Konsep tentang Mematikan Dosa
Menurut Surat-surat Paulus |
Rabu, 22 Januari 2014
Senin, 30 Desember 2013
RENUNGAN NATAL
Kelahiran Dari Anak Dara
Penulis_artikel:
John Rw Stott
Isi_artikel:
Bishop David Jenkins
meragukan bahkan menyatakan penyangkalannya mengenai realita sejarah mengenai
kelahiran dari anak dara. Ia menyebutnya sebagai natur
simbolis dan mitologis kisah kelahiran dari anak dara. Dalam suratnya Desember
1984 ia menulis bahwa sekelompok orang tidak dapat mengerti, atau tidak akan
mendengarkan, point bahwa banyak dari kisah Alkitab adalah direalitakan, tidak
dengan menjadi literatur yang benar, tapi karena menjadi
simbol yang diinspirasikan oleh iman yang hidup mengenai aktifitas nyata dari
Allah.
Tapi banyak dari kritik bishop tidak selalai dan
juga tidak sekeras kepala seperti yang ditunjukkannya. Kita tahu dengan baik
bahwa ada jenis literatur yang disebut mitos yang
memasukkan kebenaran dalam bentuk sejarah tanpa menyatakan bahwa itu bersifat
sejarah. Ini tidak termasuk dalam perdebatan di antara kita. Banyak mitos kafir
yang beredar dalam abad pertama, termasuk yang berasal dari Yunani dan Mesir
asli mengenai satu dewa juruselamat yang lahir dari anak dara yang memerintah
langit dan laut. Tapi kisah-kisah ini membuktikan sendiri bahwa mereka adalah
mitos. Orang tidak percaya bahwa kisah itu adalah sejarah. Pertanyaannya adalah
apakah para penulis Injil dengan sengaja menulis mitos ketika mereka
mengisahkan kelahiran dari anak dara dan apakah mereka bermaksud untuk memberi
pengertian semacam itu kepada kita. Jawaban saya: "Jelas tidak!".
Profesor Henry Chadwick dalam artikelnya menunjukkan bahwa di dalam Pengakuan
Iman Rasuli adalah pernyataan yang tercatat dalam sejarah dan ada yang puitis.
Kalimat Ia duduk di sebelah kanan Allah Bapa termasuk dalam pengertian puitis
tetapi Ia dilahirkan oleh Anak Dara Maria dan Pada hari yang ketiga Ia bangkit
dari antara orang mati termasuk pernyataan yang berdasarkan sejarah.
Benar bahwa hal kelahiran Yesus dari anak dara
tidak mendapat penekanan sebanyak yang terjadi dalam hal mengenai kematian dan
kebangkitanNya dalam Perjanjian Baru. Tidak ada dalam khotbah-khotbah awal Petrus
dalam Kisah Rasul maupun kesimpulan Paulus mengenai Injil dalam I Korintus 15
yang menyinggung mengenai kelahiran Yesus dari anak dara. Meskipun keempat
penulis Injil sesungguhnya menuliskan seperti yang dikatakan Markus Injil
mengenai Yesus Kristus (Markus 1:1), dan meskipun Matius dan Lukas dalam Injil
mereka mencatat mengenai kelahiran dari anak dara, tapi tidak ada tempat dalam
Perjanjian Baru yang menyatakan bahwa catatan itu menjadi bagian integral
dengan Kabar Baik. Meskipun demikian jelas diajarkan dalam Injil dan sejak itu
menjadi kepercayaan yang diterima dengan suara bulat dari gereja universal.
Pengajaran dan tradisi ini tidak bisa begitu saja
dikesampingkan. Selain itu, adalah suatu hal yang serasi bahwa Satu Pribadi
yang supranatural (yang adalah Allah dan manusia) harus memasuki, seperti juga
meninggalkan dunia ini, dengan cara yang supranatural.
Serangan atas kelahiran dari anak dara bukanlah
hal yang baru. Sebaliknya mereka sama tuanya dengan kekristenan itu sendiri.
Dalam abad pertama banyak orang Yahudi Ebionit dan sekte tertentu dari Gnostik
menyangkal keilahian Yesus dan oleh sebab itu menghilangkan kisah kelahiran
dari anak dara. Dalam abad kedua, bidat Marcion, yang menolak sepenuhnya
Perjanjian Lama, mempublikasikan satu versi dari hanya satu Injil (Lukas)
dengan mengabaikan kedua pasal pertamanya. Kemudian golongan rasionalis dan
skeptis dari setiap abad meragukan atau meremehkan kelahiran dari anak dara.
Contohnya Renan, humanis dari Perancis dengan bukunya Vie de Je'sus yang menimbulkan
sensasi ketika beredar dalam tahun 1863, memulai bab keduanya demikian:
"Yesus dilahirkan di Nazaret, sebuah kota
kecil di Galilea, yang sebelumnya tidak melahirkan orang yang terkenal....
Ayahnya Yusuf dan ibunya Maria adalah orang-orang
dari kalangan bawah." Kritik ini biar bagaimana pun juga berasal dari luar
gereja.
Yang baru sekarang ini adalah pandangan mereka
ditoleransi di dalam gereja, bahkan di antara pemimpin gereja yang seharusnya
dengan khidmat menjaga dan mengajarkan iman Kristen yang bersejarah. Pada awal
abad ini penahbisan William Temple ditunda dua tahun sampai ia yakin mengenai
kelahiran Yesus dari anak dara dan kebangkitan tubuh, dan dalam 1917 dan 1918
Kepala bishop Randall Davidson menolak untuk menahbiskan Hensley Henson yang
sedang dicalonkan untuk menjadi Bishop of Hereford, sampai ia mampu memberikan
jaminan yang memuaskan bahwa ia tidak menyangkal doktrin-doktrin dalam
Pengakuan Iman Rasuli. Sebab Kepala Bishop John Habgood menahbiskan David
Jenkins tanpa menerima jaminan yang sama sehingga banyak dari kita diganggu
oleh pandangan yang mendukakan ini.
Mungkin bijaksana jika pada point ini menjelaskan
pengertian dari kelahiran dari anak dara. Ada
ekspresi yang salah, karena menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak biasa mengenai
kelahiran Yesus, sementara kelahiranNya seluruhnya adalah normal dan alamiah.
Penghamilannya yang tidak biasa, karena sesungguhnya bersifat supernatural;
karena ia diyakinkan dengan pekerjaan dari Roh Kudus, tanpa kerjasama dari
seorang bapa manusiawi.
