Rabu, 22 Januari 2014

Mematikan Dosa menurut Paulus

Konsep tentang Mematikan Dosa
Menurut Surat-surat Paulus





Pendahuluan

Merupakan suatu fakta yang menyedihkan, bahwa walaupun orang Kristen mempunyai hak istimewa dalam mengenal Allah dan bersekutu dengan Dia, namun seringkali gagal dalam usaha untuk menjaga kekudusan hidupnya.

Beberapa orang berusaha mematikan dosa dengan menghindarkan diri dari kebiasaan/kecenderungan berdosa dengan ruang lingkup dosa (habitus), bahkan ada orang yang menghindari perbuatan-perbuatan yang akhirnya menjadi langkah pertama yang dapat membawa pada dosa (actus). Atau secara ekstrim lagi karena frustasi tidak bisa melepaskan dosa, akhirnya menggunakan ayat Alkitab sebagai dukungan perbuatannya, yakni “di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah” (Roma 5:20). Sehingga orang tersebut berbuat dosa sebanyak-banyaknya supaya mendapatkan banyak pengampunan karena Tuhan dianggap memakluminya.

Bagaimana cara mematikan dosa? Melalui tulisan ini penulis akan menguraikan pandangan Alkitab mengenai mematikan dosa, khususnya berdasarkan konsep Paulus mengenai mematikan dosa menurut surat-surat yang ditulisnya, realita prakatis cara mematikan dosa menurut Paulus, serta implikasi praktis cara mematikan dosa berdasarkan konsep Paulus bagi kehidupan sehari-hari. Penulis berharap paper ini dapat menolong pembaca dalam mengerti konsep mematikan dosa untuk kemudian dengan semangat berusaha mematikan dosa dengan pimpinan Roh Kudus. Karena keterbatasan penguraian maka, paper ini terbuka bagi kritik dan saran dari pembaca.



Konsep Paulus Mengenai Mematikan Dosa

Paulus dalam suratnya untuk jemaat Kolose, menekankan suatu konsep untuk menjawab problematik yang ada dalam jemaat di sana. Bagaimana cara mematikan dosa? Adalah sebuah pertanyaan problematik yang tetap relevan dari zaman ke zaman. Dalam Kolose 3:5, Paulus ingin menjawab problema mematikan dosa. Adapun bunyinya, sebagai berikut:
NIV
Good News Bible
LAI th. 1998
Nestle Aland-27
Put to death, therefore whatever belongs to your earthly nature….
You must put to death, then, the earthly desires at work in you…
Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi…
Nekrwsate oun ta melh ta epi thj ghj


Dari beberapa versi terjemahan di atas, maka dapat dibandingkan dan didapat apa yang dimaksud Paulus mengenai mematikan dosa. Dari empat versi, kata “matikanlah,” oleh NIV diterjemahkan “put to death”, dalam Good News Bible sendiri terdapat tekanan yang lebih keras “you must put to death.” Bila dilihat dari bahasa aslinya, Aland sendiri memberikan data, kata yang digunakan adalah
Nekrw,sate. Perintah dengan menggunakan kata Nekrw,sate ini sungguh menarik untuk diselidiki. Dilihat dari personnya yang digunakan maka didapatkan siapa yang aktif melakukannya, yaitu orang-orang percaya yang menjadi jemaat di Kolose. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah manusia mampu untuk mematikan dosa? Jelas dengan status keberdosaan manusia, mungkin menimbulkan keraguan apakah sanggup mematikan dosa.


Pertanyaan di atas akan dapat terjawab bila melihat tempus yang digunakan. Pada kata
Nekrw,sate digunakan tempus 1 Aorist Imperatif Aktif, yang menerangkan sekali saja perbuatan mematikan dosa itu dilakukan. Paulus ingin menerangkan kita sebagai manusia tidak mampu untuk mematikan dosa secara terus-menerus, lalu siapa yang memampukan manusia. Paulus sekali lagi megemukakan hal ini dalam Roma 8:13, yang berbunyi sebagai berikut:
NIV
Good News Bible
LAI th. 1998
Nestle Aland-27
for if you live according to the sinful nature you live die, but if by the spirit you put to death the misdeds of the Body you will live
for if you live according to your human nature, you are going to die, but if by the spirit, you put death your sinful actions, you will live
sebab jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati, tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup
ei de pneumati tas prax eis tou swmatos qanatoute zhsesqe


Dalam suratnya untuk jemaat di Roma Paulus menggunakan istilah yang sejajar yaitu kata
nekroj dengan qanatoj atau nekrwsate dengan qanatoute. Meskipun kata dasar yang digunakan berbeda(nekroj: kata sifat dan qanatoj : kata benda maskulin), namun keduanya mempunyai kesejajaran dalam arti bila digunakan dalam bentuk kata kerja. Kata qanatoute yang oleh NIV diterjemahkan put to death adalah merupakan suatu perbuatan yang sedang dilakukan secara terus-menerus (continue). Pertanyaannya sekarang oleh siapa? Jawabnya, by the spirit atau pneumati atau Roh. Dan Roh yang dimaksudkan oleh Paulus adalah Roh Kudus.

Berangkat dari hal ini, rasul Paulus dengan telah gamblang menguraikan konsepnya mengenai mematikan dosa. Menurutnya, sebagai orang yang mempunyai status berdosa, setelah kita percaya kepada Kristus status kita dibenarkan maka kita harus mengambil keputusan untuk mematikan segala keinginan duniawi/kedagingan/tubuh yang merupakan awal dari tindakan kita dalam membereskan hidup. Kemudian oleh Roh Kudus kita dimampukan untuk secara terus-menerus mematikan perbuatan atau keinginan dosa.

Selanjutnya Paulus menjelaskan dalam ayat 30, bahwa orang-orang yang oleh Roh dimampukan untuk mematikan dosa itu akan dipanggilNya, dibenarkanNya dan dimuliakanNya. NIV menerjemahkan, “those He called, He also justified; those He justified, He also glorified.” Pada intinya Paulus mengungkapkan bahwa proses mematikan dosa yang terus-menerus itu akan terus terjadi sampai kita dipermuliakan.

Hal-hal yang perlu dimatikan adalah “perbuatan-perbuatan tubuh” kita. Bila dalam Kolose 3:5 dipakai frase: “segala sesuatu yang duniawi”, maka dalam Roma 8:13, Paulus menggunakan frase: “perbuatan-perbuatan tubuhmu.” Apakah dari hal ini Paulus inkonsisten? Bila kita selidiki, sebenarnya Paulus ingin menyejajarkan frase tersebut. Frase yang digunakan Paulus dalam Kolose adalah frase dengan sudah teridentifikasikan. Maksudnya Paulus sudah menjelaskannya dalam kalimat selanjutnya, yakni; percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala. Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah apakah yang dimaksud dengan “perbuatan-perbuatan tubuhmu”? Setelah penulis menyelidikinya, maka dengan jelas Paulus telah menyinggungnya pada konteks sebelumnya. Kata perbuatan yang dipergunakan adalah
prazeij yang akar katanya dari prassw yang digunakan dalam Roma 7:16,19. Maka jelaslah yang dimaksud dengan “perbuatan-perbuatan tubuh” bukanlah kegiatan badani kita yang alamiah, seperti tidur, makan, jalan-jalan ataupun kegiatan lainnya dengan berbagai cara mengadakan hubungan dengan orang lain, melainkan perbuatan yang tercermin dalam hukum Taurat. Paulus ingin mengatakan, bahwa dalam Roma 7:7 hukum Taurat adalah cermin bagi kita untuk dapat mengenal dosa. Dalam Keluaran 20 telah disebutkan hukum tersebut, dan bila dipararelkan dengan apa yang dimaksud dengan Kolose 3:5, maka semakin jelas bahwa apa yang Paulus kemukakan tidak berseberangan, karena dalam hukum Taurat tercantum semua larangan dan perintah yang harus ditaati. Lihat Tabel di bawah.
Hukum Taurat
Kolose 3:5
Jangan ada padamu allah lain dihadapanKu.
Percabulan
Jangan membuat patung dan sujud menyembahnya.
Keserakahan
Jangan menyebut nama TUHAN dengan sembarangan.
Kenajisan
Ingat dan Kuduskanlah hari Sabat.
Kenajisan
Hormatilah ayah dan ibumu.
Nafsu Jahat
Jangan membunuh.
Nafsu Jahat
Jangan berzinah.
Percabulan
Jangan Mencuri
Nafsu Jahat
Jangan mengucapkan saksi dusta.
Hawa Nafsu
Jangan mengingini kepunyaan sesamamu.
Keserakahan


Bukti lain bahwa Konsep Paulus tidak bertentangan satu dengan yang lain adalah dari kata “tubuh.” Kata
swmatoj untuk istilah “tubuh” mempunyai akar kata yang sama dengan yang digunakan dalam Roma 8:10, serta dalam Roma 7:23,24, yakni swma yang mempunyai arti kehidupan manusia yang dikuasai oleh dosa atau daging. Sehingga mematikan perbuatan-perbuatan tubuh bukan mencari jawab dengan filsafat-filsafat yang kosong dan palsu (Kol 2:18), hidup berpantang, sering menyiksa diri untuk mematikan hawa nafsu; merendahkan diri (Kol 2:18,23), menaklukan diri pada rupa-rupa peraturan (Kol 2:20), beribadah pada malaikat-malaikat (Kol 2:18) dan roh-roh dunia (Kol 2:8), yang akhirnya memandang benda mati sebagai sesuatu yang menaruh kuasa yang mempengaruhi jalan hidup manusia. Penulis setuju dengan Van den End, yang mengatakan bahwa mematikan tubuh adalah memberantas dan semakin mendesak mundur kecenderungan kita untuk melakukan apa yang bertentangan dengan kehendak Allah. Kalau kita ingin mengetahui apa yang perlu diberantas, Paulus menekankan apa yang telah tercermin dalam hukum Taurat.

