Selasa, 05 Juni 2018

BERTOLONG-TOLONGANLAH MENANGGUNG BEBANMU

(Galatia 6:2)
“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu…” Kalimat ini pertama sekali dialamatkan Rasul Paulus kepada jemaat Kristen di Galatia, setelah terlebih dahulu mencela tindakan mereka yang terkesan berubah-ubah. Paulus kesal mendengar berita tentang keadaan jemaat yang begitu cepat berubah mundur. Mereka berbalik kepada injil yang lain. Ada pihak tertentu yang menjadikan orang-orang Galatia kebingungan. Paulus sangat marah kepada mereka yang mengganggu “kenyamanan” jemaat Galatia. Ada masalah yang timbul tak terduga. Adanya pengajar lain yang mengubah suasana, merupakan dasar kuat bagi Paulus menggunakan kalimat “bertolong-tolonganlah.”
“Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik daripada Dia…” (Gal.1:6). Perkataan ini merupakan ungkapan marah, kesal dan tidak habis pikir, betapa cepatnya perubahan itu terjadi. Paulus curiga pasti ada yang mengacaukan keadaan. Kepada mereka yang mengacaukan itu, Paulus berkata: “terkutuklah dia” (Gal.1:8). Pertanyaan kita atas keadaan yang cepat berubah itu adalah “dorma” (bahasa Batak) apa yang disuguhkan kepada jemaat Galatia, sehingga mereka terkesan sudah meninggalkan injil yang diberitakan Paulus, dengan beralih ke injil yang lain itu? Saya sebut “dorma” karena bagi Paulus, ajaran yang disampaikan sangat jelas, akan tetapi ternyata masih sanggup dirobah oleh “ sesuatu yang lain”. “Sesuatu” itulah yang saya maksud “dorma”. Terhadap pertanyaan ini, kita ajukan sedikitnya dua asumsi.
Pertama, dari kalangan Yudaisme, yang menekankan keharusan melaksanakan Hukum Taurat, seperti sunat. Asumsi ini didasarkan kepada pernyataan marah Paulus, yang berkata: “Hai orang-orang Galatia yang bodoh! (Gal.3:1) dan “sebab sekiranya ada kebenaran oleh Hukum Taurat maka sia-sialah kematian Kristus” (Gal.2:21). Paulus dengan tegas membantah bahwa kebenaran bukan diperoleh melalui Hukum Taurat, melainkan melalui iman. Hukum Taurat hanya berfungsi sebagai penuntun untuk sampai kepada Kristus. Dengan kedatangan Kristus maka pengawasan penuntun tidak begitu penting lagi (Gal.3:23-25).
Kedua, dari kalangan Gnostisisme, yang menekankan pokok-pokok ajaran Hellenisme. Assumsi ini didasarkan kepada ucapan Paulus dalam dalam Galatia 4:10, “Kamu dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun.” Pihak Gnostik dicurigai Paulus dengan giat berusaha mempengaruhi jemaat di Galatia.
Terhadap keadaan yang berubah itulah Paulus berkeinginan untuk hadir di Galatia secepatnya, agar dapat dengan lebih jelas mengetahui alasan perubahan itu. Hanya saja bila kesempatan itu ada, maka situasi di antara Paulus dengan jemaat Galatia, tidak seperti dulu lagi. Paulus akan memarahi mereka (Gal.4:20).
Hubungan yang akrab antara Paulus dengan jemaat di Galatia menjadi terganggu karena masuknya “ajaran” baru ke dalam persekutuan itu. Sedikitnya, yang paling terganggu adalah Paulus, karena merasa jerih-payahnya memberitakan Injil sia-sia. Informasi tentang kegelisahan di dalam jemaat Galatia akibat masuknya “ajaran” baru ini kurang saya peroleh. Apakah mereka telah terbagi atas kelompok-kelompok atau apakah mereka bulat-bulat telah meninggalkan ajaran Paulus. Akan tetapi saya yakin, dari antara warga jemaat Galatia pasti ada yang tetap teguh. Mereka inilah yang memberitahu Paulus keadaan di Galatia. Laporan yang diterima Paulus menjadi dasar dari kerisauannya terhadap keadaan jemaat di Galatia.
Hal yang perlu kita perhatikan dari yang dipesankan Paulus kepada jemaat Galatia, adalah tentang kebebasan orang kristen dalam melaksanakan sesuatu sesudah menerima Injil Kristus. Ada tiga arah yang dikembangkan Paulus dalam menjelaskan kebebasan Kristen, yaitu:
a)  Pemanggilan Allah kepada Abraham, yang mematuhi Perintah Allah untuk meninggalkan negeri leluhurnya. Kepatuhannya dinyatakan sebagai kebenaran. Abraham di dalam kebebasannya memutuskan mematuhi perintah Allah, kendati mengetahui ada banyak hal yang terjadi di luar kemampuannya.
b)  Peran Hukum Taurat yang berubah sesudah kedatangan Kristus. Menurut Paulus, sebelum kedatangan Kristus, berfungsi sebagai pengawal atau penuntun, tetapi sesudah Kristus tidak perlu lagi, karena telah menerima pengangkatan langsung melalui Kristus.
c)  Melalui tafsiran allegoris dari kisah dua isteri Abraham dan anak mereka bahwa Perjanjian Lama sendiri adalah saksi bagi kebebasan yang digunakan Kristus untuk melepaskan manusia. Di situlah sebenarnya setiap orang Kristen tidak boleh menyalahgunakan kebebasannya itu.
Untuk mampu kembali dari keadaan yang tidak baik akibat kesulitan itu, maka Paulus memberi  arah untuk memampukan jemaat Galatia menemukan identitasnya. Arah yang ditunjuk itu lebih bersifat etika. Di dalam arah yang ditunjukkan Paulus inilah terletak tema kita. Paulus mengingatkan bahwa kemerdekaan yang diberikan, bukanlah untuk digunakan sekehendak diri, melainkan untuk pelayanan kasih untuk orang lain. Dengan melaksanakan pelayanan kasih, maka semua tuntutan Hukum Taurat terpenuhi. Untuk lebih memantapkan pemahaman jemaat tentang pelayanan kasih itu, maka Paulus memberi gambaran tentang perbedaan antara Perbuatan Roh dan Perbuatan Daging. Daftar sifat-sifat buruk sebagai hasil dari perbuatan daging diperhadapkan dengan daftar sifat-sifat baik sebagai hasil dari perbuatan roh. Orang Kristen seharusnya hidup di dalam Roh, maka perbuatannya pun harus  menunjukkan buah-buah roh. Perbuatan-perbuatan seperti itulah yang sebaiknya diperhatikan dan diteladani orang Kristen.
Agar arah yang ditunjukkan itu dapat langsung operasional di dalam membina pertumbuhan persekutuan, maka Paulus memberi serangkaian himbauan khusus. Sedikitnya, ada dua hal dari himbauan khusus ini untuk kita gumuli dan implementasikan, yaitu:
a)  Orang yang terlebih dahulu menyadari adanya kekeliruan atau pelanggaran yang terjadi, terutama disebabkan oleh ketidaktahuan, berkewajiban membimbing ke arah yang benar dengan tetap menjaga diri untuk tidak ikut terpeleset melakukan hal yang salah itu. “Kalaupun seorang kedapatan melakukan kesalahan, maka kamu yang rohani harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut sambil menjaga diri sendiri, supaya kamu jangan kena pencobaan” (Gal.6:1).           Dengan kalimat ini Paulus menghimbau, mereka yang sudah hidup di dalam roh supaya menempatkan diri dalam posisi yang tidak lebih baik dari yang melakukan pelanggaran itu. Himbauan seperti itu lebih bersifat etis, sehingga kesalahan atau pelanggaran yang terlanjur terjadi tidak meluas, dan orangnya tidak perlu dikeluarkan dari persekutuan. Tidak perlu meninggikan diri di dalam kesalahan orang lain.
b)  Bertolong-tolongan menanggung bebanmu. Kalimat ini lebih berfokus kepada upaya bersama menanggulangi masalah yang telah terjadi. Beban yang dimaksudkan oleh Paulus lebih tertuju kepada pelanggaran yang bermuatan dosa, bukan kepada pengalaman-pengalaman pahit di dalam kehidupan, seperti menderita sakit, kemiskinan dan sejenisnya. Dengan demikian, hemat saya bahwa yang menjadi masalah adalah implementasi dari iman dalam menyikapi ajaran yang berbeda dengan yang diimani.
Saudara yang ternyata kedapatan melakukan dosa, jangan diperlakukan sebagai orang yang harus dijauhi, melainkan dibantu supaya tidak berdosa lagi. Adalah kewajiban orang yang tidak berdosa untuk menolongnya. Solider dengan orang yang berdosa, bukan berarti membenarkan kesalahan yang dilakukan, melainkan membimbing yang bersalah itu ke arah yang benar.
