Selasa, 29 Januari 2013


KERAJAAN ALLAH




PENDAHULUAN
“Bertobatlah Kerajaan sorga telah datang” (Mat 4:17) adalah seruan yang disampaikan Yesus diawal pelayanan-Nya. namun Ia pada mulanya tidak memberikan penjelasan tentang apakah yang dimaksud dengan istilah “Kerajaan Sorga” tersebut. Nampaknya ada anggapan bahwa para pendengar-Nya saat itu mengenal dengan jelas arti istilah itu oleh karena konsep tentang Kerajaan ini merupakan bagian nubuatan yang tercatat di dalam Perjanjian Lama, yaitu berkenaan dengan pemerintahan Allah; bahwa Allah akan menegakkan kebenarannya di dalam setiap aspek dari pengalaman manusia. 


PENGERTIAN ISTILAH
Pada mulanya konsep tentang Kerajaan Allah ini bersifat eskatologis yang dikaitkan dengan Kerajaan Israel.

The Kingdom of God was still another basic topic of Jesus teaching. Whereas this kingdom had traditionally been understood as a future earthly reign of Christ which would be established by His dramatic second coming[1]

Secara etimologi, istilah “Kerajaan” baik di dalam bahasa Yunani basileia, “Basileia”[2] yang berarti tingkatan, kekuasaan, kedaulatan yang dimiliki seorang raja. Jadi suatu basileia berarti suatu wilayah yang atasnya seorang raja menggunakan kekuasaannya.[3] Jika kata ini berarti “Kerajaan Allah”, maka artinya adalah pemerintahan Allah, kekuasaan Allah, kedaulatan Allah dan bukan wilayah berlakunya pemerintahan itu.[4] Sementara itu di dalam Perjanjian Lama, istilah yang dipakai adalah  twklm, “Malkuth”  berarti “Kerajaan”, “pemerintahan”, “peraturan” menunjukkan pengertian (1). “daerah kekuasaan sebuah Kerajaan” (Est 1:4), “pengangkatan ke atas tahta” (Est 4:14), “masa pemerintahan” (Est 2:16).

Istilah lain yang dipergunakan di dalam Perjanjian Lama adalah hklmam, “Mamlakah” yang memiliki arti yang sama, namun arti dasarnya adalah daerah dan sekelompok orang yang membentuk sebuah Kerajaan. Dalam kaitannya dengan Israel, istilah ini secara khusus menunjuk Israel sebagai Kerajaan Allah (Kel 19:6 Bd: 2Sam 7:16; Yeh 37:22). juga menunjuk kepada seorang raja tertentu yang memerintah sebuah Kerajaan (Bd: 1Sam 28:17).

Secara umum di dalam Perjanjian Lama memberikan pengertian tentang “Kerajaan” ini sebagai ekspresi dari peraturan pemerintahan dan kaitannya dengan seorang raja tertentu, yaitu ditandai dengan adanya “tahta” (Ul 17:18), suatu kota pemeritahan (1Sam 27:5). Perjanjian Lama sangat menekankan konsep pemerintahan Allah ini; Tuhan memerintah sebagai Raja atas umat-Nya Israel (1Taw 29:11). Dengan kemurahan-Nya Ia memerintah atas umat-Nya mulai dari Daud sampai kepada masa pembuangan (2Taw 13:5).[5]

Basic to the thought of the kingdom of God, therefore, is its Divine origination and operation, though it comes to earthly and visible expression in the world. In redemption God may choose a people, subdue them unto Himself, rule over them as their King, call them unto the previleges of His rule and the duties of their high calling (Exodus 19:5-6; 1Peter 2:9-10).[6]

Ungkapan “Kerajaan Sorga” di dalam pengharapan orang Yahudi sesudah pembuangan mengandung unsur campur tangan Allah yang sungguh diharapkan Israel, untuk memulihkan kebahagiaan umat-Nya dan membebaskannya dari kuasa musuh. Kedatangan Kerajaan Allah adalah perspektif masa depan yang dipersiapkan oleh kedatangan Mesias dalam meratakan jalan bagi Kerajaan Allah.[7]

Pemberitaan yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis dan Yesus ini memberikan pengertian yang universal dan menimbulkan kerinduan yang tinggi akan sejarah yang lama dinanti-nantikan, yaitu campur tangan Allah untuk memulihkan segala sesuatu. Berkhof memberikan pengertian tentang Kerajaan Allah sebagai pemerintahan Allah yang ditetapkan dan diterima dalam hati orang berdosa melalui kuasa dan yang melahirbarukan dari Roh Kudus yang menjamin mereka memperoleh berkat-berkat keselamatan yang tidak terkirakan[8].  Jadi pengertian di sini lebih bersifat spiritual dan tidak nampak. Yesus sendiri memegang konsep eskatologis ini dan mengajarkan pengertian ini di dalam pengajaran-Nya, bahwa pernyataan Kerajaan Allah itu bersifat spiritual dan memiliki karakter universal. Ia juga mengajarkan konsep Kerajaan Allah ini berbeda dengan konsep yang diterima sebelumnya oleh orang Yahudi dan mengkaitkannya dengan aspek masa kini dan pengharapan akan berkat-berkatnya pada masa mendatang.[9]

Thema tentang kedatangan Kerajaan sorga adalah inti kedatangan Yesus di dalam inkarnasi-Nya. Kemudian datanglah Yesus orang Nazaret dengan membawa berita, “Bertobatlah sebab Kerajaan Surga sudah dekat” (Mat 4:17). Bagaimana manusia dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah (Mat 5:20; 7:21). Karya-karya-Nya membuktikan bahwa Kerajaan sorga sudah datang (Mat 12:28). Perumpamaan-perumpamaan yang diajarkan-Nya memberikan gambaran tentang kebenaran Kerajaan sorga (Mat 13:11). Doa yang diajarkan kepada para murid mengajarkan tentang pengharapan kedatangan Kerajaan sorga (Mat 6:10). Pada malam sebelum kematian-Nya, Ia berjanji kepada para murid bahwa Ia akan menikmati kebahagiaan dan persekutuan di dalam Kerajaan itu bersama dengan mereka (Luk 22:29-30). Ia juga berjanji akan membawa berkat Kerajaan itu kepada orang-orang yang bagi mereka semua itu telah disediakan (Mat 25:31,34).


LATAR BELAKANG PERJANJIAN LAMA

Oleh karena konsep tentang “Kerajaan Sorga” ini berkaitan dengan masa depan Israel, maka harus ditelusuri terlebih dahulu hal apakah yang menjadi catatan di dalam Perjanjian Lama, khususnya berkaitan dengan pengharapan umat Israel akan kedatangan Mesias yang akan mentegakkan Kerajaan-Nya di dalam dunia ini.

Bagi orang Israel makna “Kerajaan” ini mempunyai tempat yang penting sekali di dalam kehidupan dan pengharapan mereka. Wawasan tentang hal ini dapat dilihat beberapa kali di dalam berita Perjanjian Lama.[10] Berita tentang “Kerajaan” ini juga menjadi tujuan pengajaran para nabi bahwa akan ada suatu Kerajaan Ilahi di mana Allah dilukiskan sebagai Raja, baik atas Israel maupun atas seluruh umat manusia (Kel 15:18; Ul 33:5; Yes 43:15; Yer 46:18).

Dwight Pantecost membagi aspek Kerajaan Allah ini di dalam dua kategori, “eternal kingdom” dan “theocratic kingdom”[11] Kerajaan yang bersifat Teokratis ini dapat ditelusuri dari Taman Eden, periode pemerintahan manusia di dalam masa Nuh, periode para Patriakh, Kerajaan di dalam masa hakim-hakim, dan terakhir di dalam masa para nabi.[12] Melalui kitab Yesaya terlihat konsep tentang Kerajaan ini, khususnya berkenaan dengan masa depan Kerajaan yang berkaitan dengan Yerusalem dan dengan Yehuda. Misalnya (1). di dalam pasal 4:2-4 menyatakan bahwa Allah akan hadir sebagai hakim pada “hari-hari yang terakhir”. (2). Dalam kaitannya dengan kelahiran Kristus di dalam pasal 9:6-7. Sekali lagi bagian ini menyatakan pemerintahan Allah yang ada di dalam dunia yang ditandai dengan beberapa faktor, seorang anak akan lahir; tahtanya akan disebutkan tahta Daud, pemerintahannya akan dijalankan dengan keadilan dan kebenaran dan semuanya akan digenapi di dalam kuasa Allah. (3). Pasal 11:1-9 adalah bagian yang sangat jelas mengungkapkan kedatangan Kristus dan karakteristik dari pemerintahan-Nya di dalam dunia.

Demikian juga di dalam kitab Yeremia terlihat adanya prediksi yang dilakukannya, bukan saja akhir dari masa pembuangan setelah 70 tahun (Yer 29:10) melainkan juga penggenapan restorasi Israel (Yer 23:5-8). Penggenapan nubuatan ini terjadi pada saat kembalinya bangsa ini kepada tanah mereka  dan juga di dalam penegakkan kembali keadilan dan kebenaran oleh Allah yang sama yang pernah membawa mereka keluar dari perbudakan di Mesir.

Sementara itu di dalam kitab Yehezkiel, konsep “Kerajaan” digambarkan berkenaan dengan penghakiman terhadap Israel pada masa kedatangan Kristus kembali dan hanya mereka yang taat dan percaya kepada-Nya yang akan diselamatkan dan memasuki tanah perjanjian. (Yeh 20:34-38, 42).

Meskipun berita tentang Kerajaan Allah di dalam Perjanjian Lama pada hakekatnya yang persis sulit untuk dijelaskan, namun memberikan kesan Kerajaan itu sudah ada dan juga masih akan datang. Para nabi menyampaikan berita bahwa Allah memerintah berdasarkan kedaulatan-Nya sendiri. Mereka juga memandang ke depan, yaitu pada suatu masa di mana Allah memerintah di tengah umat-Nya dan hal ini menjadi nyata bagi semua orang (Bd: Yes 24:23). Bahwa gagasan tentang pemulihan Kerajaan Daud sebagai sarana yang digunakan Allah untuk tampil sebagai raja Israel.

Penting juga untuk diperhatikan di sini adalah konsep tentang Apokaliptik yaitu adanya jenis kerajaan yang bersifat sorgawi. Dengan demikian ada dua berita, Kerajaan yang bersifat fisik dan Kerajaan yang bersifat rohani (Bd: Dan 7).

Donald Guthrie mengatakan bahwa keterangan tentang adanya kedua aspek ini menunjukkan bahwa keduanya tidak dibeda-bedakan secara tajam. Masa antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru hanya mengembangkan gagasan yang bersifat ganda itu.[13] Nampaknya kedua aspek ini saling bercampur satu sama lain. Pada masa ini keyakinan bahwa Kerajaan Allah akan diwujudkan di bumi dikaitkan dengan sikap pesimis mengenai pemulihan kerajaan Daud. Memang ada kecenderungan menempatkannya pada masa mendatang karena mungkin sekali orang Yahudi hanya memikirkan tentang Kerajaan yang diharapkan akan segera datang. Di sinilah pengertian pemberitaan Yohanes pembaptis dapat dipahami.


