Senin, 18 Juni 2018





PESAN UTAMA KITAB KOLOSE

Surat ini ditujukan untuk menguatkan jemaat Kolose, jemaat Kristen mula-mula yang didirikan oleh Epafras, dan jemaat yang tergolong sangat baik, tetapi ada beberapa tantangan yang menggoyahkan pengharapan mereka akan Injil; untuk itulah Paulus menulis surat ini. Salah satu tantangan adalah semangat perpaduan antara ke-Yahudi-an dan Kekristenan sehingga ada peraturan-peraturan buatan manusia tentang hari raya tertentu, makanan, penyembahan malaikat, dst. Tapi selain itu, yang cukup dominan adalah tantangan dari Kekaisaran Romawi yang sedang berkuasa,  yang adalah konteks ketika Kekristenan hadir. Jemaat Kolose sebagai jemaat Kristen di luar Yerusalem, tidak mendapat hak istimewa seperti jemaat Yerusalem yang boleh beribadah kepada Yahweh sebagai satu-satunya Allah. Mereka harus tunduk pada peraturan-peraturan Kekaisaran Romawi.
Untuk kita mengerti yang Paulus tuliskan di sini, kita perlu mengerti keadaan Kekaisaran Romawi. Kekaisaran Romawi adalah negara adikuasa baru, yang mulai semakin kuat kira-kira 200 tahun belakangan sebelum Yesus datang. Mulanya sistem pemerintahan Romawi semacam republik untuk memastikan tidak ada seorang pun menjadi diktator. Tapi seiring bergulirnya waktu, pemerintahan mereka dikalahkan oleh seorang tentara panglima perang yang mengambil alih pemerintahan, bernama Julius Caesar. Ia kemudian mengubah sistem pemerintahan menjadi semacam kekaisaran. Dia bahkan menggunakan  nama keluarganya “Caesar” menjadi gelar kerajaan (maka kita mengenal kata caesar = tsar = kaisar). Dia bahkan membiarkan orang-orang melihatnya sebagai manusia setengah dewa, seperti allah.
Setelah dia terbunuh dalam satu perebutan kekuasaan, anak angkatnya --Octavianus-- menjadi penerus. Octavianus bukan sekedar menjadi penguasa tunggal dan menyandang gelar Caesar, tapi juga menambah gelar lain yaitu Augustus sehingga namanya menjadi Augustus Octavian Caesar. Augustus , artinya “yang layak untuk menerima segala hormat dan kemuliaan”. Dia bahkan meresmikan ayah angkatnya --Julius Caesar-- sebagai allah, karena di tengah-tengah zaman yang agama dan negara bercampur aduk  Octavian melihat  jalan paling baik sebagai pemerintah adalah kalau dia menjadi “the son of god”. Ketika menyandang gelar “sang anak allah”, maka semua harus menyembahnya. Dia juga mengangkat diri sebagai “sang imam besar” (Pontifex Maximus), pengantara Dewa Apollo dengan rakyat Romawi. Dia memerintahkan orang-orang di bawahnya menyebarkan propaganda yang mengisahkan suatu kisah, bahwa selama ribuan tahun Romawi penuh dengan kesusahan, liku-liku, dan tantangan, sampai akhirnya muncul “sang anak allah” yang akan mendatangkan perubahan, perdamaian, kemakmuran, kesejahteraan --Pax Romana-- kedamaian bagi Romawi. Kisah inilah, bahwa ada satu orang yang akan menjadi raja, dan ketika dia menjadi raja, maka seluruh negara akan damai, yang menyebar ke seluruh Romawi. Dan inilah yang dikatakan sebagai “kabar baik” yang diukir di monumen-monumen di Romawi: “inilah kabar baik itu: kita memiliki seorang Caesar, maka keadilan, damai, keamanan, kemakmuran adalah bagi kita untuk selama-lamanya, karena anak allah telah menjadi raja dunia; kelahiran anak ini disambut oleh seluruh alam semesta --lautan, bumi, udara-- semuanya memuji dan menyembah sang anak allah yang memberi perdamaian ini”.
Setelah Octavian meninggal, Tiberius (anaknya) menggantikan dan menyandang gelar yang sama: “Augustus Tiberius Caesar”. Wajahnya terpampang di setiap koin, dan tertulis di situ ”Augustus Tiberius Caesar, anak allah, sang ilahi”, dan di bagian baliknya digambarkan dirinya berjubah imam dengan gelar Pontifex Maximus (imam besar).
Inilah gambaran yang diajarkan dalam Kekaisaran Romawi waktu itu. Gambar-gambar para caesar --sang anak allah-- diukir di mana-mana, di pemandian umum, tempat-tempat gymnastic, bahkan di vas-vas bunga yang dipajang di rumah. Dan melalui sang anak allah ini, Dewa Apollo menyatakan kepenuhan keilahiannya secara jasmani. Jika kita telah mengerti latar belakang ini, maka kita melihat bahwa dalam surat Kolose ini ada suatu pemberontakan terhadap kisah-kisah tersebut. Tapi mengapa propaganda semacam itu berhasil? Mengapa banyak orang di Romawi yang dari berbagai macam bangsa dan agama akhirnya tunduk?
Alasan pertama, mungkin kita tunduk karena kita termasuk orang yang diuntungkan oleh sistem tersebut. Mungkin sebagai pedagang yang karena ikut menyembah dewa tertentu, membayar pajak kepada kaisar, kita akhirnya mendapat keuntungan-keuntungan yang diberikan oleh kaisar. Atau mungkin juga tunduk karena takut. Perdamaian yang dibawa oleh Caesar Romawi adalah perdamaian yang datang dengan pedang. Dalam koin yang menggambarkan hal ini, di satu sisi tertulis Pax Romana, lalu di sisi sebaliknya adalah gambar dewa perang. Maka ada orang-orang yang mungkin tidak diuntungkan, orang-orang yang tertindas, yang mau tidak mau juga tunduk karena takut. Mereka takut tidak bisa survive sehingga akhirnya mereka tunduk.
Tapi satu hal  yang paling mendasar yaitu: jikalau kisah --yang disebarkan dalam propaganda-- semacam itu akhirnya bisa menarik banyak orang, alasan utamanya adalah bahwa kisah itu menujuk satu realita yang sebenarnya diidam-idamkan banyak orang, satu pengharapan akan adanya “sang raja” yang datang untuk membebaskan umatnya dari segala kesulitan. Itu adalah kisah-kisah yang diceritakan selama ribuan tahun dalam sejarah manusia yang akhirnya menjadi begitu populer, misalnya juga  kisah Robinhood, King Arthur, Lord of The Rings, The Return of The King. Kisah-kisah yang menceritakan bahwa ketika sang raja tidak bertakhta, maka negaranya jadi berantakan, penuh kuasa kejahatan, kacau balau, penuh kemiskinan dan penderitaan, dst.; lalu ketika raja yang sah kembali, maka ada perdamaian, kemenangan, pemulihan. Ini adalah satu pola kisah yang terukir dalam hati setiap manusia.
Tolkien, pengarang cerita Lord of The Rings, pada suatu hari ketika berjalan-jalan di taman bersama C.S. Lewis, sahabatnya, berbincang-bincang mengenai hal ini (Tolkien adalah orang Kristen, dan waktu itu C.S. Lewis belum menjadi Kristen). Tolkien mengatakan, bahwa dia sedang berusaha menghidupkan kembali kisah-kisah seperti ini yaitu kisah-kisah semacam superhero, juruselamat, fairy tales. Tapi kritik di zaman tahun lima puluh-enam puluhan pada waktu itu mengatakan yang sama dengan zaman sekarang ini, bahwa kisah-kisah semacam itu --yang menyatakan adanya superhero, happy ending ever after-- tidak lagi menarik, terlalu kekanak-kanakan, naif, terlalu melarikan diri dari realita; itu seperti kisah Disney! Kisah yang menarik sekarang adalah kisah-kisah realita yang di dalamnya kebaikan dan kejahatan adalah relatif. Kisah yang tidak ada cerita superhero datang dari langit, yang ada adalah kita harus berjuang menjadi juruselamat diri kita sendiri.
Film-film zaman sekarang menunjukkan hal seperti itu, contohnya “Batman Versus Superman”. Film itu terlihat berbeda dari film-film Batman atau Superman generasi pertama, karena di situ mengisahkan superhero yang lebih real. Di film itu, yang namanya Superman bukanlah superhero yang ideal, juga Batman, masing-masing punya kepentingan pribadi. Superman mau bertempur melawan musuh, bukan karena ingin menyelamatkan dunia tapi semata-mata karena dia mengasihi seorang wanita bernama Lois Lane. Batman begitu berani melawan Superman karena dia orang yang tidak mudah percaya; orang yang takut dan agak psikotik sehingga setiap orang yang lebih hebat dari dirinya, harus dia kalahkan. Keduanya sama-sama makhluk yang lemah, tidak tahu yang baik dan yang salah, tapi mencoba melakukan yang terbaik menurut yang mereka pikirkan. Kedua superhero dalam film itu dihadirkan dalam gambaran yang real, tidak ideal, bisa kejam juga dan melakukan hal-hal yang pesimistik.
Ketika orang menonton film-film yang gayanya seperti ini, mereka akhirnya orang merasa mendapatkan suatu kesegaran. Mengapa? Karena selama ini mereka melihat kisah-kisah juruselamat, happy ending, kemenangan bagi yang baik, dan mereka justru merasa pesimis dan ditipu karena realitanya dunia penuh kejahatan dan sia-sia. Kisah-kisah itu seperti mimpi di siang bolong, seperti harapan naif seorang anak kecil. Tapi Tolkien mengatakan bahwa ia tetap akan membangkitkan kisah-kisah semacam ini, karena kisah-kisah semacam itu menunjuk pada satu realita yang setiap orang tahu, yang terukir dalam hati setiap manusia, bahwa betul ada yang namanya Sang Raja. Sang Raja sejati yang memang sekarang belum bertakhta sepenuhnya, tapi ketika nanti Dia kembali mengklaim hak-Nya, maka semua kejahatan akan sirna. Dan realita itu adalah INJIL. Injil yang adalah kisah Yesus Kristus, Anak Allah, yang datang ke dunia untuk akhirnya mati disalibkan, namun bangkit dan naik ke surga, duduk di atas takhta-Nya, di sebelah kanan Allah Bapa, dan Dia akan datang kembali. Dan ketika Dia datang kembali, Dia akan datang dengan segala kemuliaan-Nya. Siapakah Raja itu? Adakah raja semacam itu? Jawabannya: ada, Yesus Kristus.