Dunia yang kita hidupi sekarang diisi dengan perubahan-perubahan yang terjadi di semua lini kehidupan. Perkembangan Ilmu Pengetahuan yang begitu cepatnya turut serta menyuburkan perubahan itu. Pagar-pagar kehidupan yang sejak awal dibentuk untuk menjamin kelangsungan hidup manusia pun turut terbongkar. Dunia dirasakan makin sempit. Manusia yang berada di dalamnya pun makin asing satu sama lain. Siapa menguasai teknologi akan menguasai interaksi antar manusia. Keinginan manusia memenuhi interaksi itu; keinginan yang satu berhadapan dengan keinginan yang lain menjadi batu sandungan dalam berinteraksi.
Kebebasan individu dan hak azasi menjadi senjata yang ampuh menyuburkan pemenuhan keinginan masing-masing yang saling bertentangan itu. Akibatnya, dunia makin tidak nyaman untuk didiami. Saling memangsa dengan senjata Hak dan Kebebasan menjadi sikap yang umum pada zaman ini. Dosa dinyatakan sebagai sesuatu yang boleh saja dilakukan asal jangan sampai mengganggu ketertiban umum. Namun kepentingan umumpun bukannya terpelihara. Solidaritas tidak lebih hanya sebuah semboyan. Kecenderungan umat manusia, lebih terfokus kepada pemenuhan kebutuhan tanpa merasa perlu mau memperdulikan orang lain. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin; yang kuat memperlakukan yang lemah sesuai keinginan. Jurang pemisah di antara manusia terbangun menggantikan pagar-pagar penopang kehidupan. Keadaan seperti itu juga memasuki persekutuan di dalam gereja. Ada sebagian pihak yang mengatakan diri lebih kudus, lebih benar dan lebih baik dari saudaranya yang lain. Dengan demikian ada dua hal yang menonjol, yaitu kesombongan jasmani dan kesombongan rohani. Kepada kedua hal inilah yang sebaiknya kita beri perhatian.
Beberapa perilaku umat manusia yang menjadi pertanda suburnya kesombongan jasmani dan kesombongan rohani, antara lain:
  1. Suburnya pengelompokan berdasarkan kepentingan. Orang lain di luar kelompoknya dinyatakan sebagai musuh, yang bila perlu dilenyapkan.
  2. Suburnya sikap yang menyebut diri lebih baik, lebih kudus dari orang lain.
  3. Memudarnya keperdulian terhadap upaya menolong orang tertindas, orang miskin dan orang yang lemah, malah cenderung dijadikan sebagai objek yang harus ditolong. Tampaknya mengarah kepada kesombongan pemberi.
  4. Terjadinya pengucilan terhadap orang-orang bersalah, bahkan tidak sedikit yang main hakim sendiri; sepertinya tidak ada pemahaman bahwa dia pun dapat berbuat salah.
  5. Kalaupun ada pihak-pihak yang menyatakan diri membantu yang lemah, miskin, dan yang bodoh, akan tetapi bantuannya itu bukan tanpa pamrih.
  6. Yang merasa diri adalah orang lemah dan miskin, juga tak luput dari kesombongan itu. Mereka menganggap bantuan yang diberikan adalah haknya, tanpa pernah mengucapkan terima-kasih.
Apa yang sebaiknya kita lakukan? Kalau Paulus merasa gusar, kesal dan marah terhadap perubahan mundur dari jemaat di Galatia, dia memberi arah bahkan himbauan untuk dilakukan, dalam upayanya mengembalikan persekutuan Kristen kepada keadaan yang seharusnya. Kesalahan atau dosa yang telah dilakukan tetap dinyatakan sebagai kesalahan dan dosa. Akan tetapi Paulus meminta agar jangan berhenti sampai di situ saja. “Marsiurupan ma hamu”, itulah pesannya.
Menyadari posisi masing-masing di dalam konteks persekutuan, hemat saya itulah yang pertama-tama kita lakukan. Posisi tersebut baiknya dicari dalam konteks Pemilihan dan Pengutusan Tuhan. Setiap orang sebaiknya menempatkan diri dalam persekutuan di mana dia berada sebagai orang yang dipilih dan diutus Tuhan mewujudkan tugas imannya. Dengan demikian setiap orang menyadari posisinya sebagai pemberi, bukan penerima. Masing-masing dipilih dan diutus Tuhan dengan bekal yang khas. Bekal yang masing-masing terima memang berbeda, tetapi bukan tidak berarti. Dari bekal yang khas itulah, kita memberi partisipasi memperbaiki mutu persekutuan ke arah yang Tuhan kehendaki. Bekal yang khas masing-masing kita terima, bukan keunggulan dari orang lain, melainkan modal utama ikut serta membangun persekutuan. Dengan demikian, tugas kita yang kedua adalah mengenal bekal khas yang dianugerahkan kepada kita. Sekali lagi bukan untuk disombongkan melainkan untuk disumbangkan.
Membina kebersamaan melalui kerelaan masing-masing anggota persekutuan memberi yang dimiliki, itulah keberadaan kita. Dengan demikian, tembok-tembok pemisah, jurang perbedaan, sumber-sumber perselisihan, baik yang tumbuh di dalam maupun yang datang dari luar, persekutuan, akan mampu menjembatani perilaku melakukan tindakan yang pada gilirannya berbuahkan pertumbuhan persekutuan. Menyatakan diri berarti bagi persekutuan akan lebih bermakna, daripada mengharapkan sesuatu dari persekutuan.
Beberapa tantangan yang mungkin kita hadapi saat tekad membina kebersamaan telah mulai bertumbuh, antara lain:
a. Keinginan diri untuk memperoleh tempat yang layak di tengah persekutuan. Keinginan ini pada dasarnya wajar, akan tetapi jika dijadikan prasayarat untuk ambil bagian dalam persekutuan akan menjadi penghalang dalam membina kebersamaan. Egoisme terselubung, itulah masalahnya.
b.  Makin mudahnya kita tersinggung, jika kita menerima pendapat yang berbeda dengan yang kita inginkan. Akibatnya orang lain yang ada di dalam persekutuan menjadi enggan berpartisipasi.
c. Makin sulitnya kita memutuskan sesuatu hal, karena makin banyaknya keinginan dan kebutuhan kita searah dengan makin tingginya pengetahuan kita. Keinginan kita sering menutup pintu hati kita mendahulukan kebutuhan yang lebih luas.
Dari mana kita mulai? Terhadap pertanyaan ini, kita mungkin akan melihat orang lain, yang menurut hemat kita memiliki lebih banyak bekal yang khusus. Akibat pemikiran ini, kita menjadi pihak yang menerima bukan pemberi. Jemaat yang kita layani, kita sebut “kurang mampu” dan jemaat yang dilayani saudara kita, kita sebut “berkemampuan”, atau kita sebagai pribadi  menyatakan tidak bisa berbuat apa-apa walau kita sadar, ada yang harus kita dilakukan. Oleh siapa? Oleh orang lain, tetapi bukan kita. Pola pikir yang seperti itulah yang  menurut hemat saya, kita hindari. Kita semua, tanpa kecuali, memiliki modal dasar dalam upaya bertolong-tolongan. Oleh sebab itu, pertanyaan: dari mana kita mulai, baiknya kita robah menjadi: apa yang dapat kuberikan? Kecil atau besar yang dapat kita berikan, jangan menjadi perdebatan, yang pasti kita masing-masing pasti ada yang dapat kita berikan. Di sinilah peran kepemimpinan kita dibutuhkan. Dengan demikian, jiwa dari Aturan dan Peraturan HKBP (2002) dapat kita laksanakan. Semua untuk semua. Satu untuk semua. Semua untuk satu. Menjadikan masing-masing anggota berarti bagi persekutuan, itulah tugas kita. Dan masing-masing anggota memberi yang dimiliki, itulah pula tekad kita, sehingga apa yang kurang dari yang satu, akan dilengkapi oleh apa yang lebih dari yang lain. Peran pimpinan structural, bukan lagi garis komando, melainkan garis koordinasi.
Prinsip yang sebaiknya kita anut adalah : Memberi bukan menerima. Jika prinsip ini telah terbiasa di dalam diri kita, maka posisi kita sebagai pilihan dari utusan Allah telah berada di dalam posisi yang tepat. Walau pun pada akhirnya kepada kita masing-masing diberi tugas khusus, itu adalah bagian dari pembagian tugas dari tugas-tugas bersama. Pembagian tugas, bukan keunggulan, melainkan bagian dari partisipasi.
Saya ingin menutup tulisan ini dengan beberapa pokok pikiran untuk kita renungkan:
–       Siapa memiliki, dia akan kehilangan.
–       Siapa mengingini, dia akan kehausan.
–       Siapa memberi, dia akan memperoleh.
–       Siapa menyembunyikan, dia akan kecurian.
–       Siapa menganggap diri lebih, dia akan ditinggalkan.
Mari saling menolong agar kita saling melengkapi.