Yang terakhir kata
swma itu pula yang digunakan Paulus dalam Roma 6:6, yang disejajarkan dengan manusia lama yang telah disalibkan. Yang mempunyai arti, bahwa tubuh dosa kita telah hilang kuasanya dan sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa maka kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah (Roma 6:10).

Dari penjelasan di atas, maka dapat dimengerti bahwa Allah melalui rasul Paulus menekankan pentingnya mematikan dosa sebagai suatu hal yang harus dikerjakan oleh orang percaya. Paulus sangat menyadari bahwa di dalam usaha mematikan perbuatan-perbuatan tubuh atau duniawi, akan sering mendapatkan bahwa tubuh dosa itu masih juga mau bangkit lagi. Hal ini jelas terlihat dalam perkataannya, “Aku manusia Celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Roma 7:24). Penulis juga setuju dengan apa yang dijelaskan oleh Paulus, bahwa mematikan dosa itu bukanlah perbuatan sekali saja, melainkan pergumulan seumur hidup. Manusia tidak mampu untuk dapat terus mematikan dosa, hanya oleh Roh kuduslah, maka setiap orang percaya yang diposisikan sebagai subjek yang pasif, dimampukan oleh Roh Kudus secara aktif, berjuang agar kuasa dosa dalam diri mereka tetap ditaklukkan. Hal ini terus berlangsung sampai setiap orang percaya dimuliakan supaya nantinya memperoleh hidup (Roma 8:13).



Realita Praktis dan Cara Mematikan Dosa menurut Paulus

Dalam realita praktisnya, banyak orang yang berusaha untuk dapat mematikan dosa dengan cara mereka masing-masing. Dengan pengertian mereka akan dosa membawa mereka untuk mencari jalan supaya dapat mematikan dosa. Pengertian dosa sebagai perbuatan fisik, membuat mereka membenci tubuh, sehingga mereka ingin lepas dari dosa dengan merusak diri contoh: orang berpuasa dengan radikal, menoreh-noreh tubuh dengan senjata tajam, dll. Ada juga orang yang menganggap bahwa dosa adalah disebabkan kekurangan manusia, sehingga mereka menganggap dosa sebagai sesuatu yang tidak penting.

Dari pengertian di atas semakin membawa manusia kepada kesimpulan yang salah tentang mematikan dosa. Mereka lebih percaya askese; semakin lemah indera manusia semakin melemahkan kekuatan dosa dan hanya melalui kematian seseorang bisa lepas dari dosa, sehingga mendorong orang untuk bunuh diri sebagai penyelesaian terbaik untuk keluar dari dosa. Mereka lebih percaya dengan amal mereka dapat membayar lunas semua dosa yang dilakukan, karena mereka memandang dosa sebagai suatu yang tamak.  Dari beberapa realita praktis di atas yang menarik penulis, maka dapat disimpulkan bahwa kurang adanya pengertian yang benar tentang dosa, kurangnya motivasi mereka yang mendorong mereka untuk mencari kebenaran, serta masih adanya dualisme dalam diri yang mendorong kepada sinkritisme dan mistik, yang menghambat usaha mematikan dosa dan membuat murka Allah.

Berdasarkan uraian di atas, maka didapat suatu cara mematikan dosa menurut rasul Paulus:

1.Memiliki hidup sebagai ciptaan baru yang telah menang dari dosa karena Kristus.

Dari uraian Konsep Paulus mengenai mematikan dosa, Paulus ingin memberikan kebenaran bahwa prinsip mematikan dosa harus ada peristiwa, di mana manusia berdosa diberikan status sebagai ciptaan baru yang telah menang dari dosa karena Kristus. Dalam Roma 6:1-23, memberikan secara gamblang, bahwa ciptaan baru itu adalah kita tidak lagi bertekun dalam dosa meskipun kita telah hidup dalam kasih karunia. Orang yang hidup sebagai ciptaan baru adalah orang yang telah memiliki kemenangan bersama Kristus. Karya Kristus di atas kayu salib adalah merupakan karya Allah dalam usaha menyelamatkan manusia yang dikenal dengan kata “kasih karunia” atau “anugerah.” Paulus melukiskan kata menang dengan terminologi “mati” dan “bangkit.” Artinya orang yang hidup sebagai ciptaan baru adalah orang yang ikut mati dan bangkit bersama Kristus supaya dosa dapat dikalahkan.

Menurut Paulus, orang yang hidup sebagai ciptaan baru adalah orang yang telah mengalami apa yang telah Kristus alami sebagai ungkapan kasih karunia-Nya. Dapat terlihat dalam tabel di bawah:

Lebih lanjut Paulus menguraikan, bahwa orang yang memiliki hidup baru berbeda dengan orang yang hidup dengan manusia lamanya, karena telah menjadi satu dengan Kristus (union in Christ). Untuk lebih jelas, lihat tabel sederhana di bawah:
Hidup Lama
Hidup Baru
Menjadi hamba dosa
Dimerdekakan dan bebas dari dosa
Hidup untuk maut
Hidup untuk hidup
Menyerah pada dosa
Menyerah pada Allah
Menjadi senjata kelaliman
Menjadi senjata-senjata kebenaran
Berada di bawah hukum taurat
Berada di bawah kasih karunia
Taat kepada maut
Taat kepada kebenaran
Hidup dalam kecemaran dan kedurhakaan
Hidup dalam pengudusan


Sebagai orang yang memiliki hidup baru, orang Kristen tetap dalam ketegangan antara manusia lama dan manusia baru, Adam dan Kristus, dosa dan kasih karunia, daging dan Roh, mati dan hidup. Jadi maksudnya kehidupan orang Kristen adalah kehidupan sekarang ini, sepanjang waktu dan seakan-akan di antara dua dunia: maksudnya belum dapat bebas dari manusia lama dan bukan juga langsung dapat hidup sempurna dalam kehidupan baru.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengalaman menjadi ciptaan baru yang telah menang dari dosa karena Kristus, merupakan langkah awal dari cara mematikan, sebab tanpa proses penyatuan diri dalam Kristus orang tidak mampu untuk mematikan dosa. Dalam Kristuslah kita dimampukan untuk tetap terus taat pada kebenaran dan menjadi hamba kebenaran yang membawa kepada pengudusan dengan kesudahan memperoleh hidup kekal.

2.Memiliki hidup yang memiliki dan dimiliki Roh.

Rasul Paulus dalam Roma 8:12, menulis, “Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya menurut daging,” mempunyai arti bahwa orang yang memiliki hidup sebagai ciptaan baru tidak lagi ada hutang kepada tabiat lama, karena itu orang percaya dapat hidup berkemenangan. Rahasia orang berkemenangan itu sendiri adalah memiliki dan dimiliki Roh. Yang dimaksud memiliki Roh adalah seperti yang dicatat dalam Roma 8:9, “Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu.” Dan ini merupakan bukti dari pertobatan, yakni Roh Kudus hadir dalam hati, yang bersaksi bahwa kita adalah anak Allah (Roma 8:16).  Roh itu pula yang memberikan hidup kepada tubuh sehingga kita dapat melayani Allah. Paulus juga lebih jauh menerangkan bahwa memiliki Roh saja belum cukup, namun Roh yang sama itu juga harus memiliki kita. Karena dengan demikian Roh dapat memberikan kepada kita hidup berkelimpahan dan berkemenangan di dalam Kristus (Roma 8:12-17).  Bagaimana dengan orang yang tidak memiliki Roh? Paulus dalam Roma 8:5-8, menguraikan bahwa orang yang tidak memiliki Roh memiliki empat kekontrasan dengan orang yang diselamatkan dalam Roh. Dapat dilihat dalam tabel dibawah ini:
Jadi dari hal di atas, Paulus ingin menyimpulkan bahwa orang yang memiliki dan dimiliki Roh adalah orang yang tidak lagi berhutang kepada daging, melainkan berhutang kepada Roh Kudus, karena daging hanya menimbulkan kesusahan. Karena Roh Kuduslah yang menyadarkan kita, mengungkapkan Kristus kepada kita dan memberikan hidup kekal kepada kita bila kita percaya kepada Kristus. Roh itu pula yang memberi kuasa untuk mentaati Kristus dan memungkinkan kita semakin menyerupai Kristus. Bahkan Roh yang sama itu memampukan kita “mematikan” perbuatan-perbuatan tubuh yang jahat. Di dalam proses pengudusan, Roh pun memampukan kita untuk dapat terus-menerus mematikan dosa sampai proses pemuliaan (Roma 8:30).