"KERAJAAN ALLAH" DI DALAM PENGAJARAN TUHAN YESUS

Konsep tentang Kerajaan Allah muncul di dalam pelayanan Tuhan Yesus berkaitan dengan pengajaran di dalam Perjanjian Lama, secara khusus berkenaan dengan konsep Apokaliptik Yudaisme. C.C. Caragounis mengatakan ada beberapa aspek penting di dalamnya, yaitu bahwa konsep ini lebih kepada hal yang bersifat dinamis daripada menunjuk kepada hal yang bersifat geografis, berhubungan dengan Anak Manusia, tidak berkaitan dengan konsep perjanjian dan merupakan pengharapan di masa mendatang.[14]

Di dalam Injil Sinoptik, berita yang disampaikan oleh Tuhan Yesus adalah bahwa Kerajaan Allah itu sudah datang; bahwa janji Allah tentang Kerajaan-Nya ini sudah digenapi dan harus ada suatu keputusan yang diambil.[15] Lebih lanjut Caragounis mengatakan bahwa Kerajaan Allah ini dinyatakan di dalam dua hal, (1). Inti utama dari pengajaran Tuhan Yesus dan (2). Dikonfirmasikan melalui pekerjaan-pekerjaan-Nya yang ajaib (bd: Mat 4:23; 9:35). Komponen yang ketiga dihubungkan dengan pribadi Tuhan Yesus sebagai Anak manusia.[16]

1. Tuntutan Kerajaan Allah
Di dalam pengajaran-Nya Yesus mengungkapkan tentang pengharapan dan kondisi tentang Kerajaan Allah. Ia mengajarkan bahwa hal memasuki Kerajaan tersebut diperlukan pertobatan dan percaya kepada Injil Tuhan (Mat 4:17; Mrk 1:15). Di bagian lain, Yesus mengatakan diperlukan iman seperti seorang anak kecil (Mat 18:3; Mrk 10:14). Perihal tentang Kerajaan Allah ini juga nampak sebagai hal yang sangat radikal, misalnya diperlukan hati yang tidak bercabang dan hanya tertuju kepada-Nya. Ia mengatakan bahwa mereka yang siap membajak tetapi menoleh ke belakang, ia tidak layak untuk Kerajaan Allah (Luk 9:62); bahkan seseorang harus mengorbankan semua yang dimilikinya, harta, keluarga, pernikahan (Mat 19:12; Mrk 10:21-27). Namun Yesus juga mengatakan bahwa semua orang yang melakukan semua itu akan menerima balasan berkali lipat (Mrk 10:29-31).

2. Etika Kerajaan Allah
Etika Kerajaan Allah dapat dikatakan sebagai tuntutan etika Allah sendiri terhadap setiap orang yang telah ditetapkan-Nya untuk melakukan kehendak-Nya yang sempurna. Pengajaran tentang etika Kerajaan Allah ini secara khusus diajarkan oleh Yesus di atas bukit (Lih: Mat 5-7; Luk 6:17-49)[17]. Dan merupakan kesinambungan dari pengajaran tentang etika di dalam Perjanjian Lama walaupun di dalamnya Ia juga memberikan berbagai macam pengkoreksian dan penjelasan maksud yang sebenarnya dari setiap tuntutan etika Allah terhadap umat-Nya. Hal ini ternyata dari perkataan-Nya, yaitu ketika Ia mengatakan, “Kamu telah mendengarkan yang difirmankan kepada nenek moyang kita … tetapi Aku berkata kepadamu … “ (Lih: Mat 5:21, 27, 31, 33, 38, 43, dsb).

Khotbah di bukit ini merupakan “Didakhe” yang mengungkapkan standard kehidupan bagi orang-orang percaya yang berada di dalam Kerajaan Allah, atau merupakan penjelasan Tuhan Yesus tentang watak dari mereka yang sudah berada di dalam Kerajaan Allah dan sekaligus merupakan keterangan sifat kesusilaan yang diharapkan dari mereka. Jadi, Khotbah di Bukit lebih berarti “Intisari Kehidupan Kristen”.[18]

Isi dari Khotbah di bukit yang diajarkan Tuhan Yesus ini bukanlah merupakan suatu peraturan yang baru, melainkan suatu penegasan tentang dasar kehidupan etika dan pengaruhnya di dalam kehidupan orang-orang yang berada di dalam Kerajaan Allah, yaitu mereka yang telah mengalami penebusan-Nya. Penggenapan semua yang menjadi isi Khotbah ini adalah sesuatu hal yang mungkin terjadi apabila Allah menjadi Raja, “menjadi semua di dalam semua” di dalam kehidupan orang percaya (Bd: 1Kor 15:28).

3. Aspek Waktu Kerajaan Allah
Seperti disebutkan di atas bahwa konsep tentang Kerajaan Allah merupakan inti pengajaran Tuhan Yesus. Ia menggambarkan Kerajaan itu sudah datang dan dinyatakan di dalam diri dan pekerjaan Tuhan Yesus sendiri. Inilah yang kerap dipahami sebagai aspek masa kini Kerajaan Allah.  Hal ini dapat terlihat dari mujizat yang dilakukan-Nya sebagai bukti kedatangan Kerajaan Tuhan[19], misalnya dari pekerjaan Tuhan di dalam penyembuhan orang yang kerasukan setan (Luk 11:20 bd: Mat 12:29), perbuatan ajaib berkenaan dengan penggenapan nubuat, orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta ditahirkan, orang mati dibangkitkan, dan kabar kesukaan diberitakan kepada orang miskin (Mat 11:2 dst; Luk 7:18 dst). Kerajaan Allah itu telah datang di dalam Dia dan dengan Dia. Dialah auto-basilea.”
Selain itu ternyata konsep Kerajaan Allah ini juga memiliki aspek yang tersembunyi. Yesus mengajarkan hal ini kepada para murid-Nya bahwa ada kemungkinan timbulnya kekecewaan di dalam diri manusia dan pada akibatnya menolak Yesus oleh karena berhadapan dengan aspek yang tersembunyi ini. Bahwa Kerajaan Allah itu sudah datang di dalam diri Yesus adalah benar, namun belum mencapai penggenapannya yang sempurna.


4. Problema “Ephthasen” (Mat 12:28; Luk 11:20)
Di dalam Injil Sinoptik ada dua ayat yang mengatakan bahwa Kerajaan Allah sudah datang dan hal ini ditandai dengan pekerjaan Tuhan Yesus mengusir setan dengan kuasa Roh Allah. Permasalahan segera timbul berkenaan dengan pernyataan dan pelayanan Tuhan Yesus yang lain yang dicatat di dalam Sinoptik, misalnya bagaimanakah kaitannya dengan “sisa” kehidupan dan pelayanan Tuhan dan begaimana dengan “kewajiban” Anak Manusia yang menyerahkan nyawanya untuk menjadi tebusan bagi banyak orang? Apakah signifikasi kematian-Nya dan bagaimanakah Tuhan Yesus menghubungkan antara kematian-Nya dengan konsep Kerajaan Allah tersebut.


5. Problema “Entos Hymon Estin” (Luk 17:21)
Ini adalah masalah lain berkenaan dengan kehadiran Kerajaan Allah. Di dalam ayat ini Yesus sedang menjawab pertanyaan para Farisi tentang kedatangan Kerajaan Allah; bahwa perihal Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: ‘lihat ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu,’ (entos hymon estin). “Entos” berarti “inside”, “within” Kata ini digabungkan dengan “hymon” dalam pengertian “di tengah-tengah kamu”, “di dalam genggamanmu”, dsb. Penggunaan istilah ini oleh Lukas nampaknya untuk mengkontraskannya dengan “meta paratereseos” (dengan tanda-tanda yang dapat diamati),[20] maksudnya para Farisi ketika melihat semua tanda-tanda yang dilakukan oleh Yesus akan bertanya apakah Ia Mesias yang akan datang untuk mendirikan Kerajaan itu? Yesus menjawab mereka bahwa hal itu bukanlah tanda-tanda kedatangan Kerajaan Allah dan mengajarkan mereka jangan mengandalkan tanda-tanda itu untuk memberi kepastian. Geldenhuys mengatakan bahwa ada dua alasan yaitu pertama, kedaulatan Allah bahwa hal “telah datang” adalah di dalam diri Yesus Kristus berkenaan dengan penyelamatan-Nya di mana Ia dikenal sebagai Mesias dan berkenaan dengan penghakiman-Nya kepada mereka yang menolak-Nya. Kedua, bahwa kedatangan Kerajaan-Nya bersifat tiba-tiba dan tidak diharapkan sehingga tidak ada seorangpun yang dapat memperkirakannya secara tepat ketika saat itu tiba.[21]



PERUMPAMAAN TENTANG KERAJAAN ALLAH

Yesus juga mengajar dengan menggunakan berbagai macam perumpamaan untuk melukiskan realita Kerajaan Allah. Setiap perumpamaan melukiskan berbagai aspek yang berbeda dari Kerajaan Allah itu, misalnya perumpamaan tentang seorang penabur melukiskan tanggapan setiap orang terhadap berita tentang Kerajaan Allah (Mat 13:3-9; Mrk 4:3-9).
Di dalam Perjanjian Baru ada tujuh buah perumpamaan yang menjelaskan arti realita, karakteristik yang berbeda dan juga aspek-aspek yang berbeda dari Kerajaan Allah. (1). Penabur dan Benih, (2). Musuh yang Menabur Lalang, (3). Biji Sesawi, (4). Ragi, (5). Harta Terpendam, (6). Mutiara yang Indah dan (7). PukatPerumpamaan pertama mengenai asal-usul Kerajaan, perumpamaan kedua sampai ke tiga menggambarkan usaha dan keinginan Iblis untuk menghambat dan merintangi pertumbuhan Kerajaan, perumpamaan kelima dan keenam menunjukkan sikap orang yang mencari Kerajaan itu walaupun ada tipu muslihat Iblis dan perumpamaan terakhir menggambarkan kesempurnaan Kerajaan itu. Kalau digabungkan maka semua perumpamaan itu menunjuk kepada sifat, asal-usul, halangan dan kemenangan pekerjaan Kristus dalam memberitakan Injil-Nya melalui pada utusan-Nya antara waktu kedatangan-Nya yang pertama dan kedatangan-Nya yang kedua kali.


1. Perumpamaan Benih dan Tanah (Matius 13:1-23)
Perumpamaan ini menekankan perihal bermacam-macamnya jenis hati orang dan reaksi mereka terhadap firman, apakah akan menerima atau menolaknya. Boice memberikan pembagian hati ini sebagai :

(1). Hati yang keras yang ditandai dengan gambaran tanah yang keras). Tanah itu menjadi keras karena terus-menerus terinjak orang sehingga benih yang jatuh di atasnya tidak akan dapat masuk ke dalamnya. Kemudian datanglah burung-burung (yang dibandingkan oleh Kristus sebagai Iblis atau pekerjaan jahat memakan benih tersebut.  Inilah gambaran dari hati yang menolak kebenaran firman yang datang kepada mereka oleh karena dosa. Dosa mengakibatkan orang selalu menolak kebenaran firman Tuhan, menolak kebenaran Allah.[22]

(2). Hati yang dangkal yang digambarkan sebagai tanah yang tipis dan berbatu. Memang benih itu masuk ke dalam tanah ketika ditaburkan, tetapi hanya sedikit saja. Benih itu segera tumbuh, namun juga cepat layu kena panas matahari sebab tidak berakar. Yesus menerangkan arti gambaran ini sebagai orang yang mendengar firman, segera menerimanya tetapi tidak berakar dan hanya sebentar saja bertahan. Penindasan dan penganiayaan akan firman akan mengakibatkan mereka murtad. Secepat mereka percaya, secepat itu pulalah mereka murtad karena mereka sebenarnya tidak pernah sungguh-sungguh dilahirkan kembali.
(3). Hati yang terhimpit digambarkan sebagai benih yang terjatuh di antara semak duri. Inilah gambaran dari orang yang telah mendengar firman lalu kekuatiran dunia dan tipu daya kekayaan menghimpitnya firman itu sehingga tidak berbuah. Menarik sekali, Yesus memberikan penjelasan tentang kekuatiran dunia dan tipu daya kekayaan mempunyai kuasa untuk menghimpit kebenaran firman sehingga tidak berbuah sebagaimana mestinya. Untuk masalah ini Yesus pernah memperingatkannya, misalnya Ia mengatakan tentang sukarnya orang kaya masuk ke dalam Kerajaan Sorga (Mat 19:23 bd: Mrk 10:25), celakalah mereka yang kaya (Luk 6:24). Permintaan-Nya terhadap anak muda yang kaya untuk menjual hartanya dan mengikuti Dia (Luk 18:23). Hal ini tidak berarti orang percaya tidak boleh memiliki harta dan menjadi kaya, namun apakah kekayaannya itu mendominasi sedemikian rupa sehingga menghimpit imannya kepada Tuhan.

(4). Hati yang terbuka yang diibaratkan seperti tanah yang baik di mana benih yang jatuh akan masuk, berakar dan bertumbuh di dalamnya sehingga berbuah seratus kali lipat, enam puluh kali lipat, tiga puluh kali lipat (ay.23). Inilah gambaran dari orang yang menerima firman dan menghasilkan buah rohani. Hanya hati yang terbuka sajalah yang akan menerima faedah keuntungan pemberitaan Injil dan diselamatkan.