Di tengah-tengah Romawi mengatakan: “Yang paling utama adalah Caesar”, Paulus mengatakan “Bukan! Yang paling utama ialah Yesus Kristus”. Romawi mengatakan: “Caesar adalah gambar allah yang tidak kelihatan”, Paulus mengatakan: “Bukan! Gambar Allah yang tidak kelihatan adalah Yesus Kristus”. Romawi mengatakan: “Caesar adalah anak allah”, Paulus mengatakan: “Bukan! Anak Allah yang sejati, yang seluruh keilahian Allah berdiam dalam tubuh jasmaniah, adalah Yesus Kristus. Dialah Raja yang telah memindahkan kita umat-Nya dari kerajaan kegelapan, menuju kerajaan terang. Dialah yang paling utama, bahkan sebelum Caesar ada, sebelum dunia ada, Dialah yang paling utama dari segala yang diciptakan. Dialah yang sulung, Dialah kepala dari segala sesuatu. Segala pemerintah penguasa dunia telah Dia taklukkan, dan semuanya Dia permalukan di hadapan umum.
Maka, apakah Injil itu? Injil adalah kisah ketika Allah, Pencipta langit dan bumi, meng-klaim kembali yang menjadi milik-Nya, yaitu kita, ciptaan-Nya, dunia dengan segala isinya. Dia mengatakan “dosa tidak lagi berkuasa”. Dia mengatakan bahwa setan bukan lagi pangeran dunia, tapi Yesus Kristus Sang Pemilik kebun anggur yang sejati. Dialah yang akan datang, bertakhta di tengah-tengah dunia, di bawah pemerintahan-Nya akan ada damai sejahtera, kerajaan yang turun temurun, yang kekal adanya. Inilah Injil.
Injil bukan sekedar kisah manusia berdosa diampuni, diperdamaikan dengan Allah yang suci. Betul itu bagian dari Injil, tapi sebetulnya gambaran besar Injil adalah Allah menjadi Raja, Yesus Kristus Anak Allah Sang Raja sejati yang telah datang ke dunia, Dialah yang bertakhta. Kol 3 mengatakan “Yesus Kristus yang sudah mati  dan bangkit akan datang kembali dengan segala kemuliaan-Nya”. Siapakah Dia? Dia adalah Raja yang sudah ada sejak dunia belum diciptakan. Dia adalah Raja yang pernah datang 2000 tahun lalu, yang mati dan bangkit. Dan Dia adalah Raja yang akan datang kembali. Jika masa lalu kita menyembah Yesus yang seperti itu, masa depan kita menyembah Yesus yang akan datang, maka sekarang apa yang harus kita kerjakan sebagai umat Tuhan? Paulus mengatakan: “Lihatlah kepada Kristus, yang sekarang bertakhta di sebelah kanan Allah Bapa”. Lihatlah kepada perkara yang di atas, dan biarlah hidupmu sekarang ini --yang didasari pada apa yang telah Kristus kerjakan, yang memiliki pengharapan pada yang Kristus akan kerjakan-- tersembunyi di dalam Kristus.
Apa maksudnya “tersembunyi di dalam Kristus”? Ke-tersembunyi-an orang Kristen akan jadi salah kalau orang melihat bahwa orang Kristen sama saja dengan orang dunia. Orang Kristen harusnya tampil beda di tengah-tengah dunia. Tapi kekristenan juga dikatakan “tersembunyi” karena Kristus pun tersembunyi. Kristus sebagai Raja dunia adalah sesuatu yang tersembunyi. Waktu jemaat Kolose membuka matanya, yang mereka lihat raja adalah Caesar; yang berkuasa adalah Kerajaan Romawi, bukan Kerajaan Allah. Mengapa pemerintahan-Nya begitu tersembunyi sehingga ketika orang melihat kita, mereka menghina; mereka bukan tunduk kepada kemuliaan Kristus tapi meludahi Kristus?
Ketika kita hidup di tengah-tengah dunia dan beriman bahwa Kristus adalah Raja, maka 2 hal yang perlu kita lihat. Pertama, ketika Kristus datang kembali Dia menghancurkan kuasa dosa. Kol 3 mengatakan, dulu kita hidup dalam dosa sebagai manusia lama; ketika kita melihat kepada Sang Raja meminta untuk ditolong dan Sang Raja itu menjadi Juruselamat kita, maka Dia mematikan manusia lama kita, Dia menghancurkan dosa. Dia memperdamaikan kita dengan  Allah tapi Dia juga mengubah diri kita, dari manusia lama menjadi manusia baru. Ketika Kristus datang ke dunia, Dia mati di kayu salib. Dia mati karena dosa, bukan berarti Dia kalah terhadap dosa. Dia mati karena dosa supaya dalam kematian-Nya, upah dosa yang adalah maut itu dikalahkan. Kristus datang untuk mengalahkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekedar Kerajaan Romawi. Dia datang untuk mengalahkan kuasa kegelapan, kerajaan kegelapan, yang senjata paling mematikannya adalah kematian, yang adalah upah dosa.  Bagaimana Dia mengalahkannya? Bukan dengan pedang, tapi dengan Dia sendiri yang mati. Supaya ketika Dia sudah mati, mengalami yang menjadi senjata musuh itu, Dia bangkit dan mengatakan “senjatamu sekarang sudah kehilangan sengatnya. Aku sudah mengalahkan kematian. Aku sudah mengalahkan dosa. Aku menghadirkan di tengah-tengah dunia ini, suatu kuasa yang baru, yang bisa mengalahkan kematian sekalipun, yaitu kuasa kebangkitan. Dan kuasa itulah yang Kuberikan kepadamu”.
Jikalau pada zaman dulu orang Yahudi tidak kompromi dengan Caesar karena mereka percaya bahwa satu-satunya Raja adalah Yahweh, Pencipta langit dan bumi, maka pertanyaan kita: bagi orang Yahudi, bagaimana Yahweh memerintah sebagai Raja di tengah-tengah dunia? Mereka percaya bahwa Allah memerintah di tengah-tengah dunia ini dengan melalui Kerajaan Israel, khususnya Bait Allah. Ketika Salomo berhasil merebut seluruh tanah perjanjian menjadi milik Israel, Allah mengatakan kepadanya untuk mendirikan satu bait yang di situ Allah akan meletakkan nama-Nya, “Aku akan tinggal di tengah-tengah kamu; Aku sebagai Allahmu dan engkau sebagai umat-Ku”. Lalu setiap bangsa yang datang kepada Israel sebagai teman, mereka akan medapat berkat, tapi yang datang sebagai musuh akan medapat kutuk. Itulah caranya Allah bertakhta, bagi orang Yahudi.
Tapi kemudian Bait Allah yang didirikan Salomo dihancurkan oleh Babel. Kemuliaan Allah meninggalkan bait-Nya karena umat-Nya telah berdosa. Dosa membuat Allah pergi dari takhta-Nya. Ketika Bait Allah hancur, Israel pun hancur. Mereka terus berdoa menantikan pengampunan dosa dan pemulihan sampai kemudian 70 tahun setelah itu, Bait Allah yang kedua didirikan di bawah pemerintahan Zerubabel. Maka mereka mengatakan, “Allah kembali bertakhta di tengah-tengah kita”. Tapi mereka juga bingung karena mereka masih berada dalam pemerintahan orang-orang kafir sampai ketika Kerajaan Romawi berkuasa atas mereka. Mereka melihat  Antiokhus Epifanes masuk bait Allah dan memotong babi di situ. Mereka melihat orang-orang lain berulang kali menajiskan Bait Allah, mendirikan patung Zeus di situ, dst. Dan berulang kali mereka berusaha merebut Bait Allah kembali, sampai akhirnya pada tahun 70 dihancurkan oleh Romawi. Oleh karena itu, Allah yang bertakhta di tengah-tengah dunia menjadi satu pertanyaan bagi mereka.
Bagi orang Kristen, bagaimana Allah bertakhta di tengah-tengah dunia ini? Ketika kita memberitakan Injil kepada orang Romawi, orang dunia ini, “Kristus yang kami sembah adalah Raja”, apa maksudnya? Allah meninggalkan Bait-Nya karena dosa, maka Kristus datang untuk mengalahkan dosa. Dia datang bukan sekedar untuk mendirikan Bait Allah secara fisik dan politik, tapi untuk menghancurkan kuasa yang paling mendasar yaitu dosa. Dan ketika Dia menghancurkan kuasa dosa itu dalam diri kita setiap umat-Nya, maka dikatakan “kita adalah bait  Allah”. Kita adalah bejana, yang melalui kita, Allah bertakhta di tengah-tengah dunia ini. Takhta-Nya tidak kelihatan secara kasat mata, tapi dalam diri kita ada satu kuasa yang baru, kuasa yang mengalahkan dosa, kuasa yang menyatakan bahwa hidup kita bukan lagi milik segala dewa yang disembah orang Romawi tapi milik Sang Raja sejati, Kristus.
Oleh karena itu Paulus mengatakan, “Matikanlah manusia lama. Jangan lagi hidup dalam segala hawa nafsu, percabulan, nafsu jahat, keserakahan, kedengkian, kata-kata yang kasar, dst.” Ini adalah ajakan bagi jemaat Kolose dan bagi kita, untuk kita hidup sebagai umat yang tidak lagi menyembah yang disembah orang Romawi, tapi menyembah Raja Yang Sejati. Mungkin kita tidak menyembah Dewa Mamon yang disembah orang Romawi, tapi kita menyembah uang. Mungkin kita tidak menyembah Dewi Aphrodite, tapi kita menyembah hawa nafsu seks kita. Mungkin kita tidak menyembah Mars, dewa perang yang disembah Romawi, tapi kita menyembah satu kuasa yang kita idam-idamkan dalam hidup ini.
Hidup ini adalah peperangan. JIkalau Kristus adalah Raja, jikalau Injil yang didalamnya kita memiliki pengharapan Kristus adalah Raja, maka bagaimana kita harus hidup? Kita harus hidup pertama-tama dengan mematikan manusia lama kita. Kita harus hidup pertama-tama dengan mengatakan “hidupku bukan milik segala dewa ini itu, tapi semata-mata milik Allah”. Aku akan menjalani hidup ini, meski dengan tantangan, godaan, bujukan untuk kompromi di tengah-tengah pekerjaan atau keluarga kita, dengan mengatakan, “Meskipun aku harus mati, aku tidak akan menyembah dewa dunia ini.” Sama seperti orang Kristen yang menghadapi tantangan untuk menyembah berhala ini itu demi sukses bisnis, atau soal seks atau kuasa, kita seringkali digoda untuk menyembah hal-hal yang bukan Tuhan sendiri.