Implikasi Praktis Cara Mematikan Dosa bagi Kehidupan Sehari-hari

Dari uraian di atas, maka Allah melalui rasul Paulus menekankan bahwa sebagai orang percaya yang telah diselamatkan dari maut, hendaknya ketika jatuh dalam dosa kita mau datang mengaku dihadapan Allah (bertobat). Karena hanya dengan demikian Allah mau mengampuni dan menyucikan kita. Kemudian kita juga harus membawa dosa kita kepada salib Kristus sehingga kita dimampukan untuk tidak berbuat dosa lagi. Kita harus mengetahui bahwa saat yang paling berbahaya adalah ketika kita mulai berpikir bahwa kita akhirnya sudah dapat menguasai diri kita. Janganlah kiranya ada seorang pun dari kita yang berani berkata, “Dosa yang ini sudah saya kuasai, saya sama sekali tidak akan melakukannya.” Allah membenci sikap membenarkan diri, merasa lebih baik dan lebih benar. Sebaliknya dengan kerendahan hati, kita datang kepada Allah untuk bertekun, bersekutu dan berdoa kepada Allah, supaya Allah memberikan kekuatan atau kuasa bagi kita untuk dapat mematikan dosa.

Dengan bersaat teduh setiap harinya bersama Tuhan, kita dapat selalu hidup intim dengan Tuhan dan dapat mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan. Dan melaluinya Roh Kudus berbicara kepada kita agar kita patuh dan taat selalu kepada kebenaran firman Tuhan. Dan Roh Kudus pula yang menolong setiap kita untuk tetap berada dalam hidup yang konsisten dengan terang firman Tuhan. Biarlah kita selalu berkata, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28).



Daftar Pustaka
Berkhof, Louis. Teologi Sistematika 2. Jakarta: LRII, 1994.
____________. Teologi Sistematika 3. Jakarta: LRII, 1997.
Bruce, F.F. The Epistle to The Galatians Grand Rapids: Eerdmans, 1988.
Crim, Keith ed., Abingdon Dictionary of Living Religions. Nashville: Abingdon, 1981.
Duyerman, M.E. Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.
End, Th. Van den. Tafsiran Alkitab Surat Roma. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000.
Edwards, James R. New International Biblical Commentary-Romans. Peabody: Hendrickson, 1992.
Guthrie, Donald. New Testament Theology. Illionis: Inter-Varsity Press, 1985.
Hiebert, D. Edmond. An Introduction to The Pauline Epistles. Chicago: Moody Press, 1968.
Murray, John. The Epistle to The Romans. Grand Rapids: Eerdmans, 1968.
Rienecker, Fritz. Linguistic Key to The Greek New Testament. Grand Rapids: Zondervan, 1980.
Sproul, R.C. Kebenaran-kebenaran Dasar Iman Kristen. Malang: SAAT, 1998.
Wenham, J.W. Bahasa Yunani Koine. Malang: SAAT, 1987.
Wiersbe, Warren W. Benar di dalam Kristus. Bandung: Kalam Hidup, 1996.


Senin, 30 Desember 2013

RENUNGAN NATAL



Kelahiran Dari Anak Dara

Penulis_artikel
John Rw Stott
Isi_artikel: 