Minggu, 27 Mei 2018


KEPADA ALLAH YANG TIDAK DIKENAL

Kisah Rasul 17:16-34

23 Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu. (Kis. Rasul 17:23 ITB)

Pendahuluan
Manusia yang berdosa tidak dapat mengenal Allah yang suci, bila Allah tidak terlebih dahulu menyatakan diri-Nya kepada manusia. Sejak kejatuhan manusia pertama di taman Eden, maka Allah yang berinisiatif mencari manusia, bukan manusia yang mencari Allah.

Bila manusia berusaha mencari Allah, maka ia tidak dapat menemukannya dengan benar. Hal ini terbukti ketika rasul Paulus dalam perjalanan misi penginjilannya ke kota Atena, dia menemukan bahwa manusia pintar (para filsuf) yang ada di kota itu berusaha memuja Allah lewat patung-patung yang begitu banyak yang mereka dirikan (Kis 17:16). Karena mereka sudah tidak tahu lagi jenis Allah mana lagi yang harus disembah, maka mereka mendirikan patung : Kepada Allah yang tidak dikenal. Nah, Allah yang tidak dikenal itulah yang sesungguhnya adalah Allah yang diberitakan oleh rasul Paulus.


Pembahasan
Rasul Paulus melanjutkan perjalanannya untuk memberikatakan Injil sejak dari kota Yerusalem, lalu ke Makedonia (lewat panggilan Tuhan: panggilan ke Makedonia) khususnya ke kota Filipi, lalu melanjutkan lagi ke Tesalonika, Berea dan sekarang tiba ke kota Atena (baca Kis Rasul 16 – 17:15).

Paulus jelas sekali dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi pemberita Injil, khususnya kepada orang-orang non Yahudi. Dan hal ini menggenapi Amanat Agung Kristus (Mat 28:19-20) agar Injil disebarluaskan mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria hingga ke ujung bumi. Hal ini membuktikan bahwa berita Injil Keselamatan untuk semua bangsa hingga ke ujung bumi. Pada konteks masa itu kota Roma adalah ‘ujung bumi’, sehingga nantinya rasul Paulus sampai ke Roma dan bahkan mati dipancung karena Injil di kota Roma tersebut.

Kita perhatikan bahwa perjalanan misi rasul Paulus dalam menggenapi panggilan Tuhan tidak diisi dengan hasil yang memuaskan dari sudut pandang manusia. Terlalu banyak kesulitan, tantangan dan tentangan. Hanya sedikit orang yang percaya karena pemberitaan Injil itu. Di Filipi rasul Paulus hanya berhasil membawa Lidia seorang pengusaha wanita penjual kain ungu dan di samping itu bertemu dengan perempuan lain yang adalah seorang petenung yang ditengking dari roh jahat yang merasuki diri perempuan itu. Setelah itu rasul Paulus dianiaya dan diusir dari kota itu, karena provokasi dari orang yang kehilangan penghasilannya, sejak perempuan petenung itu kehilangan kuasa magisnya.
Atas nasehat dari para jemaat, maka Paulus pergi ke Tesalonika. Ternyata di kota Tesalonika inipun tidak banyak orang yang dapat dimenangkan oleh berita Injil dan malah timbul keributan dari orang-orang Yahudi lain yang menolak pemberitaan Injil itu. Dan kembali oleh nasehat beberapa jemaat, Paulus pergi lagi ke Berea dan di sana tampaknya lebih kondusif keadaannya, karena penerimaan Injil yang lebih baik di kota itu.