Apa yang bisa mendorong kita untuk terus setia? Kita harus senantiasa melihat kepada Kristus yang ada di atas bukan di bawah, Kristus yang memang tersembunyi. Kita harus terus mengingatkan diri akan siapa Raja kita, entah kita berada di tengah-tengah dunia, atau kita berada di kuil sembahan orang lain. Itulah sebabnya penting untuk kita senantiasa belajar taat bergumul dengan firman, setia di dalam doa. Karena waktu kita saat teduh, berdoa, itu sebenarnya satu bentuk ibadah kepada Siapa kita abdikan seluruh hidup ini. Ketika bangun pagi, kita harus belajar melihat segala yang kita alami di tengah dunia ini yang mencoba menarik pengabdian saya kepada Raja yang sejati,  yang bisa mengingatkan kepada siapa saya harus mengabdi.
Cara lain, tentu dalam ibadah publik seperti ini. Ketika kita beribadah, itu sebetulnya satu kesempatan kita mengingatkan diri, Siapa Raja yang kita sembah. Maka sangat disayangkan sekali kalau kita datang ibadah terlambat. Ketika ibadah dimulai, votum dibacakan, misalnya dengan Mazmur “Sambutlah Dia dengan gambus, kecapi dan rebana. Lihatlah Dia yang jubah-Nya semarak cahaya”, atau dengan kitab Wahyu “Engkaulah yang layak menerima segala hormat, pujian, dan sembah”, maka kita bangkit berdiri seperti menyambut Sang Raja yang masuk di tengah-tengah ruang ibadah kita, dan kita diajak menyembah Dia. Itulah ibadah. Kita beribadah bukan sekedar untuk mendengarkan kotbah, menambah pengetahuan, dst. tapi menyembah Raja kita. Baik saya yang berbicara maupun bapak ibu yang mendengarkan, kita semua sedang menyembah Satu Raja yang telah datang, yang sekarang bertakhta, dan yang akan datang.
Cara kedua untuk kita melihat Kristus bertakhta, bukan sekedar dengan mengalahkan kuasa dosa mematikan manusia lama dalam diri kita tapi Kristus bertakhta juga melalui kita, memperbaharui manusia baru kita. kita dipanggil untuk terus menerus mengenakan manusia baru, karena manusia baru yang diberikan kepada kita adalah satu gambaran kehadiran Kristus di tengah-tengah dunia ini. Betul Dia pernah datang, orang pernah melihat dan menjamah Dia; betul Dia adalah Allah yang menjadi daging, berkemah di tengah-tengah umat-Nya, tapi sekarang Kristus sekarang sudah naik ke surga, bagaimana orang bisa melihat Kristus bertakhta? Melalui kita sebagai umat-Nya, yang adalah bait Allah; kita, yang memiliki darah dan daging, yang melanjutkan apa yang pernah Kristus kerjakan di tengah-tengah dunia, menghadirkan satu kerajaan baru yang bukan diwarnai dengan pedang, kebencian, hawa nafsu, tapi diwarnai satu semangat yang lain, yaitu kasih. Ketika kita menghidupi hukum kasih, maka kita sedang mengenakan manusia baru kita. Manusia baru yang diwarnai bukan dengan self-centeredness, bukan dengan bagaimana aku bisa menikmati dan mendapatkan keuntungan sekalipun harus menginjak-injak orang lain, melainkan kasih. Mengapa? Karena Kristus pun datang sebagai Raja bukan dengan kebencian yang dimiliki orang Yahudi, bukan dengan satu semangat reformasi kaum Zionis, bukan dengan kuasa seorang raja yang arogan, egois, dan dingin seperti kaisar-kaisar Romawi. Dia datang dengan kuasa yang disebut sebagai kasih, kuasa yang tersembunyi dalam satu wujud yang kelihatannya lemah. 
Dalam filsafat zaman itu, yang dianggap sebagai virtue adalah keberanian, keadilan, kemampuan untuk bisa mengontrol diri, hikmat bijaksana kita menghadapi segala tantangan. Sedangkan kasih adalah sesuatu yang konyol, yang lemah dan bodoh, karena kasih berarti harus mengampuni musuh, kasih berarti harus memperhatikan musuh, kasih berarti kita harus membuka diri terhadap serangan-serangan yang mungkin datang. Tapi itulah yang Kristus kerjakan. Dia datang membiarkan diri-Nya mati di kayu salib. Dia datang untuk menolong yang lemah, memberikan pengampunan, belas kasihan.
Maka Paulus mengatakan kepada jemaat Kolose, kepada orang Kristen, mari kita hidup bukan dengan hawa nafsu, bukan dengan keserakahan dan menindas orang lain, tapi dengan belas kasihan, compassion, suatu hati yang diberikan, yang ikut hancur ketika mendengar tangisan orang-orang di tengah-tengah dunia ini. Zaman sekarang begitu banyak berita-berita tragis yang disiarkan di TV maupun radio, tapi itu justru bukan membuat kita semakin berbelas kasihan melainkan semakin seperti batu, tidak peduli. Tapi yang dikatakan Paulus adalah agar kita belajar untuk punya compassion. Ini sesuatu yang harus dilatih.
Virtues yang disampaikan Paulus bukan otomatis diberikan pada kita karena Kristus sudah bertakhta, melainkan setelah manusia lama dimatikan satu kali untuk selamanya maka manusia baru itu terus menerus diperbaharui. Artinya, itu suatu proses, kita perlu ketekunan untuk melatih kasih, melatih berbelas kasihan. Kita perlu memaksa diri untuk membuka mata dan telinga bagi orang-orang di sekitar. Kita perlu belajar menujukkan kindness (kemurahan), yang sangat kontras dengan semangat dunia yang selalu mencari keuntungan.  Kita harus belajar lemah lembut, bukan untuk melindungi diri melainkan untuk merangkul orang lain. Kita belajar sabar terhadap mereka yang hampir tidak bisa ditolerir. Kita belajar rendah hati karena kita sadar bahwa semua bukan karena kita hebat melainkan anugerah. Dan terutama kita belajar untuk mengampuni orang yang tidak layak menerima pengampunan kita.
Bagaimana kita bisa menghidupi semua itu? Kita harus punya kasih; belajar mengasihi sebagaimana Kristus mengasihi kita. Kasih itu satu macam kuasa yang kelihatannya lemah, tapi sebetulnya itu kuasa yang akhirnya mendatangkan perubahan begitu besar di tengah-tengah dunia ini.
Julius Caesar memiliki pencapaian yang besar dalam hidupnya. Alexander The Great  memiliki pencapaian yang besar dalam hidupnya sehingga ketika mati ia dikenang sebagai “the great”. Ilmuwan-ilmuwan --Einstein, Thomas Alfa Edison-- kita ingat nama-namanya karena mereka meiliki pencapaian-pencapaian yang luar biasa. Tetapi Yesus Kristus dari Nazaret dalam masa hidupnya hanya mengumpulkan sebagian kecil orang-orang --pemungut cukai, nelayan, wanita-wanita-- dan akhirnya mati di tengah-tengah penjahat sebagai penjahat. Orang yang mati sebagai penjahat, biasanya namanya tidak diingat. Lalu apa yang menjadikan kekristenan mayoritas di tengah-tengah dunia ini? Apa yang membuat  500 tahun setelah kematian Yesus, nama-Nya tetap diingat? Apa yang membuat  1000 tahun setelah kematian-Nya, gereja-gereja di Eropa didirikan atas nama-Nya? Apa yang membuat  2000 tahun setelah kematian-Nya, waktu kita pergi KKR Regional ke desa terpencil, kita bisa mendengar anak-anak kecil menyanyi “Yesus aku berjanji pada-Mu”? Apa yang membuat Orang yang begitu tersembunyi ini menjadi Orang yang paling disembah oleh paling banyak manusia di dunia? Salah satunya adalah kesaksian jemaat mula-mula.
Abad 3 dan 4 ada begitu banyak bencana wabah penyakit terjadi sehingga orang bahkan mengusir keluarganya sendiri yang sakit dan membiarkan mati di tengah jalan, karena jika tidak, mereka semua ikut tertular dan mati. Dewa Zeus yang mereka sembah tidak pernah mengajarkan apa yang harus mereka lakukan kepada orang-orang sakit itu.  Tapi ada satu kelompok minoritas yang ingat siapa Allah yang mereka sembah, siapa Raja mereka, yaitu Seorang Raja yang turun dari takhta-Nya, Dia datang ke dunia, Dia menyentuh orang kusta, orang miskin, wanita yang pendarahan, dst. Dia membiarkan diri-Nya  dimanfaatkan oleh dunia ini. Ketika mereka ingat itu, maka mereka turun ke jalan, mengundang orang-orang yang dibuang itu masuk ke rumah, menyediakan makanan, menghibur, dan  akhirnya mati bersama-sama orang-orang sakit itu. Father Damien, seorang pastor yang menampung orang-orang sakit kusta, setiap hari ia mengatakan kepada mereka “Yesus mengasihi kalian orang kusta” sampai suatu hari ia mengatakan “Yesus mengasihi kita orang kusta”. Ia seorang yang menyatakan kasihnya dengan turun dan sama-sama menanggung penderitaan dunia, karena dia memiliki kasih.
Sebelum Yesus mati, satu perintah baru yang diberikan kepada para murid-Nya ialah: “Kasihilah seorang akan yang lain, sebagaimana Aku mengasihi kamu”. Perintah yang kelihatan sederhana, ternyata justru menjadi perintah yang mengubah wajah dunia. Jikalau pada zaman Kerajaan Romawi ketika Kristus di dunia, para wanita, budak, anak-anak, adalah orang-orang yang tidak dianggap, maka hari ini kita melihat adanya hak asasi manusia, ada kesamaan hak wanita, anak-anak, dan pria; kita melihat dihapuskannya perbudakan, kita melihat  rumah sakit yang menampung orang-orang kusta dan mereka yang tidak mampu. Semua itu adalah karena Kristus yang bertakhta di tengah-tengah dunia ini. Kristus yang mengubah dunia ini bukan dengan senjata militer, politik, ekonomi, tapi semata-mata dengan kasih. Kasih yang dinyatakan oleh engkau dan saya.
Ketika dunia tidak melihat Kristus, ketika dunia terus melawan Kristus, mungkin itu karena kita belum cukup menyatakan Kristus di tengah-tengah dunia;  mungkin karena kita belum cukup menjadi Tubuh Kristus sebagai darah dan daging. Tapi adalah satu pengharapan ketika kita melihat kepada Kristus, Sang Raja sejati, Dialah yang terus memperbaharui manusia baru kita dan Dialah yang pasti satu hari nanti akan datang dalam kemuliaan. Maka biarlah kita menantikan hari itu, kita hidup saat ini, dengan tersembunyi di dalam Kristus, menyatakan Kristus dalam kasih-Nya.