Dalam diskusi kita mengenai kelahiran dari anak
dara, ada dua pertanyaan yang perlu ditanyakan. Yang pertama mengenai
kesejarahannya (Apakah itu sungguh-sungguh terjadi?) dan yang kedua adalah
signifikansinya (Apakah yang terjadi?)
Kesejarahan mengenai kelahiran dari anak dara
Ketika kita menimbang bukti-bukti sejarah untuk
kelahiran dari anak dara, ada empat bukti harus dipikirkan. Pertama, kesaksian
dari para penulis Injil: Matius dan Lukas keduanya menanggung dualitas
kesaksian mengenai keperawanan dari Maria. Benar, mereka menelusuri jejak
genealogi Yesus melalui Yusuf dan tidak dirintangi dalam menunjuk kepada Yusuf
sebagai bapak dari Yesus. Tapi setelah ia menikah dengan Maria, ia adalah ayah
yang sah dari Yesus. Maka tidak ada kesulitan di sini. Faktanya adalah bahwa
menurut penulis Injil pertama dan ketiga, ketika Maria mengandung ia
bertunangan, bukan menikah dengan Yusuf, dan ketika Yesus dilahirkan ia tetap
seorang perawan. Lagipula cukup jelas bahwa Matius dan Lukas mempercayai hal
ini. Mereka menulis dalam bentuk prosa bukan puisi, sebuah sejarah dan bukan
mitos. Beberapa sarjana memperdebatkan bahwa Matius pada khususnya (bukan
Lukas, yang mengklaim pengusutan sejarah telah diperhatikan) tidak cenderung
untuk menuliskan sebuah narasi murni sejarah, tapi ia bebas mengembangkan dan
membubuhi sumber-sumbernya sehingga akibatnya adalah sebuah midrash, yaitu
pencampuran sejarah dengan yang non-sejarah, yang (lebih lanjut dikatakan)
merupakan sebuah bentuk yang biasa yang dikenal dalam literatur
Yahudi pada jamannya. Namun demikian perkiraan ini jauh dari pembuktian. Bukti
kurang dalam tiga area kritis: pertama, bahwa itu merupakan genre literatur
yang biasa pada waktu itu (tidak kelihatan menjadi seperti demikian sampai abad
kedua); kedua bahwa Matius cenderung untuk menulis Midrash (ia pasti tidak
membumbui Perjanjian Lama dengan fiksi, seperti yang dilakukan oleh para
penafsir Midrash; dan ketiga bahwa orang-orang pada jamannya itu mengertinya
untuk menggunakan bentuk khusus ini (yang tidak dilakukan oleh bapak-bapak
gereja pada awal gereja). Selain itu, ketika seseorang membaca injil Matius
dengan segar, ia didorong oleh detail konteks sejarah dari kelompok orang,
tempat-tempat dan waktu yang di dalamnya ia letakkan dalam kisahnya.
Jika ditekankan bahwa Matius dan Lukas percaya
bahwa Maria adalah ibu Yesus adalah seorang dara, lalu timbul pertanyaan:
mengapa Markus dan Yohanes tidak mengatakan demikian juga? Dan mengapa sisa
dari Perjanjian Baru membisu mengenai kelahiran Yesus dari anak dara? Dalam menjawabnya,
kita mulai dengan mengingat bahwa argumen bisu jelas tidak dapat diandalkan.
Contohnya, Markus dan Yohanes tidak mengatakan apa-apa mengenai masa kecil
Tuhan Yesus, tapi kita tidak mengkonklusikan dari hal ini bahwa Yesus tidak
pernah mempunyainya. Kemudian ada bukti tidak langsung bahwa Yohanes tidak tahu
mengenai masalah ini dan percaya kelahiran dari anak dara. Saya tidak hanya
berpikir mengenai pernyataan agungnya bahwa "Firman telah menjadi daging
dan tinggal ... di antara kita." (Yohanes 1:14), tetapi juga mengingat
kembali pernyataan bahwa Yesus "datang dari atas", "turun dari
surga", "diutus oleh Bapa", "datang ke dalam dunia."
Beberapa intervensi supranatural menjadi penting untuk membuat hal-hal ini
dapat diterima.
Fakta bahwa Markus dan Yohanes mengabaikan kisah
Kristus sebenarnya tidak relevan untuk alasan sederhana bahwa mereka tidak
diharuskan untuk menulis hanya tentang kelahiran dan masa kecil Yesus saja.
Mereka berdua memilih untuk memulai kisah dari Yohanes Pembaptis. Point signifikansi
adalah hanya dua penginjil yang menekankan penjelasan kelahiran Yesus dan
menyatakan bahwa Ia dilahirkan dari seorang dara.
Faktor kedua yang perlu dipikirkan adalah
keotentikan suasana yang disinggung dalam kisah. Ketika kita membaca
pasal-pasal awal dari Matius dan Lukas. Kita dibawa kembali kepada hari-hari
akhir dari Perjanjian Lama. Zakaria dan Elisabet, Yusuf, Maria, Simeon dan Hana
adalah orang-orang beribadah dari Perjanjian Lama yang memandang dan menantikan
kerajaan Allah. Konteksnya kaya dengan kesalehan khas Perjanjian Lama. Bahasa, gaya dan susunan dari
cerita-cerita adalah seluruhnya berciri Ibrani. Jauh dari tambahan legenda yang
kemudian. Kisah-kisah ini terdengar dan terasa seperti ditulis pada masa sangat
awal.
Sebagai tambahan, kisah-kisah ini mengungkapkan
kesederhanaan dan kebijaksanaan. Sesungguhnya cerita-cerita kafir pada masa itu
mengisahkan mengenai dewa-dewa yang melakukan hubungan seks dengan manusia
perempuan. Tetapi pada tempat dari mitos yang sadis dan fantastik itu, para
penginjil bungkam. Mereka memperlakukan keintiman yang suci mengenai
dikandungnya Yesus dengan cara yang paling halus.
Ketiga, kita harus menanyakan tentang keaslian
cerita kelahiran anak dara. Kisah Matius dan Lukas memiliki kesamaan inti.