Bishop David Jenkins meragukan bahkan menyatakan penyangkalannya mengenai realita sejarah mengenai kelahiran dari anak dara. Ia menyebutnya sebagai natur simbolis dan mitologis kisah kelahiran dari anak dara. Dalam suratnya Desember 1984 ia menulis bahwa sekelompok orang tidak dapat mengerti, atau tidak akan mendengarkan, point bahwa banyak dari kisah Alkitab adalah direalitakan, tidak dengan menjadi literatur yang benar, tapi karena menjadi simbol yang diinspirasikan oleh iman yang hidup mengenai aktifitas nyata dari Allah.
Tapi banyak dari kritik bishop tidak selalai dan juga tidak sekeras kepala seperti yang ditunjukkannya. Kita tahu dengan baik bahwa ada jenis literatur yang disebut mitos yang memasukkan kebenaran dalam bentuk sejarah tanpa menyatakan bahwa itu bersifat sejarah. Ini tidak termasuk dalam perdebatan di antara kita. Banyak mitos kafir yang beredar dalam abad pertama, termasuk yang berasal dari Yunani dan Mesir asli mengenai satu dewa juruselamat yang lahir dari anak dara yang memerintah langit dan laut. Tapi kisah-kisah ini membuktikan sendiri bahwa mereka adalah mitos. Orang tidak percaya bahwa kisah itu adalah sejarah. Pertanyaannya adalah apakah para penulis Injil dengan sengaja menulis mitos ketika mereka mengisahkan kelahiran dari anak dara dan apakah mereka bermaksud untuk memberi pengertian semacam itu kepada kita. Jawaban saya: "Jelas tidak!". Profesor Henry Chadwick dalam artikelnya menunjukkan bahwa di dalam Pengakuan Iman Rasuli adalah pernyataan yang tercatat dalam sejarah dan ada yang puitis. Kalimat Ia duduk di sebelah kanan Allah Bapa termasuk dalam pengertian puitis tetapi Ia dilahirkan oleh Anak Dara Maria dan Pada hari yang ketiga Ia bangkit dari antara orang mati termasuk pernyataan yang berdasarkan sejarah.
Benar bahwa hal kelahiran Yesus dari anak dara tidak mendapat penekanan sebanyak yang terjadi dalam hal mengenai kematian dan kebangkitanNya dalam Perjanjian Baru. Tidak ada dalam khotbah-khotbah awal Petrus dalam Kisah Rasul maupun kesimpulan Paulus mengenai Injil dalam I Korintus 15 yang menyinggung mengenai kelahiran Yesus dari anak dara. Meskipun keempat penulis Injil sesungguhnya menuliskan seperti yang dikatakan Markus Injil mengenai Yesus Kristus (Markus 1:1), dan meskipun Matius dan Lukas dalam Injil mereka mencatat mengenai kelahiran dari anak dara, tapi tidak ada tempat dalam Perjanjian Baru yang menyatakan bahwa catatan itu menjadi bagian integral dengan Kabar Baik. Meskipun demikian jelas diajarkan dalam Injil dan sejak itu menjadi kepercayaan yang diterima dengan suara bulat dari gereja universal. Pengajaran dan tradisi ini tidak bisa begitu saja dikesampingkan. Selain itu, adalah suatu hal yang serasi bahwa Satu Pribadi yang supranatural (yang adalah Allah dan manusia) harus memasuki, seperti juga meninggalkan dunia ini, dengan cara yang supranatural.
Serangan atas kelahiran dari anak dara bukanlah hal yang baru. Sebaliknya mereka sama tuanya dengan kekristenan itu sendiri. Dalam abad pertama banyak orang Yahudi Ebionit dan sekte tertentu dari Gnostik menyangkal keilahian Yesus dan oleh sebab itu menghilangkan kisah kelahiran dari anak dara. Dalam abad kedua, bidat Marcion, yang menolak sepenuhnya Perjanjian Lama, mempublikasikan satu versi dari hanya satu Injil (Lukas) dengan mengabaikan kedua pasal pertamanya. Kemudian golongan rasionalis dan skeptis dari setiap abad meragukan atau meremehkan kelahiran dari anak dara. Contohnya Renan, humanis dari Perancis dengan bukunya Vie de Je'sus yang menimbulkan sensasi ketika beredar dalam tahun 1863, memulai bab keduanya demikian: "Yesus dilahirkan di Nazaret, sebuah kota kecil di Galilea, yang sebelumnya tidak melahirkan orang yang terkenal.... Ayahnya Yusuf dan ibunya Maria adalah orang-orang dari kalangan bawah." Kritik ini biar bagaimana pun juga berasal dari luar gereja.
Yang baru sekarang ini adalah pandangan mereka ditoleransi di dalam gereja, bahkan di antara pemimpin gereja yang seharusnya dengan khidmat menjaga dan mengajarkan iman Kristen yang bersejarah. Pada awal abad ini penahbisan William Temple ditunda dua tahun sampai ia yakin mengenai kelahiran Yesus dari anak dara dan kebangkitan tubuh, dan dalam 1917 dan 1918 Kepala bishop Randall Davidson menolak untuk menahbiskan Hensley Henson yang sedang dicalonkan untuk menjadi Bishop of Hereford, sampai ia mampu memberikan jaminan yang memuaskan bahwa ia tidak menyangkal doktrin-doktrin dalam Pengakuan Iman Rasuli. Sebab Kepala Bishop John Habgood menahbiskan David Jenkins tanpa menerima jaminan yang sama sehingga banyak dari kita diganggu oleh pandangan yang mendukakan ini.
Mungkin bijaksana jika pada point ini menjelaskan pengertian dari kelahiran dari anak dara. Ada ekspresi yang salah, karena menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak biasa mengenai kelahiran Yesus, sementara kelahiranNya seluruhnya adalah normal dan alamiah. Penghamilannya yang tidak biasa, karena sesungguhnya bersifat supernatural; karena ia diyakinkan dengan pekerjaan dari Roh Kudus, tanpa kerjasama dari seorang bapa manusiawi.
Dalam diskusi kita mengenai kelahiran dari anak dara, ada dua pertanyaan yang perlu ditanyakan. Yang pertama mengenai kesejarahannya (Apakah itu sungguh-sungguh terjadi?) dan yang kedua adalah signifikansinya (Apakah yang terjadi?)
Kesejarahan mengenai kelahiran dari anak dara
Ketika kita menimbang bukti-bukti sejarah untuk kelahiran dari anak dara, ada empat bukti harus dipikirkan. Pertama, kesaksian dari para penulis Injil: Matius dan Lukas keduanya menanggung dualitas kesaksian mengenai keperawanan dari Maria. Benar, mereka menelusuri jejak genealogi Yesus melalui Yusuf dan tidak dirintangi dalam menunjuk kepada Yusuf sebagai bapak dari Yesus. Tapi setelah ia menikah dengan Maria, ia adalah ayah yang sah dari Yesus. Maka tidak ada kesulitan di sini. Faktanya adalah bahwa menurut penulis Injil pertama dan ketiga, ketika Maria mengandung ia bertunangan, bukan menikah dengan Yusuf, dan ketika Yesus dilahirkan ia tetap seorang perawan. Lagipula cukup jelas bahwa Matius dan Lukas mempercayai hal ini. Mereka menulis dalam bentuk prosa bukan puisi, sebuah sejarah dan bukan mitos. Beberapa sarjana memperdebatkan bahwa Matius pada khususnya (bukan Lukas, yang mengklaim pengusutan sejarah telah diperhatikan) tidak cenderung untuk menuliskan sebuah narasi murni sejarah, tapi ia bebas mengembangkan dan membubuhi sumber-sumbernya sehingga akibatnya adalah sebuah midrash, yaitu pencampuran sejarah dengan yang non-sejarah, yang (lebih lanjut dikatakan) merupakan sebuah bentuk yang biasa yang dikenal dalam literatur Yahudi pada jamannya. Namun demikian perkiraan ini jauh dari pembuktian. Bukti kurang dalam tiga area kritis: pertama, bahwa itu merupakan genre literatur yang biasa pada waktu itu (tidak kelihatan menjadi seperti demikian sampai abad kedua); kedua bahwa Matius cenderung untuk menulis Midrash (ia pasti tidak membumbui Perjanjian Lama dengan fiksi, seperti yang dilakukan oleh para penafsir Midrash; dan ketiga bahwa orang-orang pada jamannya itu mengertinya untuk menggunakan bentuk khusus ini (yang tidak dilakukan oleh bapak-bapak gereja pada awal gereja). Selain itu, ketika seseorang membaca injil Matius dengan segar, ia didorong oleh detail konteks sejarah dari kelompok orang, tempat-tempat dan waktu yang di dalamnya ia letakkan dalam kisahnya.
Jika ditekankan bahwa Matius dan Lukas percaya bahwa Maria adalah ibu Yesus adalah seorang dara, lalu timbul pertanyaan: mengapa Markus dan Yohanes tidak mengatakan demikian juga? Dan mengapa sisa dari Perjanjian Baru membisu mengenai kelahiran Yesus dari anak dara? Dalam menjawabnya, kita mulai dengan mengingat bahwa argumen bisu jelas tidak dapat diandalkan. Contohnya, Markus dan Yohanes tidak mengatakan apa-apa mengenai masa kecil Tuhan Yesus, tapi kita tidak mengkonklusikan dari hal ini bahwa Yesus tidak pernah mempunyainya. Kemudian ada bukti tidak langsung bahwa Yohanes tidak tahu mengenai masalah ini dan percaya kelahiran dari anak dara. Saya tidak hanya berpikir mengenai pernyataan agungnya bahwa "Firman telah menjadi daging dan tinggal ... di antara kita." (Yohanes 1:14), tetapi juga mengingat kembali pernyataan bahwa Yesus "datang dari atas", "turun dari surga", "diutus oleh Bapa", "datang ke dalam dunia." Beberapa intervensi supranatural menjadi penting untuk membuat hal-hal ini dapat diterima.
Fakta bahwa Markus dan Yohanes mengabaikan kisah Kristus sebenarnya tidak relevan untuk alasan sederhana bahwa mereka tidak diharuskan untuk menulis hanya tentang kelahiran dan masa kecil Yesus saja. Mereka berdua memilih untuk memulai kisah dari Yohanes Pembaptis. Point signifikansi adalah hanya dua penginjil yang menekankan penjelasan kelahiran Yesus dan menyatakan bahwa Ia dilahirkan dari seorang dara.
Faktor kedua yang perlu dipikirkan adalah keotentikan suasana yang disinggung dalam kisah. Ketika kita membaca pasal-pasal awal dari Matius dan Lukas. Kita dibawa kembali kepada hari-hari akhir dari Perjanjian Lama. Zakaria dan Elisabet, Yusuf, Maria, Simeon dan Hana adalah orang-orang beribadah dari Perjanjian Lama yang memandang dan menantikan kerajaan Allah. Konteksnya kaya dengan kesalehan khas Perjanjian Lama. Bahasa, gaya dan susunan dari cerita-cerita adalah seluruhnya berciri Ibrani. Jauh dari tambahan legenda yang kemudian. Kisah-kisah ini terdengar dan terasa seperti ditulis pada masa sangat awal.
Sebagai tambahan, kisah-kisah ini mengungkapkan kesederhanaan dan kebijaksanaan. Sesungguhnya cerita-cerita kafir pada masa itu mengisahkan mengenai dewa-dewa yang melakukan hubungan seks dengan manusia perempuan. Tetapi pada tempat dari mitos yang sadis dan fantastik itu, para penginjil bungkam. Mereka memperlakukan keintiman yang suci mengenai dikandungnya Yesus dengan cara yang paling halus.