Minggu, 17 Juni 2018

Ulangan 6:4-9. Mendidik Lewat Hidup

Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.
Jika orang Kristen memiliki Pengakuan Iman Rasuli sebagai pengakuan imannya, maka orang Israel memiliki Ulangan 6:4-5 yang dikenal sebagai SHEMA Israel. Shema sendiri adalah bahasa Ibrani yang artinya “dengarlah”. Disebut Shema, karena memang rumusan pengakuan itu diawali dengan seruan “Dengarlah.”
Dalam ayat 4 dinyatakan bunyi SHEMA tersebut, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” Kata Esa disini berbeda pengertiannya dengan Esa sebagaimana dipahami dalam Agama Islam. Kata Esa disini berasal dari bahasa Ibrani “ekhad”, dan kata yang sama digunakan dalam Kejadian 2:24, “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu (ekhad) daging.
Jadi kata Esa dalam Ulangan 6:4 dapat dipadankan dengan kesatuan suami dan isteri. Jadi dalam keesaan TUHAN ada kejamakan [Dan dalam kejamakan itu ada relasi yang eksklusif (jangan ada Allah lain padamu!), seperti halnya suami-isteri memiliki relasi yang eksklusif].
Orang-orang Kristen mengakui bahwa Ulangan 6:4 adalah Firman Allah. Kita menerima Perjanjian Lama adalah Firman Allah. Karena itu, kita pun mengakui bahwa pewahyuan bahwa TUHAN Allah kita itu Esa. Kalau orang bertanya, “Ada berapa Allahnya orang Kristen?” Kita dengan tegas menjawab, “Allah kita itu Esa!” Tapi keesaan disini dipahami berbeda dengan keesaan menurut Agama Islam. Orang Islam mungkin memahami Esa sebagai tunggal, tapi kita memahami kata Esa sebagai kesatuan dalam kejamakan.
Dalam Perjanjian Baru, kejamakan ini menjadi lebih tegas diwahyukan. Karena itu kita mengenal konsep Allah Tritunggal, yaitu Allah yang Esa, menyatakan diriNya dalam Tiga Pribadi yang berbeda. Allah Bapa bukan Allah Anak; Allah Anak bukan Allah Roh Kudus; dan Allah Roh Kudus bukan Allah Bapa. Namun ketiganya ini ada dalam relasi kasih yang satu dan tidak mungkin terpisahkan.
Karena itu, ketika harus berbicara soal kasih, maka orang Kristenlah yang paling mengerti, karena Allahnya telah meneladankannya. Kalau dalam kekekalan itu, Allah hanya tunggal dan sendirian; maka ketika dikatakan bahwa Ia mengasihi, maka apa buktinya? Mengasihi itu perlu adanya subyek dan obyek! Harus ada obyek yang dikasihi. Allah yang dipercaya orang Kristen adalah Allah yang dari sejak kekekalan adalah Tritunggal. Kalaupun Ia tidak menciptakan manusia, Ia tidak akan kesepian. Di dalam kekekalan, Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus, saling mengasihi dengan kasih yang kekal. Itu sebabnya, ketika Allah itu menciptakan manusia, manusia mendapatkan pola bagaimana mengasihi, dari Allah sendiri.
Di ayat 5, SHEMA juga berbunyi, “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Orang Kristen mungkin untuk mengasihi karena Allah yang mereka sembah meneladankan lebih dahulu bagaimana mengasihi. Terhadap Allah yang telah terlebih dahulu mengasihi umatNya, maka umatNya pun diperintahkan untuk mengasihi Allah!
Tetapi Allah itu abstrak; tidak terlihat! Lalu bagaimana manusia dapat secara konkret menyatakan kasihNya kepada TUHAN Allah? Ayat 6-7 menunjukkannya kepada kita, “Apa yang kuperintahkan kepadamu hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya….” Jadi bagaimana wujud konkret kita mengasihi TUHAN Allah? Dengan memperhatikan Firman Allah dan mengasihi sesama kita, secara khusus anggota keluarga kita sendiri, yaitu anak-anak kita.
Dicatat dalam ayat 7 istilah “mengajarkan”! Mengapa istilah yang dipakai adalah istilah mengajar? Bukankah istilah mendidik lebih baik? Apa bedanya mengajar dan mendidik? Seorang Psikolog menjelaskan bahwa mengajar itu hanyalah sebatas transfer of knowledge, sedangkan mendidik pada hakekatnya adalah relasi. Jadi harus ada relasi antara pendidik dan yang dididik. Ini berbicara juga masalah keteladanan yang dapat diberikan oleh pendidik kepada yang dididik. Jika demikian, apakah ini berarti Firman TUHAN hanya mengajarkan sesuatu yang dangkal saja? Sesuatu yang bersifat transfer of knowledge saja?
Kalau kita membaca ayat 7-9, maka kita mendapati bahwa transfer of knowledge disini juga melibatkan keseluruhan hidup si pendidik. Ini dapat kita baca dari kalimat, “membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring, dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu, dan pada gerbangmu.” Jadi Firman Tuhan itu harus dibicarakan saat di dalam rumah; di luar rumah; ketika hendak tidur; maupun ketika bangun tidur. Jadi dalam seluruh aktivitas kita ketika terjaga, Firman TUHAN harus senantiasa diajarkan.
Dalam Ulangan 11:18-20 juga dicatat, “Tetapi kamu harus menaruh perkataanku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu; kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu. Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring, dan apabila engkau bangun; engkau harus menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.” Jadi, si pendidik sendiri harus menaruh Firman Allah dalam hati dan jiwanya sendiri, sebelum mengajarkannya kepada peserta didik.
Dari dua bagian ayat ini, kita memahami bahwa perintah untuk mengajarkan Firman Allah dalam Kitab Ulangan ini, melibatkan keseluruhan hidup si pendidik juga, dan menuntut adanya sebuah keteladanan. Si pendidik sendiri, dalam hal ini orangtua, harus hidup dalam Firman Allah. Jadi proses transfer of knowledge yang terjadi sebetulnya bersifat pendidikan, dan tidak hanya bersifat pengajaran kognitif belaka.
Orang-orang Yahudi memahami bagian Firman ini secara harafiah. Mereka betul-betul mempraktekkan untuk mengikatkan Firman Tuhan pada lengan dan dahi mereka. Dalam upacara agama Yahudi tertentu, ada kotak kecil berisi Firman Tuhan yang diikatkan di dahi mereka. Namun ini tentu bukan yang dimaksudkan Firman Tuhan disini. Tangan melambangkan kerja, sedangkan dahi melambangkan pikiran. Jadi dalam pikiran dan tindakan/kerja kita, kita harus hidup dalam Firman Tuhan.
Kata kunci lain yang penting dari bagian ini adalah kata “berulang-ulang”. Sebetulnya dalam teks Ibraninya, frasa “berulang-ulang” tidak ada. Dalam teks Ibrani, kalimatnya hanya berbunyi “Haruslah engkau mengajarkannya”. Hanya saja, dalam kata “mengajarkannya”, tenses/penanda waktu yang digunakan menunjukkan tindakan yang berlangsung terus-menerus. Karena itu, penerjemah LAI menegaskan kata mengajarkan dalam ayat ini, dengan frasa “berulang-ulang.”
Frasa “berulang-ulang” disini hendak menekankan bahwa proses pendidikan itu harus betul-betul mengakibatkan adanya nilai-nilai yang terukir (impress) dalam diri peserta didik. Orang dewasa saja perlu diperingatkan secara berulang-ulang, apalagi anak-anak. Kita manusia memang sering lupa, melupakan, atau pura-pura lupa. Karena itu, seringkali ada bagian Firman Tuhan yang sudah berkali-kali kita dengarkan, tetapi toh senantiasa penting untuk diajarkan lagi dan lagi.
Jadi, dari semua pelajaran ini, kita belajar beberapa hal. Pertama, kita mampu mengasihi karena Allah telah terlebih dahulu memberikan teladan kita untuk mengasihi. Kedua, wujud konkret kita untuk belajar mengasihi, dimulai dengan belajar mengasihi orang-orang terdekat kita, secara khusus anak-anak kita. Dan ketiga, mengasihi anak-anak kita diwujudkan dengan mendidik mereka secara intens, dan melibatkan seluruh hidup serta keteladanan kita.
(Disampaikan dalam persekutuan Rayon Filadelfia GK Kalam Kudus Jayapura, Jumat/17 Mei 2013).