Mereka berdua menunjukkan hubungan kehamilan Maria dengan Roh Kudus, bukan
Yusuf dan mereka juga menunjukkan kepada problem dan kekuatiran yang disebabkan
oleh keperawanannya. Tetapi perhitungan mereka jelas berdiri sendiri (tidak ada
bukti persekongkolan), saling melengkapi (mereka mengisahkan dari perspektif
yang berbeda). Lukas menulis pengumuman kepada Maria dan kebingungannya seperti
bagaimana dia dapat menjadi seorang ibu sementara belum menikah. Matius, di
lain pihak, menulis penemuan Yusuf bahwa Maria hamil dan kebingungannya,
keputusan untuk menceraikan Maria karena itu bukan anaknya, dan mimpinya di
mana di dalamnya Allah mengatakan kepadanya untuk mengambil Maria sebagai
seorang istrinya. Pada puncaknya, fakta harus datang dari Maria dan Yusuf
sendiri, baik dalam bentuk tulisan atau bentuk perkataan. Selama Lukas dua
setengah tahun bebas di Palestina, yang saya hubungkan, tampak segala
kemungkinan bahkan kemungkinan bahwa ia bertemu dengan Dara Maria secara
pribadi dan menerima cerita dari bibirnya sendiri. Dalam seluruh keadaan,
bukti-bukti dari dalam menunjukkan bahwa dalam Perjanjian Baru kita memiliki
dua kisah asli, pada awal, yang terpisah, yang berbicara mengenai kelahiran
anak dara, masing-masing berdiri sendiri, satu sama lain saling melengkapi,
yang satu dari Yusuf, yang lain dari Maria.
Faktor keempat yang kita akan lihat adalah gosip
mengenai kelahiran di luar nikah dari Yesus. "Fakta pertama dan paling
tidak bisa dibantah mengenai kelahiran Yesus" tulis JAT Robinson,
munculnya dari Wedlock. Satu pilihan yang tidak berbukti bahwa Yesus adalah
anak sah dari Yusuf dan Maria. Hanya satu pikiran terbuka bagi kita antara
kelahiran anak dara dan kelahiran di luar nikah.
Jelas bahwa gosip kemungkinan kelahiran di luar
nikah dari Yesus sudah tersebar selama ia terjun melayani dalam masyarakat
dalam usaha untuk menjatuhkanNya. Contohnya: ketika Ia mengemukakan bahwa pasti
orang Yahudi yang tidak percaya tidak memiliki Abraham sebagai bapa, tapi si
jahat. Mereka membantah, "Kami bukan anak-anak haram!" yang sepertinya
sebagai sindirian bahwa itulah Ia (Yohanes 8:41). Pada lain kesempatan, kali
ini dalam kotaNya sendiri, ketika orang-orang diserang oleh pengajaranNya,
mereka bertanya, "Tidakkah ini anak Maria?" (Markus 6:3). Dalam
lingkungan patriakh ini adalah pembicaraan yang menghina, sindiran yang tidak
mungkin meleset. Kemudian dalam kesempatan ketiga, orang-orang tidak percaya
bertambah, berteriak kepada seorang buta sejak lahir yang disembuhkan oleh
Yesus (Yohanes 9:29). Gosip ketidaksahan Yesus bertahan lama setelah
kematianNya. Dalam Talmud Yahudi hal ini menjadi jelas. Dalam abad III sarjana
Kristen Origen harus menjawab kritik hinaan dari Celsus bahwa Yusuf membawa
Maria keluar dari rumahnya karena ia telah berjinah dengan seorang serdadu
bernama Panthera. Bagaimana dalam dunia ini dapat timbul gambaran dan fitnahan
kecuali telah diketahui bahwa Maria telah mengandung ketika Yusuf menikahinya?
Betapa tidak menyenangkannya gossip ini tetapi inilah bukti nyata dari
kelahiran anak dara.
Signifikansi dari Kelahiran anak dara
Kita maju sekarang dari bukti kesejarahan
kelahiran anak dara kepada pertanyaan mengenai signifikansinya: Apa yang
terjadi? Kita telah mencatat bahwa kelahiran Yesus tidak mendapat penekanan
dalam Perjanjian Baru yang sama seperti kebangkitanNya, bukan merupakan suatu
kejutan kecil, sejak kebangkitanNya dipublikasikan dan mempunyai saksi mata,
sementara kelahiran anak dara adalah hal yang bersifat sangat pribadi dan tidak
mempunyai saksi. Tapi jurusan yang dipakai para pengritik untuk menyerang
menunjukkan bahwa mereka mengenali kepentingannya.
Catatan Lukas mengenai pengumuman itu: Lukas
1:26-36:
Dalam bulan yang keenam Allah
menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota
di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan
seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika
malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata, "Salam, hai engkau yang
dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." Maria terkejut mendengar perkataan
itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu
kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di
hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang
anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar
dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan
kepadaNya takhta Daud, bapa leluhurNya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum
keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan KerajaanNya tidak akan berkesudahan."
Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena
aku belum bersuami?" Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan
turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu
anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan
sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-
laki pada hari tuanya dan inilah bulan keenam bagi dia, yang disebut mandul
itu. "
Setelah malaikat memberi salam kepada Maria
sebagai seorang yang mendapat anugerah khusus dan kehadiran Allah,
pemberitahuannya kepada Maria mengenai tujuan Allah ada dalam dua tahap, yang
saling berkaitan satu dengan yang lain. Yang pertama menekankan kesinambungan
Anaknya dengan masa lalu, karena Maria akan mengandungNya. Yang kedua
menekankan ketidaksinambunganNya, bahkan keunikanNya, karena Roh Kudus akan
menaungiNya.
Dalam bagian pertama (ayat 30-34) malaikat
mewartakan bahwa Maria akan mengandung dan melahirkan seorang putra, Ia akan
menjadi "besar" (dinamakan Yesus dan Putra Yang Maha Tinggi, yang
berhubungan dengan pekerjaan penyelamatan MesianikNya) dan bahwa Ia akan
memerintah di atas takhta BapaNya, Daud, dan memerintah atas rumah Yakub
selama- lamanya. Dengan kata lain, Ia akan mewarisi dari ibuNya: kemanusiaan
("engkau akan .... melahirkan seorang putra") dan posisiNya di takhta
Mesianik. Paling sedikit inilah yang diimplikasikan. Dengan yakin rasul Paulus
kemudian menekankan hal ini ketika menuliskan bahwa Yesus "dalam naturNya
sebagai manusia adalah keturunan Daud" (Roma 1:3). Pada waktu yang
bersamaan, Yusuf secara eksplisit dijelaskan sebagai keturunan Daud. Dengan
menamai Yesus (Matius 1:21,25), ia menerimaNya sebagai Putranya, dan dengan
menerimaNya, membuktikan Ia mempunyai hak-hak legal sebagai anak sah.