Ketiga, kita harus menanyakan tentang keaslian cerita kelahiran anak dara. Kisah Matius dan Lukas memiliki kesamaan inti. Mereka berdua menunjukkan hubungan kehamilan Maria dengan Roh Kudus, bukan Yusuf dan mereka juga menunjukkan kepada problem dan kekuatiran yang disebabkan oleh keperawanannya. Tetapi perhitungan mereka jelas berdiri sendiri (tidak ada bukti persekongkolan), saling melengkapi (mereka mengisahkan dari perspektif yang berbeda). Lukas menulis pengumuman kepada Maria dan kebingungannya seperti bagaimana dia dapat menjadi seorang ibu sementara belum menikah. Matius, di lain pihak, menulis penemuan Yusuf bahwa Maria hamil dan kebingungannya, keputusan untuk menceraikan Maria karena itu bukan anaknya, dan mimpinya di mana di dalamnya Allah mengatakan kepadanya untuk mengambil Maria sebagai seorang istrinya. Pada puncaknya, fakta harus datang dari Maria dan Yusuf sendiri, baik dalam bentuk tulisan atau bentuk perkataan. Selama Lukas dua setengah tahun bebas di Palestina, yang saya hubungkan, tampak segala kemungkinan bahkan kemungkinan bahwa ia bertemu dengan Dara Maria secara pribadi dan menerima cerita dari bibirnya sendiri. Dalam seluruh keadaan, bukti-bukti dari dalam menunjukkan bahwa dalam Perjanjian Baru kita memiliki dua kisah asli, pada awal, yang terpisah, yang berbicara mengenai kelahiran anak dara, masing-masing berdiri sendiri, satu sama lain saling melengkapi, yang satu dari Yusuf, yang lain dari Maria.
Faktor keempat yang kita akan lihat adalah gosip mengenai kelahiran di luar nikah dari Yesus. "Fakta pertama dan paling tidak bisa dibantah mengenai kelahiran Yesus" tulis JAT Robinson, munculnya dari Wedlock. Satu pilihan yang tidak berbukti bahwa Yesus adalah anak sah dari Yusuf dan Maria. Hanya satu pikiran terbuka bagi kita antara kelahiran anak dara dan kelahiran di luar nikah.
Jelas bahwa gosip kemungkinan kelahiran di luar nikah dari Yesus sudah tersebar selama ia terjun melayani dalam masyarakat dalam usaha untuk menjatuhkanNya. Contohnya: ketika Ia mengemukakan bahwa pasti orang Yahudi yang tidak percaya tidak memiliki Abraham sebagai bapa, tapi si jahat. Mereka membantah, "Kami bukan anak-anak haram!" yang sepertinya sebagai sindirian bahwa itulah Ia (Yohanes 8:41). Pada lain kesempatan, kali ini dalam kotaNya sendiri, ketika orang-orang diserang oleh pengajaranNya, mereka bertanya, "Tidakkah ini anak Maria?" (Markus 6:3). Dalam lingkungan patriakh ini adalah pembicaraan yang menghina, sindiran yang tidak mungkin meleset. Kemudian dalam kesempatan ketiga, orang-orang tidak percaya bertambah, berteriak kepada seorang buta sejak lahir yang disembuhkan oleh Yesus (Yohanes 9:29). Gosip ketidaksahan Yesus bertahan lama setelah kematianNya. Dalam Talmud Yahudi hal ini menjadi jelas. Dalam abad III sarjana Kristen Origen harus menjawab kritik hinaan dari Celsus bahwa Yusuf membawa Maria keluar dari rumahnya karena ia telah berjinah dengan seorang serdadu bernama Panthera. Bagaimana dalam dunia ini dapat timbul gambaran dan fitnahan kecuali telah diketahui bahwa Maria telah mengandung ketika Yusuf menikahinya? Betapa tidak menyenangkannya gossip ini tetapi inilah bukti nyata dari kelahiran anak dara.
Signifikansi dari Kelahiran anak dara
Kita maju sekarang dari bukti kesejarahan kelahiran anak dara kepada pertanyaan mengenai signifikansinya: Apa yang terjadi? Kita telah mencatat bahwa kelahiran Yesus tidak mendapat penekanan dalam Perjanjian Baru yang sama seperti kebangkitanNya, bukan merupakan suatu kejutan kecil, sejak kebangkitanNya dipublikasikan dan mempunyai saksi mata, sementara kelahiran anak dara adalah hal yang bersifat sangat pribadi dan tidak mempunyai saksi. Tapi jurusan yang dipakai para pengritik untuk menyerang menunjukkan bahwa mereka mengenali kepentingannya.
Catatan Lukas mengenai pengumuman itu: Lukas 1:26-36:
Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata, "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepadaNya takhta Daud, bapa leluhurNya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan KerajaanNya tidak akan berkesudahan." Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki- laki pada hari tuanya dan inilah bulan keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. "
Setelah malaikat memberi salam kepada Maria sebagai seorang yang mendapat anugerah khusus dan kehadiran Allah, pemberitahuannya kepada Maria mengenai tujuan Allah ada dalam dua tahap, yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Yang pertama menekankan kesinambungan Anaknya dengan masa lalu, karena Maria akan mengandungNya. Yang kedua menekankan ketidaksinambunganNya, bahkan keunikanNya, karena Roh Kudus akan menaungiNya.
Dalam bagian pertama (ayat 30-34) malaikat mewartakan bahwa Maria akan mengandung dan melahirkan seorang putra, Ia akan menjadi "besar" (dinamakan Yesus dan Putra Yang Maha Tinggi, yang berhubungan dengan pekerjaan penyelamatan MesianikNya) dan bahwa Ia akan memerintah di atas takhta BapaNya, Daud, dan memerintah atas rumah Yakub selama- lamanya. Dengan kata lain, Ia akan mewarisi dari ibuNya: kemanusiaan ("engkau akan .... melahirkan seorang putra") dan posisiNya di takhta Mesianik. Paling sedikit inilah yang diimplikasikan. Dengan yakin rasul Paulus kemudian menekankan hal ini ketika menuliskan bahwa Yesus "dalam naturNya sebagai manusia adalah keturunan Daud" (Roma 1:3). Pada waktu yang bersamaan, Yusuf secara eksplisit dijelaskan sebagai keturunan Daud. Dengan menamai Yesus (Matius 1:21,25), ia menerimaNya sebagai Putranya, dan dengan menerimaNya, membuktikan Ia mempunyai hak-hak legal sebagai anak sah.
Dalam bagian yang kedua (ayat 35) malaikat melanjutkan mengatakan bahwa Roh Kudus akan berada di atas Maria dan kuasa dari Yang Maha Tinggi akan menaunginya (awan dalam Alkitab adalah simbol dari kehadiran Allah). Dan oleh sebab itu anak yang akan dilahirkannya adalah unik, sebagai Yang Suci (berhubungan dengan ketidakberdosaanNya) dan Anak Allah (yang membuktikan dalam pengertian lebih dalam dari pada sebutan sebagai Mesias).
Dalam cara ini diumumkan kepada Maria bahwa kemanusiaan dan kemesiasan anaknya akan keluar daripadanya, ibu yang akan mengandung dan melahirkanNya, sementara ketidakberdosaan dan keilahianNya akan keluar dari Roh Kudus yang akan menaunginya dengan kuat kuasaNya. Kesinambungan akan terlihat pada kelahiran naturalNya melalui Maria, dan ketidaksinambungan dengan kehamilan supranatural melalui Roh Kudus. Ia akan menjadi keturunan Adam melalui kelahiranNya, tetapi diangkat menjadi Adam kedua (kepala dari kemanusiaan yang baru) melalui dikandungNya dari Roh Kudus.
Sebagai akibat dari kelahiran anak dara (yaitu, kebenaran dari Pengakuan Iman Rasuli bahwa Ia dikandung oleh Roh Kudus, dilahirkan dari Anak Dara Maria), Yesus Kristus secara bersamaan adalah anak Maria dan Anak Allah, manusia dan ilahi, Mesias dari keturunan Daud dan Juruselamat yang tidak berdosa bagi orang-orang berdosa. Karena Allah adalah bebas dan maha-kuasa dan kita tidak mempunyai kebebasan untuk membatasiNya, tanpa diragukan lagi Ia dapat melaksanakan tujuan ini melalui beberapa cara lain. Tapi Perjanjian Baru membuktikan bahwa Ia memilih cara melalui kelahiran anak dara, dan tidak sulit untuk mengerti kemasukakalan dan kelayakannya.
Respon Maria terhadap pengumuman dari malaikat menyentuh kekaguman langsung kita. "Aku adalah hamba Tuhan," ia berkata, "Jadilah kepadaku seperti yang kau katakan." Sekali tujuan dan metode Allah dijelaskan kepadanya, ia tidak keberatan. Keseluruhannya takluk kepadaNya. Ia mengekspresikan kerelaan totalnya untuk menjadi anak dara sebagai ibu dari Anak Allah. Jelas itu adalah hak istimewa baginya: "Yang Maha Kuasa telah melakukan hal besar bagiku," ia memuji (Lukas 1:49). Jelas itu menimbulkan kekaguman dan tanggung jawab besar juga. Menyangkut kesediaan untuk mengandung sebelum menikah dan membawa diri sendiri kepada malu dan penderitaan, dipandang sebagai perempuan yang tidak bermoral. Bagi saya kerendahan hati dan semangat Maria dalam penyerahan terhadap kelahiran anak dara kontras dengan sikap pengritik-pengritik yang menyangkal hal itu.
Kita perlu kerendahan hati Maria. Ia menerima tujuan Allah, berkata, "Jadilah padaku seperti yang kau katakan." Tapi kecenderungan dari banyak orang sekarang ini adalah menolaknya karena itu tidak sesuai dengan praanggapan mereka. Mereka yang menolak mujizat secara umum dan kelahiran anak dara khususnya karena mereka percaya alam semesta berada dalam suatu sistim tertentu, tidak tampak untuk melihat keganjilan dari perintah Pencipta, apa yang Ia ijinkan terjadi dalam ciptaanNya sendiri. Bukankah tidak ada lagi mode yang lebih baik untuk meneladani reaksi Maria dalam ketaatannya akan jalan Allah?
Kita juga membutuhkan semangat Maria, Ia sepenuhnya terbuka bagi Allah untuk memenuhi tujuanNya bahwa ia siap untuk mengambil resiko noda dengan menjadi ibu yang tidak menikah, menjadi orang yang disangka penjinah dan menanggung anak yang tidak sah. Ia menyerahkan reputasinya kepada kehendak Allah. Kadang saya heran jika penyebab utama dari begitu banyak teologi liberal adalah sarjana-sarjana yang lebih memperhatikan mengenai reputasi mereka di bandingkan wahyu Allah. Lucu tampaknya untuk menjadi naif dan cukup mudah percaya mengenai mujizat, mereka dicobai untuk mengorbankan wahyu Allah di altar kehormatan mereka sendiri. Saya tidak mengatakan bahwa mereka selalu berbuat demikian. Tapi saya merasa benar dalam hal ini karena saya sendiri merasakan pencobaan ini. Tetapi jelas pengritik akan menyeringai dan memperolok-olok, biarkan mereka. Apa yang terjadi adalah kita membiarkan Allah menjadi Allah dan melakukan dengan caraNya, bahkan jika bersama Maria kita menghadapi resiko kehilangan nama baik kita.

