik akibat kesulitan itu, maka Paulus memberi  arah untuk memampukan jemaat Galatia menemukan identitasnya. Arah yang ditunjuk itu lebih bersifat etika. Di dalam arah yang ditunjukkan Paulus inilah terletak tema kita. Paulus mengingatkan bahwa kemerdekaan yang diberikan, bukanlah untuk digunakan sekehendak diri, melainkan untuk pelayanan kasih untuk orang lain. Dengan melaksanakan pelayanan kasih, maka semua tuntutan Hukum Taurat terpenuhi. Untuk lebih memantapkan pemahaman jemaat tentang pelayanan kasih itu, maka Paulus memberi gambaran tentang perbedaan antara Perbuatan Roh dan Perbuatan Daging. Daftar sifat-sifat buruk sebagai hasil dari perbuatan daging diperhadapkan dengan daftar sifat-sifat baik sebagai hasil dari perbuatan roh. Orang Kristen seharusnya hidup di dalam Roh, maka perbuatannya pun harus  menunjukkan buah-buah roh. Perbuatan-perbuatan seperti itulah yang sebaiknya diperhatikan dan diteladani orang Kristen.
Agar arah yang ditunjukkan itu dapat langsung operasional di dalam membina pertumbuhan persekutuan, maka Paulus memberi serangkaian himbauan khusus. Sedikitnya, ada dua hal dari himbauan khusus ini untuk kita gumuli dan implementasikan, yaitu:
a)  Orang yang terlebih dahulu menyadari adanya kekeliruan atau pelanggaran yang terjadi, terutama disebabkan oleh ketidaktahuan, berkewajiban membimbing ke arah yang benar dengan tetap menjaga diri untuk tidak ikut terpeleset melakukan hal yang salah itu. “Kalaupun seorang kedapatan melakukan kesalahan, maka kamu yang rohani harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut sambil menjaga diri sendiri, supaya kamu jangan kena pencobaan” (Gal.6:1).           Dengan kalimat ini Paulus menghimbau, mereka yang sudah hidup di dalam roh supaya menempatkan diri dalam posisi yang tidak lebih baik dari yang melakukan pelanggaran itu. Himbauan seperti itu lebih bersifat etis, sehingga kesalahan atau pelanggaran yang terlanjur terjadi tidak meluas, dan orangnya tidak perlu dikeluarkan dari persekutuan. Tidak perlu meninggikan diri di dalam kesalahan orang lain.
b)  Bertolong-tolongan menanggung bebanmu. Kalimat ini lebih berfokus kepada upaya bersama menanggulangi masalah yang telah terjadi. Beban yang dimaksudkan oleh Paulus lebih tertuju kepada pelanggaran yang bermuatan dosa, bukan kepada pengalaman-pengalaman pahit di dalam kehidupan, seperti menderita sakit, kemiskinan dan sejenisnya. Dengan demikian, hemat saya bahwa yang menjadi masalah adalah implementasi dari iman dalam menyikapi ajaran yang berbeda dengan yang diimani.
Saudara yang ternyata kedapatan melakukan dosa, jangan diperlakukan sebagai orang yang harus dijauhi, melainkan dibantu supaya tidak berdosa lagi. Adalah kewajiban orang yang tidak berdosa untuk menolongnya. Solider dengan orang yang berdosa, bukan berarti membenarkan kesalahan yang dilakukan, melainkan membimbing yang bersalah itu ke arah yang benar.
Dunia yang kita hidupi sekarang diisi dengan perubahan-perubahan yang terjadi di semua lini kehidupan. Perkembangan Ilmu Pengetahuan yang begitu cepatnya turut serta menyuburkan perubahan itu. Pagar-pagar kehidupan yang sejak awal dibentuk untuk menjamin kelangsungan hidup manusia pun turut terbongkar. Dunia dirasakan makin sempit. Manusia yang berada di dalamnya pun makin asing satu sama lain. Siapa menguasai teknologi akan menguasai interaksi antar manusia. Keinginan manusia memenuhi interaksi itu; keinginan yang satu berhadapan dengan keinginan yang lain menjadi batu sandungan dalam berinteraksi.