Selasa, 05 Juni 2018

BERTOLONG-TOLONGANLAH MENANGGUNG BEBANMU

(Galatia 6:2)
“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu…” Kalimat ini pertama sekali dialamatkan Rasul Paulus kepada jemaat Kristen di Galatia, setelah terlebih dahulu mencela tindakan mereka yang terkesan berubah-ubah. Paulus kesal mendengar berita tentang keadaan jemaat yang begitu cepat berubah mundur. Mereka berbalik kepada injil yang lain. Ada pihak tertentu yang menjadikan orang-orang Galatia kebingungan. Paulus sangat marah kepada mereka yang mengganggu “kenyamanan” jemaat Galatia. Ada masalah yang timbul tak terduga. Adanya pengajar lain yang mengubah suasana, merupakan dasar kuat bagi Paulus menggunakan kalimat “bertolong-tolonganlah.”
“Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik daripada Dia…” (Gal.1:6). Perkataan ini merupakan ungkapan marah, kesal dan tidak habis pikir, betapa cepatnya perubahan itu terjadi. Paulus curiga pasti ada yang mengacaukan keadaan. Kepada mereka yang mengacaukan itu, Paulus berkata: “terkutuklah dia” (Gal.1:8). Pertanyaan kita atas keadaan yang cepat berubah itu adalah “dorma” (bahasa Batak) apa yang disuguhkan kepada jemaat Galatia, sehingga mereka terkesan sudah meninggalkan injil yang diberitakan Paulus, dengan beralih ke injil yang lain itu? Saya sebut “dorma” karena bagi Paulus, ajaran yang disampaikan sangat jelas, akan tetapi ternyata masih sanggup dirobah oleh “ sesuatu yang lain”. “Sesuatu” itulah yang saya maksud “dorma”. Terhadap pertanyaan ini, kita ajukan sedikitnya dua asumsi.
Pertama, dari kalangan Yudaisme, yang menekankan keharusan melaksanakan Hukum Taurat, seperti sunat. Asumsi ini didasarkan kepada pernyataan marah Paulus, yang berkata: “Hai orang-orang Galatia yang bodoh! (Gal.3:1) dan “sebab sekiranya ada kebenaran oleh Hukum Taurat maka sia-sialah kematian Kristus” (Gal.2:21). Paulus dengan tegas membantah bahwa kebenaran bukan diperoleh melalui Hukum Taurat, melainkan melalui iman. Hukum Taurat hanya berfungsi sebagai penuntun untuk sampai kepada Kristus. Dengan kedatangan Kristus maka pengawasan penuntun tidak begitu penting lagi (Gal.3:23-25).
Kedua, dari kalangan Gnostisisme, yang menekankan pokok-pokok ajaran Hellenisme. Assumsi ini didasarkan kepada ucapan Paulus dalam dalam Galatia 4:10, “Kamu dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun.” Pihak Gnostik dicurigai Paulus dengan giat berusaha mempengaruhi jemaat di Galatia.
Terhadap keadaan yang berubah itulah Paulus berkeinginan untuk hadir di Galatia secepatnya, agar dapat dengan lebih jelas mengetahui alasan perubahan itu. Hanya saja bila kesempatan itu ada, maka situasi di antara Paulus dengan jemaat Galatia, tidak seperti dulu lagi. Paulus akan memarahi mereka (Gal.4:20).
Hubungan yang akrab antara Paulus dengan jemaat di Galatia menjadi terganggu karena masuknya “ajaran” baru ke dalam persekutuan itu. Sedikitnya, yang paling terganggu adalah Paulus, karena merasa jerih-payahnya memberitakan Injil sia-sia. Informasi tentang kegelisahan di dalam jemaat Galatia akibat masuknya “ajaran” baru ini kurang saya peroleh. Apakah mereka telah terbagi atas kelompok-kelompok atau apakah mereka bulat-bulat telah meninggalkan ajaran Paulus. Akan tetapi saya yakin, dari antara warga jemaat Galatia pasti ada yang tetap teguh. Mereka inilah yang memberitahu Paulus keadaan di Galatia. Laporan yang diterima Paulus menjadi dasar dari kerisauannya terhadap keadaan jemaat di Galatia.
Hal yang perlu kita perhatikan dari yang dipesankan Paulus kepada jemaat Galatia, adalah tentang kebebasan orang kristen dalam melaksanakan sesuatu sesudah menerima Injil Kristus. Ada tiga arah yang dikembangkan Paulus dalam menjelaskan kebebasan Kristen, yaitu:
a)  Pemanggilan Allah kepada Abraham, yang mematuhi Perintah Allah untuk meninggalkan negeri leluhurnya. Kepatuhannya dinyatakan sebagai kebenaran. Abraham di dalam kebebasannya memutuskan mematuhi perintah Allah, kendati mengetahui ada banyak hal yang terjadi di luar kemampuannya.
b)  Peran Hukum Taurat yang berubah sesudah kedatangan Kristus. Menurut Paulus, sebelum kedatangan Kristus, berfungsi sebagai pengawal atau penuntun, tetapi sesudah Kristus tidak perlu lagi, karena telah menerima pengangkatan langsung melalui Kristus.
c)  Melalui tafsiran allegoris dari kisah dua isteri Abraham dan anak mereka bahwa Perjanjian Lama sendiri adalah saksi bagi kebebasan yang digunakan Kristus untuk melepaskan manusia. Di situlah sebenarnya setiap orang Kristen tidak boleh menyalahgunakan kebebasannya itu.
Untuk mampu kembali dari keadaan yang tidak baik akibat kesulitan itu, maka Paulus memberi  arah untuk memampukan jemaat Galatia menemukan identitasnya. Arah yang ditunjuk itu lebih bersifat etika. Di dalam arah yang ditunjukkan Paulus inilah terletak tema kita. Paulus mengingatkan bahwa kemerdekaan yang diberikan, bukanlah untuk digunakan sekehendak diri, melainkan untuk pelayanan kasih untuk orang lain. Dengan melaksanakan pelayanan kasih, maka semua tuntutan Hukum Taurat terpenuhi. Untuk lebih memantapkan pemahaman jemaat tentang pelayanan kasih itu, maka Paulus memberi gambaran tentang perbedaan antara Perbuatan Roh dan Perbuatan Daging. Daftar sifat-sifat buruk sebagai hasil dari perbuatan daging diperhadapkan dengan daftar sifat-sifat baik sebagai hasil dari perbuatan roh. Orang Kristen seharusnya hidup di dalam Roh, maka perbuatannya pun harus  menunjukkan buah-buah roh. Perbuatan-perbuatan seperti itulah yang sebaiknya diperhatikan dan diteladani orang Kristen.
Agar arah yang ditunjukkan itu dapat langsung operasional di dalam membina pertumbuhan persekutuan, maka Paulus memberi serangkaian himbauan khusus. Sedikitnya, ada dua hal dari himbauan khusus ini untuk kita gumuli dan implementasikan, yaitu:
a)  Orang yang terlebih dahulu menyadari adanya kekeliruan atau pelanggaran yang terjadi, terutama disebabkan oleh ketidaktahuan, berkewajiban membimbing ke arah yang benar dengan tetap menjaga diri untuk tidak ikut terpeleset melakukan hal yang salah itu. “Kalaupun seorang kedapatan melakukan kesalahan, maka kamu yang rohani harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut sambil menjaga diri sendiri, supaya kamu jangan kena pencobaan” (Gal.6:1).           Dengan kalimat ini Paulus menghimbau, mereka yang sudah hidup di dalam roh supaya menempatkan diri dalam posisi yang tidak lebih baik dari yang melakukan pelanggaran itu. Himbauan seperti itu lebih bersifat etis, sehingga kesalahan atau pelanggaran yang terlanjur terjadi tidak meluas, dan orangnya tidak perlu dikeluarkan dari persekutuan. Tidak perlu meninggikan diri di dalam kesalahan orang lain.
b)  Bertolong-tolongan menanggung bebanmu. Kalimat ini lebih berfokus kepada upaya bersama menanggulangi masalah yang telah terjadi. Beban yang dimaksudkan oleh Paulus lebih tertuju kepada pelanggaran yang bermuatan dosa, bukan kepada pengalaman-pengalaman pahit di dalam kehidupan, seperti menderita sakit, kemiskinan dan sejenisnya. Dengan demikian, hemat saya bahwa yang menjadi masalah adalah implementasi dari iman dalam menyikapi ajaran yang berbeda dengan yang diimani.
Saudara yang ternyata kedapatan melakukan dosa, jangan diperlakukan sebagai orang yang harus dijauhi, melainkan dibantu supaya tidak berdosa lagi. Adalah kewajiban orang yang tidak berdosa untuk menolongnya. Solider dengan orang yang berdosa, bukan berarti membenarkan kesalahan yang dilakukan, melainkan membimbing yang bersalah itu ke arah yang benar.
Dunia yang kita hidupi sekarang diisi dengan perubahan-perubahan yang terjadi di semua lini kehidupan. Perkembangan Ilmu Pengetahuan yang begitu cepatnya turut serta menyuburkan perubahan itu. Pagar-pagar kehidupan yang sejak awal dibentuk untuk menjamin kelangsungan hidup manusia pun turut terbongkar. Dunia dirasakan makin sempit. Manusia yang berada di dalamnya pun makin asing satu sama lain. Siapa menguasai teknologi akan menguasai interaksi antar manusia. Keinginan manusia memenuhi interaksi itu; keinginan yang satu berhadapan dengan keinginan yang lain menjadi batu sandungan dalam berinteraksi.
Kebebasan individu dan hak azasi menjadi senjata yang ampuh menyuburkan pemenuhan keinginan masing-masing yang saling bertentangan itu. Akibatnya, dunia makin tidak nyaman untuk didiami. Saling memangsa dengan senjata Hak dan Kebebasan menjadi sikap yang umum pada zaman ini. Dosa dinyatakan sebagai sesuatu yang boleh saja dilakukan asal jangan sampai mengganggu ketertiban umum. Namun kepentingan umumpun bukannya terpelihara. Solidaritas tidak lebih hanya sebuah semboyan. Kecenderungan umat manusia, lebih terfokus kepada pemenuhan kebutuhan tanpa merasa perlu mau memperdulikan orang lain. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin; yang kuat memperlakukan yang lemah sesuai keinginan. Jurang pemisah di antara manusia terbangun menggantikan pagar-pagar penopang kehidupan. Keadaan seperti itu juga memasuki persekutuan di dalam gereja. Ada sebagian pihak yang mengatakan diri lebih kudus, lebih benar dan lebih baik dari saudaranya yang lain. Dengan demikian ada dua hal yang menonjol, yaitu kesombongan jasmani dan kesombongan rohani. Kepada kedua hal inilah yang sebaiknya kita beri perhatian.
Beberapa perilaku umat manusia yang menjadi pertanda suburnya kesombongan jasmani dan kesombongan rohani, antara lain:
  1. Suburnya pengelompokan berdasarkan kepentingan. Orang lain di luar kelompoknya dinyatakan sebagai musuh, yang bila perlu dilenyapkan.
  2. Suburnya sikap yang menyebut diri lebih baik, lebih kudus dari orang lain.
  3. Memudarnya keperdulian terhadap upaya menolong orang tertindas, orang miskin dan orang yang lemah, malah cenderung dijadikan sebagai objek yang harus ditolong. Tampaknya mengarah kepada kesombongan pemberi.
  4. Terjadinya pengucilan terhadap orang-orang bersalah, bahkan tidak sedikit yang main hakim sendiri; sepertinya tidak ada pemahaman bahwa dia pun dapat berbuat salah.
  5. Kalaupun ada pihak-pihak yang menyatakan diri membantu yang lemah, miskin, dan yang bodoh, akan tetapi bantuannya itu bukan tanpa pamrih.
  6. Yang merasa diri adalah orang lemah dan miskin, juga tak luput dari kesombongan itu. Mereka menganggap bantuan yang diberikan adalah haknya, tanpa pernah mengucapkan terima-kasih.
Apa yang sebaiknya kita lakukan? Kalau Paulus merasa gusar, kesal dan marah terhadap perubahan mundur dari jemaat di Galatia, dia memberi arah bahkan himbauan untuk dilakukan, dalam upayanya mengembalikan persekutuan Kristen kepada keadaan yang seharusnya. Kesalahan atau dosa yang telah dilakukan tetap dinyatakan sebagai kesalahan dan dosa. Akan tetapi Paulus meminta agar jangan berhenti sampai di situ saja. “Marsiurupan ma hamu”, itulah pesannya.
Menyadari posisi masing-masing di dalam konteks persekutuan, hemat saya itulah yang pertama-tama kita lakukan. Posisi tersebut baiknya dicari dalam konteks Pemilihan dan Pengutusan Tuhan. Setiap orang sebaiknya menempatkan diri dalam persekutuan di mana dia berada sebagai orang yang dipilih dan diutus Tuhan mewujudkan tugas imannya. Dengan demikian setiap orang menyadari posisinya sebagai pemberi, bukan penerima. Masing-masing dipilih dan diutus Tuhan dengan bekal yang khas. Bekal yang masing-masing terima memang berbeda, tetapi bukan tidak berarti. Dari bekal yang khas itulah, kita memberi partisipasi memperbaiki mutu persekutuan ke arah yang Tuhan kehendaki. Bekal yang khas masing-masing kita terima, bukan keunggulan dari orang lain, melainkan modal utama ikut serta membangun persekutuan. Dengan demikian, tugas kita yang kedua adalah mengenal bekal khas yang dianugerahkan kepada kita. Sekali lagi bukan untuk disombongkan melainkan untuk disumbangkan.
Membina kebersamaan melalui kerelaan masing-masing anggota persekutuan memberi yang dimiliki, itulah keberadaan kita. Dengan demikian, tembok-tembok pemisah, jurang perbedaan, sumber-sumber perselisihan, baik yang tumbuh di dalam maupun yang datang dari luar, persekutuan, akan mampu menjembatani perilaku melakukan tindakan yang pada gilirannya berbuahkan pertumbuhan persekutuan. Menyatakan diri berarti bagi persekutuan akan lebih bermakna, daripada mengharapkan sesuatu dari persekutuan.
Beberapa tantangan yang mungkin kita hadapi saat tekad membina kebersamaan telah mulai bertumbuh, antara lain:
a. Keinginan diri untuk memperoleh tempat yang layak di tengah persekutuan. Keinginan ini pada dasarnya wajar, akan tetapi jika dijadikan prasayarat untuk ambil bagian dalam persekutuan akan menjadi penghalang dalam membina kebersamaan. Egoisme terselubung, itulah masalahnya.
b.  Makin mudahnya kita tersinggung, jika kita menerima pendapat yang berbeda dengan yang kita inginkan. Akibatnya orang lain yang ada di dalam persekutuan menjadi enggan berpartisipasi.
c. Makin sulitnya kita memutuskan sesuatu hal, karena makin banyaknya keinginan dan kebutuhan kita searah dengan makin tingginya pengetahuan kita. Keinginan kita sering menutup pintu hati kita mendahulukan kebutuhan yang lebih luas.
Dari mana kita mulai? Terhadap pertanyaan ini, kita mungkin akan melihat orang lain, yang menurut hemat kita memiliki lebih banyak bekal yang khusus. Akibat pemikiran ini, kita menjadi pihak yang menerima bukan pemberi. Jemaat yang kita layani, kita sebut “kurang mampu” dan jemaat yang dilayani saudara kita, kita sebut “berkemampuan”, atau kita sebagai pribadi  menyatakan tidak bisa berbuat apa-apa walau kita sadar, ada yang harus kita dilakukan. Oleh siapa? Oleh orang lain, tetapi bukan kita. Pola pikir yang seperti itulah yang  menurut hemat saya, kita hindari. Kita semua, tanpa kecuali, memiliki modal dasar dalam upaya bertolong-tolongan. Oleh sebab itu, pertanyaan: dari mana kita mulai, baiknya kita robah menjadi: apa yang dapat kuberikan? Kecil atau besar yang dapat kita berikan, jangan menjadi perdebatan, yang pasti kita masing-masing pasti ada yang dapat kita berikan. Di sinilah peran kepemimpinan kita dibutuhkan. Dengan demikian, jiwa dari Aturan dan Peraturan HKBP (2002) dapat kita laksanakan. Semua untuk semua. Satu untuk semua. Semua untuk satu. Menjadikan masing-masing anggota berarti bagi persekutuan, itulah tugas kita. Dan masing-masing anggota memberi yang dimiliki, itulah pula tekad kita, sehingga apa yang kurang dari yang satu, akan dilengkapi oleh apa yang lebih dari yang lain. Peran pimpinan structural, bukan lagi garis komando, melainkan garis koordinasi.
Prinsip yang sebaiknya kita anut adalah : Memberi bukan menerima. Jika prinsip ini telah terbiasa di dalam diri kita, maka posisi kita sebagai pilihan dari utusan Allah telah berada di dalam posisi yang tepat. Walau pun pada akhirnya kepada kita masing-masing diberi tugas khusus, itu adalah bagian dari pembagian tugas dari tugas-tugas bersama. Pembagian tugas, bukan keunggulan, melainkan bagian dari partisipasi.
Saya ingin menutup tulisan ini dengan beberapa pokok pikiran untuk kita renungkan:
–       Siapa memiliki, dia akan kehilangan.
–       Siapa mengingini, dia akan kehausan.
–       Siapa memberi, dia akan memperoleh.
–       Siapa menyembunyikan, dia akan kecurian.
–       Siapa menganggap diri lebih, dia akan ditinggalkan.
Mari saling menolong agar kita saling melengkapi.