Jumat, 27 Desember 2013

SOTEREOLOGI



KEDAULATAN ALLAH VS KEBEBASAN MANUSIA

Tanggung jawab dan pilihan sukarela (voluntary choices) tidak sama dengan kehendak bebas manusia (human free will) . Manusia memang bertanggung jawab atas pilihan yang ia buat, namun Alkitab tidak mengajarkan bahwa manusia memiliki kehendak bebas untuk memilih yang baik menurut standar Allah sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa (Roma 3:23).

Alkitab mengajarkan bahwa Allah menetapkan segala sesuatu yang terjadi (Efesus 1:11) dan juga mengajarkan bahwa manusia bertanggung jawab untuk pilihannya sendiri ( Yehezkiel 18:20, Matius 12:37, Yohanes 9:41) . Alkitab adalah otoritas tertinggi kita dan presuposisi tertinggi dan banyak pernyataannya yang jelas mengenai hal ini, menembusi semua logika manusia yang terbatas. Hampir selalu ditemukan keberatan untuk  memahami konsep pemeliharaan Allah berkenaan atas pertimbangan moral dan filosofis di atas penafsiran eksegetikal . Ini berarti kita harus selalu berusaha secara sadar menegaskan bahwa apa yang Alkitab nyatakan melampaui seluruh pemahaman kita yang terbatas dan “dorongan manusiawi” untuk bebas dari keterikatan.

Adalah istilah "compatibilism" atau “kompatibilisme” [1] yang dipakai untuk menggambarkan persetujuan atas kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia . Compatibilism adalah bentuk determinisme dan perlu dicatat bahwa posisi ini tidak kurang deterministik dari determinisme berhaluan keras. Ini hanya berarti bahwa penentuan dan pemeliharaan Allah adalah "kompatibel" dengan pilihan sukarela manusia. Pilihan kita tidak dipaksa ... yaitu kita tidak memilih terhadap apa yang kita inginkan atau berdasarkan keinginan bebas, namun sesungguhnya kita tidak pernah membuat pilihan yang bertentangan dengan keputusan Allah yang berdaulat . Apa yang Tuhan tetapkan akan selalu terjadi ( Efesus 1:11) .
Dalam terang Kitab Suci (menurut compatibilism) , pilihan manusia itu dilakukan secara sukarela , tetapi keinginan dan keadaan yang membawa pilihan ini terjadi melalui determinisme atau dominasi ilahi . Sebagai contoh, Allah dikatakan menetapkan penyaliban Anak-Nya , namun orang-orang jahat dengan sengaja dan sukarela menyalibkanNya (lihat Kisah Para Rasul 2:23 dan 4:27-28 ) . Tindakan kejahatan tidak lepas dari keputusan Allah , tetapi bersifat sukarela , dan orang-orang ini dengan demikian bertanggung jawab untuk bertindak , menurut teks ini . Atau saat saudara-saudara Yusuf menjual dia ke perbudakan di Mesir , Yusuf kemudian menceritakan bahwa apa yang saudara-saudaranya rancangkan untuk kejahatan , dimaksudkan Tuhan untuk kebaikan (Kejadian 50:20) . Tuhan menentukan dan menetapkan bahwa peristiwa ini akan berlangsung (bahwa Yusuf akan dijual sebagai budak) , namun saudara-saudaranya secara sukarela membuat pilihan jahat, yang berarti dosa diimputasikan kepada saudara-saudara Yusuf untuk mengahsilkan tindakan jahat , dan itu bukan karena Tuhan.
Dalam kedua kasus ini , dapat dikatakan bahwa Tuhan tidak menciptakan dosa atau menakdirkan seseorang untuk berbuat dosa. Tidak ada yang hal yang terjadi di luar kemaha kuasaan dan kemahabaikanNya.
Kita harus menyadari compatibilism menegaskan bahwa manusia memiliki kehendak bebas . Mereka yang percaya bahwa manusia memiliki kehendak bebas, sebetulnya tidak compatibilists karena pada dasarnya manusia tidak benar-benar bebas (misalnya tidak bisa memilih di mana ia akan dilahirkan, sebagai orang kaya atau miskin, dll), sehingga dalam hal ini lebih tepatnya, disebut "tidak konsisten".

Pilihan manusia secara sukarela dan tidak dipaksa, sehingga manusia harus bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Kita tidak membuat pilihan yang bertentangan dengan keinginan atau kodrat kita, atau terpisah dari pemeliharaan Allah .
Selanjutnya , compatibilism secara langsung bertentangan dengan para penganut Libertarianisme[2]  yang mengakui kehendak bebas . Oleh karena itu pilihan sukarela bukanlah kebebasan untuk memilih sebebas-bebasnya, yaitu , pilihan tanpa pengaruh , prasyarat sebelumnya , kecenderungan , atau disposisi semula. Sukarela berarti, bagaimanapun , kemampuan untuk memilih apa yang kita inginkan atau keinginan adalah yang paling sesuai dengan disposisi dan kecenderungan kita .
Ketika kaum compatibilists menggunakan frase seperti "kebebasan compatibilistic" , mereka , lebih sering daripada tidak , menggunakannya berarti pilihan 'sukarela' , tetapi tidak mengacu kepada kebebasan dari keputusan Allah atau kedaulatan mutlak (sebuah anggapan yang hampir mustahil).

Dalam terminologi Alkitab , manusia yang jatuh dalam perbudakan dosa (terkorupsi secara natur) dan itulah sebabnya mengapa para penulis Alkitab menganggapnya tidak bebas ( lihat Roma 6 ) . Yesus sendiri menegaskan bahwa orang yang berbuat dosa adalah "hamba dosa" dan hanya Anak dapat membebaskannya . Perhatikan bahwa bahkan Yesus berbicara tentang jenis kebebasan di sini. Dia tidak berbicara tentang kebebasan dari Allah tetapi kebebasan dari belenggu dosa , yang merupakan jenis kebebasan mereka miliki yang ada di dalam Kristus. Dalam hal ini Allah adalah Pribadi yang paling bebas karena Dia adalah kudus , terpisah dari dosa ... namun Ia tidak bisa membuat pilihan yang bertentangan dengan esensi -Nya , yaitu Dia tidak bisa tidak menjadi suci . Jadi , kita harus menyimpulkan , menurut Yesus dalam Yohanes 8:31-36 , bahwa manusia duniawi tidak memiliki kehendak bebas, karena berada dalam perbudakan dosa . Setiap teolog yang konsisten yang menggunakan istilah "kebebasan" biasanya mengacu pada fakta bahwa bahwa sementara Tuhan berdaulat menentukan semua yang ditetapkan terjadi, namun "pilihan bebas" manusia ( sukarela ) kompatibel dengan keputusan Allah yang berdaulat . Dengan kata lain kehendak bebas dari paksaan eksternal, tetapi tidak bebas dari keharusan . Secara eksplisit tidak ada ayat Alkitab yang menggunakan frasa "kehendak bebas" , karena Alkitab tidak pernah menegaskan atau menggunakan istilah ini. Jadi, ketika beberapa teolog menggunakan kata "bebas " mereka mungkin menyalahgunakan atau mengimpor bahasa filosofis dari luar Alkitab.

John Calvin mengatakan :
"...we allow that man has choice and that it is self-determined, so that if he does anything evil, it should be imputed to him and to his own voluntary choosing. We do away with coercion and force, because this contradicts the nature of the will and cannot coexist with it. We deny that choice is free, because through man's innate wickedness it is of necessity driven to what is evil and cannot seek anything but evil. And from this it is possible to deduce what a great difference there is between necessity and coercion. For we do not say that man is dragged unwillingly into sinning, but that because his will is corrupt he is held captive under the yoke of sin and therefore of necessity will in an evil way. For where there is bondage, there is necessity. But it makes a great difference whether the bondage is voluntary or coerced. We locate the necessity to sin precisely in corruption of the will, from which follows that it is self-determined.


Sebelum kejatuhan, kehendak bebas Adam tidak terjerat dalam kejahatan , sehingga bebas dari perbudakan dosa, tetapi hal itu tak lepas dari keputusan pengetahuan Allah . Pilihannya memberontak benar-benar terjadi secara sukarela, meskipun Allah telah menetapkan dengan pasti bahwa hal itu akan terjadi . Manusia belum termeterai dalam kebenaran, meskipun kecenderungannya ke arah yang baik . Melalui godaan Setan , bahwa manusia meninggalkan kecenderungan baik dan memilih yang jahat, sehingga jatuh ke dalam dosa asal.