Kebebasan individu dan hak azasi menjadi senjata yang ampuh menyuburkan pemenuhan keinginan masing-masing yang saling bertentangan itu. Akibatnya, dunia makin tidak nyaman untuk didiami. Saling memangsa dengan senjata Hak dan Kebebasan menjadi sikap yang umum pada zaman ini. Dosa dinyatakan sebagai sesuatu yang boleh saja dilakukan asal jangan sampai mengganggu ketertiban umum. Namun kepentingan umumpun bukannya terpelihara. Solidaritas tidak lebih hanya sebuah semboyan. Kecenderungan umat manusia, lebih terfokus kepada pemenuhan kebutuhan tanpa merasa perlu mau memperdulikan orang lain. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin; yang kuat memperlakukan yang lemah sesuai keinginan. Jurang pemisah di antara manusia terbangun menggantikan pagar-pagar penopang kehidupan. Keadaan seperti itu juga memasuki persekutuan di dalam gereja. Ada sebagian pihak yang mengatakan diri lebih kudus, lebih benar dan lebih baik dari saudaranya yang lain. Dengan demikian ada dua hal yang menonjol, yaitu kesombongan jasmani dan kesombongan rohani. Kepada kedua hal inilah yang sebaiknya kita beri perhatian.
Beberapa perilaku umat manusia yang menjadi pertanda suburnya kesombongan jasmani dan kesombongan rohani, antara lain:
  1. Suburnya pengelompokan berdasarkan kepentingan. Orang lain di luar kelompoknya dinyatakan sebagai musuh, yang bila perlu dilenyapkan.
  2. Suburnya sikap yang menyebut diri lebih baik, lebih kudus dari orang lain.
  3. Memudarnya keperdulian terhadap upaya menolong orang tertindas, orang miskin dan orang yang lemah, malah cenderung dijadikan sebagai objek yang harus ditolong. Tampaknya mengarah kepada kesombongan pemberi.
  4. Terjadinya pengucilan terhadap orang-orang bersalah, bahkan tidak sedikit yang main hakim sendiri; sepertinya tidak ada pemahaman bahwa dia pun dapat berbuat salah.
  5. Kalaupun ada pihak-pihak yang menyatakan diri membantu yang lemah, miskin, dan yang bodoh, akan tetapi bantuannya itu bukan tanpa pamrih.
  6. Yang merasa diri adalah orang lemah dan miskin, juga tak luput dari kesombongan itu. Mereka menganggap bantuan yang diberikan adalah haknya, tanpa pernah mengucapkan terima-kasih.
Apa yang sebaiknya kita lakukan? Kalau Paulus merasa gusar, kesal dan marah terhadap perubahan mundur dari jemaat di Galatia, dia memberi arah bahkan himbauan untuk dilakukan, dalam upayanya mengembalikan persekutuan Kristen kepada keadaan yang seharusnya. Kesalahan atau dosa yang telah dilakukan tetap dinyatakan sebagai kesalahan dan dosa. Akan tetapi Paulus meminta agar jangan berhenti sampai di situ saja. “Marsiurupan ma hamu”, itulah pesannya.
Menyadari posisi masing-masing di dalam konteks persekutuan, hemat saya itulah yang pertama-tama kita lakukan. Posisi tersebut baiknya dicari dalam konteks Pemilihan dan Pengutusan Tuhan. Setiap orang sebaiknya menempatkan diri dalam persekutuan di mana dia berada sebagai orang yang dipilih dan diutus Tuhan mewujudkan tugas imannya. Dengan demikian setiap orang menyadari posisinya sebagai pemberi, bukan penerima. Masing-masing dipilih dan diutus Tuhan dengan bekal yang khas. Bekal yang masing-masing terima memang berbeda, tetapi bukan tidak berarti. Dari bekal yang khas itulah, kita memberi partisipasi memperbaiki mutu persekutuan ke arah yang Tuhan kehendaki. Bekal yang khas masing-masing kita terima, bukan keunggulan dari orang lain, melainkan modal utama ikut serta membangun persekutuan. Dengan demikian, tugas kita yang kedua adalah mengenal bekal khas yang dianugerahkan kepada kita. Sekali lagi bukan untuk disombongkan melainkan untuk disumbangkan.