Minggu, 27 Mei 2018


KEPADA ALLAH YANG TIDAK DIKENAL

Kisah Rasul 17:16-34

23 Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu. (Kis. Rasul 17:23 ITB)

Pendahuluan
Manusia yang berdosa tidak dapat mengenal Allah yang suci, bila Allah tidak terlebih dahulu menyatakan diri-Nya kepada manusia. Sejak kejatuhan manusia pertama di taman Eden, maka Allah yang berinisiatif mencari manusia, bukan manusia yang mencari Allah.

Bila manusia berusaha mencari Allah, maka ia tidak dapat menemukannya dengan benar. Hal ini terbukti ketika rasul Paulus dalam perjalanan misi penginjilannya ke kota Atena, dia menemukan bahwa manusia pintar (para filsuf) yang ada di kota itu berusaha memuja Allah lewat patung-patung yang begitu banyak yang mereka dirikan (Kis 17:16). Karena mereka sudah tidak tahu lagi jenis Allah mana lagi yang harus disembah, maka mereka mendirikan patung : Kepada Allah yang tidak dikenal. Nah, Allah yang tidak dikenal itulah yang sesungguhnya adalah Allah yang diberitakan oleh rasul Paulus.


Pembahasan
Rasul Paulus melanjutkan perjalanannya untuk memberikatakan Injil sejak dari kota Yerusalem, lalu ke Makedonia (lewat panggilan Tuhan: panggilan ke Makedonia) khususnya ke kota Filipi, lalu melanjutkan lagi ke Tesalonika, Berea dan sekarang tiba ke kota Atena (baca Kis Rasul 16 – 17:15).

Paulus jelas sekali dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi pemberita Injil, khususnya kepada orang-orang non Yahudi. Dan hal ini menggenapi Amanat Agung Kristus (Mat 28:19-20) agar Injil disebarluaskan mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria hingga ke ujung bumi. Hal ini membuktikan bahwa berita Injil Keselamatan untuk semua bangsa hingga ke ujung bumi. Pada konteks masa itu kota Roma adalah ‘ujung bumi’, sehingga nantinya rasul Paulus sampai ke Roma dan bahkan mati dipancung karena Injil di kota Roma tersebut.

Kita perhatikan bahwa perjalanan misi rasul Paulus dalam menggenapi panggilan Tuhan tidak diisi dengan hasil yang memuaskan dari sudut pandang manusia. Terlalu banyak kesulitan, tantangan dan tentangan. Hanya sedikit orang yang percaya karena pemberitaan Injil itu. Di Filipi rasul Paulus hanya berhasil membawa Lidia seorang pengusaha wanita penjual kain ungu dan di samping itu bertemu dengan perempuan lain yang adalah seorang petenung yang ditengking dari roh jahat yang merasuki diri perempuan itu. Setelah itu rasul Paulus dianiaya dan diusir dari kota itu, karena provokasi dari orang yang kehilangan penghasilannya, sejak perempuan petenung itu kehilangan kuasa magisnya.
Atas nasehat dari para jemaat, maka Paulus pergi ke Tesalonika. Ternyata di kota Tesalonika inipun tidak banyak orang yang dapat dimenangkan oleh berita Injil dan malah timbul keributan dari orang-orang Yahudi lain yang menolak pemberitaan Injil itu. Dan kembali oleh nasehat beberapa jemaat, Paulus pergi lagi ke Berea dan di sana tampaknya lebih kondusif keadaannya, karena penerimaan Injil yang lebih baik di kota itu.

Tetapi hal itu juga tidak berlangsung lama, karena terjadi pengejaran dari orang-orang Yahudi dari Tesalonika yang tidak suka dengan pemberitaan Injil oleh rasul Paulus (karena mengakibatkan pengikut mereka berkurang). Oleh karena itu rasul Paulus pergi ke Atena. Di Atenapun Paulus mendapat pertentangan pemikiran dari para filsuf golongan Epikuros dan Stoa yang tumbuh subur di kota itu (Kis Rasul 17:18).

Orang dari golongan Epikuros memiliki filsafat hidup bahwa kebahagiaan hidup ini sebetulnya sederhana. Nikmati saja hidup di dunia ini. Kalau standar hidup kita tidak tinggi, misalnya dalam konteks kekinian cukup makan 3X sehari dengan tempe, itulah kebahagiaan. Kalau kita ingin mendapatkan kepuasan dengan tubuh jasmani ini, nikmati saja sepuas-puasnya, karena itulah ‘kebahagiaan’ ketika kita masih hidup di dunia ini. Tidak ada kehidupan lain selain di dunia ini.

Orang golongan Stoa lain lagi. Mereka lebih menekankan bahwa etikalah penentu kebahagiaan dalam hidup di dunia ini. Oleh sebab itu ketika rasul Paulus mengajarkan kebenaran Injil dan adanya kebangkitan hidup bagi orang percaya Kristus, maka pengajaran baru ini dianggap aneh dan tidak masuk akal dalam pikiran para filsuf itu (Kis Rasul 17:18, 20, 32).
Oleh karena itu benarlah nats yang mengatakan bahwa : pemberitaan tentang Injil adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa (1 Kor 1:18a).

Walaupun demikian ternyata ada sebagian orang yang percaya Injil yaitu : beberapa orang laki-laki menggabungkan diri dengan dia dan menjadi percaya, di antaranya juga Dionisius, anggota majelis Areopagus, dan seorang perempuan bernama Damaris, dan juga orang-orang lain bersama-sama dengan mereka. (Kis Rasul 17:34).

Penutup
Dari kisah ini ada beberapa hal yang dapat kita pelajari :
1.  Iman kekristenan mengajarkan bahwa Allah yang tidak dikenal itulah yang sesungguhnya dicari manusia. Manusia seringkali berusaha menemukan Allah dalam pemikiran manusia sendiri yang sudah terdistorsi oleh dosa. Tetapi dalam relung hati manusia yang paling dalam, sesungguhnya manusia menyadari bahwa ada Allah yang manusia butuhkan sesungguhnya. Allah yang tidak dikenal itulah, yang menembus pemikiran manusia yang terbatas yaitu Allah yang mau menjadi manusia dan mati bagi manusia berdosa. Sudahkah kita memberitakan Allah yang tidak dikenal tetapi sangat dibutuhkan oleh dunia yang semakin jauh dari Allah ?

2.   Seringkali kita berpikir bahwa menjalani kehendak Tuhan itu pasti mudah dan lancar serta menghasilkan banyak hal secara cepat. Ternyata yang dialami rasul Paulus tidak demikian. Minimal pada saat dia baru menjalani panggilan perintisan itu. Tidak otomatis seperti rasul Petrus yang sekali berkhotbah 3.000 orang bertobat, tetapi rasul Paulus dipakai Tuhan tidak secara jumlah petobat yang fantastis. Jumlah atau hasil bukan satu-satunya ukuran keberhasilan panggilan dan pelayanan. Proses dan hasil adalah dua hal yang berjalan beriringan, oleh sebab itu tidak boleh menggunakan segala cara untuk hanya mencapai hasil pada satu sisi. Bagaimanapun pasti ada hasil bila kita mengerjakannya dengan proses yang benar untuk Tuhan. Dan hasil itu tidak diukur secara instan sekarang menurut pemikiran manusia, tetapi oleh Tuhan sendiri. Tidak ada ayat di Alkitab yang mengatakan bahwa pelayanan nabi atau rasul A lebih hebat secara jumlah dan Tuhan lebih berkenan dari pada nabi atau rasul B yang lebih sedikit hasilnya. Dalam perumpamaan telenta sekalipun Tuhan tidak mengatakan bahwa orang yang menghasilkan peningkatan jumlah 2 talenta lebih malas dari pada yang menghasilkan 5 talenta. Oleh karena itu marilah dengan setia kita mengerjakan panggilan Injil itu sebagai bagian menggenapi kehendak dan panggilan Tuhan dalam hidup kita masing-masing.