Tetapi hal itu juga tidak berlangsung lama, karena terjadi pengejaran dari orang-orang Yahudi dari Tesalonika yang tidak suka dengan pemberitaan Injil oleh rasul Paulus (karena mengakibatkan pengikut mereka berkurang). Oleh karena itu rasul Paulus pergi ke Atena. Di Atenapun Paulus mendapat pertentangan pemikiran dari para filsuf golongan Epikuros dan Stoa yang tumbuh subur di kota itu (Kis Rasul 17:18).

Orang dari golongan Epikuros memiliki filsafat hidup bahwa kebahagiaan hidup ini sebetulnya sederhana. Nikmati saja hidup di dunia ini. Kalau standar hidup kita tidak tinggi, misalnya dalam konteks kekinian cukup makan 3X sehari dengan tempe, itulah kebahagiaan. Kalau kita ingin mendapatkan kepuasan dengan tubuh jasmani ini, nikmati saja sepuas-puasnya, karena itulah ‘kebahagiaan’ ketika kita masih hidup di dunia ini. Tidak ada kehidupan lain selain di dunia ini.

Orang golongan Stoa lain lagi. Mereka lebih menekankan bahwa etikalah penentu kebahagiaan dalam hidup di dunia ini. Oleh sebab itu ketika rasul Paulus mengajarkan kebenaran Injil dan adanya kebangkitan hidup bagi orang percaya Kristus, maka pengajaran baru ini dianggap aneh dan tidak masuk akal dalam pikiran para filsuf itu (Kis Rasul 17:18, 20, 32).
Oleh karena itu benarlah nats yang mengatakan bahwa : pemberitaan tentang Injil adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa (1 Kor 1:18a).

Walaupun demikian ternyata ada sebagian orang yang percaya Injil yaitu : beberapa orang laki-laki menggabungkan diri dengan dia dan menjadi percaya, di antaranya juga Dionisius, anggota majelis Areopagus, dan seorang perempuan bernama Damaris, dan juga orang-orang lain bersama-sama dengan mereka. (Kis Rasul 17:34).

Penutup
Dari kisah ini ada beberapa hal yang dapat kita pelajari :
1.  Iman kekristenan mengajarkan bahwa Allah yang tidak dikenal itulah yang sesungguhnya dicari manusia. Manusia seringkali berusaha menemukan Allah dalam pemikiran manusia sendiri yang sudah terdistorsi oleh dosa. Tetapi dalam relung hati manusia yang paling dalam, sesungguhnya manusia menyadari bahwa ada Allah yang manusia butuhkan sesungguhnya. Allah yang tidak dikenal itulah, yang menembus pemikiran manusia yang terbatas yaitu Allah yang mau menjadi manusia dan mati bagi manusia berdosa. Sudahkah kita memberitakan Allah yang tidak dikenal tetapi sangat dibutuhkan oleh dunia yang semakin jauh dari Allah ?

2.   Seringkali kita berpikir bahwa menjalani kehendak Tuhan itu pasti mudah dan lancar serta menghasilkan banyak hal secara cepat. Ternyata yang dialami rasul Paulus tidak demikian. Minimal pada saat dia baru menjalani panggilan perintisan itu. Tidak otomatis seperti rasul Petrus yang sekali berkhotbah 3.000 orang bertobat, tetapi rasul Paulus dipakai Tuhan tidak secara jumlah petobat yang fantastis. Jumlah atau hasil bukan satu-satunya ukuran keberhasilan panggilan dan pelayanan. Proses dan hasil adalah dua hal yang berjalan beriringan, oleh sebab itu tidak boleh menggunakan segala cara untuk hanya mencapai hasil pada satu sisi. Bagaimanapun pasti ada hasil bila kita mengerjakannya dengan proses yang benar untuk Tuhan. Dan hasil itu tidak diukur secara instan sekarang menurut pemikiran manusia, tetapi oleh Tuhan sendiri. Tidak ada ayat di Alkitab yang mengatakan bahwa pelayanan nabi atau rasul A lebih hebat secara jumlah dan Tuhan lebih berkenan dari pada nabi atau rasul B yang lebih sedikit hasilnya. Dalam perumpamaan telenta sekalipun Tuhan tidak mengatakan bahwa orang yang menghasilkan peningkatan jumlah 2 talenta lebih malas dari pada yang menghasilkan 5 talenta. Oleh karena itu marilah dengan setia kita mengerjakan panggilan Injil itu sebagai bagian menggenapi kehendak dan panggilan Tuhan dalam hidup kita masing-masing.



Tuhan menolong dan memberkati kita.

  



Senin, 07 Mei 2018

KENAIKKAN TUHAN YESUS KE SURGA (Kisah Para Rasul 1:1-14)



Peristiwa Kenaikkan Tuhan Yesus adalah memang suatu peristiwa nyata yang membedakan dengan sangat tajam Kekristenan dengan agama-agama lain di dunia. Mungkin para tokoh pendiri agama itu merasa diutus oleh Tuhan, tetapi tidak pernah ada yang berani mengaku bahwa ia berasal dari Surga dan kembali ke Surga. Hanya Tuhan Yesus yang secara pasti dan meyakinkan mengatakan bahwa "Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini." (Yoh 8:23).

Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah. (Yoh 13:3).


Dibandingkan dengan berita Injil tentang kematian-penguburan-kebangkitan Yesus Kristus yang mendominasi kitab-kitab Injil, kisah kenaikkan Tuhan Yesus ke Surga memang cuma seperti cuplikan kisah kecil. Matius tidak menuliskannya, Markus cuma 1 ayat di Mark 16:19 yang itupun diragukan salinan teks aslinya, Lukas juga cuma 1 ayat dan begitu juga dengan Yohanes.

Mengapa narasi kitab-kitab Injil menempatkan peristiwa historis yang merupakan salah satu pilar penting dari kekristenan  ini dalam porsi yang sedikit ?
  1. Para penulis Injil merasa bahwa kisah ini "tidak terlalu" memberikan kontribusi langsung terhadap pesan utama berita Injil. Isu penting dari peristiwa salib yang sudah selesai itu (tetelestai) adalah bukan kepergian Tuhan Yesus ke Surga, tetapi kedatangan Roh Kudus (Pentakosta) sebagai era baru dimulainya zaman gereja. "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. " (Kis Rasul 1:8).
  2. Latar belakang kisah ini adalah ketakutan para murid ketika akan ditinggal oleh Tuhan Yesus setelah bersama-sama secara fisik di bumi selama 3,5 tahun.  Peristiwa Kenaikkan Yesus ke Surga sepertinya tidak menyajikan konklusi kehidupan dan pelayanan Yesus. Sebaliknya seperti menjadi anti klimaks dari terang peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus. Cenderung kepada rasa sedih karena keterpisahan daripada sukacita dan kemenangan dari sisi pandang para murid. Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. (1 Yoh 1:3).