2. Perumpamaan tentang Lalang (Matius 13:24-43)
Bagian ini menggambarkan sikap musuh yang menabur benih lalang pada waktu malam hari di ladang milik petani. Benih lalang itu tumbuh bersama dengan benih gandum sehingga tidak dapat dibedakan sampai pada masa penuaian tiba. Benih lalang akan dikumpulkan dan dibakar sementara benih gandum akan dituai dan dibawa ke dalam lumbung.

Yesus sendiri memberikan arti terhadap perumpamaan ini bahwa orang yang menabur benih yang baik adalah Anak Manusia, ladang adalah dunia, musuh petani adalah Iblis. Dengan kata lain, perumpamaan ini memberikan gambaran tentang perlawanan dari Iblis yang aktif menentang perluasan Kerajaan Allah di bumi ini. Boice mengatakan bahwa maksud perumpamaan ini semata-mata hendak memberitahukan bahwa Iblis akan menyodorkan orang-orang (entah di dalam gereja atau di luar gereja) yang menyerupai orang-orang Kristen sejati, tetapi bukan Kristen yang sesungguhnya sehingga bahkan para hamba Allahpun tidak dapat membedakannya.[23] Dapat dikatakan isi perumpamaan ini mirip juga dengan perumpamaan lain disampaikan-Nya - walaupun tidak dijelaskan artinya - di dalam perumpamaan tentang biji sesawi yang tumbuh menjadi pohon besar dan tentang ragi yang dicampurkan ke dalam adonan.

3. Perumpamaan Biji Sesawi dan Ragi (Matius 13:31-33)
Kedua perumpamaan ini mempunyai kaitan yang sangat erat dan melukiskan perkembangan dan pertumbuhan Kerajaan Allah sampai pada waktunya akan memenuhi seluruh dunia dan kaitannya dengan pekerjaan Iblis. Perumpamaan tentang Biji Sesawi mengajarkan bahwa Kerajaan Allah dimulai dari sesuatu yang kecil yang kemudian bertumbuh menjadi besar sementara perumpamaan tentang ragi mengajarkan pengaruh dari Kerajaan Allah yang bekerja secara diam-diam namun pasti.[24]

Ada banyak penafsiran terhadap perumpamaan ini, misalnya jika dikaitkan dengan beberapa pandangan tentang Eskatologi, baik itu Postmillenium maupun Amillenium menyatakan bahwa pada akhirnya Kerajaan Allah akan mencapai kemenangannya di bumi, yaitu pada saat kedatangan Tuhan Yesus kali yang kedua.

Sementara itu Arno C. Gaebelein mengemukakan hal yang lain lagi. Ia mengatakan bahwa perumpamaan ini menerangkan tentang perluasan yang aneh dan berbahaya serta bersifat birokratis dari gereja dan pekerjaan Iblis yang merongrong seperti ragi. Ia mengatakan, “Semua perumpamaan ini memperlihatkan pertumbuhan kejahatan dan merupakan nubuatan untuk seluruh zaman di mana kita hidup.[25]
Penulis sendiri lebih menyetujui pandangan dari James M. Boice. Ia mengatakan bahwa kedua perumpamaan ini menyatakan pekerjaan Iblis dengan beberapa alasan:

(1). Pertumbuhan biji sesawi menjadi pohon adalah tidak wajar karena seharusnya biji ini bertumbuh menjadi semak-semak. Jadi di sini Kristus sedang berbicara tentang pertumbuhan yang aneh dari biji sesawi dan para pendengar-Nya akan segera menyadari ada yang tidak beres di sini.

(2). Konteks Matius 13 menggambarkan burung disamakan dengan Iblis atau pekerjaan jahat sehingga mengubahnya menjadi hal yang sebaliknya menunjukkan ketidak-konsistenan mengerti konteks. Boice mengatakan, “… benar-benar aneh apabila suatu unsur (burung-burung) yang melambangkan si jahat pada permulaan pasal ini akan berubah artinya sama sekali pada hanya tiga belas ayat sesudahnya”.

(3). Di dalam Perjanjian Lama, ragi adalah gambaran kejahatan. Di dalam hukum orang Israel ragi tidak boleh ada pada korban yang dipersembahkan kepada Tuhan dengan dibakar. Pada waktu hari raya roti tidak beragi, setiap orang Yahudi yang setia harus memeriksa rumahnya kalau-kalau ada ragi dan memusnahkannya. Yesuspun berbicara tentang bahaya ragi orang Farisi dan Saduki yang berarti pengaruh jahat mereka (Mat 16:12; Mrk 8:15).[26] Jadi ragi di sini sebenarnya memberikan arti simbolis segala sesuatu yang jahat daripada yang baik sehingga bagaimana pengertian ini dimengerti sebaliknya.

4. Perumpamaan Harta Terpendam & Mutiara
Perumpamaan ini bermaksud mengungkapkan cara kerja Allah di dalam hati seseorang atau menguraikan jenis orang yang telah dihidupkan di dalam Kristus. Di dalam kedua perumpamaan ini mengungkapkan sikap dan tindakan kedua orang yang menemukan harta berharga, baik orang yang menemukan harta terpendam maupun pedagang yang menemukan mutiara. Meskipun demikian terdapat kontras pula di antara keduanya. Orang yang menemukan harta terpendam jelas tidak mencarinya. Penemuannya secara kebetulan. Yesaya telah memberikan gambaran tentang orang semacam ini ketika ia berkata, “Aku telah berkenan memberi petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku; Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku” (65:1). Di dalam kasus si pedagang, penemuan mutiara itu adalah hasil pencarian yang lama dan terus menerus. Orang semacam ini dikatakan oleh Tuhan Yesus ketika Ia berkata, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu, carilah maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Mat 7:7).

Kedua perumpamaan ini menyatakan perihal mengejar yang berharga. Kedua orang di dalam perumpamaan ini menyadari nilai dari harta yang ditemukannya dan kemudian memutuskan untuk memilikinya. Mereka menjual segala kepunyaannya untuk membeli harta tersebut dan pada akhirnya mereka mendapatkannya.

5. Perumpamaan tentang Pukat
Di dalam perumpamaan ini juga terdapat prinsip pengumpulan dan pemisahan - antara ikan yang baik dan yang buruk. Kelihatannya perumpamaan ini berisi pengulangan berita dari perumpamaan yang sebelumnya, misalnya dengan perumpamaan lalang dan gandum. Namun jika diteliti perumpamaan ini memiliki kekhususan, yaitu adanya pemisahan antara ikan yang baik dan yang buruk, orang yang benar dari orang yang jahat dan penderitaan mereka yang dicampakkan ke dalam dapur api. Dengan kata lain, perumpamaan ini merupakan peringatan kepada orang-orang jahat, bahwa demikianlah kelak nasib mereka.

Ada tiga fakta penting tentang pemisahan di dalam perumpamaan ini :

(1). Pemisahan ini bersifat mutlak. Allah sendiri yang menetapkan untuk mengadakan pemisahan ini; bahwa orang yang tidak percaya kepada-Nya akan berhadapan dengan penghakiman-Nya dan mereka yang percaya kepada-Nya akan menerima kebahagiaan bersama dengan-Nya di dalam kekekalan.

(2). Pemisahan ini bersifat ‘diputuskan terlebih dahulu’ dalam arti dasar keputusan ini sudah diletakkan di bumi, apakah seseorang percaya memutuskan percaya kepada Kristus atau justru mengesampingkannya.

(3). Pemisahan bersifat permanen. Ketika ketetapan pemisahan ini dilakukan - apakah pemisahan ikan yang baik dan membuang yang tidak baik atau mengumpulkan lalang dan membakarnya -  tidak akan ada perubahan di dalamnya.


KONSEP KERAJAAN ALLAH DI DALAM KITAB-KITAB INJIL

Sekarang akan dibahas secara khusus konsep tentang Kerajaan Allah ini di dalam berita setiap para penulis Injil. Pengajaran Tuhan Yesus yang penting di dalam Kitab-kitab Injil adalah Ia menekankan perihal Kerajaan Allah dan hal ini berkaitan dengan tujuan misi Yesus.

1. Injil Matius
Matius menuliskan Injilnya ini kurang lebih tahun 60 AD. Ia tidak menggunakan istilah “Kerajaan Allah”, melainkan “Kerajaan Sorga”. Hal ini berkaitan dengan tujuan atau alamat Injil ini ditujukan, yaitu kepada orang Yahudi. Mereka sangat menghargai dan menghormati nama “Allah” (YHWH) sehingga istilah ini diganti dengan “Sorga” namun tidak mengurangi arti yang dimaksud.

Matius mencatat khotbah Yohanes yang menyerukan “Kerajaan Sorga sudah dekat!” tanpa harus menjelaskannya lebih lanjut oleh karena para pendengarnya sudah mengetahui dengan jelas apakah yang dimaksudkannya, yaitu tentang Kerajaan Mesias sebagaimana yang dijanjikan di dalam Perjanjian Lama. Bahwa semua nubuatan kedatangan Kerajaan yang kelihatan yang diperintah oleh Mesias yang duduk di atas takhta Daud. Ia akan memerintah atas bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa bukan Yahudi. Bahwa Kerajaan ini milik orang miskin di hadapan Allah yang dianiaya oleh sebab kebenaran, yang menaati semua hukum Tuhan, yang melaksanakan kehendak Allah, yang mencari kebenaran Tuhan (Mat 5:3,10,19,20; 6:10,33; 7:21). Dengan kata lain, Kerajaan Mesias ini akan meliputi seluruh dunia dan merupakan suatu kenyataan yang dapat dilihat oleh mata. Jadi bukanlah merupakan kerajaan yang bersifat rohani.

Berita tentang Kerajaan ini mulai diberitakan oleh Yohanes dan kemudian diajarkan Tuhan Yesus. Ia mulai membuktikan Diri-Nya sebagai Mesias yang dinanti-nantikan mereka melalui sejumlah perbuatan mujizat yang dilakukan-Nya. Meskipun banyak orang menjadi takjub dan menyambut pengajaran serta perbuatan mujizat itu, Tuhan Yesus berkata tentang mereka, “Hati bangsa ini telah menebal” (Mat 13:15). Di bagian lain Ia berkata, “Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu … tetapi kamu tidak mau (Mat 23:37). Orang Israel tidak mau menerima dan bahkan menolak Kerajaan yang diberitakan Yesus dan pada akhirnya menyalibkan Dia. Para pemimpin Yahudi berseru di waktu huru-hara penyaliban, “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan anak-anak kami!” (Mat 27:25).

Kerajaan Sorga di dalam Injil ini bersifat lahir, dapat terlihat dan akan terjadi di dunia ini pada masa yang akan datang. Ketika malaikat memberitakan kelahiran Yesus, ia mengatakan “Tuhan akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya (Luk 1:32). Semua ini akan menjadi kenyataan yang pasti pada saat kedatangan-Nya yang kedua kelak, Ia akan menaiki takhta itu. Jadi hal ini tidak dapat diartikan secara rohani.

2. Injil Markus
Di dalam Injil Markus menyatakan berita Tuhan Yesus tentang Kerajaan Allah yang dikaitkan dengan berita Injil dan aspek waktu, “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” (1:15). Di dalam struktur Markus, berita ini menunjukkan proklamasi Kerajaan Allah yang menjadi inti khotbah Yesus. Inilah seruan tentang penggenapan kedatangan Kerajaan Allah. Walaupun masih dimengerti di dalam aspek masa mendatang, digambarkan juga sebagai sudah dekat dan bahkan sudah datang.

Markus pasal 4 secara khusus menunjukkan pengajaran yang bersifat parabolik tentang misteri Kerajaan Allah kepada para murid-Nya. Mereka dimungkinkan untuk memahami misteri tersebut dan hal ini tidak akan dialami mereka yang bukan menjadi murid-Nya (4:11). Kerajaan Allah digambarkan sebagai benih yang ditaburkan dan bertumbuh secara perlahan (4:26). Di dalam pasal 9:1, Kerajaan Allah digambarkan bersifat segera akan datang dan akan diwujudkan dalam generasi saat itu. Pasal 9:47 menerangkan tentang berbagai macam penolakkan, dan kepentingan memasuki Kerajaan Allah dengan berbagai tuntutannya. Memasuki Kerajaan Allah disamakan dengan memasuki kehidupan (9:43-44). Pasal 10:14 Yesus mengatakan bahwa anak-anak kecil adalah yang empunya Kerajaan Allah. Dengan kata lain, untuk memasuki Kerajaan Allah diperlukan iman seperti anak kecil (10:15). Mengasihi semua yang dimiliki merupakan hambatan memasuki Kerajaan Allah yang menuntut adanya pengorbanan segala sesuatu (10:23-25).