Jadi apakah manusia berdosa yang sudah mengalami kerusakan natur ilahinya itu masih dapat dianggap 'compatible' untuk merespons Allah yang sempurna berikut tawaran kasihNya itu, dengan kehendak bebasnya sendiri ?








[1] Kompatibilisme adalah pandangan bahwa kehendak bebas dan determinisme merupakat gagasan yang tidak bertentangan, dan meyakini keduanya pada waktu yang bersamaan bukan merupakan ketidakkonsistenan logika. Para kompatibilis percaya bahwa kebebasan dapat hadir dalam suatu situasi untuk alasan yang tidak ada kaitannya dengan metafisika. Misalnya, pengadilan menentukan apakah seseorang bertindak berdasarkan kehendak bebas mereka tanpa membawa isu metafisika. Begitu pula konsep kebebasan politik merupakan konsep non-metafisis. Para kompatibilis mendefinisikan kehendak bebas sebagai kebebasan untuk bertindak tanpa halangan dari orang atau institusi lain. (Wikipedia)

[2] Libertarianisme adalah salah satu pandangan filosofis yang terkait dengan masalah kehendak bebas dan determinisme.Libertarianisme merupakan pandangan yang bersifat inkompatibilis, dan menekankan bahwa kehendak bebas secara logis tidak sesuai dengan konsep alam semesta yang deterministik, dan karena manusia memiliki kehendak bebas maka determinisme itu salah. Walaupun kompatibilisme (yaitu pandangan bahwa determinisme dan kehendak bebas tidak bertentangan secara logis) merupakan posisi yang paling populer di antara filsuf-filsuf profesional, libertarianisme metafisis juga didiskusikan (walaupun bukan berarti didukung) oleh Peter van Inwagen, Robert Kane, Robert Nozick, Carl Ginet, Hugh McCann, Harry Frankfurt, E.J. Lowe, Alfred Mele, Roderick Chisholm, Daniel Dennett, Timothy O'Connor, Derk Pereboom, dan Galen Strawson. Istilah "libertarianisme" dalam arti metafisis atau filosofis pertama kali digunakan oleh pemikir bebas dari abad pencerahan.Istilah ini pertama kali tercatat dalam tulisan William Belsham pada tahun 1789. (Wikipedia).

Sabtu, 23 Februari 2013


CARA HIDUP ANAK TUHAN
Nats: Filipi 4: 11b-13; 21-24; Roma 8: 37; 2Kor 2:14


Ada dua macam orang: Pertama, orang yang ketika dalam kesusahan, dan kondisi sulit itu tidak berubah menurut pemikirannya setelah ia berdoa kepada Tuhan, ia me­rasa Allah tidak mempedulikan dia, karena itu ia marah dan meninggalkan Tuhan. Kedua, orang yang ketika hidupnya lancar dipenuhi dengan kesenangan justru terlena dan mengabaikan Tuhan. Dua macam orang ini saya sebut orang yang dikalahkan oleh kesulitan dan orang yang dihanyutkan oleh kenikmatan. Ternyata tidak ada jaminan dalam kondisi hidup fisik yang dapat membuat seseorang tetap setia kepada Tuhan. Karena memang bukan kondisi luar, tetapi hati (sikap batin) itulah yang menentukan respon seseorang kepada Tuhan. Allah yang adil memberi situasi yang berbeda kepada setiap orang. Jika seseorang memiliki hati yang benar kepada Allah, walaupun dalam penderitaan yang berat ia tetap memuliakan Tuhan, dan ketika berada dalam kehidupan yang penuh berkat, ia lebih mencintai Tuhan daripada segala berkat-berkat Tuhan yang siap untuk diambil daripadanya. Tanpa sikap hati yang benar, dalam situasi apa pun orang yang akan selalu meresponi Allah secara salah.
Paulus memberikan teladannya yang indah ketika ia mengungkapkan sikapnya dalam perkataan berikut: “Sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp 4:11b-13). Dalam mengalami kesulitan, deraan, ancaman, kengerian ia tidak menjadi kecewa, ketika ia menerima keadaan yang diberkati, kesukaan, kenyamanan, kelimpahan dan anugerah Tuhan ia tidak menjadi hanyut.
Kesulitan maupun kelancaran merupakan suatu situasi yang sama-sama beresiko untuk mengikis kesetiaan kita kepada Tuhan. Dalam perenungan ini, kita akan memfokuskan kepada bagaimana kita dapat menang atas situasi sulit yang kita hadapi. Saya akan mensharingkan 4 prinsip, yang diharapkan dapat menolong kita ketika menghadapi situasi hidup yang sulit dengan sikap yang benar. Dengan pemahaman dan perspektif iman Kristen yang benar, ia akan dimampukan untuk berespon benar supaya boleh mengalami hidup berkemenangan bersama Tuhan.
Pertama, sadarilah bahwa kita hidup dalam suatu drama kosmik yang sangat menentukan. Kebenaran ini terungkap dalam kitab Ayub. Seluruh kehidupan Ayub, termasuk kehidupan batinnya terbuka bagi pengamatan dan penilaian Allah, malaikat dan Iblis. Ia ditempatkan di dalam posisi yang crucial, di mana seakan-akan kehormatan Allah dipertaruhkan dalam respon Ayub, dan jika dia gagal Iblis mendapat alasan untuk mencemooh Allah. Namun melalui kehidupan Ayub, Allah mau menunjukkan bahwa ada manusia yang akan tetap beriman dan mengasihiNya walaupun mengalami kesulitan terberat. Jikalau ia gagal maka iblis berkesempatan melawan serta mencemooh Tuhan. Tapi, yang terjadi justru melalui respon Ayub yang penuh kesetiaan kepada Allah itu ia mempermalukan Iblis. Inilah kehidupan yang mestinya diwujudkan oleh orang Kristen yang telah menerima anugerah Perjanjian Baru yang melebihi tokoh-tokoh Perjanjian Lama.
Setiap orang diberi kondisi hidup yang berbeda oleh Tuhan. Namun seperti dalam film, yang menjadi ukuran bukanlah kenyamanan peran si aktor, tetapi bagaimana ia memerankannya. Jika dalam film yang menjadi penilaian adalah kemampuan acting, maka dalam hal rohani yang menjadi penilaian ialah bagaimana menjalankan perannya dilihat dari sudut moral dan rohani: yang menjadi ukuran bukanlah apakah kita kaya atau miskin, pintar atau bodoh, sehat walfaiat atau didera oleh penyakit yang berkepanjangan, panjang umur atau hidup yang singkat; yang menjadi ukuran ialah apakah dalam
Ada orang yang sepanjang hidupnya tetap miskin bukan karena malas atau bodoh, sebaliknya ada orang yang dari kecil hingga tua selalu hidup dalam kelimpahan. Ada yang seumur hidupnya dipenuhi dengan kesulitan, sebaliknya ada yang jalan hidupnya begitu mulus. Cara berpikir yang duniawi akan menilai orang yang hidupnya dipenuhi kesusahan itu bernasib buruk dan gagal, dan orang yang hidupnya enak itu bernasib baik dan sukses. Jika orang Kristen masih terjebak dalam cara pandang yang duniawi ini, maka perhatiannya hanya tertuju kepada mengusahakan kenyamanan hidup dan kelepasan dari kesulitan, dan bukannya pada kualitas hidup yang harus ia wujudkan. Karena itu, tidak heran, ketika dilanda kesulitan, mereka penuh dengan sungut dan keluhan kepada Allah (mengkorfirmasikan tuduhan Iblis, yang tentu saja salah), dan kehilangan fokus untuk dalam situasi hidup mereka untuk semakin memuliakan Allah. Di tengah-tengah kesulitan hidup yang memuncak, justru Ayub menyatakan kesaksian hidup yang sulit dilampaui. Di tengah-tengah kehidupan yang hancur oleh kelumpuhannya, Joni Erickson Tada justru menyatakan suatu kehidupan yang begitu mulia.