Kalau begitu mengapa peristiwa ini tercatat sebagai kalendar gerejawi dan layak kita peringati setiap tahun ?

  1. Peristiwa ini meyakinkan sekali lagi tentang peristiwa kebangkitan fisik Tuhan Yesus. Latar belakang pemikiran orang Yahudi tentang kebangkitan adalah kebangkitan fisik yang sama dengan fisik manusia sekarang (Ayub 19:25-27). Lain lagi dengan orang Yunani yang punya pemikiran bahwa saat manusia mati, maka tubuh jasmani selesai, lalu dimulailah era rohani yang imortalitas selamanya. Kedua pendapat ini dipatahkan dalam kekristenan. Tubuh yang dibangkitkan adalah tubuh kebangkitan seperti yang dimiliki Tuhan Yesus, yang berbeda kualitasnya dengan tubuh manusia sekarang ini. 
  2. Tujuan perintah Yesus supaya tidak meninggalkan Yerusalem
  3. Mengoreksi kesalahan kosep para murid mengenai pemulihan kerajaan Israel pada konteks masa itu.
Tuhan Memberkati.



Kamis, 23 Juli 2015

Sotereologi


Apakah Orang Kristen bisa murtad ?
Ibrani 6:1-6


Pengantar
Kemurtadan adalah sebuah fenomena dalam Kekristenan. Namun apa sebetulnya kemurtadan? Apa yang terjadi pada diri seseorang yang murtad? Melalui tulisan singkat ini penulis hendak menjelaskan apa sebetulnya kemurtadan itu. Penulis juga hendak menjelaskan hubungan antara kemurtadan dan keselamatan orang percaya. Melalui tulisan ini, penulis hendak membela pandangan bahwa keselamatan orang percaya tidak mungkin hilang.

Beberapa Pengertian
George Eldon Ladd menulis bahwa menurut pandangan tradisional, Surat Ibrani ditujukan kepada komunitas Yahudi Kristen (kemungkinan) di Roma (13:24) yang sedang dihadapkan pada penganiayaan. Komunitas Yahudi tersebut terancam untuk murtad (apostasy) dari imannya kepada Kristus dan kembali kepada Yudaisme. Peringatan penulis terhadap bahaya kemurtadan ini tersebar dalam seluruh bagian Surat Ibrani, yaitu pada 2:1-4; 3:7-4[:11]; 5:11-6:12[20]; dan 10:19-39. Dale Moody dalam bukunya yang berjudul Apostasy menambahkan 12:1-29.
Dalam Ibrani 6:6 tertulis, “namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.” Dave Hagelberg menyatakan bahwa “menyalibkan lagi Anak Allah” berarti “berpikir bahwa salib layak bagi Yesus.” Hagelberg sebelumnya menjelaskan bahwa ketika Yesus disalibkan oleh umat Israel, mereka menganggap salib itu layak untuk Dia. Dan setelah mereka bertobat, mereka berpaling dari pikiran itu dan merasa bahwa salib itu sangat tidak layak bagi Tuhan Yesus. Kalau mereka murtad berarti mereka memihak (lagi) kepada orang-orang yang setuju dengan penyaliban Kristus. Ini menunjukkan bahwa mereka sudah mengeraskan hati.
Sedangkan John Owen menjelaskan frasa “menyalibkan lagi Anak Allah” dengan menulis bahwa mereka tidak dapat benar-benar menyalibkan Yesus; mereka melakukan itu kepada diri mereka sendiri secara moral. Melalui kemurtadan mereka, mereka memperlihatkan bahwa mereka setuju dengan orang-orang Yahudi yang menyalibkan Yesus. Tidak ada lagi ketidakhormatan yang lebih besar dari ini. Dosa mereka lebih besar daripada orang-orang Yahudi yang secara historis telah menyalibkan Yesus.
Menurut Owen, dalam kasus kemurtadan, tidak ada korban pengganti, baik di Perjanjian Lama, maupun di Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Lama, orang yang murtad akan mati tanpa belas kasihan. Demikian juga di bawah Injil. Orang yang murtad dari Kristus tidak akan menemukan korban pengganti bagi dosa-dosanya. Allah akan membuangnya dan menghancurkannya. John Owen menyatakan bahwa satu-satunya pengorbanan Kristus yang telah terjadi adalah untuk menyelesaikan masalah dosa umatNya di masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang, dan juga bagi dosa-dosa mereka yang tidak ada korban penggantinya menurut hukum. Contoh dosa semacam ini adalah pembunuhan dan perzinahan. Karena itu Daud yang telah melakukan dua dosa ini berkata, “Karena Engkau tidak menghendaki persembahan, bahkan sekiranya aku hendak memberikannya.” (Mzm. 51:18). Namun pengorbanan Kristus adalah untuk menebus dosa-dosa ini juga. Korban Kristus lebih dari mampu untuk menebus setiap orang yang paling berdosa. Jika orang-orang berdosa mengabaikan satu-satunya pengorbanan ini, mereka menjatuhkan kesalahan kepada diri mereka sendiri. Di sini kita melihat bahwa pandangan Owen tentang arti frasa “menyalibkan lagi Anak Allah”, sama dengan pandangan Hagelberg.
John Brown menjelaskan bahwa frasa ini semakin menunjukkan kekejaman dari kejahatan yang mereka lakukan. Frasa ini menunjukkan bahwa kejahatan mereka adalah sesuatu yang tak termaafkan dan secara terbuka telah memproklamasikan bahwa Yesus adalah penipu. Seolah-olah mereka hendak menyatakan, “Bapa kami telah melakukan hal yang tepat dengan membawa Dia, orang yang tak beriman, kepada salib.” Demikianlah mereka mengidentifikasikan diri mereka sendiri dengan para penyalib Yesus.
Menurut William L. Lane, frasa “menyalibkan lagi Anak Allah”, dalam bahasa aslinya merupakan kata Yunani yang berbentuk present participle, yaitu anastaurountas (menyalibkan lagi [Anak Allah]). Kata ini bersifat memperkuat nuansa yang ada di dalam kata Yunani berbentuk aorist participle, yaitu parapesontas (murtad). Lane menyatakan bahwa kata parapesontas ini sepadan/sinonim dengan kata apostenai (murtad). Bentuk aorist dalam kata parapesontas mengindikasikan satu momen yang menentukan dari suatu komitmen menuju kemurtadan. Kemurtadan menuntut satu penolakan yang tegas atas karunia Allah. Apa yang digambarkan dalam ayat enam ini adalah satu ekspresi yang menunjuk kepada setiap bentuk peralihan dari iman kepada Anak Allah yang tersalib. Ini bisa jadi berbentuk tuntutan untuk kembali kepada pengakuan dan praktek Yudaisme atas desakan massa yang kejam, sehingga melakukan penyangkalan publik atas iman di dalam Kristus demi keuntungan pribadi.
Berkenaan dengan frasa “menyalibkan lagi Anak Allah”, William Barclay menjelaskan bahwa penulis Ibrani melihat salib sebagai satu peristiwa yang membuka jendela ke dalam hati Allah. Sehingga, dosa tidak hanya menghancurkan hukum Allah; melainkan kembali dan kembali, menghancurkan hati Allah. Demikianlah, ketika kita berdosa, kita menyalibkan Kristus lagi.