Di dalam Perjamuan terakhir (14:25), konsep tentang Kerajaan Allah bersifat Eskatologis. Caragounis mengatakan bahwa di dalam pengertian orang Yahudi, gambaran tentang Yesus, bahwa Ia akan menderita bagi milik kepunyaan-Nya. Di dalam bagian terakhir Injil ini dikisahkan tentang Yusuf dari Arimathea yang menanti kedatangan Kerajaan Allah di dalam pengertian penantian pengharapan Israel akan kedatangan Mesias yang akan memerintah di dalamnya.

3. Injil Lukas
Berita tentang Kerajaan Allah pertama kali muncul di dalam pasal 1:33, yaitu pada saat berita yang disampaikan malaikat kepada Maria bahwa Anak yang sedang dikandungnya pada saatnya akan menduduki takhta Daud dan Ia akan memerintah untuk selamanya sebagai Mesias. Selanjutnya konsep tentang Kerajaan ini dihubungkan dengan pelayanan Tuhan Yesus (4:43), yaitu pada saat Ia menyatakan bahwa Ia harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Ia diutus. Hal yang sama juga dicatat oleh Lukas di dalam pasal 8:1.

Catatan tentang Khotbah di Bukit tentang Kerajaan Allah yang disampaikan oleh Tuhan Yesus juga tidak luput dari perhatian Lukas (6:20). Tuhan Yesus juga berbicara tentang siapakah yang besar di dalam Kerajaan Allah ketika berbicara tentang Yohanes Pembaptis (7:28). Demikian juga tentang misteri Kerajaan Allah yang hanya diberikan kepada para murid dan kepada yang lainnya diberitakan di dalam perumpamaan (8:10).
Hal yang perlu mendapatkan perhatian juga di sini adalah Lukas menghubungkan kematian Anak Manusia dengan kedatangan Kerajaan Allah dan bahkan ada di antara mereka yang ada pada saat itu tidak akan mati sebelum mereka melihat Kerajaan itu (9:27). Hal ini menyatakan konsep kekinian Kerajaan tersebut. Di dalam bagian lain, Yesus memberikan penegasan yang bersifat perintah untuk memberitakan Kerajaan Allah di mana-mana (9:60) dan setiap orang yang menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah itu (9:62). Kedatangan Kerajaan Allah ini digambarkankan di dalam doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada para murid-Nya (11:2).

Perihal Kerajaan Allah ini juga mempengaruhi aspek kehidupan dan harus mendapatkan prioritas utama dan Allah akan menambahkan semua yang diperlukan (12:31). Selain itu Lukas juga memberikan penjelasan bahwa Kerajaan Allah ini tidak berkaitan dengan hal yang bersifat fisik, melainkan pada penerimaan terhadap keadaan dari Kerajaan tersebut. Mereka yang ingin masuk ke dalamnya harus berjuang memasuki pintu yang sempit dari Kerajaan ini (13:23-29).

Lukas juga memberikan perhatian kepada pelayanan Yohanes Pembaptis yang menandai permulaan masa yang membedakan antara hukum Taurat dan para rasul. Ini adalah masa pemberitaan tentang Kerajaan Allah itu (16:16). Hal ini berarti tidak membicarakan Kerajaan Allah ini di dalam pengertian eskatologis, melainkan menyatakan bahwa Kerajaan Allah itu ada di antara mereka (17:21). Kerajaan Allah harus diterima dengan iman seperti seorang anak kecil (18:17). Mereka yang mengandalkan kekayaannya tidak akan dapat memasuki Kerajaan itu (18:24-25 bd: 22-26).

Kerajaan Allah di dalam bentuk masa depan dijanjikan Yesus di dalam peristiwa Perjamuan Terakhir, bahwa Ia tidak akan minum lagi dari pokok anggur sampai Kerajaan Allah telah datang (22:17). Hak-hak mengenai Kerajaan itu ditentukan oleh Yesus sendiri seperti yang diberikan atau ditentukan Bapa kepada-Nya (22:29-30). Konteks pembicaraan di sini bersifat Eskatologis.

Pada akhirnya, ketika Yesus berada di atas salib, salah seorang pencuri yang dihukum bersama-Nya mengatakan agar Yesus mengingat dia pada saat datang kembali sebagai Raja (23:42) dan Yusuf dari Arimathea disebutkan Lukas sebagai orang yang menanti-nantikan kedatangan Kerajaan itu (23:51).

4. Injil Yohanes
Di dalam Injil Yohanes, konsep tentang Kerajaan Allah tidak menjadi perhatian utama dan signifikan. Yohanes lebih banyak membicarakan perihal “Kehidupan Kekal” atau tentang “Kehidupan”. “Kehidupan kekal” dan “Kerajaan Allah” merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, sebab ekuivalensinya dibuktikan dengan digunakannya kedua istilah ini saling bergantian di dalam Injil-injil Sinoptik.[27] Selain itu penggunaan istilah “Kerajaan Allah” juga di hindari oleh Yohanes nampaknya oleh karena ia menghindari kaitan istilah ini dengan pengharapan eskatologis dan juga oleh karena tujuan penulisan Injilnya ini adalah bagi pembaca non-Yahudi.

Meskipun demikian, tidak berarti istilah ini tidak muncul di dalamnya. Konsep ini muncul pada percakapan Tuhan Yesus dengan Nikodemus di dalam pasal 3 walaupun dengan penekanan kepada perihal kelahiran kembali lebih daripada kepada Kerajaan Allah. Kelahiran kembali menjadi syarat yang utama memasuki Kerajaan Allah. Istilah ini juga muncul di dalam percakapan Tuhan Yesus dengan Pilatus di dalam pasal 18, yaitu pada saat Pilatus bertanya kepada-Nya, “Apakah Engkau Raja orang Israel?” (18:33). Jawaban Yesus, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini” lebih kepada usaha menunjukkan konsep “Kerajaan” yang diajarkan-Nya hanya mempunyai arti yang kecil saja dalam hubungannya dengan pengharapan orang Yahudi. Peristiwa penolakan, penghukuman terhadap Tuhan Yesus pada akhirnya menunjukkan kekecewaan orang Yahudi oleh karena penolakan Tuhan Yesus untuk menerima konsep tentang Mesias yang dimengerti mereka secara nasional dan politik yang mereka pahami dan harapkan terwujud selama ini.



KESIMPULAN

Di dalam pengajaran-Nya, Tuhan Yesus mengubah dan menjelaskan konsep tentang “Kerajaan Allah” ini sebagaimana yang dipahami orang Yahudi berdasarkan pengertian mereka dari Perjanjian Lama, bahwa Kerajaan Allah ini berhubungan dengan pengharapan mereka akan kedatangan Mesias yang akan menegakkan Kerajaan-Nya di dalam dunia ini. Mesias ini akan menjadi Raja dan memerintah atas mereka dan atas seluruh bangsa di dunia.

Yesus memang menggunakan dasar Perjanjian Lama ini untuk mengajarkan tentang Kerajaan Allah tersebut; bahwa Kerajaan Allah memang memiliki aspek fisik yang penggenapannya pada akhir jaman kelak, namun yang menjadi inti pemberitaan-Nya lebih kepada pemerintahan Allah, di mana di dalamnya  Allah menjadi raja secara spiritual di dalam diri setiap orang yang percaya. Dengan kata lain pemberitaan dan pengajaran Tuhan Yesus tentang hal ini lebih kepada perihal kebenaran, keadilan, kebahagiaan, kebebasan dari dosa dan pemulihan hubungan seseorang dengan Allah daripada pengharapan yang bersifat nasionalistik dan universal sebagaimana yang dipahami orang Yahudi selama ini.

Gereja pada saat ini memiliki mandat memberitakan “Kerajaan Allah” di dalam kehidupannya dengan pengertian sebagaimana yang dimaksud dan dijelaskan oleh Tuhan Yesus, yaitu berkenaan dengan “Kehidupan kekal” dan “Keselamatan”. Inti utama ini yang harus dipertahankan walaupun di dalam pemberitaannya mempertimbangkan aspek dinamika perkembangan jaman (baca: “Kontekstualisasi”).



KEPUSTAKAAN

Berkhof, Louis. Sistematika Teologia, Doktrin Gereja. Jakarta: LRII, 1997.
Boice, James M. Perumpamaan-perumpamaan Tuhan Yesus. Surabaya: Yakin
Caragounis, C.C. The Kingdom of God” Dictionary of Jesus and the Gospel, Ed. Joel B. Green, Scott McKnight, I Howard Marshal. Intervarsity Press.
Erickson, Millard J. Christian Theology. Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 1985.
Gaebelein, Arno C. The Gospel of Matthew: An Exposition. New York: Loizeaux, 1910.
Geldenhuys, Norval, NICNT, The Gospel of Luke, Grand Rapids, M.I.: Eerdmans, 1993.
Guthrie, Donald. Teologi Perjanjian Baru, Jilid 2. Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 1992.
Ladd, George Eldon, Injil Kerajaan, Malang: Gandum Mas 1994.
McLean, John A. “Did Jesus Correct the Disciples View of the Kingdom?”. Bibliotheca Sacra Vol.151 No.602 (April-June 1994).
Ridderbos, H.N. “Kerajaan Allah” Ensiklopedia Masa Kini,  Jakarta: OMF
Saucy, Robert L. “The Presence of the Kingdom and the Life of the Church”. Bibliotheca Sacra Vol.145 No. 577 (Januari-Maret 1988), hal. 30-46.
Saucy, Mark R. “Miracles and Jesus Proclamation of the Kingdom of God”. Bibliotheca Sacra 153 (July-September 1996) hal.281-307.
Stott, John. Khotbah di Bukit. Jilid I. Jakarta: Yayasan Bina Kasih/OMF.
Taylor, William M. The Parables of Our Saviour Expounded and Illustrated. New York: A.C. Armstrong and Son.
Vine,  W.E. The Expanded Vine’s Expository Dictionary of New Testament Words. Minneapolis: Bethany House Pub
______. “Kingdom”, Expository Dictionary of Old and New Testament Words Ed. F.F. Bruce. New Jersey, Fleming H. Revell, Co, 1981.
______.  “Kingdom” Expository Dictionary of Biblical Words Ed. W.E. Vine, Merril F. Unger, William White Jr. Nashville: Thomas Nelson Pub, 1985.
Walvoord, John F.  “The New Testament Doctrine of the Kingdom”, Part 3 of Interpreting Prophecy Today. Bibliotheca Sacra 139 (July-September 1982), p.205-215.
Walvoord, John F. “The Old Testament Doctrine of the Kingdom”, Part 2 of Interpreting Prophecy Today. Bibliotheca Sacra 139 (April-July 1982), p.111-128.
Zorn, Raymond O. Church and Kingdom. Philadephia: Presbyterian & Reformed Pub, 1962.