Dalam bagian yang kedua (ayat 35) malaikat
melanjutkan mengatakan bahwa Roh Kudus akan berada di atas Maria dan kuasa dari
Yang Maha Tinggi akan menaunginya (awan dalam Alkitab adalah simbol dari
kehadiran Allah). Dan oleh sebab itu anak yang akan dilahirkannya adalah unik,
sebagai Yang Suci (berhubungan dengan ketidakberdosaanNya) dan Anak Allah (yang
membuktikan dalam pengertian lebih dalam dari pada sebutan sebagai Mesias).
Dalam cara ini diumumkan kepada Maria bahwa
kemanusiaan dan kemesiasan anaknya akan keluar daripadanya, ibu yang akan
mengandung dan melahirkanNya, sementara ketidakberdosaan dan keilahianNya akan
keluar dari Roh Kudus yang akan menaunginya dengan kuat kuasaNya. Kesinambungan
akan terlihat pada kelahiran naturalNya melalui Maria, dan ketidaksinambungan
dengan kehamilan supranatural melalui Roh Kudus. Ia akan menjadi keturunan Adam
melalui kelahiranNya, tetapi diangkat menjadi Adam kedua (kepala dari
kemanusiaan yang baru) melalui dikandungNya dari Roh Kudus.
Sebagai akibat dari kelahiran anak dara (yaitu,
kebenaran dari Pengakuan Iman Rasuli bahwa Ia dikandung oleh Roh Kudus,
dilahirkan dari Anak Dara Maria), Yesus Kristus secara bersamaan adalah anak
Maria dan Anak Allah, manusia dan ilahi, Mesias dari keturunan Daud dan
Juruselamat yang tidak berdosa bagi orang-orang berdosa. Karena Allah adalah
bebas dan maha-kuasa dan kita tidak mempunyai kebebasan untuk membatasiNya,
tanpa diragukan lagi Ia dapat melaksanakan tujuan ini melalui beberapa cara
lain. Tapi Perjanjian Baru membuktikan bahwa Ia memilih cara melalui kelahiran
anak dara, dan tidak sulit untuk mengerti kemasukakalan dan kelayakannya.
Respon Maria terhadap pengumuman dari malaikat
menyentuh kekaguman langsung kita. "Aku adalah hamba Tuhan," ia
berkata, "Jadilah kepadaku seperti yang kau katakan." Sekali tujuan
dan metode Allah dijelaskan kepadanya, ia tidak keberatan. Keseluruhannya
takluk kepadaNya. Ia mengekspresikan kerelaan totalnya untuk menjadi anak dara
sebagai ibu dari Anak Allah. Jelas itu adalah hak istimewa baginya: "Yang
Maha Kuasa telah melakukan hal besar bagiku," ia memuji (Lukas 1:49).
Jelas itu menimbulkan kekaguman dan tanggung jawab besar juga. Menyangkut
kesediaan untuk mengandung sebelum menikah dan membawa diri sendiri kepada malu
dan penderitaan, dipandang sebagai perempuan yang tidak bermoral. Bagi saya
kerendahan hati dan semangat Maria dalam penyerahan terhadap kelahiran anak
dara kontras dengan sikap pengritik-pengritik yang menyangkal hal itu.
Kita perlu kerendahan hati Maria. Ia menerima
tujuan Allah, berkata, "Jadilah padaku seperti yang kau katakan."
Tapi kecenderungan dari banyak orang sekarang ini adalah menolaknya karena itu
tidak sesuai dengan praanggapan mereka. Mereka yang menolak mujizat secara umum
dan kelahiran anak dara khususnya karena mereka percaya alam semesta berada
dalam suatu sistim tertentu, tidak tampak untuk melihat keganjilan dari
perintah Pencipta, apa yang Ia ijinkan terjadi dalam ciptaanNya sendiri.
Bukankah tidak ada lagi mode yang lebih baik untuk meneladani reaksi Maria dalam
ketaatannya akan jalan Allah?
Kita juga membutuhkan semangat Maria, Ia
sepenuhnya terbuka bagi Allah untuk memenuhi tujuanNya bahwa ia siap untuk
mengambil resiko noda dengan menjadi ibu yang tidak menikah, menjadi orang yang
disangka penjinah dan menanggung anak yang tidak sah. Ia menyerahkan
reputasinya kepada kehendak Allah. Kadang saya heran jika penyebab utama dari
begitu banyak teologi liberal adalah sarjana-sarjana yang lebih memperhatikan
mengenai reputasi mereka di bandingkan wahyu Allah. Lucu tampaknya untuk
menjadi naif dan cukup mudah percaya mengenai mujizat, mereka dicobai untuk
mengorbankan wahyu Allah di altar kehormatan mereka sendiri. Saya tidak
mengatakan bahwa mereka selalu berbuat demikian. Tapi saya merasa benar dalam
hal ini karena saya sendiri merasakan pencobaan ini. Tetapi jelas pengritik
akan menyeringai dan memperolok-olok, biarkan mereka. Apa yang terjadi adalah
kita membiarkan Allah menjadi Allah dan melakukan dengan caraNya, bahkan jika
bersama Maria kita menghadapi resiko kehilangan nama baik kita.
Jumat, 27 Desember 2013
SOTEREOLOGI
KEDAULATAN ALLAH VS
KEBEBASAN MANUSIA
Tanggung jawab dan pilihan sukarela (voluntary choices) tidak sama dengan kehendak bebas manusia (human free will) . Manusia memang bertanggung jawab atas pilihan yang ia buat, namun Alkitab tidak mengajarkan bahwa manusia memiliki kehendak bebas untuk memilih yang baik menurut standar Allah sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa (Roma 3:23).
Alkitab mengajarkan bahwa
Allah menetapkan segala sesuatu yang terjadi (Efesus 1:11) dan juga
mengajarkan bahwa manusia bertanggung jawab untuk pilihannya sendiri (
Yehezkiel 18:20, Matius 12:37, Yohanes 9:41) . Alkitab adalah otoritas tertinggi
kita dan presuposisi tertinggi dan banyak pernyataannya yang jelas mengenai hal
ini, menembusi semua logika manusia yang terbatas. Hampir selalu ditemukan keberatan
untuk memahami konsep pemeliharaan Allah
berkenaan atas pertimbangan moral dan filosofis di atas penafsiran eksegetikal
. Ini berarti kita harus selalu berusaha secara sadar menegaskan bahwa apa yang
Alkitab nyatakan melampaui seluruh pemahaman kita yang terbatas dan “dorongan
manusiawi” untuk bebas dari keterikatan.