Kemurtadan dan Keselamatan
Menurut Moody, Kamus Webster’s mendefinisikan apostasy sebagai “penolakan satu iman keagamaan” atau “meninggalkan kesetiaan sebelumnya.” Alkitab Revised Standard Version menterjemahkan kata parapesontas menjadi commit apostasy yang secara literal berarti “telah jatuh/kalah/berhenti” (dari kata “para”, sepanjang; dan kata “pipto”, jatuh). Moody menggunakan kata apostasy berdasarkan kata Yunani berbentuk aorist infinitive, apostenai (commit apostasy departing or falling away from the living God), dalam 3:12. Sedangkan Hagelberg menulis bahwa murtad sama artinya dengan “jatuh dari (Allah)”. Dari segi tata bahasa, frasa ini adalah sebuah rantai yang terdiri dari lima aorist participle, yaitu diterangi, mengecap, menjadi, sekali lagi mengecap, dan akhirnya murtad.
Moody juga mengutip Watson E. Mills yang menyatakan bahwa dalam Kitab Yeremia, kata Yunani apostasai (apostasy) diterjemahkan sebagai meshubah dan mendominasi tujuh bab pertama dalam Kitab Yeremia. Karena itu Moody menyatakan bahwa dapat dipastikan bahwa penulis Ibrani mendapatkan istilah apostasia ini dari Nabi Yeremia. Namun dalam bukunya, Moody juga mencatat tentang usaha beberapa orang untuk membela pandangan bahwa kata Yunani, apostasy, tidak memiliki pengertian sebagaimana yang dipahami sekarang dalam bahasa Inggris. A.T. Robertson menyatakan bahwa teks Yunani terang-terangan menyangkal kemungkinan pembaruan dari seseorang yang murtad dari Kristus. Ini adalah gambaran yang parah dan tidak dapat diperhalus.
H.H. Hobbs mencoba untuk membuktikan kesalahan dari pandangan Robertson dengan mengatakan bahwa penulis Surat Ibrani berasumsi bahwa mereka yang dideskripsikan sebagai orang yang telah “diperbarui” di dalam “pengalaman spiritual yang asli” namun kemudian murtad, adalah mereka yang beresiko menahan pertumbuhan rohani, sebagaimana orang-orang Kristen Yahudi ini di dalam resiko untuk jatuh dari tujuan utama mereka di dalam perilaku dan pelayanan Kristen.
Borchert berargumen bahwa kata murtad di dalam Ibrani 6:6 tidak sama dengan yang digunakan dalam Ibrani 3:12 dimana kata Yunani, apostenai, berarti jatuh. Adalah benar bahwa aorist participle, parapesontas, digunakan dalam 6:6 dan aorist infinitive, apostenai, dalam 3:12, namun kata-kata ini memiliki arti yang cenderung sama. Tidak ada perbedaan di dalam pengalaman “jatuh” dalam 3:12 dengan “telah jatuh” dalam 6:6. Alkitab Revised Standard Version tidak salah. Demikian ada dua pandangan berkenaan dengan pengertian kata murtad dalam Surat Ibrani. Ahli-ahli seperti H.H. Hobbs melihat kata murtad ini sebagai suatu keadaan yang beresiko menahan pertumbuhan rohani, sedangkan ahli-ahli seperti Dale Moody, Hagelberg, bahkan Alkitab Revised Standard Version, melihat bahwa kata murtad ini berarti terpisah dari Allah yang hidup.