 

     [1] Millard J. Erickson, Christian Theology (Grand Rapids, M.I.: Baker Book, 1985), hal. 1156.
     [2] Istilah “Basileia”, Basileia di dalam bentuk yang abstrak menunjukkan konsep tentang kedaulatan, kekuasaan raja, dominasi (Why 17:18) dan secara kongkrit menunjuk kepada daerah kekuasaan atau orang-orang yang berada di bawah kekuasaan raja tertentu (Mat 4:8; Mrk 3:24). Vine’s, “Kingdom”, Expository Dictionary of Old and New Testament Words Ed. F.F. Bruce (New Jersey, Fleming H. Revell, Co, 1981), hal. 294.
    [3] Di dalam Perjanjian Lama misalnya dalam arti “Pemerintahan raja” yaitu di dalam Ezra 4:5; 8:1, 2Taw 12:1; Dan 8:23; Yer 49:34; 2Taw 11:17; 12:1; Neh 12:22, dsb.
    [4] George Eldon Ladd, Injil Kerajaan (Malang: Gandum Mas, 1994) hal. 21. Lihat juga: Raymond O. Zorn, Church and Kingdom (Presbyterian & Reformed Pub, 1962) hal. 1.
     [5] Vine’s “Kingdom” Expository Dictionary of Biblical Words Ed. W.E. Vine, Merril F. Unger, William White Jr. (Nashville: Thomas Nelson Pub, 1985), hal. 129.
     [6] George Eldon Ladd, Ibid, hal.2
      [7] H.R, “Raja, Kerajaan Allah, Kerajaan Sorga”, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid II, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/ OMF, 1995), hal. 294.
      [8] Louis Berkhof, Sistimatika Teologia, Doktrin Gereja (Jakarta: LRII, 1997) hal. 32.
      [9] Pada masa bapak-bapak gereja konsep Kerajaan Allah ini dimengerti sebagai kebaikan terbesar yang bersifat masa mendatang yaitu berkenaan dengan tujuan dari perkembangan gereja. Ada pula yang menganggap konsep ini sebagai pemerintahan milenial dari Mesias pada masa akan datang. Sementara itu Gereja Roma Katolik menghubungkannya dengan institusi hirarkhis. Para Reformator berusaha mengembalikan pandangan ini dengan mengatakan bahwa sebenarnya Kerajaan Allah itu sama dengan gereja yang tidak nampak. Lihat: Louis Berkhof, Sistimatika Teologia, hal.33.
     [10] Misalnya di dalam Mazmur 103:19; 145:11-13 Bd: 1Tawarikh 29:11; Mazmur 22:28; Daniel 4:3; Obaja 21.
     [11] J. Dwight Pantecots, Things to Come (Grand Rapids: Zondervan, 1958) hal.427-445.
     [12] Problematika yang timbul di dalam pembagian di sini terletak pada masa para nabi. Pada umumnya bentuk pemeritahan teokratis berawal dari Saul kemudian Daud, Salomo dan yang lainnya. Selain itu pertanyaan lain adalah apakah bentuk Kerajaan ini bersifat teokratis, politik dan berada di bumi ini? Dapat dikatakan inilah yang menjadi ketegangan di dalam penafsiran eskatologi antara pandangan Premilenium dan Amilenium. John F. Walvoord, “The Kingdom of God in the Old Testament”. Bibliotheca Sacra 139 (April-June 1982),  hal.111-112.
     [13] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, Jilid 2, (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 1992), hal.24.
     [14] C.C. Caragounis, “Kingdom of God/Heaven”. Dictionary of Jesus and the Gospel, (Downers Grove: Intervarsity Press, 1992), hal.420.
     [15] Hal ini akan dibahas secara khusus di bawah, “Kerajaan Allah” di dalam Kitab-kitab Injil.
     [16] C.C. Caragounis, Ibid, hal 424.
     [17] John Stott mengatakan bahwa Khotbah di Bukit ini merupakan intisari pengajaran Tuhan Yesus. Setiap orang Kristen dibuatnya tertarik kepada kebaikan, menjadi malu karena membayangkan betapa kumuh dan tidak memadai penampilan mereka dan memimpikan tentang suatu dunia yang lebih baik. Khotbah ini adalah lukisan yang diberikan-Nya tentang semua hal yang harus dilakukan setiap orang Kristen dan yang harus menjadi kenyataan di dalam kehidupan dan keberadaan mereka. John Stott, Khotbah di Bukit (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih), hal. 11 dan 13.
     [18] Penegasan ini timbul oleh karena adanya penafsiran yang mengatakan bahwa Khotbah di Bukit ini merupakan pesan kekristenan terhadap dunia kafir; merupakan “kabar baik” bagi setiap orang supaya dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. R.H. Mounce, “Khotbah di Bukit”, Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Jilid I (Jakarta: Yayasan Bina Kasih/OMF), hal. 555.
      [19] Hal mujizat dan natur dari Kerajaan Allah sangat dekat sekali. Marc R. Saucy mengatakan bahwa demonstrasi pekerjaan Yesus yang bersifat mujizat ini tidak dapat dilepaskan dari proklamasi-Nya tentang Kerajaan Allah itu sendiri. Itulah sebabnya, sama seperti cerita tentang perumpamaan, mujizat mempunyai peran yang bersifat revelasi di dalam pelayanan Tuhan Yesus dan gereja mula-mula. Marc R. Saucy, “Miracles and Jesus Proclamation of the Kingdom of God”, Bibliotheca Sacra 153 (July-September 1996), hal. 285.
     [20] Istilah “entos” ini adalah kata keterangan (adverb) yang menunjukkan ‘di dalam’ atau ‘di antara’. Terjemahan lain: “in the midst of”; Kerajaan Allah tida ada di dalam hati para Farisi. Lihat: W.E. Vine, The Expanded Vine’s Expository Dictionary of New Testament Words (Minneapolis: Bethany House Pub), hal.593 dan 1236. Penggabungan dengan arti tersebut dengan dasar apakah memang “estin” itu dimengerti, baik oleh para Farisi maupun mereka yang ‘mengikuti’ Yesus mempunyai signifikansi masa depan, Kerajaan Allah akan tiba-tiba berada di antara kamu. Penggunaan kata yang berarti “ada di antara kamu” muncul banyak kali di dalam tulisan Lukas, baik di dalam Injilnya maupun Kisah Para Rasul, namun ekspresi yang dipakainya adalah “en (toi) meso hymon” dan tidak pernah menggunakan “entos”. Jadi di dalam ayat ini, ia menggunakan istilah tersebut dengan tujuan mengkontraskan dengan konsep apokaliptik orang Yahudi tentang kedatangan Kerajaan Allah. C.C. Caragounis, ibid, hal. 423.
     [21] Norval Geldenhuys, NICNT, The Gospel of Luke (Grand Rapids, M.I.: Eerdmans, 1993), hal. 440.
     [22] Paulus menjelaskan orang semacam ini di dalam Roma 1:18-20, yaitu mereka yang menindas kebenaran tentang Allah yang dapat diketahui dari ciptaan-Nya dan akibatnya jatuh di dalam kebodohan rohani dan kebejatan moral (ay.21-31), dan lambat laun tidak saja melakukan dosa melainkan setuju terhadap perbuatan dosa dengan mereka yang melakukannya (ay.32). Dosa menyebabkan orang menolak Allah dan kebenarannya dan akan membawanya kepada dosa yang lebih besar lagi. Penolakkan ini disebabkan oleh perlawanan yang disengaja terhadap sifat Allah sendiri yang oleh Paulus disebut sebagai “kefasikan dan kelaliman” (Rm 1:18).
     [23] James M. Boice, Perumpamaan-perumpamaan Tuhan Yesus (Surabaya: Yakin), hal. 22
     [24] William M. Taylor memberikan catatan terhadap perumpamaan ini dengan mengatakan bahwa suatu hasil besar dari permulaan kecil, suatu pertumbuhan besar dari benih kecil. Itulah pokok perumpamaan ini, dan tentang hal itu Tuhan menyatakan bahwa Kerajaan sorga di bumi adalah sebuah contohnya. William M. Taylor, The Parables of Our Saviour Expounded and Illustrated (New York: A.C. Armstrong and Son) hal. 55, 60-61.
    [25] Arno C. Gaebelein, The Gospel of Matthew: An Exposition (New York: Loizeaux, 1910), hal. 292.
    [26] Paulus juga memberikan pengertian yang sama ketika ia menguraikan penyimpangan kebenaran Injil sebagai rayuan Iblis, sambil menambahkan bahwa orang-orang percaya mesti waspada karena “sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan” (Gal 5:9 bd: 1Kor 5:6).
     [27] Misalnya Matius 10:17-30; 25: 31-46; Mrk 9:43-47

Minggu, 30 Desember 2012


Serahkan kekuatiranmu (1Ptr.5:6-7)

5:6 Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.

5:7 Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu 


PENDAHULUAN

Menutup tahun 2012 dan menatap tahun 2013, pastilah ada satu kata yang terselip dalam pemikiran kita. Kata yang begitu umum dan ditulis begitu sering dalam Alkitab, yaitu kata 'kuatir'. 

Kata ‘kuatir’ dari bahasa Yunani : merimnao yang artinya “hancur berkeping-keping”. Dengan kata lain, segala yang indah sekalipun bisa “hancur berkeping-keping” kalau ada kekhawatiran berlebih didalam hidup kita. Arti lain kekhawatiran dalam bahasa Yunani diatas adalah: ”mencengkram erat-erat”, ibarat kita sedang memegang selang yang sedang mengalirkan air, tiba-tiba karena khawatir, tangan kita secara otomatis mencengkram erat-erat selang tersebut,sehingga mengakibatkan airnya berhenti mengalir 

Ada banyak alasan mengapa orang kuatir. Pada Intinya, kita terbatas dalam banyak hal. Kita tidak tahu dan tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi di depan. Kalau pun kita tahu, kita tidak berkuasa mengubah sesuai dengan apa yang kita mau. Pengetahuan dan kemampuan kita terbatas, karena itulah kekuatiran sering kali menghantui kita. 

PEMBAHASAN
Dalam teks ini Petrus menasihatkan pembacanya untuk merendahkan diri di bawah tangan TUHAN yang kuat (5:6). Hal ini secara manusiawi jelas semakin menambah kekuatiran kita. Ketika kita tidak mengandalkan kekuatan kita (merendahkan hati) kita secara natural semakin tidak memiliki kekuatan apapun. Kalau memiliki kekuatan saja masih sering kuatir, bagaimana jika kita harus menyadari kelemahan kita? Ayat selanjutnya mengajarkan agar kita menyerahkan kekuatiran kepada Tuhan (5:7). Ayat ini mengajarkan bahwa kita tidak boleh memegang satu kekuatiran pun. Kekuatiran harus diserahkan secara total dan menyeluruh. 

Point ini ditunjukkan melalui tiga hal dalam 
Ay 7: “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu”.

1) “Serahkanlah segala kekuatiranmu”. 
 a) ‘Serahkanlah’.
Ini sebetulnya bukan kata perintah.
Vincent: “‘Casting’. EPIRIPSANTES. The aorist participle denoting an act once for all; throwing the whole life with its care on him” (= ‘Menyerahkan’. EPIRIPSANTES. Participle bentuk aorist / lampau menunjukkan suatu tindakan untuk selamanya; melemparkan seluruh kehidupan dengan kekuatirannya kepadaNya).
  b) Perhatikan kata ‘segala’ di sini.
Matthew Henry mengatakan bahwa ini menunjukkan bahwa kekuatiran orang Kristen itu banyak / bermacam-macam.

2)  “kepadaNya”.
Matthew Henry mengatakan bahwa obat yang terbaik terhadap kekuatiran yang melewati batas adalah menyerahkan kekuatiran kita kepada Allah, dan menyerahkan setiap peristiwa kepada penentuan yang bijaksana dan penuh kasih karunia. Suatu kepercayaan yang teguh tentang kebenaran / kelurusan dari kehendak dan rencana ilahi menenangkan roh manusia. Kita berhenti, dan berkata: ‘Jadilah kehendak Tuhan’, Kis 21:14).
Ilustrasi :
Emilie, istri seorang pendeta Jerman bernama Christoph Blumhardt yang hidup pada abad ke-19, heran melihat ketekunan suaminya dalam mendoakan jemaat. Suaminya bahkan tidak pernah tertidur saat mendoakan mereka. Suatu malam Emilie bertanya, "Apa rahasiamu sehingga dapat berdoa seperti itu?"
Suaminya menjawab, "Apakah Allah yang kita sembah begitu lemah, sehingga dengan mengkhawatirkan jemaat aku dapat mendukung kesejahteraan mereka?" Kemudian ia menambahkan, "Tidak! Setiap hari kita harus menanggalkan semua beban dan menyerahkannya kepada Allah."