Adalah istilah "compatibilism" atau “kompatibilisme” [1] yang dipakai untuk menggambarkan persetujuan atas kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia . Compatibilism adalah bentuk determinisme dan perlu dicatat bahwa posisi ini tidak kurang deterministik dari determinisme berhaluan keras. Ini hanya berarti bahwa penentuan dan pemeliharaan Allah adalah "kompatibel" dengan pilihan sukarela manusia. Pilihan kita tidak dipaksa ... yaitu kita tidak memilih terhadap apa yang kita inginkan atau berdasarkan keinginan bebas, namun sesungguhnya kita tidak pernah membuat pilihan yang bertentangan dengan keputusan Allah yang berdaulat . Apa yang Tuhan tetapkan akan selalu terjadi ( Efesus 1:11) .
Dalam terang Kitab Suci (menurut compatibilism) , pilihan manusia itu dilakukan secara sukarela , tetapi keinginan dan keadaan yang membawa pilihan ini terjadi melalui determinisme atau dominasi ilahi . Sebagai contoh, Allah dikatakan menetapkan penyaliban Anak-Nya , namun orang-orang jahat dengan sengaja dan sukarela menyalibkanNya (lihat Kisah Para Rasul 2:23 dan 4:27-28 ) . Tindakan kejahatan tidak lepas dari keputusan Allah , tetapi bersifat sukarela , dan orang-orang ini dengan demikian bertanggung jawab untuk bertindak , menurut teks ini . Atau saat saudara-saudara Yusuf menjual dia ke perbudakan di Mesir , Yusuf kemudian menceritakan bahwa apa yang saudara-saudaranya rancangkan untuk kejahatan , dimaksudkan Tuhan untuk kebaikan (Kejadian 50:20) . Tuhan menentukan dan menetapkan bahwa peristiwa ini akan berlangsung (bahwa Yusuf akan dijual sebagai budak) , namun saudara-saudaranya secara sukarela membuat pilihan jahat, yang berarti dosa diimputasikan kepada saudara-saudara Yusuf untuk mengahsilkan tindakan jahat , dan itu bukan karena Tuhan.
Dalam kedua kasus ini , dapat
dikatakan bahwa Tuhan tidak menciptakan dosa atau menakdirkan seseorang untuk
berbuat dosa. Tidak ada yang hal yang terjadi di luar kemaha kuasaan dan kemahabaikanNya.
Kita harus menyadari compatibilism
menegaskan bahwa manusia memiliki kehendak bebas . Mereka yang percaya bahwa
manusia memiliki kehendak bebas, sebetulnya tidak compatibilists karena pada dasarnya
manusia tidak benar-benar bebas (misalnya tidak bisa memilih di mana ia akan
dilahirkan, sebagai orang kaya atau miskin, dll), sehingga dalam hal ini lebih
tepatnya, disebut "tidak konsisten".
Pilihan manusia secara sukarela
dan tidak dipaksa, sehingga manusia harus bertanggung jawab atas pilihannya
sendiri. Kita tidak membuat pilihan yang bertentangan dengan keinginan atau
kodrat kita, atau terpisah dari pemeliharaan Allah .
Selanjutnya , compatibilism
secara langsung bertentangan dengan para penganut Libertarianisme[2] yang mengakui kehendak bebas . Oleh karena
itu pilihan sukarela bukanlah kebebasan untuk memilih sebebas-bebasnya, yaitu ,
pilihan tanpa pengaruh , prasyarat sebelumnya , kecenderungan , atau disposisi
semula. Sukarela berarti, bagaimanapun , kemampuan untuk memilih apa yang kita
inginkan atau keinginan adalah yang paling sesuai dengan disposisi dan
kecenderungan kita .
Ketika kaum compatibilists
menggunakan frase seperti "kebebasan compatibilistic" , mereka ,
lebih sering daripada tidak , menggunakannya berarti pilihan 'sukarela' ,
tetapi tidak mengacu kepada kebebasan dari keputusan Allah atau kedaulatan mutlak
(sebuah anggapan yang hampir mustahil).
Dalam terminologi Alkitab , manusia yang jatuh dalam perbudakan dosa (terkorupsi secara natur) dan itulah sebabnya mengapa para penulis Alkitab menganggapnya tidak bebas ( lihat Roma 6 ) . Yesus sendiri menegaskan bahwa orang yang berbuat dosa adalah "hamba dosa" dan hanya Anak dapat membebaskannya . Perhatikan bahwa bahkan Yesus berbicara tentang jenis kebebasan di sini. Dia tidak berbicara tentang kebebasan dari Allah tetapi kebebasan dari belenggu dosa , yang merupakan jenis kebebasan mereka miliki yang ada di dalam Kristus. Dalam hal ini Allah adalah Pribadi yang paling bebas karena Dia adalah kudus , terpisah dari dosa ... namun Ia tidak bisa membuat pilihan yang bertentangan dengan esensi -Nya , yaitu Dia tidak bisa tidak menjadi suci . Jadi , kita harus menyimpulkan , menurut Yesus dalam Yohanes 8:31-36 , bahwa manusia duniawi tidak memiliki kehendak bebas, karena berada dalam perbudakan dosa . Setiap teolog yang konsisten yang menggunakan istilah "kebebasan" biasanya mengacu pada fakta bahwa bahwa sementara Tuhan berdaulat menentukan semua yang ditetapkan terjadi, namun "pilihan bebas" manusia ( sukarela ) kompatibel dengan keputusan Allah yang berdaulat . Dengan kata lain kehendak bebas dari paksaan eksternal, tetapi tidak bebas dari keharusan . Secara eksplisit tidak ada ayat Alkitab yang menggunakan frasa "kehendak bebas" , karena Alkitab tidak pernah menegaskan atau menggunakan istilah ini. Jadi, ketika beberapa teolog menggunakan kata "bebas " mereka mungkin menyalahgunakan atau mengimpor bahasa filosofis dari luar Alkitab.
John Calvin mengatakan :
"...we
allow that man has choice and that it is self-determined, so that if he does
anything evil, it should be imputed to him and to his own voluntary choosing.