Kemungkinan Murtad
Berkenaan dengan isu mengenai bisa-tidaknya orang yang sudah percaya, murtad, penganut Teologi Reformed berpegang pada Bab V dari Canons of Dort yang berjudul The Perseverance of the Saints (ketekunan orang-orang kudus). Judul ini bisa menjebak, karena yang sesungguhnya dibicarakan adalah pemeliharaan Allah kepada umatNya. Bab ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu pemeliharaan Allah atas umatNya (Artikel 1-8), dan jaminan pemeliharaan bagi orang-orang percaya (Artikel 9-15).
Dalam artikel-artikel sebagaimana yang disebut di atas, Canons of Dort mengajarkan bahwa meskipun orang-orang percaya melakukan dosa bahkan sampai sebegitu seriusnya, namun Tuhan tidak membiarkan orang-orang percaya itu terhilang/kehilangan keselamatannya. Canons of Dort mengajarkan bahwa pemahaman ini hendak menunjukkan kesetiaan Allah dalam menyediakan dasar teguh yang aman kepada setiap orang percaya. Beberapa ayat-ayat yang digunakan, yaitu Mzm. 130:7; 103:15, 17; Rom. 8:39; Fil. 1:6; dan Yoh. 10:27, 28. Namun Ben Witherington III telah menulis satu buku yang kontroversial berjudul The Problem with Evangelical Theology: Testing the Exegetical Foundations of Calvinism, Dispensationalism, and Wesleyanism (Baylor University, 2005). Dalam buku tersebut Witherington menjelaskan bahwa sistem Calvinisme yang terkait dengan ide-ide predestinasi, anugerah yang tak dapat ditolak, dan khususnya ketekunan orang-orang kudus, memiliki kelemahan-kelemahan eksegetikal.
Menurut Witherington, dalam Surat Ibrani, terdapat peringatan kepada orang-orang Yahudi di Roma tentang bahaya kemurtadan, dan peringatan yang sangat kuat terlihat khususnya dalam Ibrani 6:1-6. Penulis Ibrani mengingatkan kepada semua orang Kristen Yahudi di Roma dan bukan kelompok-kelompok tertentu saja, ini jelas terlihat dari jalan dan alur dari argumen yang ada di Surat Ibrani. Orang Kristen yang dalam hidupnya hari ini memiliki jaminan keamanan kekal keselamatan, tentunya tidak memerlukan peringatan semacam itu. Dari sini terlihat bahwa penulis Surat Ibrani tidak berpikir bahwa ada orang-orang semacam itu; ia tidak berpikir bahwa seseorang tidak bisa hilang keselamatannya; tidak sampai seseorang itu berada aman di alam kekal.
Seperti halnya Witherington, Hagelberg pun berpandangan bahwa orang percaya bisa murtad. Moody kemudian menulis bahwa Surat Ibrani mengajarkan tentang preseverance of the saints. Namun topik ini telah dipahami secara salah sebagai, “jaminan keamanan orang percaya”. Perubahan istilah ini diusulkan oleh J.R. Graves pada 3 Mei 1873. Murid-murid Graves mengadopsi konsepnya lalu memahaminya sebagai “keamanan kekal.” Demikian, topik tentang kemurtadan pun kemudian dihubungkan dengan “keamanan kekal” ini, termasuk oleh Moody sendiri. Berkenaan dengan ini, John Owen menuliskan satu pemikiran yang dapat menstimuli kita untuk mencoba mengambil sikap dengan lebih tegas, berkenaan dengan apakah keselamatan bisa hilang.
Topik kemurtadan dalam Surat Ibrani memang menimbulkan perdebatan. Namun John Owen menyatakan bahwa jika seseorang menemukan satu nats Alkitab yang istimewa, namun tidak mencoba untuk menjelaskannya dari terang keseluruhan Alkitab, ia bisa jatuh ke dalam kekeliruan. Ia kemudian menjelaskan Ibrani 6:4-6. Ia menyatakan bahwa untuk mempelajari nats ini, kita harus mencoba memperhatikan konteks, maksud penulis, dan apa yang ditekankan tulisannya. Berbicara tentang konteks, teks dimulai dengan kata “Karena”, yang memberitahukan kepada kita untuk melihat ke belakang dan mencari tahu mengapa kata-kata ini ditulis.
Kata-kata ini segera saja didahului oleh, ”Kalau Allah mengijinkan.” Kemudian dari ayat sembilan, Owen menemukan bahwa nats ini tidak ditujukan kepada orang-orang percaya. Bagaimana pun ia memberikan peringatan agar pembacanya tidak menjadi seperti itu. Ia menegur mereka karena mereka malas. Bukannya bertumbuh dan meningkat di dalam pengetahuan iman dan pengetahuan praktis, mereka hanya berjalan di tempat, kalau bukan dikatakan mundur. Penulis Ibrani pun memperingatkan pembacanya agar tidak menjadi orang yang kelihatannya hidupnya sudah menjadi baik, yang dikira orang telah meninggalkan hidup lama, namun ternyata mereka terpeleset dan jatuh. Tidaklah dinyatakan secara jelas apakah ada Kovenan Anugerah atas hidup orang-orang ini, atau tentang adanya tugas iman atau kepatuhan yang telah mereka kerjakan. Mereka tidak dinyatakan sebagai orang-orang yang telah dibenarkan, disucikan, atau diadopsi menjadi anak-anak Allah. Kemudian, ketika penulis mendeklarasikan imannya dan kepercayaannya bahwa pembacanya bukanlah orang-orang yang berada di antara mereka yang telah ia gambarkan, ia menyatakannya atas tiga dasar:
  1. Orang percaya yang sejati memiliki ciri-ciri yang mendampingi anugerah keselamatan yang telah diterimanya. Hal-hal ini tidak terpisahkan dari keselamatan. Karenanya di dalam teks, tidak ada dari antara hal-hal ini yang tidak terpisah dari keselamatan.
  2. Orang percaya sejati dikenali lewat ketaatan mereka dan lewat buah-buah iman dalam kehidupan mereka (ayat 10). Dengan demikian, penulis Surat Ibrani mendeklarasikan bahwa mereka berbeda dari orang-orang murtad yang digambarkan. Tidak ada orang-orang yang telah memiliki buah iman yang menyelamatkan dan kasih yang tulus, dapat binasa.
  3. Orang percaya hidup d bawah pemeliharaan dan kesetiaan Tuhan, yang telah berjanji untuk memelihara mereka secara kekal. Namun Tuhan hanya berjanji untuk menjaga mereka yang ada di dalam kovenan anugerah, sehingag tidak binasa dalam kekekalan.
Kesimpulan
Peringatan penulis terhadap bahaya kemurtadan ini tersebar dalam seluruh bagian Surat Ibrani, yaitu pada 2:1-4; 3:7-4[:11]; 5:11-6:12[20]; 10:19-39; dan 12:1-29. Orang-orang yang murtad memperlihatkan bahwa mereka setuju dengan orang-orang Yahudi yang menyalibkan Yesus. Tidak ada lagi ketidakhormatan yang lebih besar dari ini. Dosa mereka lebih besar daripada orang-orang Yahudi yang secara historis telah menyalibkan Yesus. Saya pribadi berpandangan bahwa kata murtad dalam Surat Ibrani ini berarti terpisah dari Allah yang hidup. Dengan demikian terkait dengan persoalan keselamatan. Namun berlandaskan kepada pandangan John Owen, saya berpandangan bahwa keselamatan tidak bisa hilang, karena Ibrani 6:1-6 tidak ditujukan kepada orang percaya. Selain itu, Owen juga mengajarkan bahwa untuk memahami ketidakjelasan satu nats, kita harus mencari kejelasannya dari keseluruhan bagian Alkitab.

Kepustakaan :
  1. George Eldon Ladd, A Theology of the New Testament (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1975), 571-2. Dale Moody, Apostasy (Greenville, South Carolina: Smyth & Helwys Publishing, Inc., 1991), 61.
  2. Dave Hagelberg, Tafsiran Ibrani dari bahasa Yunani (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1996), 37-38.
  3. John Owen, Apostasy from the Gospel, ed. P.J.K. Law (Edinburgh & Pennsylvania: The Banner of Truth Trust, 1992), 33.
  4. John Owen, Hebrews: The Epistles of Warning (Grands Rapids, Michigan: Kregel Publications, 1977), 98.
  5. John Brown, Hebrews (Edinburgh & Pennsylvania: The Banner of Truth Trust, 1983), 293-4.
  6. William L. Lane, Word Biblical Commentary: Hebrews 1-8, vol 47A, ed. David A. Hubbard, et.al. (Dallas, Texas: Word Books, 1991), 142.
  7. Simon J. Kistemaker, New Testament Commentary: Exposition of the Epistle to the Hebrews (Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 1989), 163.
  8. William Barclay, The Letter to The Hebrews (Edinburgh: The Saint Andrew Press, 1960), 59.

Selasa, 03 Februari 2015

Yesaya 7 : 14




Yesaya 7:14 menurut pandangan kaum liberal

Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel (Yes 7 : 14 ITB)

Therefore the Lord himself shall give you a sign; Behold, a virgin shall conceive, and bear a son, and shall call his name Immanuel. (Isa 7:14 KJV)