3) “sebab Ia yang memelihara kamu”.
Matthew Henry juga melanjutkan tulisannya “Ia akan menghindarkan / mencegah apa yang kamu takuti, atau menopangmu di bawahnya”.
Merupakan satu dari sifat Allah yang benar, bahwa Ia bisa dan akan memperhatikan kebutuhan dari orang yang hina maupun orang yang kuat; dan salah satu penghiburan terkaya pada waktu kita menderita dan dihina oleh dunia, adalah pemikiran bahwa kita tidak dilupakan oleh Bapa surgawi kita. Ia yang mengingat burung pipit yang jatuh, dan yang mendengarkan burung gagak muda pada waktu mereka berteriak, tidak akan tidak mempedulikan kita. ‘Tetapi TUHAN memperhatikan aku’ merupakan penghiburan dari Daud pada waktu ia merasa ‘sengsara dan miskin’, (Maz 40:18). ‘Pada waktu ayahku dan ibuku meninggalkan aku, maka Tuhan akan mengambil / menerima aku’, (Maz 27:10). Bdk. Yes 49:15. Ingatlah, anak Allah yang malang, dihina, dan menderita, bahwa engkau tidak pernah akan dilupakan. Teman-teman di dunia, orang-orang yang besar, orang-orang yang remeh, orang-orang yang mulia, orang-orang kaya, bisa melupakan kamu, tetapi Allah tidak akan pernah. Kamu bisa menjadi miskin, dan mereka bisa melewati engkau; engkau bisa kehilangan jabatanmu, dan para penjilat tidak lagi memenuhi jalanmu; kecantikanmu bisa pudar, dan para pengagummu bisa meninggalkanmu; engkau bisa menjadi tua, dan menjadi lemah, dan kelihatannya tidak berguna dalam dunia ini, dan kelihatannya tidak seorangpun mempedulikanmu; tetapi tidak demikian dengan Allah yang kamu layani / sembah. Kalau Ia mengasihi, Ia selalu mengasihi; jika Ia baik kepadamu pada waktu kamu kaya, Ia tidak akan melupakanmu pada waktu kamu miskin; Ia yang menjagamu dengan kepedulian orang tua pada waktu kamu remaja, tidak akan membuangmu pada waktu kamu tua dan beruban (Maz 71:18). Jika kita adalah sebagaimana kita seharusnya, kita tidak akan pernah tanpa teman selama di sana ada Allah.

KESIMPULAN
Kekuatiran harus dilemparkan di atas Dia (upon Him), bukan di pundak kita. Allah paling berhak untuk menanggung kekuatiran kita. Ia memiliki tangan yang kuat (5:6). Ia memelihara kita (5:7). Tiga hal ini seharusnya cukup bagi kita untuk mengalahkan kekuatiran. Jangan pandang apa yang kita miliki atau apa yang kita bisa. Kita harus memandang pada Allah yang tangan kuat-Nya ada atas kita dan yang selalu memelihara kita tanpa henti.
Bagaimana dengan saudara ? Apakah saudara mau merendahkan diri dengan cara mengakui keterbatasan saudara dan menyerahkan semuanya kepada Allah? Ataukah saudara seperti penjual sayuran yang tetap menggendong barang dagangannya yang berat sekalipun ia sudah diberi tumpangan di sebuah mobil pick up? Mari belajar lebih rileks dan menikmati hidup dengan cara berserah. 

If we are not our own, but the Lord's, it is clear to what purpose all our deeds must be directed. 
We are not our own, therefore neither our reason nor our will should guide us in our thoughts and actions. 
We are not our own, therefore we should not seek what is only expedient to the flesh. 
We are not our own, therefore let us forget ourselves and our own interests as far as possible.
We are God's own; to Him, therefore, let us live and die. 
We are God's own; therefore let His wisdom and will dominate all our actions. 
We are God's own; therefore let every part of our existence be directed towards Him as our only legitimate goal.(John Calvin)

Cara untuk melepaskan kekhawatiran adalah dengan memusatkan pikiran kita pada kebaikan dan pemeliharaan Allah yang penuh kasih, bukan pada masalah yang menggelisahkan kita. Lalu kita pun dapat berkata sama seperti pemazmur, "Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku" (Mazmur 94:19

Amien.

Selamat meninggalkan tahun 2012 dan memasuki tahun 2013



Minggu, 23 Desember 2012


DIBENARKAN KARENA IMAN (PERCAYA)
Galatia 3 : 1 - 14

Kata "iman" dan  kata kerjanya "percaya" sering muncul dalam Al­kitab, dan memang merupakan istilah penting yang meng­gam­bar­kan hubungan antara umat  atau  seseorang  dengan Allah. Di bawah ini akan ditin­jau secara singkat  makna istilah itu dalam Alkitab, khususnya dalam Perjanjian Baru. Kata "iman" yang dipakai dalam Perjanjian Baru me­ru­pakan terjemahan dari kata Yunani πίστις (pistis), sedangkan kata kerja­nya "percaya" adalah terjemahan dari kata πιστεύω (pisteuoo).  Kata-kata ini sudah dipakai dalam Septuaginta, Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama) dalam bahasa Yunani, sebagai terjemahan kata Ibrani ¤m' (aman), yang berarti keadaan yang benar dan dapat dipercayai/diandalkan. Kata ini dan kata-kata sekelompoknya dalam Alkitab Ibrani sering digunakan untuk me­nyatakan rasa percaya kepada Allah dan percaya kepada firman-Nya. Per­caya kepada Allah mencakup arti percaya bahwa Ia benar dan dapat diandalkan, mempercayakan diri kepada-Nya, dan taat serta setia kepa­da-Nya. Percaya pada firman-Nya berarti percaya dan menerima  apa yang sudah difirmankan-Nya itu.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa istilah iman dan percaya dalam Alkitab sering mengandung komponen-komponen makna sebagai berikut:
  1. percaya dan menerima bahwa sesuatu itu benar,
  2. mengandalkan/mempercayakan diri
  3. setia, dan
  4. taat. 

Latar Belakang Kitab Galatia
Kitab Galatia adalah surat yang ditulis oleh Paulus untuk jemaat di Galatia.Nama Kitab ini berasal dari nama tempat yang menjadi tujuannya.Orang-orang Galatia adalah orang-orang yang berasal dari suku bangsa Keltik yang masa itu tinggal di Asia Kecil.
Setelah Injil tentang Yesus mulai diberitakan dan diterima di antara orang-orang bukan Yahudi, timbullah pertanyaan apakah untuk menjadi seorang Kristen yang sejati orang harus mentaati hukum agama Yahudi. Paulus mengemukakan bahwa hal itu tidak perlu -- bahwa sesungguhnya satu-satunya dasar yang baik untuk kehidupan Kristen adalah percaya kepada Kristus. Dengan kepercayaan itu hubungan manusia dengan Tuhan menjadi baik kembali. Tetapi orang-orang yang menentang Paulus telah datang ke jemaat-jemaat di Galatia, yaitu sebuah daerah di Anatolia Pusat di Asia Kecil. Mereka berpendapat bahwa untuk berbaik kembali dengan Tuhan, orang harus melaksanakan hukum agama Yahudi.
Surat Galatia ini ditulis untuk menolong orang-orang yang telah disesatkan oleh ajaran-ajaran palsu. Dengan kata lain, supaya mereka kembali taat kepada ajaran yang benar. Paulus memulai suratnya ini dengan berkata bahwa ia adalah rasul Yesus Kristus. Paulus dengan tegas mengatakan bahwa dia dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi rasul dan bukan dari manusia. Dia juga mengatakan bahwa tugasnya ditujukan terutama untuk orang yang bukan Yahudi (1-2). Setelah itu, Paulus mengajarkan kepada jemaat Galatia bahwa hubungan manusia dengan Tuhan diperbaharui atau menjadi baik kembali hanya melalui percaya kepada Kristus (3-4). Di dalam pasal-pasal terakhir kitab ini (5-6), Paulus menjelaskan bahwa cinta kasih yang timbul pada diri orang Kristen itu disebabkan karena iman percayanya kepada Kristus. Iman percaya tersebut akan dengan sendirinya menyebabkan orang itu melakukan perbuatan-perbuatan Kristen, yaitu kasih.
Bagi pandangan Paulus mengenai ciri khas agama Kristen menurut Paulus bahwa hidup Kristiani itu sebetulnya bukan agama, setidak-tidaknya bukan agama dalam arti yang biasa. Dalam konfrontasi dengan agama Yahudi dan kafir, Paulus mengritik banyak aspek sosial dan yuridis dari agama. Walaupun Paulus tidak menyangkal secara total segi lahiriah dan kultus hidup Kristinani, namun Paulus menekankan sikap batin, yaitu iman. Paulus lebih suka membicarakan masalah iman daripada membahas masalah agama, seperti yang dengan jelas dan tegas Paulus paparkan dalam teks Gal 3:1-14.

Pembahasan
Ada tiga hal penting yang dimuat oleh surat tersebut: (1) Dari sudut sejarah, Galatia memuat pengakuan iman Kristen mula-mula yang dapat dijadikan dasar bagi perkembangan teologi Kristen selanjutnya; (2) Dari sudut teologi, Galatia menunjukkan rumusan teologi Paulus yang merupakan kunci dari penafsiran terhadap   pemahaman iman yang benar; (3) Dari sudut agama, Galatia bermuatan tata-nilai moral dan etis dari pernyataan Kristiani tentang  kemerdekaan spiritual yang benar. Surat Galatia mempunyai kedudukan yang sentral dalam Perjanjian Baru karena sejarah dan pengajarannya. Perubahan hidup Paulus dapat dideteksi secara jelas dalam surat Galatia. Surat ini dianggap sebagai surat yang paling tua dari seluruh surat-surat Paulus dalam PB bahkan yang tertua dari semua kitab yang ada dalam PB, dan surat ini ditulis di kota Korintus. Para ahli menetapkan penulisan surat Galatia antara 48 sampai dengan 58. Waktu penulisan surat Galatia sangat penting bagi para ahli Perjanjian Baru karena peranan surat tersebut akan menentukan konsep teologi Perjanjian Baru secara keseluruhan. Dan surat Galatia ini ditulis pada saat hangat-hangatnya sedang terjadi adanya ajaran-ajaran sesat yang diajarkan oleh orang Kristen Yahudi yang mengunjungi jemaat-jemaat di Galatia untuk menyebarkan kekristenan yang bercorak Yahudi[2]. Surat Galatia sendiri bermuatan kontroversial antara legalistik Yudaisme dan keselamatan hanya oleh anugerah karena iman.

Pembaca
Surat keempat, karangan Paulus, seperti yang tercantum dalam PB dialamatkan kepada sejumlah jemaat di daerah Galatia (Gal 1:1:2), jadi semacam surat edaran. Tidak disebutkan nama kota-kota atau desa-desa tempat tinggal jemaat-jemaat itu, surat Galatia ini langsung dialamatkan kepada beberapa jemaat sekaligus, yang mungkin saja keberadaan mereka terpencar-pencar di desa-desa Galatia. Keanehan alamat surat Galatia tersebut barang kali disebabkan oleh situasi setempat. Mungkin sekali “jemaat-jemaat” di Galatia itu kelompok-kelompok kecil orang Kristen  yang hidup terpencar-pencar di desa-desa Galatia. Paulus sendiri (Gal 3:1) menyapa sidang pembacanya sebagai “orang-orang Galatia”