We do away with coercion and force, because this contradicts the nature of the
will and cannot coexist with it. We deny that choice is free, because through
man's innate wickedness it is of necessity driven to what is evil and cannot
seek anything but evil. And from this it is possible to deduce what a great
difference there is between necessity and coercion. For we do not say that man
is dragged unwillingly into sinning, but that because his will is corrupt he is
held captive under the yoke of sin and therefore of necessity will in an evil
way. For where there is bondage, there is necessity. But it makes a great
difference whether the bondage is voluntary or coerced. We locate the necessity
to sin precisely in corruption of the will, from which follows that it is self-determined.
Sebelum kejatuhan, kehendak bebas Adam
tidak terjerat dalam kejahatan , sehingga bebas dari perbudakan dosa, tetapi
hal itu tak lepas dari keputusan pengetahuan Allah . Pilihannya memberontak
benar-benar terjadi secara sukarela, meskipun Allah telah menetapkan dengan
pasti bahwa hal itu akan terjadi . Manusia belum termeterai dalam kebenaran,
meskipun kecenderungannya ke arah yang baik . Melalui godaan Setan , bahwa
manusia meninggalkan kecenderungan baik dan memilih yang jahat, sehingga jatuh ke dalam dosa asal.
Jadi apakah manusia berdosa yang sudah mengalami kerusakan natur ilahinya itu masih dapat dianggap 'compatible' untuk merespons Allah yang sempurna berikut tawaran kasihNya itu, dengan kehendak bebasnya sendiri ?
Jadi apakah manusia berdosa yang sudah mengalami kerusakan natur ilahinya itu masih dapat dianggap 'compatible' untuk merespons Allah yang sempurna berikut tawaran kasihNya itu, dengan kehendak bebasnya sendiri ?
[1] Kompatibilisme
adalah pandangan bahwa kehendak bebas dan determinisme
merupakat gagasan yang tidak bertentangan, dan meyakini keduanya pada waktu
yang bersamaan bukan merupakan ketidakkonsistenan logika. Para kompatibilis percaya bahwa kebebasan dapat hadir
dalam suatu situasi untuk alasan yang tidak ada
kaitannya dengan metafisika. Misalnya, pengadilan menentukan apakah seseorang
bertindak berdasarkan kehendak bebas mereka tanpa membawa isu metafisika.
Begitu pula konsep kebebasan politik
merupakan konsep non-metafisis. Para
kompatibilis mendefinisikan kehendak bebas sebagai kebebasan untuk bertindak
tanpa halangan dari orang atau institusi lain. (Wikipedia)
[2] Libertarianisme
adalah salah satu pandangan filosofis yang terkait dengan masalah kehendak
bebas dan determinisme.Libertarianisme merupakan pandangan yang
bersifat inkompatibilis, dan
menekankan bahwa kehendak bebas secara logis tidak sesuai dengan konsep alam
semesta yang deterministik, dan karena manusia memiliki kehendak
bebas maka determinisme itu salah. Walaupun kompatibilisme
(yaitu pandangan bahwa determinisme dan kehendak bebas tidak bertentangan
secara logis) merupakan posisi yang paling populer di antara filsuf-filsuf
profesional, libertarianisme metafisis juga didiskusikan (walaupun
bukan berarti didukung) oleh Peter van Inwagen, Robert Kane, Robert Nozick, Carl Ginet, Hugh McCann, Harry Frankfurt, E.J. Lowe, Alfred Mele, Roderick Chisholm, Daniel
Dennett, Timothy O'Connor,
Derk Pereboom, dan Galen Strawson. Istilah
"libertarianisme" dalam arti metafisis atau filosofis pertama kali
digunakan oleh pemikir bebas dari abad
pencerahan.Istilah ini pertama kali tercatat dalam tulisan William Belsham pada tahun
1789. (Wikipedia).
Sabtu, 23 Februari 2013
CARA HIDUP ANAK TUHAN
Nats:
Filipi 4: 11b-13; 21-24; Roma 8: 37; 2Kor 2:14
|
Ada dua macam orang: Pertama, orang yang ketika
dalam kesusahan, dan kondisi sulit itu tidak berubah menurut pemikirannya
setelah ia berdoa kepada Tuhan, ia merasa Allah tidak mempedulikan dia, karena
itu ia marah dan meninggalkan Tuhan. Kedua, orang yang ketika hidupnya lancar
dipenuhi dengan kesenangan justru terlena dan mengabaikan Tuhan. Dua macam
orang ini saya sebut orang yang dikalahkan oleh kesulitan dan orang yang
dihanyutkan oleh kenikmatan. Ternyata tidak ada jaminan dalam kondisi hidup
fisik yang dapat membuat seseorang tetap setia kepada Tuhan. Karena memang
bukan kondisi luar, tetapi hati (sikap batin) itulah yang menentukan respon
seseorang kepada Tuhan. Allah yang adil memberi situasi yang berbeda kepada
setiap orang. Jika seseorang memiliki hati yang benar kepada Allah, walaupun
dalam penderitaan yang berat ia tetap memuliakan Tuhan, dan ketika berada dalam
kehidupan yang penuh berkat, ia lebih mencintai Tuhan daripada segala
berkat-berkat Tuhan yang siap untuk diambil daripadanya. Tanpa sikap hati yang
benar, dalam situasi apa pun orang yang akan selalu meresponi Allah secara
salah.
Paulus memberikan teladannya yang indah ketika
ia mengungkapkan sikapnya dalam perkataan berikut: “Sebab aku telah belajar
mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu
apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu
yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal
kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala
perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp 4:11b-13). Dalam
mengalami kesulitan, deraan, ancaman, kengerian ia tidak menjadi kecewa, ketika
ia menerima keadaan yang diberkati, kesukaan, kenyamanan, kelimpahan dan
anugerah Tuhan ia tidak menjadi hanyut.
Kesulitan maupun kelancaran merupakan suatu
situasi yang sama-sama beresiko untuk mengikis kesetiaan kita kepada Tuhan.
Dalam perenungan ini, kita akan memfokuskan kepada bagaimana kita dapat menang
atas situasi sulit yang kita hadapi. Saya akan mensharingkan 4 prinsip, yang
diharapkan dapat menolong kita ketika menghadapi situasi hidup yang sulit
dengan sikap yang benar. Dengan pemahaman dan perspektif iman Kristen yang
benar, ia akan dimampukan untuk berespon benar supaya boleh mengalami hidup
berkemenangan bersama Tuhan.