Membina kebersamaan melalui kerelaan masing-masing anggota persekutuan memberi yang dimiliki, itulah keberadaan kita. Dengan demikian, tembok-tembok pemisah, jurang perbedaan, sumber-sumber perselisihan, baik yang tumbuh di dalam maupun yang datang dari luar, persekutuan, akan mampu menjembatani perilaku melakukan tindakan yang pada gilirannya berbuahkan pertumbuhan persekutuan. Menyatakan diri berarti bagi persekutuan akan lebih bermakna, daripada mengharapkan sesuatu dari persekutuan.
Beberapa tantangan yang mungkin kita hadapi saat tekad membina kebersamaan telah mulai bertumbuh, antara lain:
a. Keinginan diri untuk memperoleh tempat yang layak di tengah persekutuan. Keinginan ini pada dasarnya wajar, akan tetapi jika dijadikan prasayarat untuk ambil bagian dalam persekutuan akan menjadi penghalang dalam membina kebersamaan. Egoisme terselubung, itulah masalahnya.
b.  Makin mudahnya kita tersinggung, jika kita menerima pendapat yang berbeda dengan yang kita inginkan. Akibatnya orang lain yang ada di dalam persekutuan menjadi enggan berpartisipasi.
c. Makin sulitnya kita memutuskan sesuatu hal, karena makin banyaknya keinginan dan kebutuhan kita searah dengan makin tingginya pengetahuan kita. Keinginan kita sering menutup pintu hati kita mendahulukan kebutuhan yang lebih luas.
Dari mana kita mulai? Terhadap pertanyaan ini, kita mungkin akan melihat orang lain, yang menurut hemat kita memiliki lebih banyak bekal yang khusus. Akibat pemikiran ini, kita menjadi pihak yang menerima bukan pemberi. Jemaat yang kita layani, kita sebut “kurang mampu” dan jemaat yang dilayani saudara kita, kita sebut “berkemampuan”, atau kita sebagai pribadi  menyatakan tidak bisa berbuat apa-apa walau kita sadar, ada yang harus kita dilakukan. Oleh siapa? Oleh orang lain, tetapi bukan kita. Pola pikir yang seperti itulah yang  menurut hemat saya, kita hindari. Kita semua, tanpa kecuali, memiliki modal dasar dalam upaya bertolong-tolongan. Oleh sebab itu, pertanyaan: dari mana kita mulai, baiknya kita robah menjadi: apa yang dapat kuberikan? Kecil atau besar yang dapat kita berikan, jangan menjadi perdebatan, yang pasti kita masing-masing pasti ada yang dapat kita berikan. Di sinilah peran kepemimpinan kita dibutuhkan. Dengan demikian, jiwa dari Aturan dan Peraturan HKBP (2002) dapat kita laksanakan. Semua untuk semua. Satu untuk semua. Semua untuk satu. Menjadikan masing-masing anggota berarti bagi persekutuan, itulah tugas kita. Dan masing-masing anggota memberi yang dimiliki, itulah pula tekad kita, sehingga apa yang kurang dari yang satu, akan dilengkapi oleh apa yang lebih dari yang lain. Peran pimpinan structural, bukan lagi garis komando, melainkan garis koordinasi.
Prinsip yang sebaiknya kita anut adalah : Memberi bukan menerima. Jika prinsip ini telah terbiasa di dalam diri kita, maka posisi kita sebagai pilihan dari utusan Allah telah berada di dalam posisi yang tepat. Walau pun pada akhirnya kepada kita masing-masing diberi tugas khusus, itu adalah bagian dari pembagian tugas dari tugas-tugas bersama. Pembagian tugas, bukan keunggulan, melainkan bagian dari partisipasi.
Saya ingin menutup tulisan ini dengan beberapa pokok pikiran untuk kita renungkan:
–       Siapa memiliki, dia akan kehilangan.
–       Siapa mengingini, dia akan kehausan.
–       Siapa memberi, dia akan memperoleh.
–       Siapa menyembunyikan, dia akan kecurian.
–       Siapa menganggap diri lebih, dia akan ditinggalkan.
Mari saling menolong agar kita saling melengkapi.