Tuhan menolong dan memberkati kita.

  



Senin, 07 Mei 2018

KENAIKKAN TUHAN YESUS KE SURGA (Kisah Para Rasul 1:1-14)



Peristiwa Kenaikkan Tuhan Yesus adalah memang suatu peristiwa nyata yang membedakan dengan sangat tajam Kekristenan dengan agama-agama lain di dunia. Mungkin para tokoh pendiri agama itu merasa diutus oleh Tuhan, tetapi tidak pernah ada yang berani mengaku bahwa ia berasal dari Surga dan kembali ke Surga. Hanya Tuhan Yesus yang secara pasti dan meyakinkan mengatakan bahwa "Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini." (Yoh 8:23).

Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah. (Yoh 13:3).


Dibandingkan dengan berita Injil tentang kematian-penguburan-kebangkitan Yesus Kristus yang mendominasi kitab-kitab Injil, kisah kenaikkan Tuhan Yesus ke Surga memang cuma seperti cuplikan kisah kecil. Matius tidak menuliskannya, Markus cuma 1 ayat di Mark 16:19 yang itupun diragukan salinan teks aslinya, Lukas juga cuma 1 ayat dan begitu juga dengan Yohanes.

Mengapa narasi kitab-kitab Injil menempatkan peristiwa historis yang merupakan salah satu pilar penting dari kekristenan  ini dalam porsi yang sedikit ?
  1. Para penulis Injil merasa bahwa kisah ini "tidak terlalu" memberikan kontribusi langsung terhadap pesan utama berita Injil. Isu penting dari peristiwa salib yang sudah selesai itu (tetelestai) adalah bukan kepergian Tuhan Yesus ke Surga, tetapi kedatangan Roh Kudus (Pentakosta) sebagai era baru dimulainya zaman gereja. "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. " (Kis Rasul 1:8).
  2. Latar belakang kisah ini adalah ketakutan para murid ketika akan ditinggal oleh Tuhan Yesus setelah bersama-sama secara fisik di bumi selama 3,5 tahun.  Peristiwa Kenaikkan Yesus ke Surga sepertinya tidak menyajikan konklusi kehidupan dan pelayanan Yesus. Sebaliknya seperti menjadi anti klimaks dari terang peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus. Cenderung kepada rasa sedih karena keterpisahan daripada sukacita dan kemenangan dari sisi pandang para murid. Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. (1 Yoh 1:3).

Kalau begitu mengapa peristiwa ini tercatat sebagai kalendar gerejawi dan layak kita peringati setiap tahun ?

  1. Peristiwa ini meyakinkan sekali lagi tentang peristiwa kebangkitan fisik Tuhan Yesus. Latar belakang pemikiran orang Yahudi tentang kebangkitan adalah kebangkitan fisik yang sama dengan fisik manusia sekarang (Ayub 19:25-27). Lain lagi dengan orang Yunani yang punya pemikiran bahwa saat manusia mati, maka tubuh jasmani selesai, lalu dimulailah era rohani yang imortalitas selamanya. Kedua pendapat ini dipatahkan dalam kekristenan. Tubuh yang dibangkitkan adalah tubuh kebangkitan seperti yang dimiliki Tuhan Yesus, yang berbeda kualitasnya dengan tubuh manusia sekarang ini. 
  2. Tujuan perintah Yesus supaya tidak meninggalkan Yerusalem
  3. Mengoreksi kesalahan kosep para murid mengenai pemulihan kerajaan Israel pada konteks masa itu.
Tuhan Memberkati.



Kamis, 23 Juli 2015

Sotereologi


Apakah Orang Kristen bisa murtad ?
Ibrani 6:1-6


Pengantar
Kemurtadan adalah sebuah fenomena dalam Kekristenan. Namun apa sebetulnya kemurtadan? Apa yang terjadi pada diri seseorang yang murtad? Melalui tulisan singkat ini penulis hendak menjelaskan apa sebetulnya kemurtadan itu. Penulis juga hendak menjelaskan hubungan antara kemurtadan dan keselamatan orang percaya. Melalui tulisan ini, penulis hendak membela pandangan bahwa keselamatan orang percaya tidak mungkin hilang.

Beberapa Pengertian
George Eldon Ladd menulis bahwa menurut pandangan tradisional, Surat Ibrani ditujukan kepada komunitas Yahudi Kristen (kemungkinan) di Roma (13:24) yang sedang dihadapkan pada penganiayaan. Komunitas Yahudi tersebut terancam untuk murtad (apostasy) dari imannya kepada Kristus dan kembali kepada Yudaisme. Peringatan penulis terhadap bahaya kemurtadan ini tersebar dalam seluruh bagian Surat Ibrani, yaitu pada 2:1-4; 3:7-4[:11]; 5:11-6:12[20]; dan 10:19-39. Dale Moody dalam bukunya yang berjudul Apostasy menambahkan 12:1-29.
Dalam Ibrani 6:6 tertulis, “namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.” Dave Hagelberg menyatakan bahwa “menyalibkan lagi Anak Allah” berarti “berpikir bahwa salib layak bagi Yesus.” Hagelberg sebelumnya menjelaskan bahwa ketika Yesus disalibkan oleh umat Israel, mereka menganggap salib itu layak untuk Dia. Dan setelah mereka bertobat, mereka berpaling dari pikiran itu dan merasa bahwa salib itu sangat tidak layak bagi Tuhan Yesus. Kalau mereka murtad berarti mereka memihak (lagi) kepada orang-orang yang setuju dengan penyaliban Kristus. Ini menunjukkan bahwa mereka sudah mengeraskan hati.
Sedangkan John Owen menjelaskan frasa “menyalibkan lagi Anak Allah” dengan menulis bahwa mereka tidak dapat benar-benar menyalibkan Yesus; mereka melakukan itu kepada diri mereka sendiri secara moral. Melalui kemurtadan mereka, mereka memperlihatkan bahwa mereka setuju dengan orang-orang Yahudi yang menyalibkan Yesus. Tidak ada lagi ketidakhormatan yang lebih besar dari ini. Dosa mereka lebih besar daripada orang-orang Yahudi yang secara historis telah menyalibkan Yesus.
Menurut Owen, dalam kasus kemurtadan, tidak ada korban pengganti, baik di Perjanjian Lama, maupun di Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Lama, orang yang murtad akan mati tanpa belas kasihan. Demikian juga di bawah Injil. Orang yang murtad dari Kristus tidak akan menemukan korban pengganti bagi dosa-dosanya. Allah akan membuangnya dan menghancurkannya. John Owen menyatakan bahwa satu-satunya pengorbanan Kristus yang telah terjadi adalah untuk menyelesaikan masalah dosa umatNya di masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang, dan juga bagi dosa-dosa mereka yang tidak ada korban penggantinya menurut hukum. Contoh dosa semacam ini adalah pembunuhan dan perzinahan. Karena itu Daud yang telah melakukan dua dosa ini berkata, “Karena Engkau tidak menghendaki persembahan, bahkan sekiranya aku hendak memberikannya.” (Mzm. 51:18). Namun pengorbanan Kristus adalah untuk menebus dosa-dosa ini juga. Korban Kristus lebih dari mampu untuk menebus setiap orang yang paling berdosa. Jika orang-orang berdosa mengabaikan satu-satunya pengorbanan ini, mereka menjatuhkan kesalahan kepada diri mereka sendiri. Di sini kita melihat bahwa pandangan Owen tentang arti frasa “menyalibkan lagi Anak Allah”, sama dengan pandangan Hagelberg.
John Brown menjelaskan bahwa frasa ini semakin menunjukkan kekejaman dari kejahatan yang mereka lakukan. Frasa ini menunjukkan bahwa kejahatan mereka adalah sesuatu yang tak termaafkan dan secara terbuka telah memproklamasikan bahwa Yesus adalah penipu. Seolah-olah mereka hendak menyatakan, “Bapa kami telah melakukan hal yang tepat dengan membawa Dia, orang yang tak beriman, kepada salib.” Demikianlah mereka mengidentifikasikan diri mereka sendiri dengan para penyalib Yesus.
Menurut William L. Lane, frasa “menyalibkan lagi Anak Allah”, dalam bahasa aslinya merupakan kata Yunani yang berbentuk present participle, yaitu anastaurountas (menyalibkan lagi [Anak Allah]). Kata ini bersifat memperkuat nuansa yang ada di dalam kata Yunani berbentuk aorist participle, yaitu parapesontas (murtad). Lane menyatakan bahwa kata parapesontas ini sepadan/sinonim dengan kata apostenai (murtad). Bentuk aorist dalam kata parapesontas mengindikasikan satu momen yang menentukan dari suatu komitmen menuju kemurtadan. Kemurtadan menuntut satu penolakan yang tegas atas karunia Allah. Apa yang digambarkan dalam ayat enam ini adalah satu ekspresi yang menunjuk kepada setiap bentuk peralihan dari iman kepada Anak Allah yang tersalib. Ini bisa jadi berbentuk tuntutan untuk kembali kepada pengakuan dan praktek Yudaisme atas desakan massa yang kejam, sehingga melakukan penyangkalan publik atas iman di dalam Kristus demi keuntungan pribadi.
Berkenaan dengan frasa “menyalibkan lagi Anak Allah”, William Barclay menjelaskan bahwa penulis Ibrani melihat salib sebagai satu peristiwa yang membuka jendela ke dalam hati Allah. Sehingga, dosa tidak hanya menghancurkan hukum Allah; melainkan kembali dan kembali, menghancurkan hati Allah. Demikianlah, ketika kita berdosa, kita menyalibkan Kristus lagi.