Pertama, sadarilah bahwa kita hidup
dalam suatu drama kosmik yang sangat menentukan. Kebenaran ini terungkap
dalam kitab Ayub. Seluruh kehidupan Ayub, termasuk kehidupan batinnya terbuka
bagi pengamatan dan penilaian Allah, malaikat dan Iblis. Ia ditempatkan di
dalam posisi yang crucial, di mana seakan-akan kehormatan Allah dipertaruhkan
dalam respon Ayub, dan jika dia gagal Iblis mendapat alasan untuk mencemooh
Allah. Namun melalui kehidupan Ayub, Allah mau menunjukkan bahwa ada manusia
yang akan tetap beriman dan mengasihiNya walaupun mengalami kesulitan terberat.
Jikalau ia gagal maka iblis berkesempatan melawan serta mencemooh Tuhan. Tapi,
yang terjadi justru melalui respon Ayub yang penuh kesetiaan kepada Allah itu
ia mempermalukan Iblis. Inilah kehidupan yang mestinya diwujudkan oleh orang
Kristen yang telah menerima anugerah Perjanjian Baru yang melebihi tokoh-tokoh
Perjanjian Lama.
Setiap orang diberi kondisi hidup yang berbeda
oleh Tuhan. Namun seperti dalam film, yang menjadi ukuran bukanlah kenyamanan
peran si aktor, tetapi bagaimana ia memerankannya. Jika dalam film yang menjadi
penilaian adalah kemampuan acting, maka dalam hal rohani yang menjadi penilaian
ialah bagaimana menjalankan perannya dilihat dari sudut moral dan rohani: yang
menjadi ukuran bukanlah apakah kita kaya atau miskin, pintar atau bodoh, sehat
walfaiat atau didera oleh penyakit yang berkepanjangan, panjang umur atau hidup
yang singkat; yang menjadi ukuran ialah apakah dalam
Ada orang yang sepanjang hidupnya tetap miskin
bukan karena malas atau bodoh, sebaliknya ada orang yang dari kecil hingga tua
selalu hidup dalam kelimpahan. Ada yang seumur hidupnya dipenuhi dengan
kesulitan, sebaliknya ada yang jalan hidupnya begitu mulus. Cara berpikir yang
duniawi akan menilai orang yang hidupnya dipenuhi kesusahan itu bernasib buruk
dan gagal, dan orang yang hidupnya enak itu bernasib baik dan sukses. Jika
orang Kristen masih terjebak dalam cara pandang yang duniawi ini, maka
perhatiannya hanya tertuju kepada mengusahakan kenyamanan hidup dan kelepasan
dari kesulitan, dan bukannya pada kualitas hidup yang harus ia wujudkan. Karena
itu, tidak heran, ketika dilanda kesulitan, mereka penuh dengan sungut dan
keluhan kepada Allah (mengkorfirmasikan tuduhan Iblis, yang tentu saja salah),
dan kehilangan fokus untuk dalam situasi hidup mereka untuk semakin memuliakan
Allah. Di tengah-tengah kesulitan hidup yang memuncak, justru Ayub menyatakan
kesaksian hidup yang sulit dilampaui. Di tengah-tengah kehidupan yang hancur
oleh kelumpuhannya, Joni Erickson Tada justru menyatakan suatu kehidupan yang
begitu mulia.
Kedua, bagi anak Allah, keadaan
sulit yang kita alami bukanlah keadaan tak diberkati, sebaliknya mungkin itu
adalah saat yang paling indah dalam hidup kita. Ketika berada dalam kondisi
yang sulit, terjepit, merasa lemah, keadaan yang memaksa kita bergantung penuh
kepada Allah, seringkali kita menganggapnya sebagai bad time (waktu yang buruk), kondisi
buruk yang tidak diberkati. Inilah alasan ketika berada dalam kondisi tersebut
satu-satunya keinginan kita ialah cepat-cepat keluar dari situasi itu, setelah
itu baru kita merasa diberkati. Tetapi dalam pengalaman saya, saya belajar
bahwa saat berada di dalam kelemahan itu adalah saat-saat di mana saya paling
dekat dengan Tuhan, itulah saat yang indah bersama Tuhan. Dan saat saya merasa
kuat, mantap, dewasa, mandiri, mungkin itu adalah saat saya mulai tidak begitu
bergantung lagi kepada Tuhan dan mulai agak liar atau bahkan sangat liar.
Jangan salah mengerti bahwa saya mengajarkan
supaya kita menginginkan kehidupan yang terus dalam kesuraman dan penderitaan,
karena itu bukan maksud Tuhan atas hidup kita. Kekristenan adalah agama yang
positif, yang penuh dengan pujian kemenangan dan sukacita. Karena itu, tidak
salah jika dalam kesulitan, sakit, kesedihan, kita menginginkan Tuhan
memberikan kelepasan, kelimpahan dan sukacita kepada kita. Tetapi apa yang mau
saya tegaskan di sini ialah marilah kita belajar untuk melihat masa suram itu
secara positif dari perspektif Kristen, bahwa jika saya berada dalam situasi
seperti itu di situ pun Allah hadir dan kasih rahmatNya menopang aku, bahkan
lebih penuh kasih mesra.
Ada sesuatu yang unik dalam kehidupan manusia,
seringkali masa-masa sulit yang pernah kita alami dulu, seperti krisis, bahaya,
kesulitan hidup, dsb kita ingat kembali dengan perasaan nostalgia. Demikian
juga, dikatakan mengenai hubungan dalam pernikahan: krisis pernikahan yang
dilalui dengan penuh ketabahan bahkan berguna untuk membangun kasih dan
kepercayaan yang kokoh antara keduanya, suatu hal yang tidak pernah akan
dimengerti dan dialami oleh mereka yang telah menyerah.
Ketiga, dengan memfokuskan pikiran
hanya pada kebahagiaan di masa yang akan datang, kita telah menyia-nyiakan
realitas kehidupan masa kini, yang sebenarnya merupakan sesuatu yang indah dan
sangat berharga. Sayur pare itu pahit, jangan dibuang,
sebaliknya belajarlah untuk menikmatinya, karena itu sayur yang baik/berguna
dan enak. Hidup ini sulit, ini adalah fakta tidak dapat kita tolak. Namun jika
kita menyikapinya dengan benar, maka masa-masa sulit itu dapat menjadi
pengalaman yang indah bersama Tuhan. Andaikan kita diberi umur 40 tahun, dan 20
tahun terisi oleh kesulitan, apakah berarti kita hanya akan memiliki 20 tahun
hidup yang bermakna? Bagi saya, asal kita berjalan bersama Tuhan, maka kita
tetap akan memiliki 40 tahun bermakna yang sangat berharga.