Tujuan Penulisan
Paulus menunjukkan keunggulan Injil atas Taurat:
1)      Roh lebih unggul daripada daging (3:3),
2)      Iman lebih unggul daripada melakukan hukum Taurat (3:2),
3)      Dibenarkan karena iman lebih unggul daripada karena melakukan hukum Taurat (3:8,11),
4)      Diberkati lebih unggul daripada  terkutuk (3:9,10),
5)      Berkat dalam Abraham lebih unggul daripada perintah dalam Musa (3:12-14)
Kelima hal inilah yang mau dijelaskan dengan tegas oleh Paulus kepada jemaat asuhannya di Galatia dalam suratnya tersebut, dengan tujuan agar jemaatnya dapat kembali berbalik kepada Injil Kristus yang sejati bukan tetap pada ajaran Injil plus Taurat seperti yang diajarkan oleh para pengajar sesat yang sudah berusaha untuk memutarbalikan kebenaran ajaran Injil Kristus yang sudah diajarkan Paulus kepada seluruh jemaat asuhannya di Galatia tersebut.
Konteks
Konteks politik
Para pengajar sesat yang menyeludup masuk ke dalam jemaah Galatia, ternyata mempunyai misi untuk menerapkan Injil plus Taurat itu hanya semata-mata untuk menyudutkan posisi Paulus sebagai seorang rasul Allah, dan dalam misi mereka juga bertujuan untuk mempengaruhi jemaat asuhan Paulus yang telah mengenal ajaran Injil Kristus yang telah diajarkan oleh Paulus kepada orang Kristen di Galatia. Tetapi setelah para pengajar sesat ini masuk ke dalam jemaat Galatia mereka memfitnah Paulus dengan memfitnahnya dengan jalan menyebarkan isu bahwa Paulus dalam pewartaan Injil menyeleweng inilah upaya para pengajar sesat itu ingin mempengaruhi kehidupan iman jemaat Galatia yang sudah menerima ajaran Injil Kristus dari Paulus. Dan dari upaya mereka dengan hal-hal yang di atas mereka lakukan mempunyai tujuan politik agar jemaat asuhan Paulus tidak percaya lagi kepada ajaran Paulus.
Konteks sosial
Dalam kehidupan jemaat Galatia sesuatu telah terjadi, orang-orang tertentu yang dijuluki dengan “serigala-serigala” oleh Paulus (lih Kis 20:29), telah masuk ke tengah-tengah jemaah Galatia. Siapakah serigala-serigala ini? Mereka ialah kelompok yang menyebarkan Yudaisme para penganut legalisme garis keras,yang telah datang dari Yerusalem sambil membawa apa yang disebut Paulus “Injil asing”, yaitu campuran antara kekristenan dengan praktik-praktik Yudaisme. Mereka melakukan penyimpangan  dari Injil yang sejati, Kepada orang-orang percaya non Yahudi ini, yang baru saja menerima Injil Yesus Kristus yang memerdekakan  dari Paulus, para serigala ini memberitakan suatu Injil perbudakan, suatu Injil yang penuh hukum, aturan dan ritual. Mereka menyatakan bahwa untuk menjadi orang-orang Kristen yang sejati, orang-orang non Yahudi  itu harus  disunat, menaati Taurat Musa dan menaati segala peraturan PL. Kaum legalis ini sedang berusaha untuk memberlakukan secara paksa segala batasan dan kewajiban ritual   dari Taurat Musa. Injil palsu para penyebar Yudaisme ini mempertahankan cangkang luar dari kekristenan. Namun, inti dari injil palsu ini bukanlah anugerah dan iman melainkan perbuatan. Tuhan Yesus ditempatkan pada posisi sekunder dalam injil ini. Ketaatan kepada semua aturan dan ritual dari Taurat Musa yang lama menjadi hal paling utama. Para penyebar Yudaisme ini menantang otoritas kerasulan Paulus. Oleh karena itu mereka sedang berusaha untuk membuat orang Galatia menolak otoritas Paulus sebagai seorang rasul.
Konteks keagamaan
Permasalahan yang dipersengketakan oleh Paulus dengan Jemaat Galatia ialah mengenai Injil plus Taurat atau Injil palsu karena dalam kehidupan Jemaah Galatia ada pengajar-pengajar sesat yang berusaha untuk memutarbalikkan Injil Kristus, yang diajarkan oleh Paulus. Keberadaan keberagamaan dari jemaat Galatia sedang digoncangkan dengan adanya kehadiran para pengajar sesat yang sangat menyerang ajaran Injil Kristus yang telah dikenal oleh jemaat Galatia terlebih dahulu. Inilah yang menjadi sumber kekacauan yang berusaha meracuni iman percaya jemaat Galatia akan Injil Kristus yang tadinya sudah mereka terima dan imani sebagai  satu-satunya kebenaran. Dengan adanya ajaran Injil plus tersebutlah yang pada akhirnya menyesatkan iman percaya jemaat Galatia.
Konteks kebudayaan
Budaya dan tradisi Yahudi seperti sunat, hal ini yang sangat mempengaruhi kehidupan dan keberadaan budaya jemaat Galatia, dalam banyak hal mereka masih mengikuti adat-istiadat orang Yahudi, yang menganggap sunat itu sebagai adat keagamaan. Sunat sebetulnya bukan adat keagamaan,melainkan sebagai tradisi kebudayaan.  
Struktur
Galatia 3:1-5 Pemahaman tentang kehadiran Roh Kudus
Galatia 3:6-9 Berkat Iman  Abraham
Galatia 3:10-14 Siapa yang ada di bawah kutuk itu?

Tafsiran
Galatia 3:1-5    Paulus langsung menyapa dengan cara yang penuh kasih yaitu dengan menggunakan kata “bodoh” yang mana dalam konteks ini bukanlah menunjuk kepada kata makian, (bdg Luk 24:25) kata “bodoh” menunjuk kepada sikap. Sikap orang Galatia yang telah mengetahui suatu ajaran yang benar, tetapi mereka dengan cepat juga dipengaruhi, di mana mereka menerima pengajaran yang tidak ada artinya, seolah-olah mereka cepat terpesona. Paulus hendak mengatakan bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu dilukiskan terang di depanmu? Menurut Paulus tidak  masuk akal bahwa jemaah Galatia lekas meninggalkan Injil Kristus itu, tersirat makna bahwa Paulus merasa sangat heran dengan kejadian yang sedang dialami oleh jemaah Galatia yang cepat tergoda dan terpengaruh serta kembali berubah haluan melakukan Taurat, dengan begitu memungkiri disalibnya Yesus Kristus lagi. Sebenarnya orang Galatia sendiri harus mengakui hal ini karena permulaan iman mereka, yaitu penerimaan Roh, terjadi sebagai akibat dari pemberitan Iman bukan karena mereka melakukan hukum Taurat.  Kehidupan rohani ialah sesuatu atau yang diterima orang-orang Galatia dari Allah dengan cara mereka mendengarkan serta menerima ajaran Injil Kristus. Orang-orang Galatia tidak dapat menyangkal bahwa mereka sebagai orang Kristen memulai dengan Roh. Paulus dengan tegas memberikan teguran dan peringatan kepada jemaah Galatia yang sebenarnya mereka sudah menjadi Kristen dan memulai iman kepercayaan mereka dengan Roh Allah, tetapi ketika para pangajar sesat datang masuk ke dalam jemaah Galatia mereka cepat sekali meninggalkan Iman percaya mereka pada ajaran Injil Kristus dan berpindah kembali melakukan hukum Taurat dalam hidup mereka, inilah yang Paulus maksudkan dengan mengakhirinya di dalam daging. Jadi, kalau begitu mereka memulai dengan Roh dan berakhir dengan daging, maka segala sesuatu yang mereka alami, adalah sia-sia baik itu pengalaman indah yang menyertai Roh Kudus. Jikalau orang-orang Galatia tidak percaya sepenuhnya kepada Yesus Kristus yang disalibkan itu maka sia-sia semuanya pengalaman indah mereka tersebut. Masakan sia-sia kata Paulus, maksudnya ialah penerimaan Roh itu mustahil ditiadakan seluruhnya oleh manusia.
Dalam ayat 5 Paulus mengulangi pertanyaan yang sudah diucapkannya pada ayat 2 dan 4, tetapi pada ayat 5 ini dilihat dari sudut lain. Jemaat-jemaat Galatia sudah menerima Roh dan telah mengalami kekuatan secara rohani, jadi pemberian Roh ialah sumber hidup baru dalam kehidupan jemaah Galatia, karena Allah yang memberikan Roh itu. Dengan demikian persoalan hukum Taurat pada hakikatnya adalah mengenai pandangan kita tentang Allah: apakah Allah bagi kita seorang hakim, yang dari jauh menghakimi kita dan yang harus kita perdamaikan dengan perbuatan-perbuatan baik, ataukah Allah bagi kita seorang Bapak yang memulihkan hubungan-hubungan dengan anak-anak-Nya.
Galatia 3:6-9       Dalam ayat 6-9 Paulus menjelaskan bahwa secara positif kebenaran oleh iman adalah sesuai dengan Perjanjian Lama. Dalam ayat 10-12 Paulus menegaskan bahwa segi negatif yakni dengan hukum Taurat, manusia tidak dapat dibenarkan adalah sesuai dengan Perjanjian Lama juga.  Bahwa dalam seluruh bagian ini (ayat 6-14) tema-tema yang muncul ialah mengenai berkat iman Abraham serta kutuk hukum Taurat. Orang-orang Galatia, sebagai anak-anak Abraham  mengambil bagian dalam berkat iman kepercayaan Abraham. Tetapi kalau mereka mengikuti orang-orang Yudais, mereka akan kembali takluk ke bawah hukum Taurat. Bagi Paulus hanya kepercayaanlah yang menentukan, dan Abraham menjadi bapak orang-orang percaya Kepercayaan itu diperhitungkan sebagai kebenaran. Artinya bukan seolah-olah kepercayaan itu kebenaran, melainkan bahwa bagi Allah kepercayaan itu ialah sungguh-sungguh kebenaran. Orang percaya ialah orang benar, dalam pandangan ini kepercayaan tidak dilihat sebagai prestasi, tetapi sebagai jawaban atas janji Allah kepada Abraham. Oleh karena itu bahwa Allah memperhitungkan kepercayaan itu sebagai kebenaran bukanlah berdasarkan hak manusia, melainkan berdasarkan anugerah Allah sendiri (Rm 4:4,5), Dalam hal ini orang benar ialah orang yang diterima Allah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa orang Kristen berasal dari kepercayaan. Mereka hidup dari iman kepada Allah, sama seperti Abraham, begitulah ada persekutuan hakiki antara Abraham dan dengan mereka yang percaya oleh karena itu mereka disebut, yaitu anak-anak menurut Roh seperti yang dengan jelas dikatakan dalam ayat kunci pasal 3 ini yaitu ayat 7 “Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham”.
Dalam kitab Kejadian kita baca bahwa dalam Abraham segala bangsa akan diberkati (Kej 12:3 18:18;  12:18;  26:4;  28:14;  Kis 3:25;  Rm 4:13). Cukup jelas bahwa pengaruh dari bangsa Israel adalah jauh lebih luas. Pilihan Allah, Perjanjian-Nya, mengangkat bangsa Israel untuk menjadi berkat bagi seluruh dunia. Dalam Perjanjian Lama sendiri ada pandangan-pandangan yang berbeda-beda tentang peranan Israel dalam sejarah. Paulus menafsirkan Kej 12:3 dari segi kepercayaan kepada Yesus Kristus dengan jalan menghubungkan Kej 12:3 dengan Kej 15:6. Artinya berkat iman Abraham (Kej 12:3) sebagai janji yang akan digenapi dalam Yesus Kristus ditafsirkannya sebagai kebenaran oleh iman (Kej 15:6). Dengan demikian persekutuan iman antara Abraham dengan bangsa-bangsa diartikan sebagai penggenapan dari perjanjian yang disebut dalam Kej 12:3.
Galatia 3:10-14      Iman itu megesampingkan Hukum Taurat. Hukum Taurat mengerjakan justru kebalikan dari berkat iman Abraham (ayat 8). Kepada mereka yang mencari kehidupan dalam hukum Taurat harus dikatakan: kamu berada di bawah kutuk. Dalam Ul 27:26 terkutuklah setiap orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam hukum Taurat. Ul 27:26 ini dimaksudkan pada mulanya, sebagai peringatan kepada umat Israel, agar mereka menaati hukum Taurat itu dengan sebaik-baiknya. Ada kemungkinan kecil bahwa Paulus bermaksud mengatakan  dalam ayat 10 ini: tidak ada orang yang melakukan hukum Taurat, maka semua orang terkutuk atau lebih jelas lagi menurut Ul 27:26, selalu ada ancaman. Jadi walaupun kita melakukan segala sesuatu yang tertulis di dalam kitab hukum Taurat sampai saat ini, kita belum aman terhadap waktu yang akan datang, kutuk itu tetap mengancam, kita takkan bebas dari kutuk itu. Tetapi maksud dari kutipan-kutipan Paulus itu bukanlah untuk memberikan bukti yang menentukan agaknya lebih tepat bahwa kita meganggap kutipan-kutipan ini sebagai bahan pembantu bagi argumentasi Paulus. Dalam hubungan kutipan dari Ul 27:26 ini dipakai untuk menjelaskan dari mana kutuk itu, dan kepada siapa kutuk itu akan ditujukan. Sebaliknya hukum Taurat harus dilakukan, siapa yang melakukannya akan hidup (Im 18:5; bdg Rm 10:5). Tetapi kepercayaan itu bukanlah melakukan sesuatu, melainkan menerima sesuatu. Jadi hukum Taurat itu bukan dari iman, artinya titik tolak dari Taurat tidaklah terletak dalam kepercayaan. Mereka yang mau hidup dari melakukan hukum Taurat, berusaha mendirikan kebenaran mereka sendiri (Rm 10:3), hanya bila kita percaya, maka kita menyerahkan diri kepada Allah, kita mengharapkan hidup itu dari pada-Nya, kita takluk kepada kebenaran Allah (Rm 10:3).  Demikianlah kita dapat mengerti pertukaran luar biasa yang dilukiskan Paulus: mereka yang mencari berkat dari melakukan hukum Taurat akan memperoleh kutuk, tetapi mereka yang mengakui bahwa jalan melakukan hukum Taurat itu berakhir pada kutuk, sebenarnya sudah siap untuk menerima berkat. Jadi hukum Taurat tidak mempersiapkan seseorang untuk menerima berkat. Barulah dengan kemungkinan baru yang diberikan dalam Injil itu, seseorang dapat menjadi merdeka. Dalam PL pada umumnya dan Hab 2:4 khususnya istilah orang benar menunjuk kepada orang-orang yang hidup menurut kehendak Allah, sedangkan kata ibrani “emet” dalam TB-LAI biasanya iman berarti keteguhan, kesetiaan. Jadi Hab 2:4 kira-kira sebagai berikut: orang baik akan tetap hidup karena kesetiaannya. Mungkin yang dimaksudkan dengan orang baik bukanlah seseorang tetapi bangsa Israel. Paulus sakan-akan memperdalam ucapan Habakuk ini. Orang baik, orang benar itu adalah, menurut Paulus orang yang dibenarkan, yang menerima kebenarannya dari Allah.
Ayat 13-14 merupakan penutup dari ayat 6-14 temanya tetap berkat dan kutuk. Kutuk itu berlaku untuk seluruh umat manusia (ayat 10), berkat adalah bagi setiap yang hidup dari iman (ayat 7). Sudah jelas bagi Paulus iman itu adalah kepercayaan kepada Yesus Kristus. Yesus dijadikan di bawah hukum Taurat (4:4) dan kutuk hukum Taurat menimpa Dia, dengan demikian Ia menjadi kutuk karena kita. Dengan jalan ini Ia melepaskan kita dari kutuk. Paulus mempergunakan gambaran penebusan budak-budak, tetapi dalam pandangan Paulus apa yang diperbuat oleh Kristus itulah yang diperbuat oleh Allah sendiri ( 2 Kor 5:18-21), karena itu jalan iman merupakan kebalikan dari jalan melakukan hukum Taurat. Yesus Kristus manusia bebas itu, menebus kita, budak belian (Rm 7:14 bdg 1 Kor 6:20). Paulus berkata: Kristus menebus kita, menjadi kutuk karena kita. Jadi bagi Paulus kutuk hukum Taurat itu bukanlah terbatas pada umat Israel (bdg Rm 3:19, 20). Seluruh sejarah umat Israel, mulai dari perjanjian kepada Abraham, mempunyai makna universal atau mengenai seluruh umat manusia. Makna universal itu diwujudkan dalam Yesus Kristus (Gal 3:28). Seperti seluruh bagian ini (ayat 6-14), Paulus memperkuat argumentasinya dengan suatu kutipan dari  hukum Taurat (Ul 21:23). Waktu Yesus tergantung di kayu salib, Ia termasuk dalam golongan orang-orang terkutuk, dan dengan demikian di dalam Dia berkat sampai kepada bangsa-bangsa. Di dalam Yesus Berkat dan kutuk bertemu. Manusia tidak mau mengakui dosanya: ia mau melarikan diri dari kutuk (Kej 3:8-18). Kristus tidak melarikan diri, tetapi mengangkat di atas bahu-Nya (Yoh 1:29) dosa dan kutuk itu. Di dalam Dia kutuk hukum Taurat diakui sebagai hukuman yang tepat dan syah, sehingga di dalam Kristus hukum Taurat telah mencapai tujuannya dan kutuk telah kehilangan ancamannya (bdg Rm 8:4: tuntutan hukum Taurat digenapi).  Ayat 14b menjelaskan maksud ayat 14, berkat itu terdiri atas penerimaan Roh yang dijanjikan, yaitu Roh Kristus (2 Kor 3:17), yang menjadikan kita anak-anak Allah (Gal 4:6).