Kemurtadan dan Keselamatan
Menurut Moody, Kamus Webster’s mendefinisikan apostasy sebagai “penolakan satu iman keagamaan” atau “meninggalkan kesetiaan sebelumnya.” Alkitab Revised Standard Version menterjemahkan kata parapesontas menjadi commit apostasy yang secara literal berarti “telah jatuh/kalah/berhenti” (dari kata “para”, sepanjang; dan kata “pipto”, jatuh). Moody menggunakan kata apostasy berdasarkan kata Yunani berbentuk aorist infinitive, apostenai (commit apostasy departing or falling away from the living God), dalam 3:12. Sedangkan Hagelberg menulis bahwa murtad sama artinya dengan “jatuh dari (Allah)”. Dari segi tata bahasa, frasa ini adalah sebuah rantai yang terdiri dari lima aorist participle, yaitu diterangi, mengecap, menjadi, sekali lagi mengecap, dan akhirnya murtad.
Moody juga mengutip Watson E. Mills yang menyatakan bahwa dalam Kitab Yeremia, kata Yunani apostasai (apostasy) diterjemahkan sebagai meshubah dan mendominasi tujuh bab pertama dalam Kitab Yeremia. Karena itu Moody menyatakan bahwa dapat dipastikan bahwa penulis Ibrani mendapatkan istilah apostasia ini dari Nabi Yeremia. Namun dalam bukunya, Moody juga mencatat tentang usaha beberapa orang untuk membela pandangan bahwa kata Yunani, apostasy, tidak memiliki pengertian sebagaimana yang dipahami sekarang dalam bahasa Inggris. A.T. Robertson menyatakan bahwa teks Yunani terang-terangan menyangkal kemungkinan pembaruan dari seseorang yang murtad dari Kristus. Ini adalah gambaran yang parah dan tidak dapat diperhalus.
H.H. Hobbs mencoba untuk membuktikan kesalahan dari pandangan Robertson dengan mengatakan bahwa penulis Surat Ibrani berasumsi bahwa mereka yang dideskripsikan sebagai orang yang telah “diperbarui” di dalam “pengalaman spiritual yang asli” namun kemudian murtad, adalah mereka yang beresiko menahan pertumbuhan rohani, sebagaimana orang-orang Kristen Yahudi ini di dalam resiko untuk jatuh dari tujuan utama mereka di dalam perilaku dan pelayanan Kristen.
Borchert berargumen bahwa kata murtad di dalam Ibrani 6:6 tidak sama dengan yang digunakan dalam Ibrani 3:12 dimana kata Yunani, apostenai, berarti jatuh. Adalah benar bahwa aorist participle, parapesontas, digunakan dalam 6:6 dan aorist infinitive, apostenai, dalam 3:12, namun kata-kata ini memiliki arti yang cenderung sama. Tidak ada perbedaan di dalam pengalaman “jatuh” dalam 3:12 dengan “telah jatuh” dalam 6:6. Alkitab Revised Standard Version tidak salah. Demikian ada dua pandangan berkenaan dengan pengertian kata murtad dalam Surat Ibrani. Ahli-ahli seperti H.H. Hobbs melihat kata murtad ini sebagai suatu keadaan yang beresiko menahan pertumbuhan rohani, sedangkan ahli-ahli seperti Dale Moody, Hagelberg, bahkan Alkitab Revised Standard Version, melihat bahwa kata murtad ini berarti terpisah dari Allah yang hidup.

Kemungkinan Murtad
Berkenaan dengan isu mengenai bisa-tidaknya orang yang sudah percaya, murtad, penganut Teologi Reformed berpegang pada Bab V dari Canons of Dort yang berjudul The Perseverance of the Saints (ketekunan orang-orang kudus). Judul ini bisa menjebak, karena yang sesungguhnya dibicarakan adalah pemeliharaan Allah kepada umatNya. Bab ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu pemeliharaan Allah atas umatNya (Artikel 1-8), dan jaminan pemeliharaan bagi orang-orang percaya (Artikel 9-15).
Dalam artikel-artikel sebagaimana yang disebut di atas, Canons of Dort mengajarkan bahwa meskipun orang-orang percaya melakukan dosa bahkan sampai sebegitu seriusnya, namun Tuhan tidak membiarkan orang-orang percaya itu terhilang/kehilangan keselamatannya. Canons of Dort mengajarkan bahwa pemahaman ini hendak menunjukkan kesetiaan Allah dalam menyediakan dasar teguh yang aman kepada setiap orang percaya. Beberapa ayat-ayat yang digunakan, yaitu Mzm. 130:7; 103:15, 17; Rom. 8:39; Fil. 1:6; dan Yoh. 10:27, 28. Namun Ben Witherington III telah menulis satu buku yang kontroversial berjudul The Problem with Evangelical Theology: Testing the Exegetical Foundations of Calvinism, Dispensationalism, and Wesleyanism (Baylor University, 2005). Dalam buku tersebut Witherington menjelaskan bahwa sistem Calvinisme yang terkait dengan ide-ide predestinasi, anugerah yang tak dapat ditolak, dan khususnya ketekunan orang-orang kudus, memiliki kelemahan-kelemahan eksegetikal.
Menurut Witherington, dalam Surat Ibrani, terdapat peringatan kepada orang-orang Yahudi di Roma tentang bahaya kemurtadan, dan peringatan yang sangat kuat terlihat khususnya dalam Ibrani 6:1-6. Penulis Ibrani mengingatkan kepada semua orang Kristen Yahudi di Roma dan bukan kelompok-kelompok tertentu saja, ini jelas terlihat dari jalan dan alur dari argumen yang ada di Surat Ibrani. Orang Kristen yang dalam hidupnya hari ini memiliki jaminan keamanan kekal keselamatan, tentunya tidak memerlukan peringatan semacam itu. Dari sini terlihat bahwa penulis Surat Ibrani tidak berpikir bahwa ada orang-orang semacam itu; ia tidak berpikir bahwa seseorang tidak bisa hilang keselamatannya; tidak sampai seseorang itu berada aman di alam kekal.
Seperti halnya Witherington, Hagelberg pun berpandangan bahwa orang percaya bisa murtad. Moody kemudian menulis bahwa Surat Ibrani mengajarkan tentang preseverance of the saints. Namun topik ini telah dipahami secara salah sebagai, “jaminan keamanan orang percaya”. Perubahan istilah ini diusulkan oleh J.R. Graves pada 3 Mei 1873. Murid-murid Graves mengadopsi konsepnya lalu memahaminya sebagai “keamanan kekal.” Demikian, topik tentang kemurtadan pun kemudian dihubungkan dengan “keamanan kekal” ini, termasuk oleh Moody sendiri. Berkenaan dengan ini, John Owen menuliskan satu pemikiran yang dapat menstimuli kita untuk mencoba mengambil sikap dengan lebih tegas, berkenaan dengan apakah keselamatan bisa hilang.
Topik kemurtadan dalam Surat Ibrani memang menimbulkan perdebatan. Namun John Owen menyatakan bahwa jika seseorang menemukan satu nats Alkitab yang istimewa, namun tidak mencoba untuk menjelaskannya dari terang keseluruhan Alkitab, ia bisa jatuh ke dalam kekeliruan. Ia kemudian menjelaskan Ibrani 6:4-6. Ia menyatakan bahwa untuk mempelajari nats ini, kita harus mencoba memperhatikan konteks, maksud penulis, dan apa yang ditekankan tulisannya. Berbicara tentang konteks, teks dimulai dengan kata “Karena”, yang memberitahukan kepada kita untuk melihat ke belakang dan mencari tahu mengapa kata-kata ini ditulis.
Kata-kata ini segera saja didahului oleh, ”Kalau Allah mengijinkan.” Kemudian dari ayat sembilan, Owen menemukan bahwa nats ini tidak ditujukan kepada orang-orang percaya. Bagaimana pun ia memberikan peringatan agar pembacanya tidak menjadi seperti itu. Ia menegur mereka karena mereka malas. Bukannya bertumbuh dan meningkat di dalam pengetahuan iman dan pengetahuan praktis, mereka hanya berjalan di tempat, kalau bukan dikatakan mundur. Penulis Ibrani pun memperingatkan pembacanya agar tidak menjadi orang yang kelihatannya hidupnya sudah menjadi baik, yang dikira orang telah meninggalkan hidup lama, namun ternyata mereka terpeleset dan jatuh. Tidaklah dinyatakan secara jelas apakah ada Kovenan Anugerah atas hidup orang-orang ini, atau tentang adanya tugas iman atau kepatuhan yang telah mereka kerjakan. Mereka tidak dinyatakan sebagai orang-orang yang telah dibenarkan, disucikan, atau diadopsi menjadi anak-anak Allah. Kemudian, ketika penulis mendeklarasikan imannya dan kepercayaannya bahwa pembacanya bukanlah orang-orang yang berada di antara mereka yang telah ia gambarkan, ia menyatakannya atas tiga dasar:
  1. Orang percaya yang sejati memiliki ciri-ciri yang mendampingi anugerah keselamatan yang telah diterimanya. Hal-hal ini tidak terpisahkan dari keselamatan. Karenanya di dalam teks, tidak ada dari antara hal-hal ini yang tidak terpisah dari keselamatan.
  2. Orang percaya sejati dikenali lewat ketaatan mereka dan lewat buah-buah iman dalam kehidupan mereka (ayat 10). Dengan demikian, penulis Surat Ibrani mendeklarasikan bahwa mereka berbeda dari orang-orang murtad yang digambarkan. Tidak ada orang-orang yang telah memiliki buah iman yang menyelamatkan dan kasih yang tulus, dapat binasa.
  3. Orang percaya hidup d bawah pemeliharaan dan kesetiaan Tuhan, yang telah berjanji untuk memelihara mereka secara kekal. Namun Tuhan hanya berjanji untuk menjaga mereka yang ada di dalam kovenan anugerah, sehingag tidak binasa dalam kekekalan.
Kesimpulan
Peringatan penulis terhadap bahaya kemurtadan ini tersebar dalam seluruh bagian Surat Ibrani, yaitu pada 2:1-4; 3:7-4[:11]; 5:11-6:12[20]; 10:19-39; dan 12:1-29. Orang-orang yang murtad memperlihatkan bahwa mereka setuju dengan orang-orang Yahudi yang menyalibkan Yesus. Tidak ada lagi ketidakhormatan yang lebih besar dari ini. Dosa mereka lebih besar daripada orang-orang Yahudi yang secara historis telah menyalibkan Yesus. Saya pribadi berpandangan bahwa kata murtad dalam Surat Ibrani ini berarti terpisah dari Allah yang hidup. Dengan demikian terkait dengan persoalan keselamatan. Namun berlandaskan kepada pandangan John Owen, saya berpandangan bahwa keselamatan tidak bisa hilang, karena Ibrani 6:1-6 tidak ditujukan kepada orang percaya. Selain itu, Owen juga mengajarkan bahwa untuk memahami ketidakjelasan satu nats, kita harus mencari kejelasannya dari keseluruhan bagian Alkitab.

Kepustakaan :
  1. George Eldon Ladd, A Theology of the New Testament (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1975), 571-2. Dale Moody, Apostasy (Greenville, South Carolina: Smyth & Helwys Publishing, Inc., 1991), 61.
  2. Dave Hagelberg, Tafsiran Ibrani dari bahasa Yunani (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1996), 37-38.
  3. John Owen, Apostasy from the Gospel, ed. P.J.K. Law (Edinburgh & Pennsylvania: The Banner of Truth Trust, 1992), 33.
  4. John Owen, Hebrews: The Epistles of Warning (Grands Rapids, Michigan: Kregel Publications, 1977), 98.
  5. John Brown, Hebrews (Edinburgh & Pennsylvania: The Banner of Truth Trust, 1983), 293-4.
  6. William L. Lane, Word Biblical Commentary: Hebrews 1-8, vol 47A, ed. David A. Hubbard, et.al. (Dallas, Texas: Word Books, 1991), 142.
  7. Simon J. Kistemaker, New Testament Commentary: Exposition of the Epistle to the Hebrews (Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 1989), 163.
  8. William Barclay, The Letter to The Hebrews (Edinburgh: The Saint Andrew Press, 1960), 59.