Blaise Pascal mengatakan: kita tidak pernah
[sungguh-sungguh] hidup hanya untuk masa kini .... Kita bersikap tidak
bijaksana dengan mengembara dari satu masa ke masa lain yang sesungguhnya bukan
milik kita. Kita ... mengabaikan apa yang sungguh-sungguh ada. Kita bersikap
demikian karena momen sekarang biasanya adalah sesuatu yang menyakitkan, itulah
sebabnya kita menekannya...
Kita cenderung membebani pikiran kita dengan
masa lalu dan masa yang akan datang, dan jarang memikirkan masa kini.... Kita
menjadikan masa masa lalu dan masa kini sebagai sarana, dan hanya
menjadikan masa yang akan datang sebagai tujuan kita. Dengan cara berpikir
demikian, kita tidak pernah sungguh-sunguh hidup, sebab kita hanya hidup dalam
pengharapan, mengharapkan sesuatu yang belum ada, sedangkan yang ada
dibuang-buang. Dengan selalu merencanakan bagaimana kita dapat menjadi bahagia,
kita tidak pernah berada dalam kebahagiaan itu. (Pensees).
Keempat, dengan memandang masa “sulit”
sekarang sebagai hal yang negatif dan hanya memikirkan kebahagiaan yang belum
tiba maka kita lalai menyambut maksud Tuhan dalam situasi kita itu. Tidak ada pengalaman kita
yang alami yang terjadi di luar kontrol Allah. Dan jika Ia mengizinkan kita
mengalami suatu kesulitan pasti ada maksud baik dari Allah bagi kita.
Kita tahu bahwa: “Allah ... bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan
kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yagn terpanggil
sesuai dengn rencana Allah.” (Rm 8:28). Dan jika dalam setiap situasi hidup
kita terdapat maksud Allah yang baik, maka marilah kita menyambut maksudNya
itu.
Saint John of the Cross (Santo Yohanes dari Salib)
mengungkapkan apa yang dinamainya the dark night of the soul (jiwa yang berada dalam
kegelapan malam). Ia mengatakan demikian, “Berada di dalam kegelapan
malam bukanlah sesuatu yang buruk dan destruktif. Sebaliknya ini bagaikan
pengalaman orang sakit yang menyambut ahli bedah yang menjanjikan kesehatan dan
kesembuhan kepadanya. Tujuan dari kegelapan ini tidak dimaksudkan untuk
menyakiti atau menghukum kita tetapi untuk menyembuhkan kita. Inilah kesempatan
yang Tuhan pakai untuk menarik kita lebih dekat kepadaNya.” Inilah pengalaman dan prinsip
rohani yang mendalam untuk menghadapi realita hidup sebagai anak Allah yang
mendapat identitas dan destiny penuh kemuliaan.
Ia melanjutkan, “Dalam saat-saat seperti ini
mungkin kita akan merasa kering, depresi bahkan putus asa. Tetapi ini merupakan
keadaan yang baik karena melucuti setiap ketergantungan kita yang berlebihan
kepada perasaan ataupun kondisi-kondisi fisik di luar. Pandangan yang sering
kita dengar adalah bahwa pengalaman kekelaman ini harus kita hindari sebagai
syarat untuk mengalami kedamaian, penghiburan dan sukacita adalah pikiran yang
salah. Sebab berada di dalam keadaan yang gelap ini adalah salah satu cara yang
Allah pakai untuk memberikan kepada kita keheningan, ketenangan sehingga Ia
dapat melakukan transformasi batin dari dalam kita. Ketika Allah membawa kita
ke dalam keadaan demikian, bersyukurlah, karena Allah dalam kasih sayangNya
yang besar sedang menarik kita keluar dari gangguan supaya kita dapat melihat
Dia secara lebih jelas. Dalam keadaan demikian jangan memberontak atau melawan
tapi belajarlah untuk diam dan menantikan Tuhan.”
Allah mempunyai program yang mulia dalam hidup
kita, membawa kita ke dalam kemuliaan. Ia ingin membentuk kita menjadi baru dan
yang mulia. Dan kesulitan merupakan keadaan yang sangat kondusif untuk
pekerjaan ini. Saat kita sedang hancur, saat ego kita telah dihancurkan, itulah
saat kita bagaikan tanah liat yang telah dihancurkan untuk siap dibentuk ulang
secara baru. Jika dalam saat demikian, kita salah mengerti dan memberontak,
kita telah berlaku bodoh dan merugikan diri kita sendiri. Sebagian tidak tahan
dalam kegelapan yang kelam ini sehingga ia mencari pengalaman rohani palsu yang
menimbulkan gairah dalam hatinya yang kering, tetapi tindakan ini justru
mengganggu program Tuhan. Guru-guru palsu telah menawarkan pengalaman agama
palsu untuk mengisi kekeringan yang seharusnya diisi oleh Tuhan, akibatnya
kepekaan rohani mereka menjadi tumpul. Apa yang mestinya kita miliki pada
saat-saat seperti ini ialah berdiam diri di hadapan Allah dan menantikan Tuhan.
Manusia tidak selalu menolong, terkadang mereka justru menjadi pengganggu yang
mengalihkan perhatian kita dari suara Tuhan. Nabi Yesaya berkata: “dengan
bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan
percaya terletak kekuatanmu.” Tetapi kamu enggan, kamu berkata, ‘Bukan, kami
mau naik kuda dan lari cepat’, maka kamu akan lari dan lenyap. Katamu pula,
‘Kami mau mengendarai kuda tangkas’, maka para pengejarmu akan lebih tangkas
pula.” (Yesaya 30:15-16).
Setiap kali kita mengalami kesulitan, carilah
maksud Tuhan dalam situasi yang kita hadapi itu. Jangan kita dilumpuhkan oleh
kesulitan, tetapi temukan ‘mutiara’ (berkat rohani) di balik kondisi sulit itu.
Justru saat di dalam di penjara, Paulus menulis surat-suratnya yang paling
penting dan menjadi berkat besar bagi gereja Kristen sepanjang masa, yaitu
surat Efesus, Filipi, Kolose, Filemon dan Roma. Demikian juga saat dipenjarakan
John Bunyan menulis Pilgrim Progress, karya sastra alegoris
terindah dan bermutu tinggi di antara literatur Kristen. Perhatikanlah respon
kita dalam masa-masa sulit itu supaya jangan kesulitan itu dilewati tanpa mendapatkan
berkat rohani dari Tuhan itu. Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)