Out Line Khotbah: Tema : PERCAYA PADA KRISTUS
1.               Apa arti percaya pada  ajaran-Nya
Percaya pada ajaran-Nya, artinya ialah agar semua orang yang sudah mengenal dan menerima ajaran kebenaran Injil Kristus harus tetap setia dan teguh pendirian iman percayanya kepada semua ajaran-ajaran fiman Tuhan Yesus  walaupun banyak godaan, ataupun ajaran-ajaran lain yang mungkin saja berusaha untuk menggeser arti sejati dari iman percaya kita kepada kebenaran ajaran Injil Kristus yang sangat mulia, dan sebagai satu-satunya ajaran keselamatan yang harus dituruti dan diterapkan dalam tindakan kehidupan nyata kita sebagai pengikut-Nya.  Jangan menduakan ajaran Kristus, tetapi pegang dengan keteguhan hati dan iman percaya kita hanya ajaran Kristuslah yang bisa menjadi pelita dalam langkah kehidupan kita di dunia ini.
2.   Siapa yang harus percaya pada ajaran-Nya
Yang harus percaya kepada ajaranNya adalah kita semua orang percaya yang telah ditebus oleh pengorbanan Kritus, haruslah percaya kepada ajaranNya, walaupun terdapat ajaran yang lain dari pengajaran Kristus yang telah kita terima.
3.      Bagaimana bentuk sikap percaya pada ajaran-Nya
Bentuk dari sikap kepercayaan kita adalah dengan tetap melihat kepada iman kita kepada Yesus. Di mana Tetap percaya ketika ada penggodaan artinya adalah kita yang sudah menerima Kristus secara pribadi, sudah dibaptis, sudah disidi dan berjanji akan terus tetap untuk mengikuti Yesus dan semua ajaran-Nya, meskipun ada di depan mata kita dan meskipun ada berbagai godaan yang berusaha untuk menyimpangkan iman percaya kita pada Tuhan, misalnya untuk konteks Indonesia sekarang ini seperti kita ketahui bersama bahwa di samping ada ajaran kekristenan yang sejati, tetapi ada juga para saksi Yehova yang berusaha keras untuk mempengaruhi ajaran iman Kristen yang sejati dan mereka melakukan penyimpangan pada ajaran Kristen, yaitu mereka tidak percaya bahwa Yesus sebagai manusia sejati. Dalam kondisi seperti inilah kita sebagai orang Kristen yang benar-benar percaya pada Yesus Kristus yang 100% manusia dan 100% Allah, kita benar-benar dituntut oleh iman percaya kita masing-masing pada  kesasihan kebaradaan Yesus yang 100% manusia dan 100% Allah harus tetap teguh kita pertahankan jangan sampai tergoyahkan oleh godaan dari ajaran menyimpang para saksi Yehova.
4.   Mengapa harus percaya kepada ajaran-Nya
Kita sebagai orang yang mempunyai identitas sebagai orang percaya harus mempunyai keyakinan dalam iman kita bahwa kita harus percaya kepada ajaranNyalah yang hanya menuntun kita ke dalam jalan yang benar dan dengan kepercayaan kepada ajaranNyalah kita akan diselamatkan.
5.   Pesan dan Relevansi:
 Tujuan Penulis Bagi Jemaat Galatia Pada Zaman Itu
Tujuan utama Paulus menulis serta mengirimkan suratnya kepada jemaah Galatia ialah agar jemaah Galatia jangan cepat-cepat tergoda serta mau mengikuti ajaran dari para serigala yang berusaha untuk mengubah paradigma jemaah Galatia tentang ajaran Injil Kristus yang sudah disampaikan oleh Paulus kepada  jemaah asuhannya yang terpencar-pencar di Galatia ini. Paulus berjuang keras melakukan pembelaan terhadap Injil Kristus demi membawa kembali jemaah asuhannya itu agar bisa tetap teguh iman percaya mereka kepada Injil Kristus yang pernah Paulus sampaikan kepada jemaahnya waktu kedatangan Paulus yang pertama kali di Galatia. Dan Paulus menegur dengan tegas bahwa jemaahnya sepertinya sudah ada yang terpengaruh dengan ajaran para penyesat yang menjadi saingan Paulus, karena mereka memberikan pengajaran yang mengarah kepada ritual-riutal  atau tradisi seperti sunat dan Hukum Taurat, mereka sangat menekankan agar dengan melakukan sunat serta menaati Taurat Musa maka jemaah akan selamat semuanya. Makanya Paulus mengatakan kepada jemaah asuhannya agar mereka tetap kembali untuk memperjuangkan Injil Kristus.
 Bagi Kekristenan atau Orang Percaya atau Gereja Saat Ini.
Dalam Galatia 3:1-14 ini Paulus mau menunjukkan kepada kita sumber kehidupan dari orang yang benar, yang telah dibenarkan di dalam Kristus. Inilah yang mau disuarakan oleh Paulus lewat Galatia 3:1-14, menyuarakan kemerdekaan orang Kristen, ekspresi tertinggi dari kehidupan dan iman. Keselamatan oleh iman selalu merupakan anugerah oleh iman baik di Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Surat Galatia pasal 3 ini mau menjawab pertanyaan tentang seperti apakah kehidupan orang Kristen yang sesungguhnya, yang mana jawabannya ialah kemerdekaan di dalam iman percaya kepada ajaran Injil Yesus Kristus bukan kemerdekaan yang didasarkan kepada perbuatan baik yang sudah orang Kristen lakukan, dan bukan juga karena sudah menaati Hukum Taurat Musa. Di dalam Gal 3:1-14 ini dengan jelas mau memperingatkan semua orang Kristen agar tidak cepat tergoda atau mudah dipengaruhi oleh berbagai macam kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja datang untuk mencobai iman percaya kita pada ajaran Injil Kristus, tetapi Gal 3:1-14 mau memberikan pengertian yang sesungguhnya bahwa dengan mengandalkan iman percaya pada kuasa Injil Kristus itulah yang bisa menjadi jaminan keselamatan hidup kita orang Kristen. Dengan modal utama iman percaya serta adanya keyakinan dalam hati kita akan ajaran-ajaran kebenaran Injil Kristus yang kita jadikan sistem kontrol dalam kehidupan kita pasti kemungkinan yang bisa saja menggodai iman percaya kita kepada Injil Kristus tidak akan pernah berhasil untuk mengoyahkan kepercayaan iman orang Kristen pada kebenaran Injil Kristus, contoh nyatanya di Indonesia sendiri sudah ada serigala atau pengajar sesat yang berkeliaran di mana-mana misalnya saksi Yehova, pasti tidak sanggup untuk menggoyahkan iman percaya kita.
6.      Ilustrasi KJ 15:3 (BERHIMPUN SEMUA)
Berdoa dan jaga supaya jangan
penggoda merugikan jiwamu
Di dunia tegaklah kemenangan
dan dasarnya imanmu yang teguh

Kesimpulan
Dalam Galatia 3:1-14 ini intinya Paulus menunjukkan kepada kita bahwa Injil berbicara tentang keselamatan  oleh iman dan bukan oleh perbuatan atau dari Hukum Taurat

KEPUSTAKAAN
Stedman, Ray C. “Petualangan Menjelajah Perjanjian Baru” Panduan Membaca Alkitab dari
Matius hingga Wahyu. Jakarta: PT.Duta Harapan Dunia, 2009.
Jacobs,Tom. “Iman Agama” Kekhasan Agama Kristiani Menurut Santo Paulus Dalam Surat
Galatia dan Roma. Yogyakarta: Kanisius
Duyverman, M.E. Pembimbing ke Dalam Perjanjian Baru. Jakarta:  BADAN  PENERBITAN KRISTEN,1966.
Drane,John . Memahami Perjanjian Baru. Jakarta: PT. BPK. Gunung Mulia, 2006.
OFM, C. Gronen . Pengantar ke dalam Perjanjian Baru. Yogyakarta:Kanisius, 2000.
Cole, R.Alan.  “Tyndale New Testament Commentaries”  Revised Edition Galatians.Michigan:Wiliam B. Eerdamans Publishing Company,1989.