Kedua, bagi anak Allah, keadaan sulit yang kita alami bukanlah keadaan tak diberkati, sebaliknya mungkin itu adalah saat yang paling indah dalam hidup kita. Ketika berada dalam kondisi yang sulit, terjepit, merasa lemah, keadaan yang memaksa kita bergantung penuh kepada Allah, seringkali kita menganggapnya sebagai bad time (waktu yang buruk), kondisi buruk yang tidak diberkati. Inilah alasan ketika berada dalam kondisi tersebut satu-satunya keinginan kita ialah cepat-cepat keluar dari situasi itu, setelah itu baru kita merasa diberkati. Tetapi dalam pengalaman saya, saya belajar bahwa saat berada di dalam kelemahan itu adalah saat-saat di mana saya paling dekat dengan Tuhan, itulah saat yang indah bersama Tuhan. Dan saat saya merasa kuat, mantap, dewasa, mandiri, mungkin itu adalah saat saya mulai tidak begitu bergantung lagi kepada Tuhan dan mulai agak liar atau bahkan sangat liar.
Jangan salah mengerti bahwa saya mengajarkan supaya kita menginginkan kehidupan yang terus dalam kesuraman dan penderitaan, karena itu bukan maksud Tuhan atas hidup kita. Kekristenan adalah agama yang positif, yang penuh dengan pujian kemenangan dan sukacita. Karena itu, tidak salah jika dalam kesulitan, sakit, kesedihan, kita menginginkan Tuhan memberikan kelepasan, kelimpahan dan sukacita kepada kita. Tetapi apa yang mau saya tegaskan di sini ialah marilah kita belajar untuk melihat masa suram itu secara positif dari perspektif Kristen, bahwa jika saya berada dalam situasi seperti itu di situ pun Allah hadir dan kasih rahmatNya menopang aku, bahkan lebih penuh kasih mesra.
Ada sesuatu yang unik dalam kehidupan ma­nu­sia, seringkali masa-masa sulit yang pernah kita alami dulu, seperti krisis, bahaya, kesulitan hidup, dsb kita ingat kembali dengan perasaan nostalgia. Demikian juga, dikatakan mengenai hubungan dalam pernikahan: krisis pernikahan yang dilalui dengan penuh ketabahan bahkan berguna untuk membangun kasih dan kepercayaan yang kokoh antara keduanya, suatu hal yang tidak pernah akan dimengerti dan dialami oleh mereka yang telah menyerah.

Ketiga, dengan memfokuskan pikiran hanya pada kebahagiaan di masa yang akan datang, kita telah menyia-nyiakan realitas kehidupan masa kini, yang sebenarnya merupakan sesuatu yang indah dan sangat berharga. Sayur pare itu pahit, jangan dibuang, sebaliknya belajarlah untuk menikmatinya, karena itu sayur yang baik/berguna dan enak. Hidup ini sulit, ini adalah fakta tidak dapat kita tolak. Namun jika kita menyikapinya dengan benar, maka masa-masa sulit itu dapat menjadi pengalaman yang indah bersama Tuhan. Andaikan kita diberi umur 40 tahun, dan 20 tahun terisi oleh kesulitan, apakah berarti kita hanya akan memiliki 20 tahun hidup yang bermakna? Bagi saya, asal kita berjalan bersama Tuhan, maka kita tetap akan memiliki 40 tahun bermakna yang sangat berharga.
Blaise Pascal mengatakan: kita tidak pernah [sungguh-sungguh] hi­dup hanya untuk masa kini .... Kita bersikap tidak bijaksana dengan mengembara dari satu masa ke masa lain yang sesungguhnya bukan milik kita. Kita ... mengabaikan apa yang sungguh-sungguh ada. Kita bersikap demikian karena momen sekarang biasanya adalah sesuatu yang menyakitkan, itulah sebabnya kita menekannya...
Kita cenderung membebani pikiran kita dengan masa lalu dan masa yang akan datang, dan jarang memikirkan masa kini.... Kita menjadikan masa  masa lalu dan masa kini sebagai sarana, dan hanya menjadikan masa yang akan datang sebagai tujuan kita. Dengan cara berpikir demikian, kita tidak pernah sungguh-sunguh hidup, sebab kita hanya hidup dalam pengharapan, mengharapkan sesuatu yang belum ada, sedangkan yang ada dibuang-buang. Dengan selalu merencanakan bagaimana kita dapat menjadi bahagia, kita tidak pernah berada dalam kebahagiaan itu. (Pensees).
Keempat, dengan memandang masa “sulit” sekarang sebagai hal yang negatif dan hanya memikirkan kebahagiaan yang belum tiba maka kita lalai menyambut maksud Tuhan dalam situasi kita itu. Tidak ada pengalaman kita yang alami yang terjadi di luar kontrol Allah. Dan jika Ia mengizinkan kita mengalami suatu kesulitan  pasti ada maksud baik dari Allah bagi kita. Kita tahu bahwa: “Allah ... bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yagn terpanggil sesuai dengn rencana Allah.” (Rm 8:28). Dan jika dalam setiap situasi hidup kita terdapat maksud Allah yang baik, maka marilah kita menyambut maksudNya itu.
Saint John of the Cross (Santo Yohanes dari Salib) mengungkapkan apa yang dinamainya the dark night of the soul (jiwa yang berada dalam kegelapan malam). Ia mengatakan demikian, “Berada di dalam kegelapan malam bukanlah sesuatu yang buruk dan destruktif. Sebaliknya ini bagaikan pengalaman orang sakit yang menyambut ahli bedah yang menjanjikan kesehatan dan kesembuhan kepadanya. Tujuan dari kegelapan ini tidak dimaksudkan untuk menyakiti atau menghukum kita tetapi untuk menyembuhkan kita. Inilah kesempatan yang Tuhan pakai untuk menarik kita lebih dekat kepadaNya.” Inilah pengalaman dan prinsip rohani yang mendalam untuk menghadapi realita hidup sebagai anak Allah yang mendapat identitas dan destiny penuh kemuliaan.
Ia melanjutkan, “Dalam saat-saat seperti ini mungkin kita akan merasa kering, depresi bahkan putus asa. Tetapi ini merupakan keadaan yang baik karena melucuti setiap ketergantungan kita yang berlebihan kepada perasaan ataupun kondisi-kondisi fisik di luar. Pandangan yang sering kita dengar adalah bahwa pengalaman kekelaman ini harus kita hindari sebagai syarat untuk mengalami kedamaian, penghiburan dan sukacita adalah pikiran yang salah. Sebab berada di dalam keadaan yang gelap ini adalah salah satu cara yang Allah pakai untuk memberikan kepada kita keheningan, ketenangan sehingga Ia dapat melakukan transformasi batin dari dalam kita. Ketika Allah membawa kita ke dalam keadaan demikian, bersyukurlah, karena Allah dalam kasih sayangNya yang besar sedang menarik kita keluar dari gangguan supaya kita dapat melihat Dia secara lebih jelas. Dalam keadaan demikian jangan memberontak atau melawan tapi belajarlah untuk diam dan menantikan Tuhan.”
Allah mempunyai program yang mulia dalam hidup kita, membawa kita ke dalam kemuliaan. Ia ingin membentuk kita menjadi baru dan yang mulia. Dan kesulitan merupakan keadaan yang sangat kondusif untuk pekerjaan ini. Saat kita sedang hancur, saat ego kita telah dihancurkan, itulah saat kita bagaikan tanah liat yang telah dihancurkan untuk siap dibentuk ulang secara baru. Jika dalam saat demikian, kita salah mengerti dan memberontak, kita telah berlaku bodoh dan merugikan diri kita sendiri. Sebagian tidak tahan dalam kegelapan yang kelam ini sehingga ia mencari pengalaman rohani palsu yang menimbulkan gairah dalam hatinya yang kering, tetapi tindakan ini justru mengganggu program Tuhan. Guru-guru palsu telah menawarkan pengalaman agama palsu untuk mengisi kekeringan yang seharusnya diisi oleh Tuhan, akibatnya kepekaan rohani mereka menjadi tumpul. Apa yang mestinya kita miliki pada saat-saat seperti ini ialah berdiam diri di hadapan Allah dan menantikan Tuhan. Manusia tidak selalu menolong, terkadang mereka justru menjadi pengganggu yang mengalihkan perhatian kita dari suara Tuhan. Nabi Yesaya berkata: “dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” Tetapi kamu enggan, kamu berkata, ‘Bukan, kami mau naik kuda dan lari cepat’, maka kamu akan lari dan lenyap. Katamu pula, ‘Kami mau mengendarai kuda tangkas’, maka para pengejarmu akan lebih tangkas pula.” (Yesaya 30:15-16).

Setiap kali kita mengalami kesulitan, carilah maksud Tuhan dalam situasi yang kita hadapi itu. Jangan kita dilumpuhkan oleh kesulitan, tetapi temukan ‘mutiara’ (berkat rohani) di balik kondisi sulit itu. Justru saat di dalam di penjara, Paulus menulis surat-suratnya yang paling penting dan menjadi berkat besar bagi gereja Kristen sepanjang masa, yaitu surat Efesus, Filipi, Kolose, Filemon dan Roma. Demikian juga saat dipenjarakan John Bunyan menulis Pilgrim Progress, karya sastra alegoris terindah dan bermutu tinggi di antara literatur Kristen. Perhatikanlah respon kita dalam masa-masa sulit itu supaya jangan kesulitan itu dilewati tanpa mendapatkan berkat rohani dari Tuhan itu. Amin.