Banyak penganut liberal akan menafsirkan ayat tersebut, sebagai berikut :
  • Penulis Matius mengutip Septuaginta, yaitu Alkitab Ibrani dalam bahasa Yunani, yang dicurigai bahwa Yesaya 7: 14 dalam Septuaginta mengandung kesalahan terjemahan (translation error). Yesaya menggunakan kata ’almah’ untuk menggambarkan seorang gadis muda dalam usia siap menikah (marriagable age). Jika ia ingin merujuk perawan, seharusnya menggunakan kata ‘bethulah’ Penulis terjemahan Yunani (Septuaginta) melakukan kesalahan ketika menerjemahkan ‘almah’ Ibrani ke ‘parthenos’ Yunani, yang berarti perawan . Penulis Matius dan Lukas yang mungkin tidak dapat membaca bahasa Ibrani ; mereka akan mengandalkan terjemahan Septuaginta. Mereka mendasarkan bagian dari tulisan mereka pada kesalahan dalam penerjemahan ke dalam bahasa Yunani itu. Indikasinya bahwa mereka memaksakan cerita untuk membuat nubuatan Yesaya 7:14 itu menjadi kenyataan dalam kitab Injil mereka di Perjanjian Baru.
  • Nubuat Yesaya tentang Immanuel yang lahir tahun 742 SM, yaitu tahun pertama pemerintahan raja Ahas.  Ahas , raja Yehuda , menghadapi serangan pasukan gabungan dari Suriah dan Israel. Yesaya menjelaskan kepada Ahas bahwa ia tidak harus membentuk aliansi dengan Asyur . Untuk mendukung nasehat ini, Allah akan memberikan tanda : seorang wanita muda akan mengandung dan melahirkan seorang anak yang akan diberi nama Immanuel . Tanda ini hanya akan menjadi efektif jika terjadi segera . Tanda ini tidak akan meyakinkan raja Ahaz, jika nubuat Yesaya tersebut tidak terpenuhi sampai setelah kematian Raja Ahas.
  • Yesaya jelas tidak mengacu kepada suatu peristiwa yang akan terjadi berabad-abad kemudian. Jika ia merujuk ke masa depan yang jauh, seperti dalam pasal 11 , dia biasanya menggunakan frasa kata seperti "pada hari itu".
  • Terjemahan bahasa Ibrani nama Immanuel ( Yunani : Emmanuel ) sebagai "Allah beserta kita" dalam Matius 1:23 menyiratkan bahwa penyandang nama itu bersifat ilahi. Nama itu benar-benar berarti "Tuhan beserta kita",  yang berarti bahwa Tuhan akan mendukung kita. Arti nama itu masuk akal,  jika nama anak itu adalah untuk menunjukkan kepada raja Ahaz bahwa Allah ada di pihaknya.
  • Lukas 1 menyebutkan  bahwa Maria akan memanggil anaknya Yeshua ( Yesus dalam bahasa Yunani ). Yesus disebut Yeshua di seluruh Kitab Suci Kristen - bukan Immanuel.

Ide Yesus yang lahir dari seorang perawan tidak dinubuatkan oleh Yesaya. Sebaliknya, Yesaya seharususnya memaksudkannya kepada seorang wanita muda yang melahirkan anak laki-laki sekitar 742 SM - kejadian umum yang sangat normal.  Dia meramalkan bahwa ia akan memanggil namanya Immanuel. Banyak kelahiran pada wanita muda yang mungkin akan terjadi pada waktu itu. Tetapi , tidak disebutkan baik dalam Alkitab maupun dalam catatan sejarah atau arkeologi yang secara positif mengacu kepada Immanuel yang telah lahir . Hal ini mungkin atau tidak mungkin menjadi kenyataan, tetapi nubuat itu tentu tidak berhubungan dengan kelahiran Yesus.
  
Selain itu kisah kelahiran anak dara adalah sebuah contoh kisah legenda, mitos, paganisme yang beredar dalam periode waktu penulisan kitab-kitab injil, sehingga tidak dapat dipungkiri adanya nafas helenisme di dalam karya tulisan kitab-kitab Injil di abad-abad pertama,  di mana kerajaan dan kebudayaan Yunani menjadi pusat peradaban dunia yang paling maju pada masa itu. 

Referensi
  1. King James version of the Bible
  2. Tim Callahan, "Bible prophecy: Failure or fulfillment?," Millennium Press, (1997), Page 6.
  3. "Who is Jesus - Preview: What were people saying before he was born," Campus Crusade for Christ Online, at:  http://www.ccci.org/whoisjesus/
  4. B.M. Metzger & M.D. Googan, Eds., "The Oxford Companion to the Bible," Oxford University Press, (1993), Page 789 to 790. Read reviews or order this book

Senin, 02 Februari 2015

Yesaya 7 : 14 menurut pandangan Konservatif



Yesaya 7:14 menurut pandangan kaum konservatif
             
Keyakinan kaum konservatif ini didasarkan pada konsep bahwa Alkitab ditulis  tanpa salah (inerrant). Jadi jika salah satu bagian dari Alkitab memprediksikan suatu kejadian, dan satu atau lebih bagian-bagian selanjutnya menyatakan bahwa kejadian tersebut benar-benar terjadi , maka kedua prediksi (nubuat) dan penggenapannya benar-benar terjadi seperti yang dinyatakan. Nubuatan itu benar . Dalam hal ini , konsepsi anak dara adalah suatu kejadian mujizat, jika ramalan (nubuatan)  menjadi kenyataan, sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa nubuatan itu diilhami oleh Roh Kudus.

  • Dalam Yesaya 7:14 , penulis Yesaya mencatat bahwa pada tahun 734 SM "seorang perawan akan mengandung dan melahirkan seorang putra , dan akan menamakan Dia Immanuel. "         
  • Dalam Matius 1 : 18-20 , penulis Matius menguraikan kelahiran Yesus yang telah terjadi, ditulis di abad 4 sampai 7 M -- beberapa dekade di masa lalu. Dia menyatakan : " ... Ketika Maria bertunangan dengan Yusuf , sebelum mereka hidup sebagai suami istri , Maria telah mengandung dari Roh Kudus ... yang yang dikandung dalam dirinya adalah anak dari Roh Kudus ... " Dalam Matius 1:23 , penulis mengutip Yesaya : "Sesungguhnya , anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-lak, dan mereka akan menamakan Immanuel , yang berarti Allah beserta kita. 
  •  Mungkin dalam waktu sepuluh tahun setelah Matius menulis ayat di atas, penulis Injil Lukas menulis dalam Lukas 1 : 26-35 : " ... malaikat Gabriel diutus ... kepada Maria yang bertunangan dengan Yusuf, dari keluarga Daud ... sesungguhnya engkau akan mengandung dan melahirkan seorang putra , dan akan menamakan dia Yesus ... Roh Kudus akan turun atasmu , dan kuasa Allah yang Maha tinggi akan menaungi engkau : sebab itu anak yang akan dilahirkan disebut kudus,  Anak Allah " .

Nubuat Yesaya dalam abad ke-8 SM adalah peristiwa mujizat bahwa seorang perawan akan mengandung. Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 6 SM dan tak terelakkan tercatat selama abad pertama Masehi oleh dua penulis Injil. Nubuatan itu sudah tergenapi, dan itu hanya salah satu dari banyak nubuat dalam Kitab Suci Ibrani ( Perjanjian Lama ) yang menubuatkan kehidupan Yesus dan yang dibuktikan oleh Kitab Suci Kristen ( Perjanjian Baru ) sebagai peristiwa aktual yang telah benar-benar terjadi.

Alkitab tidak memiliki konflik internal yang tidak bisa diselaraskan. Para penulis Injil Lukas dan Matius keduanya menegaskan bahwa Maria adalah seorang perawan ketika ia mengandung. Jadi ini pasti benar. Dengan demikian nubuat yang dibuat selama tujuh abad sebelumnya menjadi kenyataan .